Sejarah Dinasti Abbasiyah, Dari Masa Kejayaan Hingga Runtuhnya

Seperti apa sejarah kekhalifahan Dinasti atau Bani Abbasiyah, mulai dari berdiri hingga akhirnya runtuh? Yuk, kita pelajari bersama!
—
Kamu pernah belajar tentang sejarah Islam? Kalau pernah, kamu pasti sudah nggak asing lagi sama yang namanya Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, dan Dinasti Abbasiyah.
Singkat cerita, setelah Rasulullah SAW wafat, kepemimpinan Islam kemudian digantikan oleh para sahabat Nabi. Masa kepemimpinan sahabat Nabi ini biasa disebut sebagai masa Khulafaur Rasyidin.
Nah, pemimpin Khulafaur Rasyidin disebut dengan khalifah. Para khalifah ini terdiri dari Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Baca Juga: Mengenal Khulafaur Rasyidin: Pengertian, Sejarah, & Pemimpinnya
Setelah kepemimpinan para khalifah ini berakhir, kekhalifahan Islam dilanjutkan oleh Bani Umayyah. Masa ini sering disebut juga sebagai khalifah pertama setelah Khulafaur Rasyidin atau kekhalifahan kedua setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kekhalifahan Bani Umayyah dibagi menjadi dua periode. Periode pertama terjadi di Damaskus dan periode kedua di Andalusia (Spanyol).
Setelah kekhalifahan Bani Umayyah berakhir, kemudian dilanjutkan oleh Dinasti atau Bani Abbasiyah. Dinasti yang satu ini memiliki peran besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, dan pemerintahan dalam dunia Islam.
Tapi, kamu tahu nggak sih sebenarnya seperti apa itu Dinasti Abbasiyah? Siapa pendirinya dan siapa saja khalifah yang pernah memimpinnya? Yuk, kita bahas tuntas dalam artikel ini!
Pengertian Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah adalah kekhalifahan Islam kedua setelah Khulafaur Rasyidin atau kekhalifahan ketiga setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia.
Dinasti ini menggantikan Dinasti Umayyah sebagai penguasa kekhalifahan Islam. Dinasti Abbasiyah merupakan pemerintahan yang didirikan dari keluarga Bani Abbas, keturunan dari Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW. Jadi, bisa dibilang bahwa mereka masih termasuk keluarga Nabi.
Lalu, pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah dimana? Dinasti Abbasiyah menjadikan Baghdad sebagai pusat pemerintahannya. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abu Abbas as-Saffah pada tahun 750 Masehi atau tahun 132 Hijriah, setelah runtuhnya kekuasaan Dinasti Umayyah.
Pendirian dinasti ini bukan cuma soal politik, tapi juga membawa angin perubahan besar dalam kehidupan umat Islam, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan dan budaya. Dinasti Abbasiyah berlangsung hingga tahun 656 Hijriah atau 1258 Masehi.
Baca Juga: Pengaruh Islam di Indonesia dalam Berbagai Bidang
Sejarah Dinasti Abbasiyah
Oke, mari kita kilas balik ke awal berdirinya dinasti ini. Seperti yang disebutkan sebelumnya, dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abu Abbas as-Saffah, yang juga menjadi khalifah pertama.
Terdapat tiga faktor penting yang menyebabkan berdirinya Dinasti Bani Abbasiyah. Faktor berdirinya Bani Abbasiyah, yaitu:
- Karena Bani Abbas merasa lebih berhak daripada Bani Umayyah atas kekhalifahan Islam. Apalagi Bani Hasyim yang secara nasab keturunan lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW.
- Karena sistem pemerintahan Dinasti Umayyah semakin menyimpang jauh dari nilai-nilai agama Islam.
- Karena Bani Abbasiyah merupakan orang-orang yang tersingkir dari kekuasaan Dinasti Umayyah, sehingga mereka melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan yang berkuasa.
Gerakan untuk menggulingkan Bani Umayyah dimulai dari wilayah Khurasan, yang saat itu banyak diisi oleh pendukung Abbasiyah.
Gerakan pemberontakan ini dipimpin oleh keturunan paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abdullah, dan Muhammad bin Ali. Mereka berhasil membangun jaringan oposisi yang cukup luas dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Akhirnya, dalam pertempuran Karbala, dinasti dari Bani Abbasiyah yang dipimpin oleh Kahtaba berhasil meraih kemenangan dengan mengalahkan gubernur Dinasti Umayyah, yang bernama Yazid. Dinasti Abbasiyah berhasil menguasai Kufah.
Baca Juga: Perang Karbala, Sebuah Tragedi Heroik dalam Sejarah Islam
Pada tahun 794 M, Abu Ayun dari Bani Abbasiyah berhasil melancarkan usaha terakhirnya untuk menggulingkan pemerintahan Dinasti Umayyah. Ia mengerahkan 120.000 pasukan menuju Zab Hulu atau Zab Besar. Sehingga pertempuran ini dikenal dengan Perang Az-Zabb.
Akhirnya, Dinasti Umayyah benar-benar sudah dikalahkan. Damaskus pun jatuh ke tangan Bani Abbasiyah. Kemudian, Abbas As-Saffah diangkat sebagai khalifah di Masjid Kufah pada tahun 750 M.
Setelah menang, mereka memindahkan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad karena letaknya strategis dan lebih dekat ke pusat-pusat peradaban waktu itu.
Di bawah pemerintahan Abbasiyah, kota ini berkembang pesat menjadi pusat ilmu dan budaya. Banyak ilmuwan, filsuf, dan seniman berkumpul di Baghdad. Bahkan, berdirilah Baitul Hikmah, semacam perpustakaan dan pusat studi ilmu pengetahuan terbesar pada masanya.
Dinasti Abbasiyah berkuasa selama kurang lebih lima abad, tepatnya 508 tahun dari tahun 750 M hingga tahun 1258 M. Selama pemerintahan ini berdiri, kekuasaan dibagi atas lima periode.
Pola pemerintahan pada dinasti ini berbeda-beda, sesuai dengan perubahan politik yang mempengaruhinya. Misalnya dari Persia, Turki, Buwaih, dan Seljuk. Namun, pada periode kelima, kekuasaan Dinasti Abbasiyah tidak lagi dipengaruhi bangsa manapun.
—
Jika kamu tertarik dengan materi ini, kamu bisa ngobrol-ngobrol langsung sama guru les kamu di Ruangguru Privat Mengaji, lho!
Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (offline) atau daring (online). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!
Lima Periode Dinasti Bani Abbasiyah
Masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah dibagi menjadi lima periode, yakni sebagai berikut:
1. Periode Pertama
Periode pertama Dinasti Abbasiyah berlangsung dari tahun 750 – 847 M dan disebut sebagai periode pengaruh Persia pertama.
Khalifah yang memimpin dinasti ini, mulai dari Abu Abbas As-Saffah sampai Abu Al-Fadl Ja’far Al-Mutawakkil. Kekuasaan pada periode pertama berada pada khalifah yang memimpin tentara untuk berperang, sehingga masa ini merupakan masa kejayaan Bani Abbasiyah.
2. Periode Kedua
Periode Bani Abbasiyah kedua berlangsung pada tahun 847 – 945 M dan disebut sebagai periode pengaruh Turki pertama.
Khalifah yang memimpin periode ini yaitu dari khalifah Abu Ja’far Muhammad Al-Muntasir sampai Abu Al-Abbas Ahmad Nasir. Periode ini diwarnai corak politik Turki, Bani Buwaih, dan Bani Saljuk.
3. Periode Ketiga
Periode ketiga Bani Abbasiyah berlangsung pada tahun 945 – 1055 M dan disebut sebagai masa pengaruh Persia kedua. Periode ini merupakan masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah.
Pada masa ini, kekuasaan kembali ke tangan khalifah, tetapi terbatas hanya daerah Baghdad dan sekitarnya. Oleh sebab itu, periode ini secara umum bisa dikatakan lemah dan tidak dapat melawan kehendak jenderal Turki.
4. Periode Keempat
Periode keempat Bani Abbasiyah berlangsung pada tahun 1055 – 1194 M dan disebut sebagai masa pengaruh Turki kedua.
Periode ini merupakan masa kekuasaan daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah, ditandai dengan pengaruh Bani Saljuk yang dipimpin oleh dua belas orang khalifah.
Dalam periode ini, terjadi dua peristiwa besar umat Islam, yakni Perang Salib dan penyerangan bangsa Mongol ke Baghdad.
5. Periode Kelima
Periode kelima Bani Abbasiyah berlangsung pada tahun 1194 – 1258 M dan merupakan masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol.
Pada periode kelima ini, Bani Abbasiyah sudah mengalami banyak kemunduran, terlebih lagi dengan adanya serangan dari luar, seperti Perang Salib dan penyerangan Bangsa Mongol.
Kemudian, daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan juga banyak yang memerdekakan diri. Akhirnya, Dinasti Bani Abbasiyah benar-benar hancur pada tahun 1258 M di bawah kepemimpinan Abu Ahmad Abdullah Al-Mu’tashim Billah.
Baca Juga: Penjelasan 4 Teori Masuknya Islam ke Indonesia
Khalifah dan Masa Kejayaan Dinasti Abbasiyah
Dalam sejarahnya, banyak khalifah yang pernah memimpin Dinasti Abbasiyah. Tapi, salah satu khalifah yang paling terkenal dan membawa Abbasiyah ke puncak kejayaan adalah Harun al-Rasyid, yang memerintah dari tahun 786 hingga 809 M.
Pada masa Harun al-Rasyid, kekhalifahan Abbasiyah benar-benar jadi superpower dunia. Ekonomi kuat, ilmu pengetahuan berkembang, dan kehidupan masyarakat sangat maju.
Anak-anak sekolah, ilmuwan meneliti berbagai bidang ilmu mulai dari kedokteran, matematika, astronomi, sampai filsafat. Bahkan, hubungan diplomatik dengan negara-negara lain juga terjalin dengan baik.
Setelah Harun al-Rasyid, anaknya yaitu Al-Ma’mun juga melanjutkan masa kejayaan itu. Al-Ma’mun terkenal sebagai khalifah yang sangat mencintai ilmu.
Di bawah kepemimpinannya, Baitul Hikmah berkembang pesat. Banyak karya dari ilmuwan Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Namun, seiring waktu, kekuasaan Abbasiyah mulai melemah. Banyak wilayah yang memisahkan diri dan membentuk kekuasaan sendiri. Muncul juga perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan yang membuat situasi semakin kacau.
Dari seluruh khalifah Bani Abbasiyah, nama-nama pemimpin atau khalifah yang berhasil membawa Kekhalifahan Abbasiyah pada masa keemasannya adalah sebagai berikut:
- Al-Mahdi (775-785 M)
- Al-Hadi (785- 786 M)
- Harun Ar-Rasyid (786-809 M)
- Al-Ma’mun (813-833 M)
- Al-Mu’tashim (833-842 M)
- Al-Watsiq (842-847 M)
- Al-Mutawakkil (847-861 M)

Masa Keruntuhan Dinasti Abbasiyah
Memasuki abad ke-10, kekuasaan khalifah mulai kehilangan pengaruh. Para gubernur di wilayah mulai merdeka dan hanya mengakui kekhalifahan secara simbolis. Dinasti Abbasiyah yang sebelumnya sangat kuat, perlahan-lahan mulai goyah.
Puncaknya terjadi pada tahun 1258 M, saat pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Kota itu hancur, ribuan orang tewas, dan Khalifah Al-Musta’sim dibunuh. Inilah akhir dari Dinasti Abbasiyah di Baghdad.
Meski begitu, Abbasiyah sempat bangkit kembali di Kairo, Mesir, di bawah perlindungan Dinasti Mamluk. Namun kekhalifahan ini hanya bersifat simbolis dan tidak memiliki kekuasaan politik yang nyata.
Runtuhnya Kekhalifahan Abbasiyah dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1. Persaingan Antarbangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Namun dalam prosesnya, orang-orang Persia tidak merasa puas dan menginginkan sebuah dinasti dengan staff dari negaranya.
Sementara bangsa Arab beranggapan bahwa mereka istimewa dan menganggap rendah bangsa non-Arab. Oleh karena itu, muncullah dinasti-dinasti yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad.
2. Kemerosotan Ekonomi
Meski sempat bergelimang kekayaan, namun Kekhalifahan Abbasiyah mulai mengalami kemunduran di bidang ekonomi karena pendapatan terus menurun sementara pengeluaran mereka terus meningkat.
3. Perang Salib
Perang Salib yang berlangsung selama beberapa periode tidak hanya menelan banyak korban jiwa, tetapi juga menimbulkan kerugian yang sangat besar.
4. Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad
Pada tahun 1258 M, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang, datang menyerang Baghdad. Pemimpin Kekhalifahan Abbasiyah pada saat itu benar-benar tidak berdaya dalam membendung tentara Mongol yang sebanyak itu. Akhirnya Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol dan secara otomatis mengakhiri kekuasaan Bani Abbasiyah.
Baca Juga: Pengertian 5 Rukun Islam Beserta Maknanya
Warisan Dinasti Abbasiyah
Walaupun Dinasti Abbasiyah runtuh, warisan mereka tetap hidup. Mereka berjasa besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya Islam. Banyak institusi pendidikan dan karya ilmiah yang muncul di masa itu masih dikenang hingga sekarang.
Sistem pemerintahan, perpustakaan, dan semangat belajar dari masa Abbasiyah menginspirasi banyak peradaban lain, termasuk di Eropa. Bahkan, era pencerahan Eropa banyak mengambil manfaat dari terjemahan karya-karya ilmiah yang dikembangkan di Baghdad.
Kisah Dinasti Abbasiyah ini mengajarkan kita pentingnya ilmu pengetahuan, kepemimpinan yang bijaksana, dan semangat inovasi. Jadi, selain belajar sejarahnya, yuk kita juga ambil semangat positif dari kejayaan masa lalu ini untuk masa depan yang lebih baik. Terus belajar bersama ruangbelajar agar prestasi di sekolah semakin cemerlang!



