Perang Indocina III, Konflik antara Kamboja dan Vietnam | Sejarah Kelas 12

Perang Indocina III

Artikel Sejarah Kelas 12 ini akan membahas bagaimana terjadinya konflik Asia Tenggara yang terjadi di kawasan Indochina, khususnya Kamboja (yang juga melibatkan Vietnam). Seperti apa kisahnya? Yuk baca sampai habis! 

 

Ngomongin tentang Asia Tenggara, apakah yang pertama kali terlintas dibenakmu? SEA Games, AFF, lalu apa lagi? Nah, melalui perhelatan olahraga itu, kita jadi bisa tahu negara-negara apa saja yang masuk dalam ASEAN dan berada di wilayah Asia Tenggara.

Bener nggak sih kalau kamu tuh tahu nama-nama negara di Asia Tenggara itu ya dari ajang pertandingan sepakbola atau semacamnya? Atau ada hal lainnya?

Perlu kamu ketahui juga nih, bahwa setiap negara di Asia Tenggara memiliki sejarahnya masing-masing, dan hampir seluruhnya dilalui dengan cara berperang. Yaa semua itu dilakukan demi mempertahankan kedaulatan negara, seperti negara kita ini.

Nah di artikel ini kita akan bahas tentang konflik yang terjadi di Indocina, atau yang juga dikenal sebagai Perang Indocina III.

 

Latar Belakang Terjadinya Perang Indocina

Serangkaian peperangan yang terjadi di wilayah Indocina itu berawal dari tahun 1946 sampai tahun 1991. Kasus perang Indocina yang akan kita bahas di sini adalah kasus perang saudara yang terjadi di Kamboja dan melibatkan Vietnam.

Peta Indochina

Peta Indochina (Sumber: https://www.indochinatour.com/)

 

Sebelumnya, Kamboja adalah negara jajahan Prancis yang berhasil meraih kemerdekaannya pada 9 November 1953. Setelah Kamboja merdeka dari Prancis nih, Kamboja dipimpin oleh Pangeran Norodom Sihanouk. Di bawah kepemimpinannya, Kamboja kemudian menggunakan sistem pemerintahan monarki konstitusional.

Pada saat itu kaum komunis Vietnam diperbolehkan menggunakan pelabuhan yang berada di Kamboja untuk memasok persenjataan dan makanan. Bukan cuma Vietnam, Amerika Serikat juga diberi izin untuk mengebom tempat bersembunyinya pasukan Viet Cong  di Kamboja.

Baca Juga: Sejarah Runtuhnya Vietnam Selatan 

Apa itu monarki konstitusional

Kebijakan itu ternyata mendapat tentangan dari banyak pihak. Gimana enggak, dengan memberikan izin kepada Vietnam dan Amerika, sama saja menjadikan Kamboja sebagai wilayah peperangan Vietnam. Banyaknya tentangan membuat Norodom Sihanouk digulingkan dari jabatannya sebagai raja oleh Jenderal Lon Nol pada tanggal 18 Maret 1970.

 

Pemerintahan Lon Nol & Khmer Merah 

Kamboja kemudian berubah menjadi republik, dan Jenderal Lon Nol naik menjadi Presiden Republik Khmer. Republik Khmer adalah negara sayap kanan yang mendukung Amerika Serikat (AS).

Mengetahui kabar bahwa Kamboja berubah menjadi sayap kanan AS, membuat Norodom Sohanouk yang tersingkir ke Beijing bergabung dengan Khmer Merah. Khmer Merah adalah sebuah organisasi kecil berpaham komunis yang dipimpin oleh Pol Pot.

Nah, Khmer Merah ini sangat menentang upaya-upaya pengeboman yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Vietnam Utara. Penentangan yang dilakukan oleh Khmer Merah ternyata mendapat dukungan dari masyarakat Kamboja lho.

Masyarakat yang mendukung kemudian bergabung dengan Khmer Merah. Karena dukungan yang banyak, dan karena Khmer Merah sebelumnya juga pernah mendapat pelatihan dari militer Vietnam Utara, akhirnya Khmer Merah berhasil menggulingkan Lon Nol. 

Korban Konflik Asia Tenggara

Khmer Merah mulai menguasai Kamboja dan Pol Pot yang merupakan pemimpin organisasi ini sekaligus pengagum komunisme Mao (Tiongkok), mulai berkuasa dan mengubah nama Republik Khmer menjadi Kampuchea. Khmer Merah punya slogan yang terkenal, yaitu:

Slogan Khmer Merah

 

Masyarakat Kamboja di bawah kekuasaan Khmer Merah, diwajibkan untuk bekerja sebagai buruh pertanian, dilarang pakai kacamata, dilarang menguasai bahasa asing, bahkan dilarang ketawa dan menangis. Nah kalau ketahuan, siapapun akan dihukum dengan cara ditembak mati.

Tidak hanya itu saja, agama juga dilarang. Saat itu, banyak biksu Buddha yang ditemukan tewas, dan kuil-kuil turut dihancurkan. Populasi Muslim Cham dan penganut Kristen dibunuh.

Kelompok minoritas juga menjadi target penindasan, seperti kelompok etnis Tiongkok, Vietnam, Thailand, bahkan orang Kamboja keturunan ketiga etnis yang barusan disebutkan. Bahkan, anggota Khmer Merah sendiri juga tidak lepas dari interogasi. Mereka tidak segan memenjarakan dan mengeksekusi anggota yang dicurigai akan melakukan sabotase dan pengkhianatan.

Baca Juga: Latar Belakang Lahirnya Revolusi EDSA, Gerakan People Power Filipina

 

Vietnam Menginvasi Kamboja

Oke oke kita balik lagi ke pembahasan. Terus nih, setelah 8 tahun masa pemerintahan Khmer Merah, Vietnam menginvasi Kamboja, dan tepat di tanggal 7 Januari 1979, pasukan Vietnam berhasil menduduki kota Phnom Penh.

Karena invasi yang dilakukan Vietnam, menyebabkan pemerintahan Khmer Merah di bawah pimpinan Pol Pot pun jatuh. Pol Pot tersingkir sampai ke perbatasan Thailand. Tapi Pol Pot tidak mau menyerah begitu saja. Ia tetap memberikan perlawanan dengan melakukan perang gerilya.

Ketika itu pimpinan Khmer Merah digantikan oleh Khieu Samphar, tujuannya untuk menghilangkan citra buruk Khmer Merah dan mendapatkan dukungan internasional. Vietnam kemudian membentuk Republik Rakyat Kamboja atau People’s Republic of Kampuchea (PRK).

Kamu masih ingat Norodom Sihanouk kan? Ya, ia kemudian berkoalisi dengan dua faksi lainnya untuk membentuk pemerintahan tandingan dari yang dibuat Vietnam yaitu PRK. Koalisi itu disebut Coalition Government of Democratic Kampuchea (CGDK).

Koalisi CGDK - Konflik Asia Tenggara

 

Proses Terjadinya Perdamaian

Vietnam akhirnya mundur dari Kamboja pada tahun 1989 setelah diadakan Jakarta Informal Meeting (JIM I). Yes, dalam hal ini, negara kita turut berperan menjadi mediator untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antara Kamboja dan Vietnam. 

Meskipun begitu, JIM dilaksanakan sebanyak tiga kali. Penyelenggaraan JIM didukung oleh Dewan Keamanan PBB. Kemudian, Dewan Keamanan PBB mengusung pemerintahan transisi di Kamboja dengan membentuk United Nation Transitional Authority in Cambodia (UNTAC).

Pada Oktober 1991, empat faksi yang bertikai di Kamboja menyepakati untuk saling berdamai pada tahun 1979. Setelah itu Buddha diangkat menjadi agama resmi negara Kamboja, dan pada tahun 1993, pemilu pertama yang demokratis diselenggarakan.

Baca Juga: 7 Peran Indonesia dalam Perdamaian Dunia 

Begitulah kiranya konflik yang terjadi di Asia Tenggara. Banyak ya yang terlibat di dalamnya. Mulai dari bangsa asing, sampai pertarungan sesama bangsa. Untung negara kita hadir dan meminta untuk mediasi, sampai akhirnya semua sepakat untuk berdamai.

Membujuk negara yang sedang bertikai tentunya tidak mudah. Pasti Indonesia memiliki seorang tokoh yang pandai bernegosiasi dan kaya ilmu pengetahuan, sampai akhirnya bisa membujuk. Jika kamu ingin seperti tokoh-tokoh Indonesia yang hebat, kamu harus banyak belajar, membaca, dan juga berdiskusi.

Salah satu cara belajar yang bisa kamu terapkan adalah dengan berlangganan ruangbelajar, kamu akan menikmati video belajar yang di dalamnya ada penjelasan dari tutor interaktif, juga latihan-latihan soal. Jadi, jangan lupa terus belajar dan perkaya ilmu pengetahuan yaa.

CTA Ruangguru

Referensi:

Hapsari, R. (2018) Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XII Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sumber gambar:

Peta Indochina [Daring]. Tautan: https://www.indochinatour.com/thailand-cambodia-vietnam-tour/map-of-cambodia-vietnam-thailand.html (Diakses: 13 Maret 2026)

Artikel pertama kali diterbitkan 12 November 2018, kemudian diperbarui pada 27 Oktober 2020 dan 17 Maret 2026.

Fahri Abdillah