Resensi Buku The Art of Loving, Seni Mencintai Ala Erich Fromm

Erich Fromm, filsuf, psikolog, dan sosiolog asal Jerman, menulis buku tentang seni mencintai. Apa arti cinta menurut Fromm? Lalu, bagaimana kita sebagai manusia sebaiknya menyikapi cinta? Yuk simak ulasannya pada resensi berikut!
—
Pendahuluan
Kenapa lagu bertema “cinta” selalu diminati? Begitupun soal film atau series. “Cinta” seakan jadi tema besar yang sangat “laku” hampir di setiap sendi kehidupan, terutama dalam dunia entertain. Seringkali aku bertanya, sebenarnya cinta itu apa? Apakah hubungan antara dua orang lawan jenis? Atau antara orang tua terhadap anaknya? Ah, cinta bisa masuk ke banyak hal.
Tema menarik inipun membuat seorang Erich Fromm meneliti perihal cinta itu apa. Bukan hanya sebatas definisi, tapi sampai ke ranah praksis. Di sini Fromm seakan-akan seperti guru bagaimana cinta itu tumbuh dengan kedisiplinan. Buku ini bukan tentang “bagaimana cara mendapatkan pasangan”, tapi balik lagi ke “disiplin mencintai”.
Bagi beliau, cinta itu soal seni yang perlu kedisiplinan untuk menumbuhkannya sampai menemukan titik “rasa” yang sesungguhnya. Tapi, tiba-tiba terbesit pertanyaan “jadi cinta itu soal rasa atau tindakan?”
Isi Buku
Cinta bukan sebagai emosi spontan, melainkan sebagai sebuah keterampilan yang harus dipelajari dan dilatih. Fromm menentang pandangan umum bahwa masalah cinta terletak pada menemukan pasangan yang tepat. Menurutnya, tantangan sesungguhnya adalah mengembangkan kemampuan untuk mencintai secara matang.
Dalam buku ini, Fromm menjelaskan bahwa cinta yang sehat terdiri dari empat elemen utama: perhatian (care), tanggung jawab (responsibility), rasa hormat (respect), dan pemahaman (knowledge). Ia juga membedakan berbagai bentuk cinta, seperti cinta persaudaraan, cinta orang tua, cinta romantis, cinta terhadap diri sendiri, dan cinta spiritual.
Baca Juga: Kebudayaan, Sains, dan Masa Depan

Keunggulan Buku
Keunggulan buku ini terletak pada pendekatannya yang filosofis dan reflektif. Fromm mengajak pembaca melihat cinta sebagai tindakan aktif, bukan sekadar perasaan pasif. Gagasannya relevan bagi siapa saja yang ingin memahami hubungan manusia secara lebih mendalam.
Kelemahan Buku
Fromm banyak menggunakan pendekatan filsafat, sosiologi, dan psikoanalisis. Akibatnya, beberapa konsep terasa idealistis dan kurang memberikan panduan praktis yang konkret bagi pembaca yang mencari solusi hubungan sehari-hari.
Selain itu, buku ini ditulis pada tahun 1950-an, jauh sebelum berkembangnya penelitian psikologi hubungan modern. Banyak argumennya dibangun dari observasi dan pemikiran filosofis, bukan dari data empiris yang kuat sebagaimana standar psikologi saat ini.
Di sisi lain, Fromm sering menjelaskan bagaimana manusia “seharusnya” mencintai. Sebagian pembaca mungkin merasa bahwa definisinya tentang cinta yang matang terlalu ideal dan tidak selalu mencerminkan kompleksitas hubungan manusia yang nyata.
Paling pamungkas, buku ini cenderung menawarkan konsep cinta yang universal. Dalam praktiknya, pengalaman cinta dipengaruhi oleh budaya, kepribadian, trauma, dan kondisi sosial yang sangat beragam, sehingga tidak semua orang akan merasa terwakili oleh pandangan Fromm.
Kesimpulan
The Art of Loving bukan buku tentang cara mendapatkan pasangan atau mempertahankan hubungan secara praktis. Buku ini lebih merupakan refleksi filosofis tentang apa arti mencintai sebagai manusia yang dewasa.
Meski beberapa gagasannya terasa idealistis dan kurang didukung penelitian modern, pemikiran Fromm tetap relevan karena mengingatkan bahwa cinta bukan sekadar perasaan, melainkan komitmen untuk bertumbuh bersama diri sendiri dan orang lain.
Baca Juga: Seni Tidak Ambil Pusing Menjalani Hidup
Tentang Peresensi:
Muhammad Zulfikar, Karyawan Ruangguru yang bekerja sebagai Social Media Associate dalam departemen Performance Marketing. Alumni Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta. Akun instagram: @joulesharejarah dengan niche membahas sejarah toponimi. Buku yang telah ditulis: Pertarungan Surat Kabar Harian Rakjat Versus Abadi untuk Memengaruhi Pilihan Politik Masyarakat (1952-1955) penerbit Respublica Institute.


