Brain Rot: Fenomena Otak Lelah Akibat Konten Receh

Siapa yang hobi scroll konten receh di sosmed sampai berjam-jam? Hati-hati kena brain rot! Apa itu brain rot? Yuk, simak penjelasannya!
—
Pernah nggak sih kamu sadar, tiba-tiba udah 2 jam lebih scroll TikTok cuma buat nonton video drama pendek receh, meme absurd, atau konten live stream yang nggak penting? Tanpa disadari, kebiasaan ini sering membuat kita lupa waktu. Kalau kamu pernah mengalaminya, tenang aja, kamu nggak sendirian kok. Banyak orang juga mengalami hal serupa, yang kini dikenal dengan istilah brain rot.
Istilah brain rot menjadi semacam peringatan bagi generasi digital yang semakin terbiasa mengonsumsi konten singkat, ringan, dan cepat, tetapi belum tentu baik untuk kesehatan otak. Oleh karena itu, agar kamu bisa lebih sadar dan bijak dalam menggunakan media sosial, artikel ini akan membahas secara lengkap tentang apa itu brain rot, penyebab terjadinya, serta cara mengatasinya. Yuk, kita simak bersama!
Apa itu Brain Rot?
Brain rot adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika kemampuan berpikir kita terasa menurun karena terlalu sering terpapar konten yang ringan, dangkal, dan cenderung berulang-ulang. Konten seperti ini memang seru dan menghibur, tapi kalau dikonsumsi terus-menerus tanpa jeda, lama-lama bisa bikin otak mager mikir dan kurang terlatih untuk berpikir kritis.
Secara harfiah, brain rot berarti “pembusukan otak”. Tapi tenang, bukan berarti otak kita benar-benar rusak atau membusuk secara fisik, ya 😅. Istilah ini hanya digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan menurunnya kemampuan fokus, daya pikir, dan motivasi akibat kebiasaan mengonsumsi konten yang itu-itu aja.
Biasanya, brain rot sering dikaitkan dengan kebiasaan, seperti:
- Menonton video pendek di TikTok atau Instagram Reels tanpa henti.
- Scroll media sosial berjam-jam tanpa tujuan yang jelas.
- Terlalu sering menikmati meme, shitposting, atau drama online yang kurang bermanfaat.
- Bermain game mobile yang bikin nagih, tapi nggak terlalu menantang secara intelektual.
Sebenarnya, nggak semua konten hiburan itu buruk kok. Menonton video lucu atau main game sesekali juga penting buat refreshing. Tapi, masalah mulai muncul ketika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus sampai menggeser aktivitas yang lebih bermanfaat bagi otak, seperti membaca buku, belajar hal baru, atau mengasah skill.
Nah, jujur deh, siapa di sini yang sekarang jarang banget baca buku, tapi kalau ada waktu luang malah auto main game atau buka medsos tanpa sadar? Agar kebiasaan buruk ini nggak berlanjut terus-menerus, kita mulai sadar dan pelan-pelan belajar ngatur lagi kebiasaan kita, ya.
Baca Juga: Pernah Mengalami Brain Freeze? Ini yang Sebenarnya Terjadi pada Tubuh Kita
Kenapa Istilah Brain Rot Populer di Media Sosial?
Fenomena brain rot semakin sering dibicarakan seiring dengan banyaknya pengguna internet. Terutama dari kalangan Gen Z, yang mulai menyadari perubahan kebiasaan mereka saat bersosial media.
Di TikTok, misalnya, video dengan hashtag #brainrot sering menampilkan situasi yang kocak sekaligus relate, seperti seseorang yang tanpa sadar bisa menonton video kucing berjoget, meme aneh, atau konten random selama berjam-jam. Meskipun terlihat sepele dan lucu, kebiasaan ini sering bikin kita bertanya-tanya, “kok bisa ya aku betah nonton beginian lama banget?”
Sementara itu, di platform X (Twitter), istilah brain rot sering digunakan dengan nada bercanda, sarkas, atau self-awareness. Banyak orang memakainya untuk curhat tentang kebiasaan scrolling tanpa henti yang sebenarnya mereka sadari tidak sehat.
Istilah ini pun jadi populer karena mewakili perasaan banyak orang. Kita tau ada yang kurang beres dengan cara kita mengonsumsi konten digital, tapi tetap aja susah berhenti. Tanpa terasa, media sosial sudah menjadi bagian dari rutinitas harian yang bikin nagih dan sulit dilepaskan.

Sering mengkonsumsi konten receh, berdampak pada kemunduran kinerja otak (brain rot). (Sumber: Topik.id)
Apa yang Menyebabkan Kita Mengalami Brain Rot?
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan brain rot, di antaranya:
1. Terlalu Banyak Mengkonsumsi Konten Hiburan
Terlalu sering menonton atau scroll konten hiburan yang isinya ringan dan receh, lama-lama membuat kita jadi lebih suka hal-hal yang instan dan serba gampang, tanpa perlu usaha untuk berpikir lebih dalam. Akibatnya, saat harus menghadapi masalah yang membutuhkan fokus, kita jadi cepat capek dan gampang bosan.
2. Terbiasa dengan Konten Cepat dan Dangkal
Sekarang ini, banyak konten viral yang durasinya singkat, serba cepat, dan langsung ke inti. Memang seru dan bikin nagih, tapi kalau terlalu sering dikonsumsi, otak jadi terbiasa dengan informasi instan. Lama-kelamaan, kita jadi malas membuka buku, membaca artikel panjang, atau menonton video penjelasan yang butuh waktu dan konsentrasi. Padahal, konten-konten seperti itu justru penting buat melatih cara berpikir kita.
3. Terjebak Algoritma Media Sosial
Tanpa kita sadari, media sosial punya sistem pintar yang selalu menampilkan konten sesuai dengan minat kita. Kalau kamu sering nonton video lucu, ya isinya bakal video lucu terus. Kalau suka gosip, gosip lagi dan lagi. Akhirnya, kita masuk ke lingkaran tanpa akhir yang bikin susah berhenti scroll. Nggak heran kalau tiba-tiba kamu sadar udah buang-buang waktu untuk hal yang nggak produktif.
4. Kurangnya Aktivitas yang Melatih Otak
Selain terlalu banyak mengkonsumsi konten receh, kurangnya aktivitas yang melatih otak juga bisa memperparah brain rot. Contohnya, jarang membaca, jarang berdiskusi, jarang memecahkan masalah sendiri, atau jarang belajar hal baru, dapat membuat kemampuan berpikir kita jadi jarang dipakai. Padahal, otak itu seperti otot, lho. kalau jarang dilatih, lama-lama bisa melemah. Nah, supaya tetap tajam, otak juga perlu diajak kerja secara rutin lewat kegiatan yang menantang dan bermanfaat.
Baca Juga: Makan Cantik: Sebuah Hiperrealitas dalam Sosial Media
Perbedaan Brain Rot dengan Burnout
Meskipun sama-sama berhubungan dengan kelelahan mental, namun istilah brain rot berbeda dengan burnout, ya! Berikut ini perbedaan antara brain rot dan burnout:
| Perbedaan | Brain Rot | Burnout |
| Penyebab | Kebiasaan mengonsumsi konten hiburan yang terlalu berlebihan, terutama konten yang ringan, dangkal, dan tidak memberikan manfaat jangka panjang bagi perkembangan otak. | Disebabkan oleh tekanan kerja, tugas sekolah, atau aktivitas sehari-hari yang terlalu padat. Ketika tubuh dan pikiran terus dipaksa bekerja tanpa jeda yang cukup, kondisi mental pun menjadi lebih rentan mengalami kelelahan. |
| Gejala | Menurunnya kemampuan untuk fokus dan berkonsentrasi. Seseorang menjadi lebih mudah terdistraksi, malas berpikir mendalam, dan cepat merasa bosan, bahkan terhadap hal-hal yang sebelumnya menarik. | Stres yang berlebihan, perasaan tertekan, serta hilangnya semangat dan motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari. |
| Solusi | Langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi penggunaan media sosial dan gadget dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, penting juga untuk mulai mengkonsumsi konten yang lebih berkualitas dan bermanfaat, seperti buku, podcast edukatif, atau video pembelajaran. | Istirahat yang cukup, pengelolaan stres yang baik, serta melakukan aktivitas, seperti berolahraga, meditasi, atau menjalani hobi juga dapat membantu memulihkan energi fisik dan mental. |
Jadi, brain rot bukan berarti kamu stres karena terlalu sibuk, tapi karena terlalu sering nyemplung di konten receh sampai otakmu jadi tumpul.
Baca Juga: Apa Itu Depresi? Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Tanda-Tanda Kamu Mengalami Brain Rot
Beberapa tanda brain rot yang sering dialami banyak orang, antara lain:
- Susah fokus, terutama saat membaca atau belajar.
- Merasa bosan saat harus menonton video edukatif yang panjang atau membaca buku.
- Merasa lebih tertarik pada konten receh meski tahu kalau hal itu tidak bermanfaat.
- Lebih sering menunda tugas penting demi scrolling media sosial.
- Kehilangan kreativitas atau kemampuan berpikir kritis.
- Mood gampang berubah tanpa alasan yang jelas.
Jika kamu merasa sebagian besar tanda tersebut sesuai dengan kebiasaan sehari-harimu, kemungkinan kamu sedang mengalami brain rot dalam tingkat ringan. Oleh karena itu, penting untuk segera menyadarinya dan mulai mengambil langkah-langkah positif agar kondisi ini tidak semakin berlarut-larut.
Dampak Brain Rot di Kehidupan Sehari-hari
Brain rot bukan hanya sekadar rasa malas berpikir, tetapi juga dapat berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa dampaknya:
1. Menurunnya Prestasi Akademik dan Produktivitas
Otak yang jarang dilatih akan kesulitan memahami materi pelajaran maupun menyelesaikan tugas yang membutuhkan pemikiran kritis dan mendalam. Akibatnya, nilai di sekolah atau hasil kerja bisa menurun.
2. Kesulitan dalam Mengambil Keputusan
Kebiasaan mengkonsumsi konten instan juga bisa membuat otak kurang terbiasa berpikir panjang. Hal ini dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih impulsif, termasuk saat menghadapi keputusan penting yang berdampak jangka panjang.
3. Ketergantungan Bermain Sosial Media
Tanpa disadari, otak menjadi terbiasa mencari kepuasan instan dari konten viral atau hiburan receh di internet. Akibatnya, seseorang bisa sulit melepaskan diri dari gadget dan media sosial.
4. Berkurangnya Makna dan Arah Hidup
Terlalu sering mengkonsumsi konten yang dangkal dan kurang bermakna dapat membuat hidup terasa kosong dan kurang tujuan. Seseorang bisa merasa hampa tanpa mengetahui penyebab pastinya.
Baca Juga: Apa Sih Dampak Teknologi Terhadap Kebiasaan Belajar Kita?
Cara Mengatasi Brain Rot
Lalu, bagaimana cara mengatasi brain rot jika kita sudah mulai merasakan gejalanya? Fenomena ini bisa diatasi dengan langkah-langkah yang cukup sederhana. Tapi, kamu perlu konsisten dalam menerapkannya. Berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi sekaligus mencegah brain rot.
1. Mengurangi Penggunaan Gadget
Langkah pertama yang paling penting adalah melakukan social media detox atau berhenti sejenak dari aktivitas bermedia sosial. Cobalah meluangkan waktu setiap hari untuk menjauh sejenak dari media sosial dan gadget. Kamu bisa menggantinya dengan aktivitas yang lebih bermanfaat.
Kamu juga bisa membuat jadwal khusus untuk menggunakan media sosial agar tidak berlebihan. Manfaatkan fitur screen time di ponsel untuk memantau dan membatasi durasi penggunaan aplikasi, sehingga waktu bermain tetap terkontrol.
2. Melakukan Aktivitas yang Lebih Produktif
Manfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang memberi dampak positif, seperti mempelajari keterampilan baru, berolahraga, mengobrol bersama keluarga atau teman, serta menekuni hobi seperti membaca, melukis, memasak, atau kegiatan kreatif lainnya.
3. Pilih Tontonan Konten yang Lebih Berkualitas
Mulailah menyaring konten yang kamu konsumsi setiap hari. Kurangi tontonan yang kurang bermanfaat, lalu ganti dengan konten yang lebih edukatif, seperti podcast, video dokumenter, atau tayangan inspiratif.
4. Rutin Melatih Kemampuan Otak
Agar tidak terlena dengan sesuatu yang instan, biasakan otak untuk terus berpikir aktif. Kamu bisa melatihnya dengan membaca buku, mengerjakan teka-teki logika, atau berdiskusi tentang berbagai isu menarik. Kebiasaan ini membantu menjaga daya pikir tetap optimal.
Apakah Bermain Sosial Media Selalu Berdampak Buruk?
Apakah bermain media sosial selalu berdampak buruk? Jawabannya, tidak selalu. Platform seperti TikTok atau X pada dasarnya hanyalah alat yang bisa memberi manfaat maupun dampak negatif, tergantung cara kita menggunakannya.
Di dalamnya, terdapat banyak konten yang bersifat edukatif, inspiratif, dan produktif. Karena itu, yang terpenting adalah menerapkan mindful consumption, yaitu menyadari apa yang kita konsumsi, seberapa sering kita mengaksesnya, serta bagaimana pengaruhnya terhadap diri sendiri.
Jadi, kuncinya adalah satu, yaitu seimbang alias balance. Nggak masalah kok sesekali nonton video lucu atau meme untuk hiburan, asalkan kamu juga tetap menjaga asupan konten yang bermanfaat dan tidak melupakan tanggung jawab utamamu.
Baca Juga: Mengenal Teknik Pernapasan 4-7-8 untuk Atasi Susah Tidur
Fenomena brain rot bisa menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran kita membutuhkan jeda. Ini merupakan sinyal untuk berhenti sejenak, menata ulang prioritas, serta lebih peduli terhadap kesehatan mental. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk lebih bijak dalam memilih informasi yang dikonsumsi, karena bukan hanya tubuh yang membutuhkan asupan bergizi, tetapi juga pikiran.
Setelah memahami apa itu brain rot, ciri-ciri, dan cara mengatasinya, kini saatnya mulai lebih sadar dalam menggunakan media digital. Yuk, biasakan detoks digital, latih fokus, dan isi waktu dengan kegiatan yang lebih bermakna. Jangan biarkan kebiasaan scroll tanpa batas menghambat perkembangan diri.
Jika kamu suka artikel seperti ini dan ingin belajar lebih banyak soal kesehatan mental atau skill belajar lainnya, pantengin terus Blog Ruangguru, ya! Jangan lupa juga untuk bergabung bersama Ruangguru agar belajarmu makin seru dan produktif!
Referensi:
https://rsmmbogor.com/brain-rot-fenomena-media-sosial-yang-mengancam-kesehatan-mental (Diakses pada 8 Juli 2025)
https://hellosehat.com/mental/kecanduan/brain-rot/ (Diakses pada 8 Juli 2025)
https://kanal.psikologi.ugm.ac.id/brain-rot-benarkah-otak-mengalami-pembusukan/ (Diakses pada 8 Juli 2025)
https://www.newportinstitute.com/resources/co-occurring-disorders/brain-rot/ (Diakses pada 8 Juli 2025)


