{"id":27816,"date":"2026-09-14T09:00:14","date_gmt":"2026-09-14T02:00:14","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/?p=27816"},"modified":"2026-09-17T15:08:03","modified_gmt":"2026-09-17T08:08:03","slug":"fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau","title":{"rendered":"Fenomena Erupsi Gunung Anak Krakatau, Apa Penyebabnya?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/419cbb92-1f4a-4fce-9cae-3b73ca367f45.png\" alt=\"penyebab erupsi gunung anak krakatau\" width=\"820\" \/><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari lalu, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi, yang sampai menimbulkan abu vulkanik di beberapa wilayah. Yuk, cari tau kenapa fenomena ini bisa terjadi dan langkah mitigasinya!\u00a0\u00a0<\/span><\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada awal September 2026. Erupsi yang berlangsung selama berjam-jam ini, turut membawa abu vulkanik ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, sebaran abu sempat berdampak pada aktivitas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta. Hingga Jumat, 11 September lalu, BMKG masih menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena ini, nyatanya bukan hal yang benar-benar baru bagi Gunung Anak Krakatau, lho. Gunung api yang berada di Selat Sunda tersebut memang masih aktif, dan terus mengalami aktivitas vulkanik hingga sekarang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kamu pernah kepikiran nggak, kenapa erupsi gunung berapi bisa terjadi? Gimana yaaa langkah mitigasi yang tepat? Buat kamu yang penasaran, yuk baca artikel ini sampai habis, ya!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Sejarah Terbentuknya Gunung Anak Krakatau\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, kemunculan Gunung Anak Krakatau punya kaitan erat dengan salah satu letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah, yaitu <\/span><strong>letusan Gunung Krakatau pada 1883<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Dari kawasan bekas letusan tersebut, aktivitas vulkanik kembali muncul, dan perlahan membentuk gunung baru yang kini dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/mengenal-dataran-tinggi-gunung-danau-lembah-dan-sungai\">Mengenal Dataran Tinggi, Gunung, Danau, Lembah, dan Sungai<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>Letusan Dahsyat Gunung Krakatau<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Secara geologis, <\/span><strong>Gunung Krakatau berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Kok bisa ada gunung api di tengah laut, ya?\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, jadi, <\/span><strong>Selat Sunda merupakan bagian dari wilayah tektonik aktif<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">, yaitu tempat Lempeng Indo-Australia bergerak menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Pergerakan kedua lempeng ini memicu aktivitas magma di bawah permukaan bumi, yang kemudian membentuk rangkaian gunung api, termasuk Krakatau.\u00a0\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/bbe7d03c-1cda-4741-b935-b8d6d618f13b.png\" alt=\"Indonesia berada di jalur Ring of Fire\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kawasan Krakatau sendiri sebenarnya punya sejarah vulkanik yang panjang, gais. Salah satunya adalah keruntuhan besar dari gunung api yang lebih tua, yang kemudian membentuk <\/span><strong>kaldera<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">, yaitu cekungan besar yang terbentuk ketika gunung berapi meletus dan runtuh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, aktivitas vulkanik kembali berlangsung dan membentuk beberapa kerucut gunung api, yaitu <\/span><strong>Rakata, Danan, dan Perboeatan (Perbuatan)<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Ketiganya tumbuh dan akhirnya menyatu menjadi <\/span><strong>Pulau Krakatau<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/9af95475-c953-4e14-b094-cf5a36a24e0f.png\" alt=\"kawasan krakatau\" width=\"600\" \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Ilustrasi Kawasan Krakatau.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kawasan Krakatau terus mengalami aktivitas vulkanik dari waktu ke waktu. Puncaknya terjadi <\/span><strong>pada Mei &#8211; Agustus 1883<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">, ketika <\/span><strong>rangkaian erupsi dan letupan besar mengguncang Krakatau<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> dan mengubah kawasan ini secara drastis.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Material vulkanik terlontar ke udara dan laut, menimbulkan dampak luas. Sementara runtuhan tubuh gunung yang jatuh ke laut, turut memicu tsunami besar di sekitar Selat Sunda.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah letusan tersebut berakhir, sebagian besar dari tubuh Krakatau menghilang dan menyisakan kaldera. Nah, kawasan inilah yang nantinya menjadi tempat munculnya Gunung Anak Krakatau.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/mengenal-gerakan-lempeng-tektonik\">Tektonisme: Pengertian, Jenis, Bentuk &amp; Dampaknya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>Kemunculan Gunung Anak Krakatau<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun Gunung Krakatau sudah meletus, bukan berarti aktivitas vulkaniknya langsung berhenti, gais. <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/intrusi-dan-ekstrusi-magma\">Magma dari dalam bumi<\/a><\/strong> masih dapat bergerak naik melalui rekahan atau saluran vulkanik yang terbentuk di kawasan tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Terbukti setelah beberapa dekade, erupsi terjadi lagi dari kawasan bawah laut yang mengeluarkan material vulkanik seperti lava dan abu. Material tersebut kemudian menumpuk secara bertahap di sekitar pusat erupsi. Lama-kelamaan, tumpukan material vulkanik itu semakin tinggi, hingga akhirnya muncul ke permukaan laut dan membentuk daratan baru.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Erupsi Krakatau baru benar-benar mereda pada 1927. Hingga pada 1930, terbentuk lagi gunung yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/5e0b4301-c671-4794-b0b7-c7e2004d8f0f.png\" alt=\"gambar gunung anak krakatau\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ilustrasi Gunung Anak Krakatau.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>Gunung Anak Krakatau yang Terus Tumbuh<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun sudah muncul sejak awal abad ke-20, proses pembentukan Gunung Anak Krakatau sebenarnya belum berhenti. Aktivitas vulkanik masih berlangsung hingga sekarang, sehingga material seperti lava, abu vulkanik, dan batuan hasil erupsi dapat terus keluar dan menumpuk di sekitar pusat erupsi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tumpukan material vulkanik tersebut secara perlahan dapat mengubah bentuk dan ketinggian gunung. Makanya, Gunung Anak Krakatau tidak memiliki bentuk yang benar-benar tetap. Setelah mengalami erupsi, tubuh gunung bisa bertambah tinggi atau melebar, tetapi juga dapat berubah akibat longsoran dan runtuhan material di lerengnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu contoh perubahan besar terjadi saat erupsi pada <\/span><strong>Desember 2018<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Aktivitas erupsi saat itu disertai longsoran sebagian tubuh gunung, yang kemudian memicu tsunami di wilayah pesisir Banten dan Lampung. Setelah peristiwa tersebut, bentuk dan ketinggian Gunung Anak Krakatau berubah cukup signifikan.<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/ef00db1b-ee81-4388-8147-a3f603cd72db.jpeg\" alt=\"pertumbuhan gunung anak krakatau\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pertumbuhan Morfologi Gunung Anak Krakatau. (Sumber: Instagram Badan Geologi Kementerian ESDM)<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Penyebab Gunung Anak Krakatau Erupsi\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu mendengar berita tentang erupsi gunung berapi, apa yang terlintas di pikiranmu? Apakah magma yang keluar dari dalam gunung?\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Erupsi adalah <\/span><strong>peristiwa keluarnya magma, gas, abu, dan material vulkanik menuju permukaan bumi melalui rekahan dalam kerak bumi<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/pengertian-dan-gejala-vulkanisme\">Vulkanisme: Pengertian, Gejala, Erupsi &amp; Bentuk Gunung Api<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, nggak salah yaaa kalau kamu berpikir, erupsi itu proses keluarnya magma dari dalam gunung. Tapi, sebelum material vulkanik itu keluar ke permukaan, ada serangkaian proses yang berlangsung di bawah tubuh gunung api, loh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>Apa yang Terjadi di Dalam Gunung Api Sebelum Erupsi?\u00a0<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam gunung berapi terdapat magma, yaitu batuan cair bersuhu sangat tinggi dan kaya larutan gas. Saat <\/span><strong>aktivitas vulkanik meningkat, tekanan gas dan magma di dalam perut bumi juga meningkat<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">, sehingga <\/span><strong>mendorong material ke permukaan<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pergerakan ini juga memicu berbagai perubahan di dalam gunung. Misalnya, munculnya gempa-gempa vulkanik, karena magma yang bergerak akan menekan dan memecahkan batuan di sekitarnya. Selain itu, gas-gas vulkanik yang terlarut dalam magma juga ikut terdorong menuju permukaan. Proses keluarnya material vulkanik inilah yang disebut erupsi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>Kenapa Gunung Anak Krakatau Masih Aktif?\u00a0<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gunung Anak Krakatau merupakan <strong>gunung api aktif karena berada di wilayah yang memiliki aktivitas tektonik tinggi<\/strong>. Hal ini membuat proses yang berkaitan dengan pergerakan magma dan pelepasan gas di bawah permukaannya masih berlangsung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tubuh gunung ini pun terus mengalami perubahan, baik karena penambahan material hasil erupsi maupun karena material yang runtuh atau tererosi.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Buat kamu yang mau belajar Geografi lebih dalam, boleh banget\u00a0<em>lho\u00a0<\/em>gabung di\u00a0<strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/privat\/geografi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ruangguru Privat Geografi<\/a><\/strong>. Di situ kamu akan ketemu tutor-tutor keren yang berkualitas dan pastinya sudah terstandarisasi. Kamu juga bisa pilih mau ikutan kelas\u00a0<em>offline\u00a0<\/em>atau\u00a0<em>online<\/em>. Untuk inforrmasi lebih lanjut, kamu boleh klik\u00a0<em>banner\u00a0<\/em>di bawah ini ya!<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/cta.ruangguru.com\/blog-rg-10-privat-b?referrer=https%253A%252F%252Fwww.ruangguru.com%252Fblog%252Fpenelitian-geografi-dan-jenis-jenisnya&amp;clientTimestamp=2026-09-17T07%3A22%3A23.133Z&amp;cookiesId=961acec3-1a1e-4a64-944e-3848f02ffe14&amp;sessionId=115cfbf3-32b8-4945-bac6-2345732f4260&amp;clientDevice=Chrome+152+on+Windows+10&amp;clientOS=Windows&amp;clientOSVersion=10\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/d64ab1f3-b67a-48ca-8c9d-fcb8fc288ee1.png\" alt=\"CTA Ruangguru Privat\" width=\"1024\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Tanda-Tanda Gunung Api akan Erupsi<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum erupsi, gunung api biasanya menunjukkan perubahan aktivitas yang bisa dipantau oleh para ahli. Nah berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan:<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>1. Meningkatnya aktivitas gempa<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Saat magma naik ke permukaan, tekanan di dalam gunung pun ikut meningkat. Akibatnya, batu-batuan di sekitarnya retak dan memicu <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/mengenal-seisme-dan-klasifikasinya\">gempa vulkanik<\/a><\/strong>. Oleh karena itu, para ahli akan memantau jumlah dan jenis gempa untuk melihat perubahan aktivitas gunung secara berkala.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>2. Berubahnya bentuk permukaan gunung<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Magma yang naik dan menumpuk di bawah permukaan gunung, dapat membuat bagian tubuh gunung sedikit mengembung atau berubah bentuk. Para ahli menyebut perubahan ini sebagai <\/span><strong>deformasi gunung api<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>3. Meningkatnya emisi gas vulkanik<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Magma yang keluar melalui celah permukaan gunung juga membawa berbagai gas vulkanik, seperti sulfur dioksida (SO\u2082) dan karbon dioksida (CO\u2082). Jumlah dan komposisi gas yang keluar dapat meningkat, seiring dengan aktivitas di dalam gunung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>4. Berubahnya suhu di sekitar area vulkanik<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika magma semakin naik ke permukaan, panas dari dalam bumi dapat mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Akibatnya, suhu di beberapa area seperti kawah, fumarol, atau sumber air panas bisa mengalami perubahan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/gunung-dingin\">Kenapa sih Suhu di Gunung Lebih Dingin?<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, selain tanda-tanda di atas, para ahli juga memantau data lain secara bersamaan dan berkala. Dari berbagai data tersebut, mereka dapat menilai apakah aktivitas gunung masih normal atau mulai menunjukkan peningkatan. Aktivitas gunung yang sempat meningkat, juga bisa kembali mereda tanpa terjadi erupsi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Langkah Mitigasi Erupsi Gunung Api<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Erupsi gunung berapi, memang nggak bisa kita cegah. Tapi, kita bisa tetap mengurangi dampak negatifnya dengan melakukan mitigasi bencana. Lalu, apa saja hal-hal yang bisa kita lakukan?<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>Mitigasi Sebelum Terjadi Erupsi<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu tinggal di sekitaran gunung berapi, persiapan sebelum erupsi, sangat penting dilakukan. Beberapa langkah berikut dapat membantu kita menghadapi kemungkinan erupsi dengan lebih siap:<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>1. Kenali status aktivitas gunung api<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap gunung api memiliki tingkat aktivitas yang dapat berubah dari waktu ke waktu. Mulai dari Level I (Normal), Level II (Waspada), Level III (Siaga), hingga Level IV (Awas). Dengan memahami hal ini, masyarakat bisa paham, kapan harus mengevakuasi diri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>2. Ketahui wilayah yang rawan terkena dampak<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Informasi mengenai kawasan rawan bencana biasanya tersedia melalui media sosial atau website badan yang berwenang. Dengan mengetahuinya sejak awal, masyarakat bisa lebih cepat menentukan tempat yang aman jika sewaktu-waktu harus mengungsi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>3. Siapkan kebutuhan darurat<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika aktivitas gunung sudah menunjukkan level Siaga, nggak ada salahnya untuk mulai menyiapkan perlengkapan darurat yang mudah dibawa. Isinya bisa kebutuhan makan dan minum secukupnya, obat-obatan, pakaian, dokumen penting, dan perlengkapan lain yang dibutuhkan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>4. Ikuti informasi resmi<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan lupa juga untuk terus mengikuti perkembangan dari sumber resmi seperti PVMBG, BNPB, BPBD, atau pemerintah daerah setempat. Supaya kamu nggak mudah panik, hindari menelan informasi mentah-mentah dari sumber yang belum jelas kebenarannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bencana-alam\">Bencana Alam: Pengertian, Jenis, Contoh &amp; Dampaknya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>Mitigasi saat Terjadi Erupsi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika erupsi terjadi, kondisi di sekitar gunung bisa berubah dengan cepat. Sebisa mungkin, utamakan keselamatan dan ikuti arahan dari pihak berwenang.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>1. Tetap tenang dan ikuti arahan evakuasi<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jika pihak berwenang meminta masyarakat untuk mengungsi, segera ikuti arahan tersebut melalui jalur evakuasi yang telah ditentukan. Hindari menunda keberangkatan hanya karena kondisi di sekitar terlihat masih aman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>2. Jauhi kawasan yang masuk zona bahaya<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bahaya erupsi nggak hanya berasal dari letusan secara langsung, loh. Material vulkanik juga dapat mengikuti jalur tertentu dan membahayakan wilayah di sekitar gunung. Oleh karena itu, jangan mendekati kawah, lembah, sungai, atau wilayah lain yang telah dinyatakan berbahaya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>3. Gunakan perlindungan saat terjadi hujan abu<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jika terjadi hujan abu, gunakan masker atau penutup hidung dan mulut yang sesuai serta lindungi mata. Abu vulkanik dapat mengganggu pernapasan dan mengiritasi mata. Ikuti juga petunjuk dari pihak berwenang mengenai cara membersihkan abu dan menangani kondisi lingkungan setelah erupsi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>Mitigasi Setelah Terjadi Erupsi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Erupsi yang sudah mereda, belum tentu tidak menimbulkan bahaya. Gunung api bisa saja masih menunjukkan aktivitas susulan. Oleh karena itu, masyarakat masih perlu berhati-hati dan mengikuti perkembangan lebih lanjut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>1. Jangan langsung kembali ke wilayah terdampak<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jika sudah mengungsi, jangan buru-buru kembali ke rumah. Tunggu sampai pihak berwenang menyatakan wilayah tersebut aman untuk ditinggali kembali. Karena kondisi di sekitar gunung masih dapat berubah setelah erupsi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>2. Waspada bahaya sekunder<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Erupsi gunung berapi juga dapat memicu bahaya lain setelah letusan, contohnya lahar hujan. Material vulkanik yang menumpuk di lereng dapat terbawa aliran air ketika hujan turun. Oleh karena itu, masyarakat tetap perlu berhati-hati dan menghindari sungai atau lembah yang berpotensi menjadi jalur aliran material.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">3. Tetap pantau status gunung api<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah erupsi, aktivitas gunung tetap perlu dipantau karena dapat berubah. Oleh karena itu, terus ikuti informasi resmi dan perhatikan arahan mengenai wilayah yang masih harus dihindari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/mitigasi-bencana-alam-di-indonesia\">Macam-Macam Mitigasi Bencana Alam di Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, fenomena gunung meletus juga menyimpan banyak hal menarik untuk dipelajari ya, mulai dari proses terbentuknya gunung api hingga alasan di balik setiap aktivitas vulkaniknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu suka belajar tentang fenomena alam seperti ini, masih banyak loh materi seru lainnya yang bisa kamu eksplor bareng <\/span><a href=\"https:\/\/app.ruangguru.com\/\"><b>ruangbelajar<\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Yuk, belajar lebih mudah dan pahami konsepnya dengan cara yang lebih menyenangkan!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/bayar.ruangguru.com\/\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/cb54667e-54d6-4f12-b0a7-444d9b784383.jpg\" alt=\"CTA Ruangguru\" width=\"1022\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Referensi:<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/volcano.oregonstate.edu\/krakatau (Diakses pada 14 September 2026)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.emilogi.com\/artikel\/gunung-krakatau-sejarah-letusan-dan-dampaknya (Diakses pada 14 September 2026)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/134410530\/anak-krakatau-sejarah-kelam-gunung-berapi-yang-muncul-dari-laut (Diakses pada 14 September 2026)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.bnpb.go.id\/berita\/update-aktivitas-gunung-anak-krakatau-status-level-iii-masih-berlaku (Diakses pada 14 September 2026)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>Sumber Gambar:<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.ngopibareng.id\/read\/kedasyatan-kiamat-krakatau-purba-yang-membelah-jawa-dan-sumatera-2031414 (Diakses pada 14 September 2026)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa hari lalu, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi, yang sampai menimbulkan abu vulkanik di beberapa wilayah. Yuk, cari tau kenapa fenomena ini bisa terjadi dan langkah mitigasinya!\u00a0\u00a0 &#8212; &nbsp; Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada awal September 2026. Erupsi yang berlangsung selama berjam-jam ini, turut membawa abu vulkanik ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta.\u00a0 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":25,"featured_media":27816,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_edit_lock":["1789632342:1"],"_edit_last":["1"],"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/419cbb92-1f4a-4fce-9cae-3b73ca367f45.png"],"_yoast_wpseo_primary_category":["562"],"_yoast_wpseo_estimated-reading-time-minutes":["10"],"_yoast_wpseo_content_score":["90"],"_yoast_wpseo_metadesc":["Fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Cari tau penyebab dan langkah mitigasinya di artikel ini!"],"_wp_old_date":["2026-09-17"]},"categories":[562],"tags":[19],"class_list":["post-27816","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fakta-seru","tag-fakta-seru"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Fenomena Erupsi Gunung Anak Krakatau, Apa Penyebabnya?<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Cari tau penyebab dan langkah mitigasinya di artikel ini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Fenomena Erupsi Gunung Anak Krakatau, Apa Penyebabnya?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Cari tau penyebab dan langkah mitigasinya di artikel ini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-14T02:00:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-17T08:08:03+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ruangguru\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@ruangguru\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@ruangguru\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ruangguru\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau\",\"url\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau\",\"name\":\"Fenomena Erupsi Gunung Anak Krakatau, Apa Penyebabnya?\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/419cbb92-1f4a-4fce-9cae-3b73ca367f45.png\",\"datePublished\":\"2026-09-14T02:00:14+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-17T08:08:03+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/2dae6813d3ea483a4f4b1daa8507c835\"},\"description\":\"Fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Cari tau penyebab dan langkah mitigasinya di artikel ini!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/419cbb92-1f4a-4fce-9cae-3b73ca367f45.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/419cbb92-1f4a-4fce-9cae-3b73ca367f45.png\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Fenomena Erupsi Gunung Anak Krakatau, Apa Penyebabnya?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/\",\"name\":\"Ruangguru Blog\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/2dae6813d3ea483a4f4b1daa8507c835\",\"name\":\"Ruangguru\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/14d3dacd366167accd4a3df50466ac6140d602884d5c3534f50bab7acaa331fe?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/14d3dacd366167accd4a3df50466ac6140d602884d5c3534f50bab7acaa331fe?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Ruangguru\"},\"description\":\"Platform bimbingan belajar online terbesar dan terbaik di Indonesia. Menyediakan layanan belajar berbasis teknologi interaktif untuk jenjang SD, SMP, SMA\/SMK.\",\"url\":\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/author\/ruangguru\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Fenomena Erupsi Gunung Anak Krakatau, Apa Penyebabnya?","description":"Fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Cari tau penyebab dan langkah mitigasinya di artikel ini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Fenomena Erupsi Gunung Anak Krakatau, Apa Penyebabnya?","og_description":"Fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Cari tau penyebab dan langkah mitigasinya di artikel ini!","og_url":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau","og_site_name":"Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/","article_published_time":"2026-09-14T02:00:14+00:00","article_modified_time":"2026-09-17T08:08:03+00:00","author":"Ruangguru","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@ruangguru","twitter_site":"@ruangguru","twitter_misc":{"Written by":"Ruangguru","Est. reading time":"10 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau","url":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau","name":"Fenomena Erupsi Gunung Anak Krakatau, Apa Penyebabnya?","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/419cbb92-1f4a-4fce-9cae-3b73ca367f45.png","datePublished":"2026-09-14T02:00:14+00:00","dateModified":"2026-09-17T08:08:03+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/2dae6813d3ea483a4f4b1daa8507c835"},"description":"Fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Cari tau penyebab dan langkah mitigasinya di artikel ini!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/419cbb92-1f4a-4fce-9cae-3b73ca367f45.png","contentUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/419cbb92-1f4a-4fce-9cae-3b73ca367f45.png"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/fenomena-erupsi-gunung-anak-krakatau#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Fenomena Erupsi Gunung Anak Krakatau, Apa Penyebabnya?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/","name":"Ruangguru Blog","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/2dae6813d3ea483a4f4b1daa8507c835","name":"Ruangguru","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/14d3dacd366167accd4a3df50466ac6140d602884d5c3534f50bab7acaa331fe?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/14d3dacd366167accd4a3df50466ac6140d602884d5c3534f50bab7acaa331fe?s=96&d=mm&r=g","caption":"Ruangguru"},"description":"Platform bimbingan belajar online terbesar dan terbaik di Indonesia. Menyediakan layanan belajar berbasis teknologi interaktif untuk jenjang SD, SMP, SMA\/SMK.","url":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/author\/ruangguru"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27816","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/25"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27816"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27816\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27826,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27816\/revisions\/27826"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27816"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27816"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27816"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27816"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}