Continuous Integration (CI)
Continuous Integration (CI / Integrasi Berkelanjutan) adalah praktik pengembangan perangkat lunak di mana setiap pengembang dalam tim rutin menggabungkan (merge) kode terbaru mereka ke dalam cabang utama (main branch) repositori bersama, yang diikuti oleh build dan pengetesan otomatis.
1. Analogi Jalur Perakitan Perakitan Otomotif
Bayangkan sebuah pabrik perakitan mobil modern:
Setiap kali seorang pekerja selesai merakit spion mobil baru, spion tersebut langsung dipasang ke badan mobil utama dan diuji fungsinya secara otomatis oleh robot penguji saat itu juga. Jika spion tidak pas, alarm pabrik langsung berbunyi agar pekerja tersebut segera membenarkannya.
Tanpa CI, pekerja akan merakit semua bagian mobil di rumah masing-masing, lalu mencoba menggabungkannya hanya sekali di akhir bulan. Hal ini dipastikan gagal karena ukuran baut dan kabel yang ternyata berbeda (konflik integrasi).
Tanpa CI, pekerja akan merakit semua bagian mobil di rumah masing-masing, lalu mencoba menggabungkannya hanya sekali di akhir bulan. Hal ini dipastikan gagal karena ukuran baut dan kabel yang ternyata berbeda (konflik integrasi).
2. Alur Kerja Pipeline CI
Ketika pengembang mengirimkan kodenya ke server (contoh menggunakan GitHub):
- Build: Sistem CI mendownload kode dan mencobanya dikompilasi menjadi aplikasi utuh. Jika gagal, integrasi dibatalkan.
- Test (Pengujian): Menjalankan serangkaian skenario pengujian otomatis (Unit Test, Integration Test) untuk memastikan kode baru tidak merusak fitur lama yang sudah ada.
- Report: Memberikan laporan langsung ke dashboard developer mengenai status kelayakan kode tersebut.
?
Uji Pemahaman Mandiri
Apakah tujuan utama diterapkannya praktik Continuous Integration (CI)?
A. Agar pengembang tidak perlu lagi menulis kode secara manual
B. Menemukan konflik kode dan bug sedini mungkin melalui pengujian otomatis
C. Mengurangi jumlah pengembang dalam satu tim proyek
