{"id":2224,"date":"2025-10-15T12:00:00","date_gmt":"2025-10-15T05:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/example.com\/?p=2224"},"modified":"2025-10-15T16:42:29","modified_gmt":"2025-10-15T09:42:29","slug":"bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama","title":{"rendered":"Pengertian Syair, Ciri-Ciri, Jenis &#038; Contohnya | Bahasa Indonesia Kelas 7"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/7c756476-8f41-4846-ab24-d09509f1c423.png\" alt=\"pengertian syair\" width=\"820\" \/><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Di <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/c\/bahasa-inggris\/bahasa-inggris-smp-kelas-9\">artikel Bahasa Indonesia kelas 9<\/a><\/strong> kali ini, kita akan belajar tentang syair, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>&#8212;<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gais, saat kamu sedang bersedih, apa yang kamu lakukan? Menangis? <em>Mojok<\/em> di kamar? Ber-<em>shower<\/em>? Atau yang berfaedah <em>dikit deh<\/em>, menulis syair?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201c<em>Lho kok<\/em> syair?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iya, syair terkenal sebagai media untuk mengungkapkan isi hati. <em>Nggak<\/em> hanya mengungkapkan kesedihan, tapi juga untuk perasaan-perasaan lainnya dan bisa untuk mengungkapkan suatu peristiwa, kejadian atau seseorang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Hmmm\u2026 <\/em>Tapi sebenarnya syair itu apa sih? Apakah sama dengan karya sastra lainnya seperti <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/pengertian-puisi-dan-unsur-pembentuk-puisi\">puisi<\/a><\/strong>, <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/apa-itu-cerpen\">cerita pendek<\/a><\/strong>, atau <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/pengertian-dan-unsur-unsur-teks-drama\">drama<\/a><\/strong>? Nah, sekarang kita pelajarin yuk apa itu syair! Selamat belajar!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Pengertian Syair<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syair merupakan salah satu <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/mengenal-jenis-jenis-puisi-lama\"><strong>bentuk puisi lama<\/strong><\/a> <strong>yang berasal dari tradisi sastra Persia<\/strong> (sekarang wilayah Iran). Bentuk sastra ini mulai dikenal di Nusantara, seiring dengan masuknya agama Islam melalui para pedagang dan ulama pada abad ke-13 hingga ke-16. Dalam perkembangannya, <strong>syair tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra<\/strong>, tetapi juga sebagai <strong>media dakwah, pendidikan, serta penyampaian nilai moral dan ajaran agama<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Awalnya, bentuk dan gaya syair mengacu pada tradisi sastra Arab, terutama puisi-puisi bernuansa keagamaan dan kepahlawanan. Namun, setelah diadaptasi oleh para penyair Melayu, syair mengalami perkembangan dan modifikasi yang menjadikannya khas Nusantara, dengan tema yang lebih luas, seperti kisah cinta, nasihat, sejarah, dan keagamaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; display: block; margin: 0px auto;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/syair%20-%20tahukah%20kamu.png\" alt=\"pengertian syair\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Ciri-Ciri Syair<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ciri utama syair terletak pada penggunaan <strong>Bahasa Melayu Klasik<\/strong> sebagai bahasa pengungkapnya. Bahasa ini memiliki gaya yang khas, seperti menggunakan kosakata lama, kiasan, banyak mengandung nilai sastra, dan keindahan bunyi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Struktur Bait dan Rima<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syair terdiri atas <strong>empat baris dalam setiap bait<\/strong>, dan <strong>setiap baris berisi delapan hingga dua belas suku kata<\/strong>. Semua baris memiliki <strong>rima akhir yang sama<\/strong> <strong>(a-a-a-a)<\/strong>, berbeda dengan pantun yang berpola silang (a-b-a-b). Pola rima yang seragam ini memberikan irama yang teratur dan harmonis saat syair dibacakan.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p>Baik budi jangan dilup<strong>a<\/strong><br \/>\nSupaya hidup tiada hamp<strong>a<\/strong><br \/>\nJika mati beroleh nam<strong>a<\/strong><br \/>\nDikenang orang sepanjang mas<strong>a<\/strong><\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/mengenal-pantun-puisi-lama-dari-indonesia\">Pengertian Pantun, Ciri, Fungsi, Struktur, Jenis &amp; Contoh<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Keterpaduan Makna<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbeda dengan pantun yang memisahkan antara sampiran dan isi,<strong> syair tidak memiliki sampiran<\/strong>. Keempat baris dalam setiap bait saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan makna yang utuh. Oleh karena itu, setiap bait berfungsi menyampaikan ide atau pesan tertentu yang mendukung tema keseluruhan.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p>Barang siapa mengenal diri<br \/>\nMaka tahulah asalnya budi<br \/>\nJika hendak mengenal Ilahi<br \/>\nLihatlah ke dalam hati sendiri<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">3. Isi dan Pesan<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syair umumnya <strong>berisi ajaran moral, nilai keagamaan, nasihat hidup, kisah percintaan, atau cerita sejarah<\/strong>. Pesan dalam syair sering kali disampaikan secara halus dan penuh bahasa kiasan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa sih bahasa kiasan itu? <strong>Bahasa kiasan<\/strong> adalah perumpamaan atau pengibaratan, jadi apa yang disampaikan <strong>bukanlah makna yang sebenarnya<\/strong>. Kenapa ya kok syair menggunakan bahasa kiasan? Tujuan memakai bahasa kiasan dalam syair adalah untuk memberi rasa keindahan dan penekanan pada pentingnya hal yang akan disampaikan. Misalnya:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; display: block; margin: 0px auto;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/syair%20-%20bahasa%20kalbu.png\" alt=\"contoh syair\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">4. Keterkaitan Antar Bait<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syair juga sering disusun dalam <strong>rangkaian bait yang berurutan<\/strong>. Setiap bait melanjutkan isi dari bait sebelumnya, sehingga menghasilkan satu kesatuan cerita yang utuh. Contoh karya syair semacam ini, antara lain Syair Bidasari, Syair Ken Tambuhan, dan Syair Perahu.<\/p>\n<p>Dengar tuan suatu riwayat<br \/>\nRaja di desa negeri Kembayat<br \/>\nDikarang fakir dijadikan hikayat<br \/>\nSupaya menjadi tamsil ibarat<\/p>\n<p>Ada raja sebuah negeri<br \/>\nSultan Ahmad Syah namanya seri<br \/>\nAdil bijaksana lagi bestari<br \/>\nLuaslah negeri serta negeri<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Jenis-Jenis Syair dan Contohnya<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Syair<\/strong> terdiri dari<strong> lima jenis<\/strong>, lho. Ada <strong>syair panji, syair romantis, syair kiasan, syair sejarah dan syair agama<\/strong>. Kelima jenis syair tersebut dibedakan berdasarkan isinya. Kita bahas satu persatu ya biar kamu bisa paham dimana perbedaannya.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/contoh-gurindam-berbagai-tema\">Kumpulan\u00a0Contoh Gurindam Berbagai Tema, Ciri &amp; Jenisnya<\/a>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">a. Syair Panji<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syair panji menceritakan tentang <strong>kehidupan di dalam istana<\/strong>. Baik tentang orang-orang yang berasal dari sana, maupun tentang orang-orang yang berada di dalamnya.<\/p>\n<p data-start=\"544\" data-end=\"584\">Contoh karya: <em data-start=\"562\" data-end=\"582\">Syair Ken Tambuhan<\/em><\/p>\n<p>Jika tuan menjadi air<br \/>\nKakang menjadi ikan di pasir<br \/>\nKata nin tiada kakanda mungkir<br \/>\nKasih kakang batin dan lahir<\/p>\n<p>Jika tuan menjadi bulan<br \/>\nKakang menjadi pungguk merawan<br \/>\nAria ningsun emas tempawan<br \/>\nJanganlah bercerai apalah tuan<\/p>\n<p>Tuang laksana bunga kembang<br \/>\nKakanda menjadi seekor kumbang<br \/>\nTuanlah memberi kakanda bimbang<br \/>\nTiadalah kasihan tuan akan abang<\/p>\n<p>Jika tuan menjadi kayu rampak<br \/>\nKakanda menjadi seekor merak<br \/>\nTiadalah mau kakanda berjarak<br \/>\nSeketika pun tiada dapat bergerak<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">b. Syair Romantis<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalau dengar kata-kata romantis, langsung kebayang dong isinya seperti apa? Ya, syair romantik <strong>membahas tentang percintaan<\/strong>. Biasanya terdapat pada cerita pelipur lara, hikayat atau cerita rakyat. Contohnya yakni <em>Syair Bidasari<\/em> yang bercerita tentang seorang putri raja yang dibuang ibunya.<\/p>\n<p>Contoh karya: <em>Syair Bidasari<\/em><\/p>\n<p>Tersebutlah perkata Bidasari<br \/>\nSetelah malam sudahlah hari<br \/>\nBangunlah ia seorang diri<br \/>\nMakan dan minum barang yang digemari<\/p>\n<p>Pergilah mandi Siti Bangsawan<br \/>\nSerta memakai bau-bauan<br \/>\nLalu masuk ke dalam peraduan<br \/>\nSantap sirih dalam puan<\/p>\n<p>Bertemu sepah bekas dimakan<br \/>\nDiambil Siti dicampakan<br \/>\nDengan takutnya ia berfikiran<br \/>\nSiapakah ini yang membuatkan<\/p>\n<p>Jikalau manusia yang empunya<br \/>\nNescaya aku dicabulinya<br \/>\nJika ayahku datang adalah tandanya<br \/>\nBertambahlah makanan yang dibawanya<\/p>\n<p>Dilihatnya Siti tempat tidurnya<br \/>\nTilam sedikit tersingkir alasnya<br \/>\nSirih di puan salah aturannya<br \/>\nBidasari masygul dengan takutnya<\/p>\n<p>Ia pun duduk di atas geta<br \/>\nSangatlah gundah rasanya cita<br \/>\nSeraya bertaburan air mata<br \/>\nManakah tempat ia hendak dikata<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">c. Syair Kiasan<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syair kiasan <strong>bercerita tentang kisah cinta ikan, burung, bunga, atau buah-buahan<\/strong>. Kenapa disebut syair kiasan? Cerita yang ada di dalam syair kiasan berisi tentang sindiran terhadap peristiwa tertentu. <em>Syair Burung Pungguk<\/em> merupakan salah satu contoh dari syair kiasan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; display: block; margin: 0px auto;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/syair%20-%20pungguk%20merindukan%20bulan.png\" alt=\"contoh syair pungguk merindukan bulan\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pangkat? Pangkat TNI?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukan, bukan pangkat yang itu ya karena si Pungguk dan si Bulan bukan tentara. Syair ini bercerita tentang kegagalan kisah cinta karena perbedaan kedudukan atau derajat. Ceritanya ada seorang pria mencintai seorang gadis yang derajatnya lebih tinggi, tapi gadis tersebut menolaknya. Pria tersebut diibaratkan sebagai pungguk sedangkan si gadis diibaratkan sebagai bulan. Karena cintanya ditolak, si Pungguk hanya bisa menatap bulan dari jauh. Sakit, tapi nggak berdarah. Hiks.<\/p>\n<p>Contoh karya: <em>Syair Burung Pungguk<\/em><\/p>\n<p>Pungguk bercinta pagi dan petang<br \/>\nMelihat bulan di pagar bintang<br \/>\nTerselap rindu dendam pun dating<br \/>\nDari saujana punggung menentang<\/p>\n<p>Pungguk menentang dari saujana<br \/>\nDi dalam hati gundah gulana<br \/>\nJikalau ditolong Tuhan yang gana<br \/>\nMakanaya pungguk boleh ke sana<\/p>\n<p>Di atas beraksa berapa lama<br \/>\nGilakan cahaya bulan purnama<br \/>\nJikalau bulan jatuh ke mana<br \/>\nDimanakah pungguk dapat Bersama<\/p>\n<p>Bulan purnama cahayanya terang<br \/>\nBintang seperti intan dikarang<br \/>\nRawanya pungguk bukan sembarang<br \/>\nBerahikan bulan di tanah seberang<\/p>\n<p>Gemerlapan cahaya bintang Kartika<br \/>\nBeratur majelis bagai dijangka<br \/>\nSekaliannya bintang terbit belaka<br \/>\nPungguk melihat kalbunya duka<\/p>\n<p>Bintang di langit berbagai rupa<br \/>\nPungguk bercinta badan terlepa<br \/>\nMinta doa tiadalah lupa<br \/>\nDengan bulan hendak berjumpa<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">d. Syair Sejarah<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti namanya, syair ini <strong>bercerita berdasarkan pada cerita sejarah<\/strong>. Jadi, sebagian besar syair dalam kelompok ini bercerita tentang peperangan. Misalnya <em>Syair Perang Mengkassar <\/em>(dulunya bernama Syair Sipelman), bercerita tentang perang antara orang-orang Makassar dengan Belanda.<\/p>\n<p>Contoh karya: <em>Syair Perang Mengkassar<\/em><\/p>\n<p>Bismi\u00e2llah itu suatu firman<br \/>\nFardulah kita kepadanya iman<br \/>\nMuttasil pula dengan rahman<br \/>\nHasil maksudnya pada yang Budiman<\/p>\n<p>Rahman itu sifat<br \/>\nTiada bercerai dengan kunhi zat<br \/>\nNyatanya itu tiada bertempat<br \/>\nBarang yang bekal sukar mendapat<\/p>\n<p>Rahim itu sifat yang sedia<br \/>\nWajiblah kita kepadanya percaya<br \/>\nBarang siapa yang mendapat dia<br \/>\nDunia akhirat tiada berbahaya<\/p>\n<p>Al-hamduli\u00e2llah tahmid yang ajla<br \/>\nNyatanya dalam kalam Allah ala<br \/>\nMadah terkhusus bagi hak ta\u00e2 ala<br \/>\nSebab itulah dikarang oleh wali Allah<\/p>\n<p>Setelah sudah selesai pujinya<br \/>\nSalawat pula akan nabi-Nya<br \/>\nDi sanalah asal mula tajallinya<br \/>\nKesudahan tempat turun wahyunya<\/p>\n<p>Muhammad itu nabi yang khatam<br \/>\nMengajak ke hadrat rabbi al-alam<br \/>\nSesungguhnya dahulu nyatanya (kelam)<br \/>\nDari pada pancarnya sekalian alam<\/p>\n<p>Salawat itu masyhur lafaznya<br \/>\nTelah termazhur pada makhluknya<br \/>\nAllahumma salli\u00e2alaihi akan agamanya<br \/>\nDi sanalah nyata sifat jamalnya<\/p>\n<p>Tuanku sultan yang amat sakti<br \/>\nAkan Allah dan rasul sangatlah bakti<br \/>\nSuci dan ikhlas di dalam hati<br \/>\nSeperti air ma\u2019al-hayati<\/p>\n<p>Daulatnya bukan barang-barang<br \/>\nSeperti manikam yang sudah di karang<br \/>\nJikalau dihadap sengala hulubalang<br \/>\nCahaya durjanya gilang gemilang<\/p>\n<p>Raja berani sangatlah bertuah<br \/>\nHukumannya \u2018adil kalbunya murah<br \/>\nSegenap tahun zakat dan fitrah<br \/>\nFakir dan miskin sekalian limpah<\/p>\n<p>Sultan di Goa raja yang sabar<br \/>\nBerbuat \u2018ibadat terlalu gemar<br \/>\nMenjauhi nahi mendekatkan amar<br \/>\nKepada pendeta baginda belajar<\/p>\n<p>Baginda raja yang amat elok<br \/>\nSerasi dengan adinda di telo\u2019<br \/>\nSeperti embun yang sangat sejuk<br \/>\nCahayanya limpah pada segala makhluk<\/p>\n<p>Tiadalah habis gharib kata<br \/>\nSempurnalah baginda menjadi sultan<br \/>\nDengan saudaranya yang sangat berpatutan<br \/>\nSeperti emas mengikat intan<\/p>\n<p>Bijaksana sekali berkata-kata<br \/>\nSebab berkapit dengan pendeta<br \/>\nJikalau mendengar khabar berita<br \/>\nSadarlah baginda benar dan dusta<\/p>\n<p>Kekal ikrar apalah tuanku<br \/>\nSeperti air zamzam di dalam sangku<br \/>\nBarang kehendak sekalian berlaku<br \/>\nTenteranya banyak bersuku-suku<\/p>\n<p>Patik persembahkan suatu rencana<br \/>\nMohon ampun dengan karunia<br \/>\nAturnya janggal banyak ta\u2019kena<br \/>\nKarena \u2018akalnya belum sempurna<\/p>\n<p>Mohonkan ampun gharib yang fakir<br \/>\nMemcatatkan asma di dalam sya\u2019ir<br \/>\nMaka patik pun berbuat sindir<br \/>\nKepada negeri asing supaya lahir<\/p>\n<p>Tuanku ampun fakir yang hina<br \/>\nSindirnya tidak betapa bena<br \/>\nMenyatakan asma raja yang ghana<br \/>\nSupaya tentu pada segala yang bijaksana<\/p>\n<p>Maka patik berani berdatang sembah<br \/>\nHarapkan ampun karunia yang limpah<br \/>\nTuanku ampuni hamba Allah<br \/>\nKarena aurnya banyak yang salah<\/p>\n<p>Tamatlah sudah memuji sultan<br \/>\nTersebutlah perkataan Welanda syaitan<br \/>\nKornilis Sipalman penghulu kapitan<br \/>\nRaja Palakka jadi panglima<\/p>\n<p>Demikian asal mula pertama<br \/>\nWelanda dan Bugis bersama-sama<br \/>\nKornilis Sipalman ternama<br \/>\nRaja Palakka menjadi panglima<\/p>\n<p>Berkampunglah Welanda sekalian jenis<br \/>\nBerkatalah Jendral Kapitan yang bengis<br \/>\nJikalau alah Mengkasar nin habis<br \/>\nTunderu\u2019 kelak raja di Bugis<\/p>\n<p>Setelah didengar oleh si Tunderu\u2019<br \/>\nKata jenderal Welanda yang mabuk<br \/>\nBerbangkitlah ia yang duduk<br \/>\nBetalah kelak di medan mengamuk<\/p>\n<p>Akan cakap Bugis yang dusta<br \/>\nSehari kubedil robohlah kota<br \/>\nHabis kuambil segala harta<br \/>\nPerempuan yang baik bahagian beta<\/p>\n<p>Jika sudah kita alahkan<br \/>\nSegala hasil beta persembahkan<br \/>\nPerintah negeri kita serahkan<br \/>\nKerajaan di bone\u2019Tunderu\u2019 pohonkan<\/p>\n<p>Setelah didengar oleh jenderal<br \/>\nCakap Tunderu\u2019 orang yang bebel<br \/>\nDisuruhnya berlengkap segala kapal<br \/>\nSeorang kapitan dijadikan amiral<\/p>\n<p>Putuslah sudah segala musyawarat<br \/>\nWelanda dan bugis membawa alat<br \/>\nBeberapa senapang dengan bangat<br \/>\nSekalian soldadu di dalam surat<\/p>\n<p>Tujuh ratus enam puluh soldadu yang muda-muda<br \/>\nMemakai kamsol cara Welanda<br \/>\nRupanya sikap seperti Garuda<br \/>\nBermuatlah ke kapal barang yang ada<\/p>\n<p>Delapan belas kapal yang besar<br \/>\nSemuanya habis menarik layer<br \/>\nTurunlah angin barat yang besar<br \/>\nSampailah ia ke negeri Mengkasar<\/p>\n<p>Di laut Barombong kapal berlabuh<br \/>\nKata si Bugis nati dibunuh<br \/>\nJikalau raja yang datang menyuruh<br \/>\nSemuanya tangkap kita perteguh<\/p>\n<p>Pada sangkanya Bugis dan Welanda<br \/>\nDikatanya takut gerangan baginda<br \/>\nTambahan Bugis orang yang bida\u2019ah<br \/>\nBarang katanya mengada-ngada<\/p>\n<p>Segala ra\u2019yat yang melihat<br \/>\nAda yang suka ada yang dahsat<br \/>\nSekalian rakyat berkampung musyawarat<br \/>\nMasuk mengadap duli hadrat<\/p>\n<p>Daeng dank are masuk ke dalam<br \/>\nMengadap duli mahkota \u2018alam<br \/>\nBerkampunglah segala kaum Islam<br \/>\nMenantikan titah Syahi \u2018alam<\/p>\n<p>Akan titah baginda sultan<br \/>\nSiapatah baik kita titahkan<br \/>\nTanyakan kehendak Welanda syaitan<br \/>\nHendak berkelahi kita lawan<\/p>\n<p>Menyahut baginda Karaeng Ketapang<br \/>\nKaraeng we jangan hatimu bimbang<br \/>\nJikalau Welanda hendak berperang<br \/>\nKita kampungkan sekalian orang<\/p>\n<p>Dititirlah nobat gendering pekanjar<br \/>\nBunyinya gemuruh seperti tagar<br \/>\nBerhimpunlah ra\u2019yat kecil dan besar<br \/>\nAdalah geger negeri Mengkasar<\/p>\n<p>Bercakaplah baginda Keraeng Popo<br \/>\nMencabut sunderikyang amat elok<br \/>\nBarang di mana ketumbukan si Tunderu\u2019<br \/>\nDaripada tertawan remaklah habi<\/p>\n<p>Karaeng garasi\u2019 raja yang tua<br \/>\nBarcakap di hadapan anakanda ke dua<br \/>\nBarang kerja akulah bawa<br \/>\nKarena badanku pun sudahlah tua<\/p>\n<p>Karaeng Bonto Majanang saudara Sultan<br \/>\nSikapnya seperti harimau jantan<br \/>\nBarang ke mana patik dititahkan<br \/>\nWelanda dan Bugis saja kulaawan<\/p>\n<p>Bercakap pula Karaeng Jaranika<br \/>\nMerah padam warnanya muka<br \/>\nWelanda Bugis anjing celaka<br \/>\nHaramlah aku memalingkan muka<\/p>\n<p>Karaeng Panjalingang raja yang bijak<br \/>\nMelompat mencabut keris pandak<br \/>\nJikalau undur patik nin kelak<br \/>\nKepada perempuan suruh tempelak<\/p>\n<p>Keraeng Bonto Sunggu raja elok<br \/>\nBercakap di hadapan Raja Telo\u2019<br \/>\nBiarlah patik menjadi cucuk<br \/>\nWelanda dan Bugis saja kuamuk<\/p>\n<p>Keraeng Balo\u2019 raja yang muda<br \/>\nBercakap di hadapan paduka kakanda<br \/>\nJikalau sekadar Bugis dan Welanda<br \/>\nBarang dititahkan patiklah ada<\/p>\n<p>Akan cakap Keraeng Sanderabone<br \/>\nMencabut sunderik baru dicanai<br \/>\nJikalau sekadar Sopeng dan Bone<br \/>\nTambah lagi Sula\u2019 dengan Burne<\/p>\n<p>Jikalau ia mau kemari<br \/>\nSekapur sirih ia kuberi<br \/>\nJikalau Allah sudah memberi<br \/>\nSi la&#8217;nat Allah kita tampari<\/p>\n<p>Bercakap bage Keraeng Mandale<br \/>\nIa berkanjar mencabut sunderik<br \/>\nBerdiri melompat seraya bertempik<br \/>\nBarang di mana dititahkan patik<\/p>\n<p>Keraeng Mamu berani sungguh<br \/>\nBercakap dengan kata yang teguh<br \/>\nJikalau patik bertemu musuh<br \/>\nPada barang tempat hambah bertutuh<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">e. Syair Agama<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terakhir, syair agama yang merupakan syair yang terpenting karena <strong>berisi ajaran agama dan nasihat bijak.<\/strong> Syair agama dapat dibagi menjadi empat, yaitu syair sufi, syair tentang agama Islam, syair riwayat cerita nabi dan syair nasihat. Hamzah Fansuri adalah tokoh yang pertama kali menulis syair agama. Salah satu karyanya antara lain <em>Syair Perahu<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wah, ternyata syair ada banyak jenisnya ya, nggak cuma satu. Kamu bisa lihat tabel rangkuman di bawah ini supaya kamu bisa lebih mudah memahami jenis-jenis syair, baik dari isi maupun contohnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; display: block; margin: 0px auto;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/syair%20-%20tabel.png\" alt=\"jenis-jenis syair dan contohnya\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Unsur-Unsur Syair<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara umum, syair memiliki dua jenis unsur, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Kedua unsur ini tentu saling berkaitan dalam membentuk keindahan dan makna syair secara utuh.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">a. Unsur Intrinsik<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membentuk syair dari dalam, atau dengan kata lain, elemen yang langsung terdapat dalam teks syair itu sendiri. Unsur intrinsik syair di antaranya:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<h4>Tema<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tema adalah <strong>gagasan pokok atau ide utama<\/strong> yang melandasi keseluruhan isi syair. Tema syair dapat berupa nasihat, keagamaan, percintaan, kehidupan sosial, hingga kepahlawanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contoh: Tema dalam Syair Perahu karya Hamzah Fansuri adalah nasihat keagamaan dan refleksi diri.<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<h4>Amanat (Pesan)<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Amanat merupakan <strong>pesan moral yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca atau pendengar<\/strong>. Pesan ini biasanya bersifat nasihat, ajakan berbuat baik, atau peringatan terhadap perilaku buruk.<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<h4>Bahasa dan Gaya Bahasa<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahasa syair menggunakan <strong>Bahasa Melayu Klasik<\/strong>, yang kaya akan peribahasa, kiasan, dan metafora. Gaya bahasa inilah yang membuat syair memiliki nilai keindahan dan kedalaman makna.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contoh: Penggunaan kata perahu dalam Syair Perahu adalah metafora untuk tubuh manusia.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/pengertian-jenis-dan-contoh-majas\">Pengertian Majas, Jenis-Jenis, dan Contohnya, Lengkap!<\/a><\/strong><\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<h4>Irama dan Rima<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syair memiliki rima akhir yang sama dalam setiap bait. Pola rima ini menciptakan irama yang teratur dan musikal, membuat syair enak didengar saat dibacakan.<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<h4>Bait dan Baris<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syair tersusun atas bait-bait, dan setiap bait terdiri dari empat baris. Tiap baris biasanya memiliki 8\u201312 suku kata dan semuanya mengandung isi (tidak ada sampiran).<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<h4>Tokoh dan Latar<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam syair yang berbentuk cerita (seperti Syair Bidasari atau Syair Ken Tambuhan), terdapat tokoh, latar tempat, dan waktu. Unsur ini membantu membangun alur cerita dan suasana dalam syair.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">b. Unsur Ekstrinsik Syair<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Unsur ekstrinsik adalah unsur luar yang mempengaruhi proses penciptaan syair. Unsur ini tidak tampak langsung dalam teks, tetapi sangat mepmengaruhi isi dan maknanya. Unsur ekstrinsik syair di antaranya:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<h4>Latar Belakang Sosial dan Budaya<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syair mencerminkan kehidupan sosial dan nilai budaya masyarakat Melayu pada zamannya. Misalnya, nilai-nilai sopan santun, keagamaan, dan adat istiadat sangat kental dalam syair lama.<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<h4>Latar Belakang Keagamaan<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak syair lahir dari pengaruh ajaran Islam yang dibawa oleh para ulama dan penyair sufi. Karena itu, syair sering mengandung pesan moral dan spiritual.<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<h4>Latar Belakang Pengarang<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pandangan hidup, pendidikan, dan pengalaman penyair turut memengaruhi isi syair. Misalnya, Hamzah Fansuri menulis syair dengan nuansa sufistik karena latar belakangnya sebagai ulama sufi.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah baca artikel ini, apakah kamu jadi paham dan mengenal syair? Saat membaca syair, kamu juga harus memahami maknanya lho karena tiap Syair itu memiliki pesan tertentu. Baik dari syair agama, syair kiasan, dan syair-syair lainnya. Apakah kamu ingin mengenal syair lebih jauh lagi? Belajar di <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/ruangbelajar\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ruangbelajar<\/a> <\/strong>yuk supaya belajarmu jadi lebih seru!<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/bayar.ruangguru.com\/\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/e3260f88-1749-4d3b-8973-be3aae07a94c.jpg\" alt=\"CTA Ruangguru\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Suwandi, Sarwiji, dan Sutarmo. (2008). <em>Bahasa Indonesia 3: Bahasa Kebanggaanku untuk SMP\/MTs kelas IX<\/em>. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.<\/p>\n<p>Contoh Syair Perang Mengkassar [Daring] Tautan: https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Syair_Perang_Mengkasar<\/p>\n<p>Contoh Syair Burung Pungguk [Daring] Tautan: https:\/\/www.scribd.com\/document\/520054322\/SYAIR-BURUNG-PUNGGUK<\/p>\n<p>Contoh Syair Ken Tambuhan dan Bidari [Daring] Tautan: https:\/\/www.scribd.com\/document\/872980173\/2<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di artikel Bahasa Indonesia kelas 9 kali ini, kita akan belajar tentang syair, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya. &#8212; &nbsp; Gais, saat kamu sedang bersedih, apa yang kamu lakukan? Menangis? Mojok di kamar? Ber-shower? Atau yang berfaedah dikit deh, menulis syair? \u201cLho kok syair?&#8221; Iya, syair terkenal sebagai media untuk mengungkapkan isi hati. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":166,"featured_media":2224,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/7c756476-8f41-4846-ab24-d09509f1c423.png"],"_edit_last":["1"],"_edit_lock":["1760521221:1"],"_wp_old_date":["2022-08-06"],"_yoast_wpseo_primary_category":["477"],"_yoast_wpseo_title":["Pengertian Syair, Ciri-Ciri, Jenis & Contohnya"],"_yoast_wpseo_metadesc":["Di artikel Bahasa Indonesia kelas 9 kali ini, kita akan belajar tentang syair, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya."],"_yoast_wpseo_content_score":["30"],"_yoast_wpseo_estimated-reading-time-minutes":["13"]},"categories":[477,481],"tags":[7,10,16],"class_list":["post-2224","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahasa-indonesia","category-bahasa-indonesia-smp-kelas-7","tag-kelas-7","tag-konsep-pelajaran","tag-smp"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pengertian Syair, Ciri-Ciri, Jenis &amp; Contohnya<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Di artikel Bahasa Indonesia kelas 9 kali ini, kita akan belajar tentang syair, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pengertian Syair, Ciri-Ciri, Jenis &amp; Contohnya\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di artikel Bahasa Indonesia kelas 9 kali ini, kita akan belajar tentang syair, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-15T05:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-15T09:42:29+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Shabrina Zakaria\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@ruangguru\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@ruangguru\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Shabrina Zakaria\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"13 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama\",\"url\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama\",\"name\":\"Pengertian Syair, Ciri-Ciri, Jenis & Contohnya\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/7c756476-8f41-4846-ab24-d09509f1c423.png\",\"datePublished\":\"2025-10-15T05:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-15T09:42:29+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/a9bcc09c87129dd7d37a5cb3bc5ed526\"},\"description\":\"Di artikel Bahasa Indonesia kelas 9 kali ini, kita akan belajar tentang syair, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/7c756476-8f41-4846-ab24-d09509f1c423.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/7c756476-8f41-4846-ab24-d09509f1c423.png\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pengertian Syair, Ciri-Ciri, Jenis &#038; Contohnya | Bahasa Indonesia Kelas 7\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/\",\"name\":\"Ruangguru Blog\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/a9bcc09c87129dd7d37a5cb3bc5ed526\",\"name\":\"Shabrina Zakaria\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Shabrina Zakaria\"},\"url\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/author\/shabrina-zakaria\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pengertian Syair, Ciri-Ciri, Jenis & Contohnya","description":"Di artikel Bahasa Indonesia kelas 9 kali ini, kita akan belajar tentang syair, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pengertian Syair, Ciri-Ciri, Jenis & Contohnya","og_description":"Di artikel Bahasa Indonesia kelas 9 kali ini, kita akan belajar tentang syair, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya.","og_url":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama","og_site_name":"Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/","article_published_time":"2025-10-15T05:00:00+00:00","article_modified_time":"2025-10-15T09:42:29+00:00","author":"Shabrina Zakaria","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@ruangguru","twitter_site":"@ruangguru","twitter_misc":{"Written by":"Shabrina Zakaria","Est. reading time":"13 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama","url":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama","name":"Pengertian Syair, Ciri-Ciri, Jenis & Contohnya","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/7c756476-8f41-4846-ab24-d09509f1c423.png","datePublished":"2025-10-15T05:00:00+00:00","dateModified":"2025-10-15T09:42:29+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/a9bcc09c87129dd7d37a5cb3bc5ed526"},"description":"Di artikel Bahasa Indonesia kelas 9 kali ini, kita akan belajar tentang syair, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/7c756476-8f41-4846-ab24-d09509f1c423.png","contentUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/7c756476-8f41-4846-ab24-d09509f1c423.png"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-mengenal-syair-si-puisi-lama#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pengertian Syair, Ciri-Ciri, Jenis &#038; Contohnya | Bahasa Indonesia Kelas 7"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/","name":"Ruangguru Blog","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/a9bcc09c87129dd7d37a5cb3bc5ed526","name":"Shabrina Zakaria","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","caption":"Shabrina Zakaria"},"url":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/author\/shabrina-zakaria"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2224","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/166"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2224"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2224\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25035,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2224\/revisions\/25035"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2224"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2224"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2224"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2224"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}