Sejarah Turki Usmani, Kekhalifahan Terbesar dalam Islam

Turki Usmani

Salah satu kekhalifahan terbesar dalam sejarah Islam yaitu Turki Usmani atau yang dikenal sebagai Ottoman Empire. Seperti apa sejarahnya?

 

Kalau kamu pernah belajar sejarah dunia, pasti sering mendengar nama Kerajaan Turki Usmani. Kekaisaran ini adalah salah satu kerajaan Islam terbesar dan terlama dalam sejarah, yang berhasil menguasai wilayah luas di Eropa Timur, Asia Barat, hingga Afrika Utara. Selama lebih dari enam abad, kerajaan ini memainkan peran penting dalam politik, ekonomi, militer, hingga kebudayaan dunia.

Namun, di balik kejayaannya yang gemilang, Turki Usmani juga mengalami pasang surut, dari yang awalnya lahir sebagai kerajaan kecil, kemudian mencapai puncak kejayaan, hingga akhirnya runtuh pada awal abad ke-20. Kisah ini penuh dengan pelajaran sejarah yang menarik untuk kita pelajari.

Nah, dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai Turki Usmani, mulai dari apa itu Turki Usmani, bagaimana awal mula berdirinya, masa kejayaannya, tokoh-tokoh pentingnya, sampai faktor yang membuatnya runtuh. Yuk, simak bersama!

Baca Juga: Sejarah Perang Dunia I, Penyebab, dan Dampaknya 

 

Apa Itu Turki Usmani?

Turki Usmani adalah sebuah kekhalifahan Islam yang berdiri pada tahun 1281 dan bertahan hingga 1922. Dalam bahasa Arab, kekhalifahan Turki Usmani disebut juga sebagai Daulah Utsmaniyah atau Kesultanan Utsmaniyah, sementara dalam literatur Barat dikenal dengan nama Ottoman Empire.

Nama “Usmani” sendiri diambil dari nama kakek dari kabilah Oghuz, yaitu Utsman bin Erthogril bin Sulaiman Syah, yang berasal dari suku Qayigh, salah satu cabang keturunan bangsa Oghuz Turki. Jadi, bisa dibilang dinasti Turki Usmani didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Oghuz.

Berapa lama Dinasti Turki Usmani berkuasa? Dinasti Turki Usmani berkuasa selama lebih dari 600 tahun, dari tahun 1281 hingga tahun 1922, ketika kekaisaran tersebut secara resmi berakhir dan digantikan oleh Republik Turki.

Awalnya, Utsman hanya memimpin wilayah kecil di Anatolia, atau yang juga dikenal sebagai Asia Kecil (sekarang Turki bagian Barat), tetapi dengan strategi militer yang cerdas, beliau berhasil memperluas kekuasaan. Seiring waktu, kerajaan kecil ini berkembang menjadi kekhalifahan besar yang menguasai tiga benua. 

Turki Usmani banyak meninggalkan jejak dalam arsitektur, seni, dan ilmu pengetahuan. Bahkan, beberapa peninggalan Daulah Turki Usmani masih bisa kita lihat hingga hari ini, terutama di Istanbul.

Baca Juga: Sejarah Bani Umayyah, Khalifah Pertama setelah Khulafaur Rasyidin

 

Jika kamu tertarik dengan materi ini, kamu bisa ngobrol-ngobrol langsung sama guru les kamu di Ruangguru Privat Sejarah, lho!

Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (offline) atau daring (online). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!

CTA Ruangguru Privat

 

Sejarah Turki Usmani

Berikut adalah sejarah singkat kerajaan Turki Usmani, mulai dari awal berdiri hingga runtuhnya Turki Usmani. Yuk, kita simak selengkapnya!

 

a. Awal Berdiri

Kerajaan Turki Usmani lahir dari kabilah Oghuz pada tahun 1281. Kabilah Oghuz sendiri dikenal sebagai kelompok suku yang mendiami kawasan Mongolia serta bagian utara Tiongkok.

Sebelum berdirinya kerajaan ini, Sulaiman Syah sempat melakukan pengembaraan menuju Anatolia. Namun, beliau wafat sebelum mencapai tujuannya. Kepemimpinan kemudian diteruskan oleh putranya, Erthogril, yang melanjutkan perjalanan hingga tiba di Anatolia. Di sana, beliau mendapat sambutan baik dari Sultan Alaudin, penguasa Seljuk yang saat itu tengah berperang melawan Bizantium.

Erthogril lalu bergabung dengan Sultan Alaudin untuk menghadapi Bizantium. Pertempuran itu berakhir dengan kemenangan, dan sebagai balas jasa, Sultan Alaudin menghadiahkan sebidang tanah di perbatasan Bizantium serta memberi izin kepada Erthogril untuk melakukan ekspansi wilayah.

Setelah Erthogril wafat, kekuasaan dilanjutkan oleh putranya, Utsman, yang memimpin antara tahun 1281–1324 M. Pada saat yang sama, Kesultanan Seljuk melemah akibat serangan Mongol pada tahun 1300 M, yang menewaskan Sultan Alaudin.

Kematian Sultan Alaudin membuat Seljuk terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Dalam situasi inilah, Utsman memproklamasikan kemerdekaan penuh atas wilayah kekuasaannya dan mendirikan Kerajaan Turki Usmani, dengan dirinya sebagai penguasa pertama yang dikenal sebagai Utsman I. Oleh karena itu, pendiri Turki Usmani adalah Utsman I atau yang dikenal juga sebagai Usman,Osman, atau Ottoman.

 

b. Perluasan Wilayah

Setelah Utsman memproklamasikan berdirinya Kerajaan Turki Usmani, beliau secara bertahap mulai melakukan ekspansi wilayah dengan cara memperkuat kekuatan militer secara berkelanjutan.

Sebagai bagian dari upaya itu, Turki Usmani mendirikan pusat pendidikan sekaligus pelatihan militer. Dari sinilah lahir pasukan elit bernama Yenisari atau Inkisyariah, yang dipimpin oleh Orkhan.

Perkembangan militer terus mengalami kemajuan dengan pembentukan cabang-cabang Yenisari. Hal ini membuat kekuatan tempur Turki Usmani semakin besar, sehingga mampu melakukan penaklukan ke wilayah-wilayah non-Islam seperti Adrianopel, Makedonia, Bulgaria, dan Serbia.

 

c. Jatuhnya Konstantinopel & Dampaknya

Runtuhnya Konstantinopel

Ilustrasi Runtuhnya Konstantinopel

 

Di antara banyak sultan yang pernah memimpin, Sultan Muhammad II, atau disebut juga Sultan Mehmed II, tercatat sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam memperluas wilayah kekuasaan.

Beliau bahkan mendapat gelar al-Fatih atau “Sang Penakluk” berkat keberhasilannya merebut Konstantinopel, pusat Kekaisaran Romawi Timur, pada tahun 1453. Di sinilah penguasaan Konstantinopel oleh Turki Usmani dan pelayaran dunia dimulai.

Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani pada tahun 1453 ini menjadi salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah dunia. Selain itu, penaklukan Konstantinopel ini juga menjadi salah satu pencapaian terbesar Sultan Muhammad II. 

Gereja St. Sophia dialihfungsikan menjadi masjid dengan nama Aya Sophia atau Hagia Sophia, yang melambangkan kemenangan Islam di kota tersebut.

Selain itu, beliau juga mengganti nama kota Konstantinopel menjadi Istanbul, dan dijadikan ibu kota baru Turki Usmani. Dengan keberhasilan ini, cita-cita umat Islam untuk menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur akhirnya terwujud. Setelah itu, beliau juga melanjutkan penaklukan ke Semenanjung Morea, Serbia, Albania, hingga perbatasan Venesia.

Lalu, mengapa Konstantinopel dapat jatuh ke tangan Turki Usmani? Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Usmani karena kombinasi faktor militer, politik, dan strategi.

Pasukan Utsmani di bawah Sultan Muhammad II menggunakan teknologi artileri dan strategi militer inovatif seperti membangun jalur darat untuk memindahkan kapal, sedangkan Kekaisaran Bizantium sangat lemah karena kalah jumlah pasukan dan terus-menerus melemah akibat perang saudara serta krisis internal. 

Lalu, apa dampak jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani? Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani membawa dampak sebagai berikut:

  • Jalur perdagangan tradisional antara Asia dan Eropa melalui Laut Tengah diblokir oleh Turki Utsmani. 
  • Bangsa Eropa sangat bergantung pada rempah-rempah yang mahal. Jatuhnya Konstantinopel memaksa mereka mencari jalur perdagangan baru ke Asia, yang akhirnya mengarah pada penemuan dunia baru seperti Indonesia. 
  • Jalur perdagangan yang semula berpusat di Konstantinopel beralih ke jalur baru yang mengarah ke Afrika dan Samudra Hindia
  • Jatuhnya Konstantinopel memperkuat posisi Turki Utsmani sebagai kekuatan besar di dunia Islam dan meningkatkan kekhawatiran Eropa tentang ekspansi Utsmani lebih lanjut. 
  • Penggunaan meriam dan teknologi baru dalam penaklukan kota dengan tembok yang kokoh menandai perubahan signifikan dalam peperangan abad pertengahan. 
  • Jatuhnya Konstantinopel dianggap sebagai akhir dari periode Abad Pertengahan dan dimulainya periode modern awal
  • Perpindahan ilmuwan Yunani dari Konstantinopel ke Eropa memperkaya ilmu pengetahuan di Eropa dan berkontribusi pada perkembangan Renaisans
  • Penguasaan Konstantinopel juga membuka jalan bagi ekspansi penyebaran agama Islam di Eropa

 

Baca Juga: Mengenal Khulafaur Rasyidin: Pengertian, Sejarah, & Pemimpinnya

 

d. Masa Kejayaan Turki Usmani

Masa kejayaan Turki Usmani terjadi di bawah pemerintahan Sultan Sulaiman I (abad ke-16 hingga abad ke-17), yang membawa kekaisaran mencapai puncak kekuasaan militer, ekonomi, dan budaya.

Pada masa ini, kekaisaran berhasil memperluas wilayah di Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah, serta mengembangkan Istanbul menjadi pusat seni, sains, dan perdagangan global, dengan penekanan pada hukum dan birokrasi yang tertata rapi. 

 

e. Politik Turki Usmani

Masa kejayaan Turki Usmani tidak bisa dipisahkan dari aspek politik dan sistem pemerintahannya. Para pemimpin kerajaan ini selalu menyandang dua gelar sekaligus, yaitu Sultan dan Khalifah.

Gelar Sultan menegaskan kedudukan mereka sebagai penguasa politik dan pemimpin duniawi, sementara gelar Khalifah menunjukkan peran sebagai pemimpin agama yang berwenang dalam urusan spiritual.

Kekuasaan di Turki Usmani diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak selalu jatuh kepada putra sulung sultan sebelumnya. Dalam beberapa periode, tampuk kekuasaan bahkan bisa diberikan kepada saudara sultan, bukan kepada anaknya.

Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai otoritas tertinggi dibantu oleh shadr al a‘zham (perdana menteri), yang membawahi para pasya (gubernur). Para gubernur kemudian memimpin wilayah tingkat I, sementara di bawah mereka terdapat pejabat setingkat bupati yang disebut al-zanaziq atau al-‘alawiyah.

Untuk memperkuat tata pemerintahan, pada masa Sultan Sulaiman I disusun sebuah undang-undang bernama Multaqa al-Abhur. Qanun ini menjadi pedoman hukum penting bagi Kesultanan Turki Usmani hingga datangnya masa reformasi pada abad ke-19.

 

f. Runtuhnya Turki Usmani

Runtuhnya kerajaan Turki Usmani adalah proses panjang akibat berbagai faktor, seperti korupsi, stagnansi ekonomi, pengaruh ideologi Barat (nasionalisme, sekulerisme), serta kekalahan dalam perang.

Pembubaran resmi kesultanan ini terjadi pada 1 November 1922, sedangkan penghapusan kekhalifahan terjadi pada 3 Maret 1924, yang kemudian digantikan oleh Republik Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk

 

g. Peninggalan Kerajaan Turki Usmani

Kejayaan Kerajaan Turki Usmani juga tercermin dari berbagai peninggalannya, terutama dalam bidang kebudayaan. Kebudayaan yang berkembang di kerajaan ini merupakan hasil perpaduan antara unsur Bizantium, Persia, dan Arab, sehingga melahirkan ciri khas yang unik.

Salah satu peninggalan paling menonjol adalah arsitektur. Turki Usmani meninggalkan banyak bangunan megah yang hingga kini masih dikagumi dunia, seperti Masjid Jami’ Muhammad al-Fatih, Masjid Agung Sulaiman, Masjid Abu Ayyub al-AnshariIstana Topkapi, serta Masjid Aya Sophia yang sebelumnya merupakan gereja St. Sophia. Semua bangunan tersebut menjadi bukti kejayaan dan keindahan seni arsitektur Turki Usmani.

Kemajuan di bidang kebudayaan ini tidak terlepas dari kekuatan militer yang dimiliki Turki Usmani. Hal tersebut erat kaitannya dengan karakter bangsa Turki yang sejak awal terbiasa hidup nomaden, memiliki jiwa militer yang tangguh, serta ketaatan penuh kepada pemimpin mereka.

Peninggalan Kesultanan Turki Usmani

 

Baca Juga: Al Khawarizmi, Tokoh Penemu Matematika & Bapak Aljabar

 

Faktor Kemajuan Kerajaan Turki Usmani

Kejayaan Kerajaan Turki Usmani yang terlihat dari luasnya wilayah kekuasaan dan berbagai peninggalan bersejarah tentu tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang mendukung kemajuan kerajaan ini, yaitu:

1. Politik

Dalam sistem pemerintahan Turki Usmani, setiap pemimpin memegang gelar Sultan sekaligus Khalifah. Gelar Sultan menegaskan otoritas politik dan kekuasaan duniawi, sedangkan Khalifah menegaskan peran sebagai pemimpin agama dan spiritual.

Selain itu, Sultan juga berfungsi sebagai pemimpin militer tertinggi. Perpaduan peran politik, agama, dan militer inilah yang membuat kekuasaan Turki Usmani begitu kokoh dan mampu meluaskan wilayahnya.

2. Militer

Kekuatan militer menjadi salah satu pondasi utama kejayaan Turki Usmani. Mereka memiliki pasukan Ghazi (pasukan penakluk awal) yang berasal dari bangsa Turki, ditambah dengan pasukan budak dari bangsa non-Turki, serta pasukan kavaleri provinsial yang sangat tangguh.

Kekuatan militer yang terorganisir inilah yang memungkinkan mereka menaklukkan banyak wilayah strategis.

3. Ekonomi

Kemajuan ekonomi turut memperkuat posisi Turki Usmani. Perekonomian kerajaan semakin berkembang pesat setelah berhasil menaklukkan Bizantium dan Konstantinopel.

Dengan dikuasainya jalur perdagangan penting, Turki Usmani mampu mengendalikan alur perekonomian internasional pada masanya. 

4. Kepemimpinan

Kepemimpinan visioner juga menjadi faktor kunci kejayaan Turki Usmani. Para Sultan mampu merancang visi yang jelas untuk memperluas wilayah (futuhat) sekaligus memperkuat peradaban. Visi besar tersebut menjadikan Turki Usmani sebagai salah satu kekuatan dunia yang berpengaruh dalam sejarah.

Baca Juga: Penjelasan 4 Teori Masuknya Islam ke Indonesia

 

Faktor Kemunduran Kerajaan Turki Usmani

Meski pernah mencapai masa kejayaan, pada akhirnya Turki Usmani mengalami kemunduran hingga runtuh. Faktor-faktor penyebab kemunduran Turki Usmani terbagi menjadi dua, yakni faktor internal dan faktor eksternal sebagai berikut:

1. Faktor Internal

  • Wilayah yang terlalu luas dan lemahnya sistem pemerintahan di tangan penerus yang kurang profesional. Banyak pejabat melakukan korupsi dan ketidakadilan semakin merajalela.
  • Keberagaman penduduk dan agama sulit disatukan. Seperti yang dikemukakan Philip K. Hitti dalam Tarikh al-Daulah al-Islamiyah, negara yang dibangun atas dasar militer tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat sulit mempertahankan persatuan.
  • Gaya hidup mewah para penguasa, yang lebih banyak meniru kebiasaan bangsa Barat, menyebabkan nilai-nilai Islam perlahan ditinggalkan.
  • Kondisi ekonomi yang merosot akibat peperangan berkepanjangan selama berabad-abad.

 

2. Faktor Eksternal

  • Bangkitnya nasionalisme di kalangan bangsa-bangsa yang berada di bawah kekuasaan Turki Usmani. Hal ini mendorong banyak daerah untuk memisahkan diri.
  • Kemajuan teknologi Barat, terutama di bidang persenjataan. Sementara itu, Turki Usmani mengalami stagnasi teknologi, sehingga mereka kerap kalah dalam peperangan melawan bangsa Eropa dan menjadi salah satu penyebab Turki Usmani runtuh.

 

Baca Juga: Sejarah Dinasti Abbasiyah, Dari Masa Kejayaan Hingga Runtuhnya

Kisah sejarah Turki Usmani adalah salah satu yang paling menarik dalam sejarah dunia. Dari kerajaan kecil, mereka tumbuh menjadi kekhalifahan besar yang berkuasa lebih dari enam abad, menaklukkan Konstantinopel, dan meninggalkan warisan budaya luar biasa.

Meskipun akhirnya Turki Usmani runtuh, namun peninggalannya tetap abadi, mulai dari arsitektur megah, sistem hukum, hingga budaya yang masih melekat pada Turki modern. Kisah ini mengajarkan bahwa kejayaan bisa diraih dengan kerja keras dan strategi, tapi juga bisa hilang jika tidak mampu beradaptasi dengan zaman.

Mau belajar sejarah dunia dengan cara yang lebih mudah dan seru? Yuk, belajar bareng di Ruangguru! Kamu bisa akses video pembelajaran, materi lengkap, dan latihan soal supaya makin paham. Download aplikasinya sekarang, ya!

CTA Ruangguru

Kenya Swawikanti