Selamat Tinggal Berita Hoax, Ikuti 5 Strategi Menghindarinya Yuk!

Smart buddies, kalau kamu pengguna aktif socmed, merasa nggak sih akhir-akhir ini cukup sulit untuk memilah informasi yang terpercaya? Beragam berita yang muncul terus mengarah ke opini negatif. Hal ini membuat pembaca jadi mudah terpancing emosi dan saling lempar komentar yang cenderung menyerang satu sama lain. Padahal, setelah diketahui berita tersebut hanyalah hoax. Pasti sering dengar kan istilah ini? Sebenarnya artinya apa ya? Kenapa kita harus mulai ucapkan selamat tinggal pada kata ini? Yuk, baca terus!

Asal mulanya berasal dari Bahasa Inggris yang sudah diperkirakan muncul sejak tahun 1808 saat era industri. Istilah ini sendiri memiliki artian kabar bohong. Menurut buku Sins Against Science, kata hoax diyakini diambil dari sebuah mantra hocus pocus. Frasa tersebut serupa dengan para pesulap yang kerap mengatakan sim salabim. Nah, setelah tahu pengertiannya, sekarang gimana ya harus menyikapi hoax? Baca tips dari Ruangguru berikut ini ya.

 

1. Cari berita serupa lainnya

selamat tinggal - Perbanyak baca berita lainnya Perbanyak baca berita lainnya. (sumber: vtc.edu)

Ketika dapat informasi baru dan mau menyebarkannya ke teman, ada baiknya temukan dulu berita dengan judul serupa di alat mesin pencari seperti Google atau Yahoo!. Hal ini perlu kamu lakukan untuk memastikan bahwa semua isi yang tercantum itu memang benar. Nah, jika ternyata nggak terbukti keakuratannya, kamu bisa abaikan saja informasi tersebut. Jangan coba-coba untuk meneruskannya ke temanmu ya!

 

2. Jangan berhenti baca sampai di judul saja

selamat tinggal - Biasakan membaca berita secara keseluruhan Biasakan membaca berita secara keseluruhan (sumber: readcd.ala.org)

Sebenarnya kesalahpahaman dalam memahami berita bisa dihindari lho, asal membiasakan diri membaca keseluruhan isi informasi. Kalau kamu sekadar baca judul, hal itu nggak akan membuat serta-merta mengetahui keseluruhan konten. Apalagi banyak judul yang biasanya memilih kata-kata heboh supaya menarik perhatian pembaca.

 

3. Banyak bertanya

selamat tinggal - Semakin banyak bertanya, semakin tahu banyak hal Semakin banyak bertanya, semakin tahu banyak hal (sumber: parkerliveonline.com)

Kamu sadar nggak, kalau respon itu selalu dibutuhkan bagi para pemberi informasi? Dalam hal ini, supaya penulis atau penyebar berita tahu apa dia bisa mempengaruhi pembacanya atau tidak. Nah, saat kamu mendapati beberapa info yang janggal, jangan malas untuk bertanya lebih detil. Bisa juga kamu menanyakan tentang isu tersebut ke orang yang lebih expert. Supaya wawasanmu dalam memandang berita jadi luas. Hitung-hitung sekalian belajar, nggak ada salahnya kan?

 

4. Cermati sumber berita

Riset Stanford Graduate of Education menilai para socmed user khususnya anak muda, akan lebih fokus pada konten dibanding sumber informasinya. Hal inilah yang jadi penyebab kenapa anak muda kerap berdebat di sosial media. Padahal sebenarnya, generasi ini yang punya skill untuk bisa mendapatkan informasi paling terpercaya, lho.

 

5. Hati-hati dengan isu tertentu

selamat tinggal - Hati-hati, ada beberapa isu yang rentan sekali dengan hoax. Hati-hati, ada beberapa isu yang rentan sekali dengan hoax. (sumber: ipprotheinternet.com)

Ada beberapa kategori berita yang ternyata punya persentase tinggi untuk dipalsukan informasinya. Kamu tahu nggak apa saja contohnya? Yep, salah satunya adalah isu politik. Kejadian seperti ini bukan cuma ada di Indonesia, tapi juga di berbagai negara maju, seperti Amerika Serikat. Mantan presidennya, Barack Obama, sempat diisukan melakukan penyadapan terhadap Donald Trump. Sehingga beliau harus berulang kali menyampaikan ke media bahwa kabar tersebut adalah hoax.

Nah smart buddies, sekarang kebayang kan gimana dampaknya kalau kamu belum bisa memilah berita dengan baik? Semoga tips Ruangguru kali ini cukup membantumu untuk lebih bijak dalam bersosial media ya! (RE/DR)

Ruangguru

Platform bimbingan belajar online terbesar dan terbaik di Indonesia. Menyediakan layanan belajar berbasis teknologi interaktif untuk jenjang SD, SMP, SMA/SMK.