Sejarah Kerajaan Aceh: Asal Mula, Masa Kejayaan, hingga Peninggalannya | Sejarah Kelas 10

Seperti apa sejarah Kerajaan Aceh di Indonesia? Yuk, kita bahas tentang Kerajaan Aceh, mulai dari asal mula, hingga peninggalannya di artikel Sejarah Kelas 10 berikut ini!
—
Kalau ngomongin sejarah kerajaan Islam di Indonesia, nama Aceh hampir selalu muncul di barisan depan. Bukan cuma karena letaknya yang strategis di ujung Barat Nusantara, tapi juga karena perannya yang besar dalam perdagangan, dakwah, dan perlawanan terhadap kolonialisme. Dari kisah ekspansi wilayah, diplomasi dengan kerajaan dunia, sampai lahirnya ulama dan sastrawan hebat, perjalanan panjang kerajaan ini selalu menarik untuk dipelajari.
Lewat artikel ini, kita akan kupas tuntas sejarah Kerajaan Aceh secara lengkap dan runtut. Mulai dari awal berdiri, sistem pemerintahannya, masa kejayaan, hingga faktor kemundurannya. Yuk, langsung saja kita mulai!
Baca Juga: Kerajaan-Kerajaan Maritim Islam di Indonesia
Apa Itu Kesultanan Aceh?
Kesultanan Aceh adalah sebuah kerajaan Islam besar di Nusantara yang pernah berdiri di wilayah provinsi Aceh sekarang. Secara historis, kerajaan ini dikenal dengan nama Kesultanan Aceh Darussalam dan menjadi salah satu kekuatan politik serta ekonomi penting di kawasan Asia Tenggara.
Kenapa disebut kesultanan, yaa karena Aceh merupakan kerajaan Islam. Konsep Islam menggunakan ‘sultan’, yaa. Sementara kalau ‘raja’ identik dengan Hindu.
Baca Juga: Sejarah Turki Usmani, Kekhalifahan Terbesar dalam Islam
Secara geografis, lokasi Kesultanan Aceh berada di ujung utara Pulau Sumatra, dengan pusat pemerintahan di Banda Aceh. Jadi, kalau kamu mencari letak Kesultanan Aceh, jawabannya adalah wilayah pesisir utara Sumatra yang langsung berhadapan dengan jalur perdagangan internasional Selat Malaka.
Kesultanan ini memiliki sejarah panjang dari akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-20. Dalam periode tersebut, kerajaan ini dikenal karena:
- Sistem pemerintahan yang rapi dan terstruktur
- Tradisi pendidikan militer yang kuat
- Perlawanan terhadap imperialisme Eropa
- Hubungan diplomatik dengan berbagai negara
Sultan pertama kerajaan ini adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada 1514. Beliau menjadi tokoh penting karena Kesultanan Aceh didirikan oleh kepemimpinannya yang berhasil menyatukan wilayah-wilayah kecil di Aceh.
Asal Mula Kesultanan Aceh
Sejarah Kesultanan Aceh dimulai pada akhir abad ke-15. Kerajaan ini berkembang dari wilayah bekas Kerajaan Lamuri, lalu secara bertahap menaklukkan daerah sekitarnya seperti Daya, Pedir, Lidie, dan Nakur.
Pada tahun 1524, wilayah Pasai berhasil dikuasai, diikuti Aru. Hal ini menandai awal ekspansi besar Aceh sebagai kekuatan politik baru di Sumatra.
Setelah wafatnya Sultan Ali Mughayat Syah, tahta diteruskan oleh putranya Sultan Salahuddin (1528–1537). Kemudian digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang memerintah hingga 1568. Pada masa ini, pondasi kekuasaan Aceh semakin kuat, baik dari sisi militer maupun ekonomi.
Mau belajar lebih lanjut tentang Kesultanan Aceh? Yuk simak pembahasan lengkapnya di video-video ciamik dari ruangbelajar. Kamu akan dijelaskan konsepnya secara menarik dari Master Teacher berpengalaman!
Raja-Raja dan Pemerintahan Kesultanan Aceh
a. Sultan Aceh
Penguasa kerajaan dikenal sebagai raja Kesultanan Aceh atau Sultan. Pada awalnya, pusat pemerintahan berada di Gampông Pande, lalu pindah ke Dalam Darud Dunia. Pengangkatan Sultan harus disetujui oleh Panglima Sagoe dan mufti kerajaan. Sultan juga wajib membayar “Jiname Aceh” sebagai simbol legitimasi.
Pada Kesultanan Aceh, simbol kekuasaan tertinggi adalah:
- Keris → simbol otoritas
- Cap kerajaan → simbol legalitas hukum
Tanpa keduanya, keputusan Sultan tidak dianggap sah.
b. Perangkat Pemerintahan
Struktur pemerintahan Aceh cukup kompleks dan modern untuk zamannya. Beberapa lembaga penting di Kesultanan Aceh, antara lain:
- Balai Rong Sari → lembaga perencana kerajaan
- Balai Majlis Mahkamah Rakyat → semacam parlemen
- Balai Gading → dewan menteri
- Balai Furdhah → urusan ekonomi
- Balai Laksamana → urusan militer
- Balai Baitul Mal → keuangan negara
Selain itu, ada juga pejabat seperti Syahbandar, Wazir, dan Kadhi yang mengurus bidang perdagangan, hukum, dan administrasi.
c. Ulèëbalang & Pembagian Wilayah
Dalam administrasi wilayah, kerajaan dibagi menjadi federasi yang disebut dengan Sagoe. Sistem ini diperkuat pada masa reformasi ulama besar Abdurrauf As-Sinkily.
Tiga Sagoe utama meliputi:
- Sagoe XXII Mukim
- Sagoe XXV Mukim
- Sagoe XXVI Mukim
Setiap wilayah terdiri dari gampong (desa) dan mukim yang memiliki masjid sebagai pusat aktivitas sosial dan keagamaan.
Masa Kejayaan Kesultanan Aceh
Dalam perjalanan sejarahnya, Kesultanan Aceh mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Pada periode inilah kerajaan berkembang menjadi kekuatan maritim terbesar di wilayah barat Nusantara.
Banyak sejarawan sepakat bahwa:
- Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Iskandar Muda.
- Kesultanan Aceh mengalami puncak kejayaan pada masa ekspansi wilayah dan dominasi perdagangan.
Di bidang ekonomi, kerajaan menguasai jalur perdagangan lada. Bahkan bisa dibilang Kesultanan Aceh mencapai kejayaan dalam perdagangan ketika diperintah oleh Iskandar Muda karena kontrol kuat atas pelabuhan strategis.
Baca Juga: Sejarah Dinasti Abbasiyah, Dari Masa Kejayaan Hingga Runtuhnya
Beberapa ekspansi penting pada masa ini, yaitu:
- Penaklukan Pahang (sumber timah)
- Penguasaan Kedah
- Serangan besar ke Portugis di Melaka
Serangan ke Melaka tahun 1629 melibatkan ratusan kapal dan puluhan ribu pasukan, menunjukkan kekuatan militer Aceh saat itu.
Selain militer, diplomasi Aceh juga berkembang. Aceh menjalin hubungan dengan banyak penguasa dunia, termasuk Kekaisaran Ottoman, kerajaan Inggris di masa Elizabeth I, hingga menjalin hubungan diplomasi dengan Belanda.
Kemunduran Kesultanan Aceh
Setelah masa kejayaan, kerajaan perlahan melemah. Terdapat beberapa faktor kemunduran Kesultanan Aceh, antara lain:
- Konflik internal dan perebutan tahta
- Melemahnya kontrol pusat terhadap Ulèëbalang
- Menguatnya kekuasaan kolonial Belanda
- Perang saudara berkepanjangan
Perpecahan politik membuat wilayah-wilayah otonom semakin independen. Belanda kemudian memanfaatkan kondisi ini untuk memperluas kekuasaan di Sumatra.
Puncaknya terjadi setelah Traktat Sumatra 1871, yang membuka jalan bagi invasi Belanda. Tahun 1873, Belanda mendarat di Aceh dan memulai perang panjang yang akhirnya mengakhiri kekuasaan kesultanan.
Baca Juga: Sejarah Perang Aceh: Latar Belakang, Tokoh, dan Akhir Perang
Peninggalan Kesultanan Aceh
Walaupun banyak bangunan hancur akibat perang, masih ada sejumlah warisan berharga yang bisa kita lihat sampai sekarang.
a. Arsitektur
Beberapa peninggalan penting di bidang arsitektur, antara lain:
- Benteng Indra Patra
- Masjid Tua Indrapuri
- Komplek Kandang XII
- Pinto Khop
- Gunongan
Masjid Raya modern di Aceh sekarang, yaitu Masjid Raya Baiturrahman, sebenarnya bukan bangunan asli kesultanan karena yang lama sudah hancur saat perang.
Baca Juga: Pengaruh Islam di Indonesia dalam Berbagai Bidang
b. Kesusastraan
Aceh dikenal sebagai pusat intelektual Islam di Asia Tenggara. Banyak karya sastra lahir dari kerajaan ini. Tokoh penting di bidang sastra adalah Nuruddin Ar-Raniry dengan karya “Bustanus Salatin”. Selain itu, Kesultanan Aceh juga memiliki seorang sastrawan besar bernama Hamzah Fansuri yang dikenal lewat karya-karya sufistiknya.
c. Karya Keagamaan
Banyak kitab keislaman ditulis oleh ulama Aceh dan digunakan luas di Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan peran Aceh sebagai pusat penyebaran ilmu agama Islam.
d. Militer
Dalam bidang militer, Aceh memiliki teknologi persenjataan yang maju. Bahkan ada meriam Kesultanan Aceh yang dibuat dari kuningan setelah mendapat bantuan teknisi dari Kekaisaran Ottoman pada masa Sultan Selim II. Kemampuan memproduksi meriam sendiri menunjukkan bahwa Aceh bukan hanya kuat secara politik, tapi juga dari segi teknologi militer.
Baca Juga: Sejarah Perang Aceh: Latar Belakang, Tokoh, dan Akhir Perang
Dari pembahasan panjang ini, kita bisa melihat bahwa Kesultanan Aceh Darussalam bukan sekadar kerajaan biasa. Aceh adalah pusat kekuatan politik, perdagangan, militer, dan intelektual di Nusantara selama berabad-abad.
Mulai dari didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, mencapai kejayaan di masa Sultan Iskandar Muda, hingga akhirnya melemah akibat konflik internal dan tekanan kolonial, perjalanan kerajaan ini memberi banyak pelajaran tentang kepemimpinan, strategi, dan dinamika kekuasaan. Warisan budaya, arsitektur, serta karya keilmuan yang ditinggalkan tetap menjadi bukti betapa besarnya pengaruh Aceh dalam sejarah Indonesia.
—
Belajar sejarah kerajaan seperti Aceh bukan cuma soal mengingat nama raja atau tahun peristiwa. Lebih dari itu, kita bisa memahami bagaimana peradaban berkembang, bagaimana kekuasaan dikelola, dan bagaimana masyarakat menghadapi perubahan zaman. Kalau kamu lagi belajar sejarah Indonesia, topik ini penting banget karena memperlihatkan peran Nusantara dalam jaringan dunia sejak berabad-abad lalu.
Mau memperbanyak latihan soal sejarah untuk persiapan PTS maupun PAS? Biar makin percaya diri dalam mengerjakan soal ujian, langsung aja langganan ruanguji!
Referensi:
Dahlia. (2023) Seri Informasi Cagar Budaya: Kompleks Makam Kandang. Jakarta: Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tekonologi.
Djajadiningrat, Hoesein. (1983) Kesultanan Aceh. Daerah Istimewa Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pengembangan Permuseuman.
Sejarah Kesultanan Aceh Darussalam. Surabaya: Digilib UIN Sunan Ampel, 2014. https://digilib.uinsa.ac.id/11501/8/bab%202.pdf.



