Sejarah Kesultanan Demak, Kerajaan Islam Pertama di Tanah Jawa | Sejarah Kelas 10

Tahukah kamu seperti apa sejarah Kesultanan Demak? Yuk, simak mulai dari awal mula berdirinya, hingga kemunduran dan peninggalannya di artikel Sejarah kelas 10 berikut!
—
Kalau kita ngomongin sejarah Indonesia, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa, pasti nggak bisa lepas dari yang namanya Kesultanan Demak. Kerajaan ini punya peran penting banget, bukan cuma sebagai pusat kekuasaan, tapi juga sebagai pusat dakwah Islam di masa itu.
Nah, menariknya lagi, Demak ini jadi jembatan antara runtuhnya kejayaan Hindu-Buddha seperti Majapahit, menuju era kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.
Di artikel ini, kita bakal bahas lengkap mulai dari sejarah Kerajaan Demak, siapa pendirinya, bagaimana masa kejayaannya, sampai penyebab keruntuhannya. Yuk, kita kupas tuntas!
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Kediri, Singasari, dan Majapahit
Apa Itu Kesultanan Demak?
Kerajaan atau Kesultanan Demak adalah sebuah kerajaan Islam pertama yang ada di pantai utara Jawa. Dulu, wilayah Demak pertama muncul sebagai kabupaten dari Kerajaan Majapahit. Dalam perkembangannya, wilayah ini kemudian menjadi pusat kekuasaan baru berbasis Islam.
Kesultanan Demak menjadi salah satu pelopor besar dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Bahkan, bisa dibilang Demak adalah titik awal transformasi besar dari budaya Hindu-Buddha ke Islam di wilayah tersebut.
Kalau ditanya Kesultanan Demak terletak di mana, jawabannya adalah di pesisir utara Jawa Tengah. Secara spesifik, lokasi Kesultanan Demak berada di sekitar Kabupaten Demak sekarang. Jadi, kalau kamu penasaran dengan pusat pemerintahan kesultanan demak saat ini berada di provinsi mana, jawabannya adalah Provinsi Jawa Tengah.
Selain itu, peninggalan terkenal dari kerajaan ini adalah Masjid Agung Demak yang didirikan oleh Wali Songo. Sampai sekarang, masjid ini masih berdiri kokoh dan menjadi destinasi wisata religi.
Sejarah Kerajaan Demak
Ngomongin sejarah Kerajaan Demak, tentu kita harus mulai dari proses berdirinya. Demak lahir di masa transisi ketika Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran.
Kalau kamu pernah dengar pertanyaan seperti jelaskan hubungan antara Kesultanan Demak dan Majapahit, jawabannya cukup menarik. Demak sebenarnya punya hubungan erat dengan Majapahit, karena pendirinya masih memiliki garis keturunan dari kerajaan tersebut. Jadi, bisa dibilang Demak adalah penerus kekuasaan yang membawa perubahan besar dari sisi agama dan sistem pemerintahan.
Selain itu, sumber sejarah kerajaan demak berasal dari berbagai catatan seperti Babad Tanah Jawi, Hikayat, serta peninggalan fisik seperti Masjid Agung Demak dan situs-situs lainnya.
Baca Juga: Kerajaan-Kerajaan Maritim Islam di Indonesia
—
Eits, sebelum lanjutin kisah tentang Kesultanan Demak, misal kamu tertarik lebih dalam dengan materi sejarah nih, kamu boleh loh belajar langsung bareng tutor yang keren-keren dari Ruangguru Privat Sejarah!
Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (offline) atau daring (online). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!
Berdirinya Kesultanan Demak
Pendiri kerajaan demak adalah Raden Patah. Ia juga dikenal sebagai pendiri Kesultanan Demak sekaligus raja pertama. Jadi kalau kamu menemukan pertanyaan seperti:
- Raja pertama Kerajaan Demak adalah → Raden Patah
- Raja pertama Kesultanan Demak adalah → Raden Patah
- Pendiri Kesultanan Demak adalah → Raden Patah
- Kerajaan Demak didirikan oleh → Raden Patah
- Kesultanan Demak didirikan oleh → Raden Patah
Semua jawabannya sama.
Raden Patah sendiri merupakan keturunan Raja Majapahit, yaitu Brawijaya. Setelah meninggalkan Majapahit, ia mendapatkan dukungan dari para adipati dan ulama.
Salah satu tokoh penting yang berperan besar adalah Sunan Ampel. Kalau kamu ditanya apa peran utama Sunan Ampel dalam pendirian Kesultanan Demak, jawabannya adalah sebagai pembimbing spiritual dan tokoh yang mendukung berdirinya kerajaan Islam tersebut.
Selain itu, wilayah awal Demak dikenal sebagai Glagah Wangi. Seiring waktu, wilayah ini berkembang menjadi Bintoro. Bahkan ada istilah Demak Bintara sebelum menjadi Kesultanan Demak adalah sebuah wilayah kadipaten di bawah Majapahit.
Kalau kamu melihat peta Kesultanan Demak, kamu akan menemukan bahwa wilayah ini sangat strategis karena berada di jalur perdagangan laut.

Ilustrasi peta Kesultanan Demak.
Gambar di atas merupakan ilustrasi peta Kesultanan Demak hasil integrasi dari artifical intelligence ya, gaiss. Ilustrasi tesebut menunjukkan kalau letak Kesultanan Demak sangat strategis karaena memang berada di jalur perdagangan laut. Tapi, hasil ilustrasi tidak sepenuhnya akurat berdasarkan fakta sejarah Kesultanan Demak abad ke-15 & ke-16. Misalnya, letak Pelabuhan Jepara dan Sunda Kelapa harusnya gak di situ.
Pelabuhan Jepara sebagai salah satu lokasi penting dalam perdagangan Kesultanan Demak, letaknya bersebelahan dengan Kesultanan Demak. Sementara, Sunda Kelapa ada di sebelah barat Pulau Jawa. Selain itu, Pulau Jawa juga terpisahnya gak sejauh itu sih. Tapi, semoga kamu terbayang ya, betapa Keslutanan Demak memang letaknya di utara Pulau Jawa dan sangat dekat dengan laut.
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Aceh: Asal Mula, Masa Kejayaan, hingga Peninggalannya
Letak Kerajaan Demak
Letak kerajaan demak sangat strategis karena berada di pesisir utara Pulau Jawa. Pada masa itu, wilayah ini dekat dengan jalur perdagangan internasional.
Lokasi kerajaan demak awalnya berada di Bintara (sekarang Demak), kemudian sempat berpindah ke Demak Prawata, dan akhirnya ke Jipang saat terjadi konflik kekuasaan.
Karena berada di wilayah pesisir, Demak berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat penyebaran Islam.
Para Pemimpin Kesultanan Demak
Berikut adalah raja-raja yang pernah memimpin Demak:
1. Raden Patah
Sebagai pendiri kesultanan Demak, Raden Patah memimpin sekitar tahun 1500-an hingga 1518. Ia membangun pondasi kerajaan, termasuk Masjid Agung Demak.
Pada masa pemerintahannya, Demak berhasil memperluas wilayah kekuasaan mencakup daerah Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi, hingga beberapa wilayah di Kalimantan. Demak juga memiliki beberapa pelabuhan seperti di Jepara, Tuban Sedayu, Jaratan, hingga Gresik.
Selain itu, Raden Patah bersama para wali juga menerapkan syariat Islam dan menjalankan perintah Al-Qur’an serta hadis nabi dalam menjalankan kehidupan masyarakat.
Di bawah pemerintahannya pula, Raden Patah harus menghadapi kedatangan Portugis yang merebut Malaka. For your information aja nih gais, Demak dan Malaka punya hubungan yang erat sebagai sesama kerajaan Islam, termasuk dalam perdagangan dan hubungan militer. Saat itu, Raden Patah mengirimkan pasukan di bawah kepemimpinan anak laki-lakinya, yaitu Pati Unus, pada tahun 1511.
2. Pati Unus
Setelah Raden Patah wafat pada tahun 1518, kekuasaan Kesultanan Demak diteruskan oleh menantunya, yaitu Pati Unus. Sejak tahun 1511, beliau sudah dipercaya untuk melawan Portugis di Malaka. Hal inilah yang membuat ia dijuluki Pangeran Sabrang Lor, atau pangeran yang pernah menyeberang ke utara.
Namun, pada tahun 1521, Pati Unus mengalami kekalahan dan gugur di medan pertempuran.
Baca Juga: Perlawanan Indonesia Sebelum Abad 19 Terhadap Portugis dan VOC

3. Sultan Trenggana
Pasca wafatnya Pati Unus, kepemimpinan Kesultanan Demak dilanjutkan oleh Sultan Trenggana (atau Trenggono), adik dari Pati Unus. Menurut Serat Kandha, ia berkuasa sejak tahun 1521–1546.
Di bawah pemerintahannya, Sultan Trenggana melakukan aksi militer untuk menguasai pelabuhan di bagian utara Jawa, serta menundukkan banyak wilayah bekas kekausaan Majapahit di pedalaman Jawa bagian timur. Sultan Trenggana juga berhasil menundukkan Wirasari, Gegelang atau Madiun, Mendangkung, Surabaya, Pasuruan, Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan berbagai wilayah Jawa lainnya.
Hmm, jago banget beliau ini! Bisa dibilang, pada masa inilah masa kejayaan Kerajaan Demak terjadi, sebab ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga hampir seluruh Jawa.
Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546 ketika bertempur di Pasuruan, Jawa bagian timur.
4. Sunan Prawoto
Sultan Trenggana digantikan oleh Sunan Prawoto, putra dari Sultan Trenggana. Di bawah pemerintahannya, ia berfokus pada penyebaran Islam, baik melalui kebijakan politik maupun nilai-nilai keagamaan dan sosial. Bahkan, nilai-nilai tersebut masih bertahan hingga saat ini. Contohnya seperti gotong royong, toleransi, dan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Sunan Prawoto akhirnya dikenal menyebarkan Islam yang berakar pada budaya lokal, sehingga dikenal sebgai figur yang berpengaruh dalam membentuk identitas keislaman masyarakat Jawa. Ia berhasil mengakomodasi tradisi lokal, tanpa menghilangkan esensi Islam. Maka dari itu, tidak heran jika beliau menekankan pentingnya kehidupan duniawi dan ukhrawi (akhirat).
5. Arya Penangsang
Sebenarnya, Arya Penangsang adalah penguasa Kadipaten Jipang, wilayah vasal Kesultanan Demak. Konon, ia naik tahta setelah membunuh Sunan Prawoto. Dikisahkan, Arya Penangsang sebenarnya membalas dendam karena ayahnya, Pangeran Sekar, yang sebenarnya berhak atas takhta Kesultanan Demak lebih dulu dibunuh oleh Sultan Trenggana.
Dapat dikatakan, pada masa ini Kesultanan Demak kehilangan kejayaan, dan perlahan runtuh.
Baca Juga: Kesultanan Samudera Pasai: Sejarah, Kejayaan, dan Keruntuhan
Masa Kejayaan Kesultanan Demak
Masa kejayaan kerajaan demak terjadi saat Sultan Trenggana berkuasa. Pada masa ini, Demak menjadi kekuatan terbesar di Jawa.
1. Kehidupan Sosial
Masyarakat Demak hidup dalam sistem yang lebih egaliter dibandingkan masa Hindu-Buddha. Tidak ada sistem kasta, sehingga semua orang punya kesempatan yang sama dalam kehidupan sosial.
Di samping itu, ada Masjid Agung Demak yang digunakan sebagai pusat kehidupan sosial dan simbol kedaulatan ala Islam. Seluruh kegiatan yang dijalankan para wali (Walisongo) dilakukan di sini. Mereka berdiskusi tentang topik-topik agama.
Masjid ini juga digunakan sebagai markas saat upacara Sekaten diselenggarakan. Selama upacara berlangsung, warga akan berkumpul di depan gapura, dan para wali menyampaikan tilawah.
2. Kehidupan Politik
Demak berhasil mengakhiri dominasi Majapahit dan memperluas kekuasaan ke berbagai wilayah strategis seperti Sunda Kelapa, wilayah di Jawa bagian barat, utara, dan timur.
Perluasan wilayah ini secara tidak langsung juga menyokong perekonomian Demak, sebab wilayah-wilayah yang memiliki pelabuhan dapat digunakan sebagai sarana perdagangan. Selain itu, Demak juga menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa dan wilayah lainnya.
3. Kehidupan Ekonomi
Sebagai kerajaan agraris dan maritim, perdagangan menjadi tulang punggung ekonomi. Banyak pelabuhan penting dikuasai Demak, termasuk ketika Demak berhasil melebarkan sayap dan menguasai wilayah-wilayah tertentu, serta ketika Demak berhasil membangun hubungan baik dengan wilayah lain.
Pusat kegiatan perekonomian Kesultanan Demak ada di Jepara. Saat itu, pelabuhan Jepara menjadi gudang penyimpanan beras ekspor, yang menjadi komoditas utama Kesultanan Demak.
Selain beras, beberapa komoditas lainnya antara lain kayu jati, lilin, garam, rempah-rempah, dan kain tenun jawa.

Jabatan dan Peran Tokoh Penting
Dalam struktur kerajaan, para Wali Songo memiliki peran besar.
Misalnya, jabatan Sunan Kalijaga di Kesultanan Demak adalah sebagai penasihat spiritual sekaligus tokoh dakwah yang berpengaruh. Ia juga berperan dalam pembangunan Masjid Agung Demak, termasuk pembuatan Soko Tatal.
Kemunduran Kesultanan Demak
Keruntuhan Demak disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Perang Saudara dan Perebutan Takhta
Konflik internal antara keluarga kerajaan menjadi penyebab utama. Awalnya, Sunan Prawoto berseteru dan menewaskan Pangeran Sekar Ing Lapen, ayah dari Arya Panangsang.
Kemdian, aksi balas dendam pun dilancarkan Arya Penangsang terhadap Sunan Prawoto. Tewasnya Sunan Prawoto menjadi salah satu penyebab utama dari kemunduran Kesultanan Demak.
Sebab, setelah itu, Arya Penangsang juga dibunuh oleh keturunan Raden Patah yang lain.
2. Pemerintahan yang Melemah
Kurangnya stabilitas politik dan fokus pada konflik membuat kerajaan melemah. Tidak lama setelah Arya Penangsang naik takhta, ia dikalahkan oleh Sultan Hadiwijaya atau dikenal sebagai Jaka Tingkir.
Kesultanan Demak pun runtuh dan digantikan oleh Kesultanan Pajang.
—
Nah, sekarang kamu sudah paham kan bagaimana perjalanan panjang Kesultanan Demak? Mulai dari berdiri sebagai kadipaten kecil, berkembang menjadi kerajaan Islam besar, hingga akhirnya runtuh karena konflik internal.
Kesultanan Demak bukan cuma sekadar kerajaan, tapi juga simbol perubahan besar dalam sejarah Indonesia, terutama dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.
Kalau kamu lagi belajar sejarah atau mau memperdalam materi seperti ini dengan cara yang lebih seru dan mudah dipahami, kamu bisa langsung cek berbagai penjelasan menarik lainnya di ruangbelajar!
Referensi:
Faza, Najwa Zakial dan Yusuf Falaq. “Sunan Prawoto: Makna Spiritual dan Nilai Budaya dalam Kearifan Lokal.” Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol. 08 No. 01, e-ISSN:2623-0305 September (2025): 34-43.
Jayanti, Irma Dwi, Isrina Siregar, dan Supian Ramli. “Peran Raden Patah dalam Menyebarkan Agam Islam di Demak tahun 1478–1518.” Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah FKIP Universitas Jambi Vol. 1 No. 3, Desember (2022): 92-106.
Tundjung dan Arief Hidayat. “Politik Dinasti dalam Perspektif Ekonomi dari Kerajaan Demak.” Jurnal LPPM Unindra Vol. 2 No. 1 (2018): 1-13.
Waluyo, Sukarjo. “Arya Penangsang: Santri Kesayangan Sunan Kudus sebagai Pembangun Memori Kolektif dalam Revitalisasi Kota Cepu.” Religious Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya Vol. 5 No. 2 (2021): 161-172
Artikel ini disunting oleh Laras Sekar Seruni.



