[AB] Web Side Banner - Blog RG [RG] Side Banner Blog RG - TO TKA SMA 2026 [AB] Web Side Banner - Blog RG 2 [RG] Sidebar Blog - RGP [RG] sidebar - kitab utbk snbt 2026

Profil Ayden, Mahasiswa Harvard Jago Robotic di COC Season 3

Profil Ayden CoC Season 3

Ayden mencatat sejarah sebagai peserta pertama dari Harvard di Clash of Champions. Kehadirannya pun langsung mencuri perhatian dan menambah daftar kampus elite di panggung COC. Cari tahu tentang Ayden lewat artikel ini, yuk!

 

Kalau kamu mengikuti Clash of Champions Season 3, nama Ayden Victory Haoken mungkin langsung menarik perhatian. Gimana nggak, Ayden adalah salah satu peserta yang saat ini menempuh pendidikan di Harvard University, salah satu kampus paling bergengsi di dunia.

Tapi, perjalanan Ayden sampai ke Harvard bukan cuma soal nilai akademik yang bagus. Sejak masih sekolah, ia sudah aktif mengikuti riset internasional, memimpin tim robotika, sampai membangun startup berbasis teknologi. Nggak heran kalau sosoknya jadi salah satu champion yang paling bikin penasaran di Clash of Champions Season 3.

Penasaran dengan sosok Ayden yang sudah punya banyak pencapaian di usia muda? Yuk, kenalan lebih dekat lewat artikel ini!

 

Yuk, Kenalan dengan Ayden!

 

Biodata Singkat Ayden 

Nama Lengkap

Ayden Victory Haoken

Nama Panggilan

Ayden

Tempat, Tanggal Lahir

Medan, 31 Agustus 2007

Riwayat Pendidikan

  • Harvard University
  • Sinarmas World Academy

 

Jurusan

Applied Mathematics and Economics

GPA

3.50/4.00

Akun Media Sosial

 

Prestasi Ayden

  1. 1st Winner – The World Robot Olympiad 2020 in Canada
  2. Best Research Paper Award at the University of Tokyo (Best STEM Paper Award)

 

Baca Juga: Profil Azka Adziman, Mahasiswa Oxford Peserta COC Season 3

Ayden lahir di Medan pada 31 Agustus 2007. Ia merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara, dengan seorang kakak laki-laki dan satu kakak perempuan. Latar belakang keluarganya juga cukup unik. Ayahnya berasal dari Kazakhstan, sementara ibunya berasal dari Medan.

Perpaduan budaya ini membuat Ayden tumbuh di lingkungan yang multikultural sejak kecil. Ia terbiasa berinteraksi dengan berbagai bahasa dan budaya, apalagi masa sekolahnya juga banyak dihabiskan di lingkungan internasional. Ayden bahkan sempat bersekolah di sekolah Jepang sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan di Sinarmas World Academy, sekolah dengan kurikulum International Baccalaureate (IB). Karena latar belakang tersebut, bahasa yang paling sering digunakan Ayden sejak kecil adalah bahasa Inggris dan bahasa Jepang.

Menariknya lagi, meskipun ayahnya berasal dari Kazakhstan, Ayden justru merasa lebih percaya diri menggunakan bahasa Mandarin dibanding bahasa Kazakhstan. Selama kuliah di Harvard University, ia mengambil mata kuliah bahasa Mandarin, sehingga kemampuan Mandarinnya ikut berkembang.

Selain dikenal punya kemampuan akademik yang kuat, Ayden juga cukup mencuri perhatian sejak pertama kali diperkenalkan sebagai peserta Clash of Champions Season 3. Salah satu alasannya adalah posturnya yang tinggi, sekitar 182 cm.

Kini, Ayden melanjutkan studi di Harvard University dengan mengambil jurusan Applied Mathematics and Economics. Sebelum akhirnya memilih Harvard, ia juga berhasil mendapatkan tawaran dari berbagai universitas ternama dunia, seperti Stanford University, UC Berkeley, University of Pennsylvania (Wharton), UCLA, hingga Purdue University.

Pada akhirnya, Harvard menjadi kampus yang ia pilih untuk mengembangkan minatnya di bidang matematika terapan dan ekonomi. Pilihan ini juga terasa semakin menarik karena Harvard ternyata sudah menjadi kampus impian Ayden sejak kecil.

Di balik deretan pencapaiannya, Ayden juga punya beberapa fakta menarik yang membuat penonton semakin penasaran. Salah satunya adalah hasil tes IQ yang pernah ia jalani saat masih kecil. Berdasarkan hasil tersebut, Ayden memiliki skor IQ 141 yang termasuk dalam kategori sangat tinggi.

Meski begitu, Ayden membuktikan bahwa prestasi bukan hanya soal kecerdasan. Ia juga aktif mengikuti organisasi, kompetisi internasional, penelitian ilmiah, hingga membangun startup sejak usia muda. Rasa ingin tahu, konsistensi belajar, dan keberanian mencoba hal baru menjadi bagian penting dari perjalanannya hingga bisa berkuliah di Harvard University.

 

Aktif Membangun Startup Sejak Masih Muda

(Sumber: dok. pribadi)

 

Selain berprestasi di dunia akademik, Ayden juga punya ketertarikan besar di bidang teknologi dan kewirausahaan. Ia nggak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mencoba menerapkannya dalam proyek dan solusi nyata.

Saat ini, Ayden merupakan Founder Vertasier, perusahaan yang bergerak di bidang data intelligence. Melalui Vertasier, ia membantu perusahaan mengembangkan intent data dan topologies untuk berbagai kebutuhan bisnis.

Sebelumnya, Ayden juga pernah mengembangkan beberapa proyek teknologi lain, mulai dari platform pemasaran digital, sistem sales funnel berbasis SaaS, sampai berbagai inisiatif yang menggabungkan teknologi dengan kebutuhan bisnis modern.

Pengalaman ini membuat profil Ayden semakin beragam. Ia bukan hanya dikenal sebagai mahasiswa berprestasi, tetapi juga sebagai entrepreneur, peneliti, dan software builder yang sudah mulai membangun karya sejak usia muda.

Baca Juga: Profil Rexx, Alumni AOC yang Siap Bersaing di COC Season 3

 

Deretan Prestasi Ayden yang Mendunia

Kalau bicara soal prestasi, Ayden punya daftar pencapaian yang nggak main-main. Salah satu yang paling membanggakan adalah saat ia terpilih sebagai RISE Global Scholar 2024, program bergengsi dengan tingkat penerimaan yang sangat rendah.

Dalam program tersebut, Ayden mengembangkan inovasi berupa kendaraan pertanian bertenaga surya yang mendorong penggunaan energi terbarukan. Dari sini terlihat bahwa ketertarikannya pada teknologi bukan sekadar untuk kompetisi, tetapi juga untuk menghadirkan solusi yang bermanfaat.

Di bidang riset, Ayden pernah memperoleh penghargaan Best STEM Research Paper dari University of Tokyo. Ia juga menjalani program magang riset di University of Malaya yang berfokus pada bidang fotonika dan engineering, serta berhasil menerbitkan beberapa makalah penelitian selama program tersebut berlangsung.

Kemampuan Ayden di bidang robotika juga nggak kalah mengesankan. Sebagai President of Sinarmas World Academy Robotics Team, ia berhasil membawa timnya meraih berbagai pencapaian, termasuk penghargaan desain industri pada kompetisi robotika internasional yang didukung oleh General Motors.

Dengan kombinasi kemampuan akademik, pengalaman riset internasional, kepemimpinan, dan dunia startup, Ayden menjadi salah satu peserta yang patut diperhitungkan di Clash of Champions Season 3.

Kemampuan berpikir analitisnya, ditambah pengalaman membangun solusi berbasis teknologi, membuat Ayden punya bekal yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan di arena kompetisi. Nggak heran kalau banyak penonton penasaran dengan strategi mahasiswa Harvard ini saat berhadapan dengan peserta-peserta berprestasi lainnya.

Menarik untuk ditunggu, apakah Ayden mampu membuktikan kualitasnya dan melangkah jauh di Clash of Champions Season 3? Kita nantikan aksi kerennya di setiap episode!

Nah, supaya kamu bisa mengenal Ayden lebih dekat, tim Ruangguru sudah menyiapkan QnA session bersama Ayden. Lewat QnA ini, Ayden cerita tentang perjalanannya masuk Harvard hingga akhirnya melangkah ke Clash of Champions Season 3. Penasaran seperti apa ceritanya? Langsung baca QnA session di bawah ini!

Baca Juga: Jadwal Tayang Clash of Champions (COC) Season 3 Minggu Ini

 

Q&A Sessions Bersama Ayden

Perjuangan Menuju Harvard University

(Sumber: dok. pribadi)

 

1. Kamu berhasil tembus ke Harvard University, kampus impian banyak orang di seluruh dunia. Boleh dong ceritain prosesnya dari awal sampai keterima. Ada strategi khusus, persiapan, atau pengalaman yang paling berkesan?

Jawaban:

The process was very intense. Harvard and other Ivy Leagues demand more than just good grades, competitions and awards. In fact, almost every single applicant is probably a student council president, olympiad awardee, or leader of an organization. Other than always trying to maintain high grades and winning competitions, I pursued my passion and built a “brand.”

In college applications, you go through multiple rounds of screenings up till your interview. You  need to convey why you are “unique” and also have a strong “why” about what you’re doing. I was interested in business & finance but also merged my knowledge in engineering to build tech startups.

There’s too many different elements to list in short, but the main goal is to treat yourself as a brand and build things around your passions. For instance, I built an AI robot for surgical applications and also a system to power agricultural vehicles. Don’t limit yourself to just one field.

 

(Prosesnya benar-benar intens. Harvard dan universitas Ivy League lainnya mencari lebih dari sekadar nilai bagus, prestasi kompetisi, atau deretan penghargaan. Hampir semua pelamar punya pencapaian yang luar biasa, entah sebagai ketua OSIS, peraih olimpiade, atau pemimpin organisasi. Jadi, selain menjaga nilai tetap tinggi dan aktif ikut kompetisi, aku juga berusaha mengejar hal yang benar-benar aku minati dan membangun “personal brand” dari situ.

Dalam proses aplikasi kuliah, ada beberapa tahap seleksi sampai akhirnya masuk ke tahap wawancara. Di sini, kamu perlu bisa menunjukkan apa yang membuat kamu berbeda dan punya alasan yang kuat di balik hal-hal yang kamu lakukan. Aku sendiri tertarik dengan bisnis dan keuangan, tapi juga menggabungkannya dengan pengetahuan di bidang teknik untuk membangun startup teknologi.

Ada banyak elemen yang sebenarnya sulit dijelaskan satu per satu secara singkat. Tapi intinya, penting untuk melihat diri kita seperti sebuah brand dan membangun karya berdasarkan hal yang memang kita sukai. Misalnya, aku pernah membangun robot AI untuk aplikasi bedah dan sistem untuk menggerakkan kendaraan pertanian. Jadi, jangan membatasi diri hanya pada satu bidang.)

 

2. Dari awal, apakah Harvard memang jadi kampus impianmu? Atau dulu sempat mengincar universitas lain juga? Ceritain dong gimana akhirnya kamu memilih Harvard sebagai tujuan kuliah.

Jawaban:

Yes, Harvard has always been my dream campus. I had set my sights on it since I was in second grade and looked up to figures such as Mark Zuckerberg and Bill Gates. Now everyone is into startups and AI because of all the hype, but I had been interested in it since primary school, building robotics projects for medical applications, software, and other businesses.

I’ve also been fortunate enough to be accepted in other universities namely Stanford University with scholarships, Wharton, UC Berkeley (with scholarships), UCLA, UCSD, University of Washington, Purdue, etc. However, after deep thought, I still chose my childhood university, Harvard, and am now studying applied mathematics and economics.

 

(Iya, Harvard memang sudah jadi kampus impianku sejak lama. Aku bahkan sudah mengincarnya sejak kelas dua SD, karena waktu itu aku banyak terinspirasi dari tokoh-tokoh seperti Mark Zuckerberg dan Bill Gates. Sekarang, banyak orang tertarik dengan startup dan AI karena sedang ramai dibicarakan. Tapi, aku sendiri sudah tertarik dengan bidang itu sejak sekolah dasar, mulai dari membangun proyek robotika untuk aplikasi medis, software, sampai bisnis lainnya.

Aku juga bersyukur sempat diterima di beberapa universitas lain, seperti Stanford University dengan beasiswa, Wharton, UC Berkeley dengan beasiswa, UCLA, UCSD, University of Washington, Purdue, dan lainnya. Tapi setelah dipikirkan matang-matang, aku tetap memilih kampus impianku sejak kecil, yaitu Harvard. Sekarang, aku sedang menempuh studi di bidang matematika terapan dan ekonomi.)

 

3. Selama kuliah di Harvard, kamu pakai beasiswa atau enggak? Kalau iya, boleh dong dijelasin beasiswa apa, bagaimana cara daftarnya, dan tips buat yang ingin mengikuti jejakmu?

Jawaban:

I have been fortunate enough to have scholarship attending Harvard, and also external scholarships from companies related to Google (Schmidt foundation). For instance, if I chose to attend a different university, the external scholarship would cover the majority of my expenses including flight tickets.

Needless to say, when applying for scholarship to these universities, your chance of getting in will decrease — afterall, if the university receives 2 similar applicants, and one requires scholarship and the other doesn’t, which do you think they will pick? Of course, the one that can pay in full. So keep this in mind when applying.

However, there’s also strategies you can apply when applying for external scholarships. You shouldn’t apply blindly to a lot of them, but rather pick a few quality ones and build a strong profile according to your passions.

 

(Aku cukup beruntung bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Harvard. Selain itu, aku juga mendapatkan beasiswa eksternal dari perusahaan yang berkaitan dengan Google, yaitu Schmidt Foundation. Kalau aku memilih kuliah di universitas lain, beasiswa eksternal ini bahkan bisa menutupi sebagian besar biaya, termasuk tiket pesawat.

Tentu, saat mendaftar beasiswa ke universitas-universitas seperti ini, ada hal yang perlu dipertimbangkan. Peluang diterima bisa saja lebih menantang, karena kalau ada dua pelamar dengan profil yang mirip, lalu satu membutuhkan beasiswa dan satu lagi bisa membayar penuh, universitas mungkin akan lebih mempertimbangkan pelamar yang bisa membayar penuh. Jadi, hal seperti ini penting untuk dipahami sejak awal.

Meski begitu, tetap ada strategi yang bisa dilakukan saat mencari beasiswa eksternal. Menurutku, jangan asal mendaftar ke banyak beasiswa sekaligus. Lebih baik pilih beberapa beasiswa yang benar-benar berkualitas, lalu bangun profil yang kuat dan sesuai dengan minat yang kamu punya.)

 

4. Kenapa sih kamu memilih jurusan Applied Mathematics and Economics di Harvard? Apakah ada pengalaman pribadi, ketertarikan khusus, atau alasan lain yang mendorong keputusan kamu itu?

Jawaban:

I’ve always believed that technology and engineering shouldn’t exist in a vacuum; they need to solve actual human and economic problems. Applied Mathematics gives me the core foundational tools to design complex algorithms, like the ML ensemble model I built combining LSTM, Prophet, and XGBoost for market predictions.

Meanwhile, Economics helps me understand the market structures and human behavior needed to scale those tools into viable businesses. My ultimate goal is to build FinTech solutions that improve financial accessibility for underbanked and underserved populations. Combining math and economics at Harvard lets me bridge the gap between hard technical logic and real-world socioeconomic impact.

 

(Aku selalu percaya bahwa teknologi dan engineering nggak seharusnya berdiri sendiri. Keduanya harus bisa menjawab masalah nyata yang dihadapi manusia dan ekonomi. Applied Mathematics memberiku fondasi utama untuk merancang algoritma yang kompleks, seperti model ML ensemble yang pernah aku bangun dengan menggabungkan LSTM, Prophet, dan XGBoost untuk prediksi pasar.

Sementara itu, Economics membantuku memahami struktur pasar dan perilaku manusia, yang penting banget kalau ingin mengembangkan teknologi menjadi bisnis yang benar-benar bisa berjalan. Tujuan besarku adalah membangun solusi FinTech yang bisa meningkatkan akses finansial bagi masyarakat underbanked dan underserved. Dengan menggabungkan matematika dan ekonomi di Harvard, aku bisa menjembatani logika teknis yang kuat dengan dampak sosial-ekonomi di dunia nyata.)

 

Perjalanan Ayden di Dunia Robotics dan Membangun Startup

5. Apa yang membuat kamu suka banget sama robot? Boleh sebutkan gak robot yang sudah pernah kamu buat?

Jawaban:

I’ve always been fascinated by robotics because it’s where code meets reality. Software is incredibly powerful, but seeing physical hardware come to life and interact with the real world to solve actual human problems is on another level. As for the robots I’ve built, I started with simpler automation and mechanics back in primary school.

Over time, as my skills grew, the projects became much more sophisticated. Some of my proudest creations include an AI-powered robot designed for surgical applications to assist doctors in precision medicine, and an automated system designed to power and optimize agricultural vehicles, known as the TeZoid.

 

(Aku selalu tertarik dengan robotika karena bidang ini mempertemukan kode dengan dunia nyata. Software memang sangat powerful, tapi melihat hardware bisa bergerak, hidup, dan berinteraksi langsung dengan dunia nyata untuk membantu menyelesaikan masalah manusia rasanya ada di level yang berbeda. Untuk robot yang pernah aku buat, aku mulai dari proyek otomasi dan mekanik yang lebih sederhana sejak sekolah dasar.

Seiring kemampuan yang terus berkembang, proyek-proyekku juga jadi semakin kompleks. Beberapa karya yang paling aku banggakan adalah robot berbasis AI untuk aplikasi bedah, yang dirancang untuk membantu dokter dalam precision medicine, serta sistem otomatis untuk menggerakkan dan mengoptimalkan kendaraan pertanian yang dikenal sebagai TeZoid.)

 

6. Boleh nggak ceritain perjalanan kamu sampai berhasil menjadi 1st winner di The World Robot Olympiad 2020 di Kanada, first time in Indonesia’s History!

Jawaban:

Winning the World Robot Olympiad 2020 was a massive milestone, not just for me but for the entire country since it was a first for Indonesia. The journey definitely wasn’t overnight; it required years of building a strong foundation in robotics and countless hours of trial and error. We had to design, program, and continuously optimize a robot to solve complex automation tasks under intense pressure.

Beyond the technicalities, the psychological barrier of competing against tech powerhouses like Japan or Germany was real. But we pushed through, stayed adaptable, and focused heavily on execution. Standing on that global stage knowing we made history for Indonesia was an indescribable feeling that fueled my passion even further.

 

(Menang di World Robot Olympiad 2020 adalah salah satu pencapaian terbesar buatku. Bukan cuma secara pribadi, tapi juga untuk Indonesia, karena ini menjadi sejarah pertama bagi negara kita.Perjalanannya jelas nggak terjadi dalam semalam. Butuh bertahun-tahun untuk membangun dasar yang kuat di bidang robotika, ditambah banyak sekali proses trial and error. Kami harus mendesain, memprogram, dan terus mengoptimalkan robot supaya bisa menyelesaikan tugas-tugas otomasi yang kompleks di bawah tekanan besar.

Di luar tantangan teknis, ada juga tantangan mental. Bertanding melawan negara-negara yang sangat kuat di bidang teknologi, seperti Jepang atau Jerman, tentu bukan hal yang mudah. Tapi kami terus berusaha, tetap fleksibel, dan fokus pada eksekusi. Bisa berdiri di panggung dunia dan tahu bahwa kami berhasil mencetak sejarah untuk Indonesia adalah perasaan yang sulit dijelaskan. Pengalaman itu juga membuat passion-ku di bidang robotika semakin besar.)

 

7. Ayden, di usia semuda ini, kamu udah berhasil bikin perusahaan sendiri. Apa sih motivasi kamu untuk bikin perusahaan di usia kamu sekarang?

Jawaban:

I’ve always felt incredibly grateful for the opportunities I’ve had, and that’s honestly what drives me. For me, launching startups like AngelFlows or CollegeUp wasn’t about trying to hit a certain milestone. It came from a genuine curiosity to see if the things I code could actually help someone solve a real-world problem.

When I visited communities like Sekolah Kami and saw the daily struggles people face, it completely shifted my perspective. I realized entrepreneurship is one of the most sustainable ways to create opportunities for others and give back. I’m still learning every day, making plenty of mistakes along the way, but the chance to build something that might make someone’s life just a little bit easier is what keeps me motivated.

 

(Aku selalu merasa sangat bersyukur atas berbagai kesempatan yang aku dapatkan, dan rasa syukur itu yang banyak mendorongku. Buatku, membangun startup seperti AngelFlows atau CollegeUp bukan tentang mengejar pencapaian tertentu. Semuanya berawal dari rasa penasaran yang tulus: apakah hal-hal yang aku bangun lewat coding benar-benar bisa membantu seseorang menyelesaikan masalah di dunia nyata?

Saat aku mengunjungi komunitas seperti Sekolah Kami dan melihat tantangan yang mereka hadapi setiap hari, cara pandangku berubah. Aku sadar bahwa entrepreneurship bisa menjadi salah satu cara yang berkelanjutan untuk menciptakan kesempatan bagi orang lain dan memberi dampak kembali. Aku masih terus belajar setiap hari dan tentu masih sering membuat kesalahan. Tapi kesempatan untuk membangun sesuatu yang mungkin bisa membuat hidup seseorang sedikit lebih mudah adalah hal yang terus memotivasiku.)

 

8. Selain yang sudah kamu capai sekarang, ada nggak goal atau achievement lain yang masih kamu kejar ke depannya?

Jawaban:

I feel like I’m still at the very beginning of my journey and have so much left to learn. While I’ve been incredibly lucky to work on early projects like the TeZoid system or publish some initial research papers, my long-term goal is much bigger than just personal achievements. I want to focus on building scalable, real-world FinTech solutions that can genuinely make financial tools accessible and safe for underserved and underbanked communities.

Beyond business, I really want to expand educational outreach, similar to what I started at Sekolah Kami—to give more students in rural areas access to hands-on engineering and technology. For me, the ultimate goal isn’t a title or an award, but seeing the things I build actually create meaningful, lasting opportunities for other people.

 

(Aku merasa perjalanan ini masih sangat awal dan masih banyak sekali yang perlu aku pelajari. Walaupun aku bersyukur sudah sempat mengerjakan beberapa proyek awal seperti sistem TeZoid dan mempublikasikan beberapa paper riset, tujuan jangka panjangku jauh lebih besar dari sekadar pencapaian pribadi.

Aku ingin fokus membangun solusi FinTech yang scalable dan benar-benar bisa digunakan di dunia nyata, terutama untuk membuat akses finansial menjadi lebih aman dan mudah dijangkau oleh komunitas underserved dan underbanked.

Di luar bisnis, aku juga ingin memperluas kegiatan edukasi, mirip seperti yang pernah aku mulai di Sekolah Kami, agar lebih banyak siswa di daerah rural bisa mendapatkan akses ke pengalaman langsung di bidang engineering dan teknologi. Buatku, tujuan akhirnya bukan sekadar gelar atau penghargaan, tapi melihat hal-hal yang aku bangun bisa menciptakan peluang yang bermakna dan bertahan lama untuk orang lain.)

Baca Juga: Profil Eran, Peserta COC Season 3 dari PKN STAN

 

Cara Ayden Survive Kuliah di Luar Negeri

9. Apa sih hal yang paling berat saat kuliah di luar negeri? Misalnya, perasaan saat jauh dari keluarga dan teman-teman di Indonesia?

Jawaban:

The homesickness is definitely real, and it’s probably the hardest part for me. Being thousands of miles away from your your lifelong friends, and the familiar warmth of home is a huge adjustment. You miss the small, everyday things—like having a casual chat with my parents or, honestly, just being able to easily eat home-cooked meals with tempe whenever I want.

The cultural and pace-of-life shift can feel quite isolating at times, especially during intense exam seasons when you just want the comfort of home.

To get through it, I try to stay connected through regular calls with friends, and I try to build a supportive community of startup founders on campus who are going through the same exact struggles so we can lift each other up.

 

(Homesick itu benar-benar nyata, dan buatku mungkin itu bagian yang paling berat. Berada ribuan kilometer dari teman-teman dekat, keluarga, dan suasana rumah yang familiar adalah penyesuaian yang besar.
Kadang yang dirindukan justru hal-hal kecil sehari-hari, seperti ngobrol santai dengan orang tua atau, jujur saja, bisa makan masakan rumah dengan tempe kapan pun aku mau.

Perbedaan budaya dan ritme hidup juga kadang bisa membuat kita merasa cukup sendiri, terutama saat musim ujian yang intens dan kita hanya ingin merasakan kenyamanan rumah.

Untuk menghadapinya, aku berusaha tetap terhubung lewat panggilan rutin dengan teman-teman. Aku juga mencoba membangun komunitas yang suportif dengan sesama founder startup di kampus, karena banyak dari mereka juga menghadapi tantangan yang mirip. Dengan begitu, kami bisa saling menguatkan.)

 

10. Kuliah di luar negeri pasti penuh tantangan. Menurut kamu, gimana sih cara survive dan beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru di sana?

Jawaban:

I think the key is staying humble, keeping an open mind, and not being afraid to step out of your comfort zone. Growing up as a Kazakh-Indonesian, I’ve been quite lucky because I had to learn how to navigate two very different cultural worlds from a young age. It taught me that there’s always more than one way to look at things.

When you move to a completely new environment like Harvard, it’s easy to feel overwhelmed or out of place. My approach is just to listen more than I speak, stay curious about other people’s backgrounds, and find common ground—whether it’s over a casual cup of coffee, playing a game of chess, or joining a club. Accepting that you won’t know everything right away makes the adaptation process a lot more fun and less daunting.

 

(Menurutku, kuncinya adalah tetap rendah hati, punya pikiran yang terbuka, dan berani keluar dari zona nyaman. Sebagai seseorang yang tumbuh dengan latar belakang Kazakh-Indonesia, aku cukup beruntung karena sejak kecil sudah belajar menavigasi dua dunia budaya yang berbeda. Dari situ, aku belajar bahwa selalu ada lebih dari satu cara untuk melihat sesuatu.

Saat pindah ke lingkungan yang benar-benar baru seperti Harvard, wajar kalau ada momen merasa overwhelmed atau merasa kurang cocok. Pendekatanku sederhana: lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, tetap penasaran dengan latar belakang orang lain, dan mencari kesamaan, entah lewat ngobrol santai sambil minum kopi, main catur, atau ikut klub.
Menerima bahwa kita nggak harus langsung tahu semuanya sejak awal justru membuat proses adaptasi terasa lebih menyenangkan dan tidak terlalu menakutkan.)

 

11. Kamu pernah merasa demotivasi untuk belajar enggak? Kalau iya, gimana cara kamu supaya bisa bangkit dari perasaan itu dan kembali lagi termotivasi?

Jawaban:

Of course, everyone hits a wall sometimes. When you’re pulling late nights trying to fix a broken script for a startup, running back-to-back testing, or trying to balance rigorous IB HL courses, burnout is bound to happen.

When I feel demotivated, I usually step completely away from the screen. I go to the gym for a heavy powerlifting session—hitting a solid bench press or squat completely clears my mind and channels that frustration into physical output.

I also remind myself of the bigger picture, like why I started projects like the TeZoid system in the first place: to create actual opportunities for communities like Sekolah Kami. Shifting focus from the immediate daily grind back to the long-term vision always brings my drive back.

 

(Tentu pernah. Semua orang pasti pernah merasa stuck di satu titik. Saat harus begadang untuk memperbaiki script yang bermasalah untuk startup, menjalani testing berturut-turut, atau menyeimbangkan beban belajar IB HL yang cukup berat, burnout bisa saja terjadi.

Kalau sedang merasa demotivasi, biasanya aku benar-benar menjauh dulu dari layar. Aku pergi ke gym untuk sesi powerlifting yang cukup berat. Latihan seperti bench press atau squat bisa membantu menjernihkan pikiranku dan menyalurkan rasa frustrasi menjadi energi fisik.

Aku juga mencoba mengingat lagi gambaran besarnya, seperti alasan kenapa aku memulai proyek TeZoid sejak awal, yaitu untuk menciptakan peluang nyata bagi komunitas seperti Sekolah Kami. Saat fokusku bergeser dari rutinitas harian yang melelahkan kembali ke visi jangka panjang, motivasiku biasanya perlahan kembali.)

 

Fun Fact tentang Ayden yang Wajib Kamu Tahu!

12. Apakah kamu punya hobi unik atau kegiatan seru yang jarang orang tahu? Ceritain dong!

Jawaban:

When I’m not coding or looking at math models, I actually spend a lot of my free time at the gym doing muaythai and training with my friends. It’s a great way to clear my mind and build discipline. Aside from that, I really love a good, intense game of chess, especially if there’s a cup of coffee next to it.

Oh, and one funny, casual goal of mine: I actually really want to learn how to dance! I’ve never been good at it at all, but I think it would be a fun way to step out of my comfort zone and laugh at my own attempts.

 

(Kalau sedang tidak coding atau mengutak-atik model matematika, aku sebenarnya cukup sering menghabiskan waktu di gym untuk latihan muay thai dan olahraga bareng teman-teman. Buatku, itu cara yang bagus untuk menjernihkan pikiran sekaligus membangun disiplin. Selain itu, aku juga suka banget main catur yang intens, apalagi kalau ditemani secangkir kopi.

Oh, dan ada satu goal kecil yang cukup lucu: aku sebenarnya ingin banget belajar menari. Aku sama sekali belum jago, tapi menurutku itu bisa jadi cara yang seru untuk keluar dari zona nyaman dan menertawakan proses belajarku sendiri.)

 

13. Katanya kamu nggak bisa makan tanpa tempe, yaa. Kalau kamu mau ngenalin makanan Indonesia ke teman-teman kamu di Harvard, makanan apa sih yang mau kamu pilih selain tempe?

Jawaban:

Haha, yes, it’s true—tempe is definitely a must-have for me!

But if I had to introduce other Indonesian dishes to my friends at Harvard, I would probably choose Rendang and Nasi Goreng. Rendang has such a rich, complex flavor from the slow-cooking process and the spices, and it always gets an amazing reaction from people trying it for the first time.

On the other hand, Nasi Goreng is the ultimate, comforting classic that almost everyone can instantly appreciate. Since I love cooking and sharing meals, introducing them to these dishes would be a really fun, humble way to share a piece of my Indonesian heritage and bring people together over great food.

 

(Haha, iya, benar. Tempe memang wajib banget buatku.

Tapi kalau harus mengenalkan makanan Indonesia lain ke teman-teman di Harvard, aku mungkin akan memilih rendang dan nasi goreng. Rendang punya rasa yang kaya dan kompleks dari proses masak yang lama serta bumbu-bumbunya. Biasanya, orang yang baru pertama kali mencoba rendang punya reaksi yang luar biasa.

Di sisi lain, nasi goreng adalah comfort food klasik yang hampir semua orang bisa langsung nikmati. Karena aku suka memasak dan berbagi makanan, mengenalkan mereka pada hidangan-hidangan ini akan jadi cara yang seru dan sederhana untuk membagikan sedikit bagian dari budaya Indonesiaku, sekaligus menyatukan orang-orang lewat makanan enak.)

 

Ayden di Clash of Champions Season 3

(Sumber: dok. pribadi)

 

14. Ceritain dong, gimana awalnya kamu bisa ikutan Clash of Champions Season 3? Apakah kamu daftar sendiri, direkomendasikan orang lain, atau mungkin ditawarkan oleh pihak Ruangguru? Kita pengin tahu cerita di balik layar sampai akhirnya kamu bisa terjun di ajang kompetitif ini!

Jawaban:

It’s a really interesting story. I was checking my Instagram inbox and received a message from Kak Pian on behalf of RuangGuru. I was intrigued as during my Stanford interview, my interviewer (Budi Waskita) mentioned that he was acquainted with the co-founders of RuangGuru.

Afterwards, we went through multiple rounds of testing ranging from spatial, numerics, and even interviews. I knew that though my Indonesian language was lacking, this was an amazing opportunity to meet so many bright minds and show what we Indonesians are capable of.

 

(Ceritanya cukup menarik. Waktu itu, aku sedang mengecek inbox Instagram dan mendapat pesan dari Kak Pian atas nama Ruangguru. Aku langsung tertarik, apalagi saat wawancara Stanford dulu, pewawancaraku, Budi Waskita, sempat menyebutkan bahwa ia mengenal salah satu pendiri Ruangguru.

Setelah itu, aku mengikuti beberapa tahap tes, mulai dari tes spasial, numerik, sampai wawancara. Walaupun kemampuan bahasa Indonesiaku masih belum terlalu lancar, aku merasa ini adalah kesempatan yang luar biasa untuk bertemu banyak orang hebat dan menunjukkan kemampuan kita sebagai orang Indonesia.)

 

15. Di ajang Clash of Champions Season 3, menurut kamu siapa sih lawan terberatmu? Ceritain dong kenapa kamu merasa dia jadi saingan paling menantang buat kamu.

Jawaban:

To be honest, I didn’t really look at anyone as a “rival” or an opponent to beat, because every single person in Clash of Champions is incredibly brilliant. Seeing the sheer speed, intuition, and academic caliber of the other participants was genuinely humbling.

If I had to talk about challenges, the real challenge was always competing against my own limitations—trying to stay focused, managing my nerves under the clock, and executing under pressure. Everyone brought something amazing to the table, and honestly, just being in the same room with such bright minds felt like a privilege. I looked at it more as an opportunity to learn from them rather than a competition against them.

I definitely enjoyed hanging with Austin, Azka, Fansen, Gabriel, Derrick and the others though so that’s probably my biggest joy in joining!

 

(Sejujurnya, aku nggak benar-benar melihat siapa pun sebagai rival atau lawan yang harus dikalahkan, karena semua peserta Clash of Champions sangat luar biasa. Melihat kecepatan berpikir, intuisi, dan kualitas akademik para peserta lain benar-benar membuatku kagum sekaligus rendah hati.

Kalau harus bicara soal tantangan, tantangan terbesarku sebenarnya adalah melawan keterbatasan diri sendiri: berusaha tetap fokus, mengatur rasa gugup saat waktu berjalan, dan tetap bisa mengeksekusi dengan baik di bawah tekanan. Semua orang membawa kemampuan yang luar biasa. Jujur, bisa berada di ruangan yang sama dengan orang-orang sepintar itu saja sudah terasa seperti sebuah privilege. Aku lebih melihat pengalaman ini sebagai kesempatan untuk belajar dari mereka, bukan sekadar kompetisi melawan mereka.

Tapi aku benar-benar senang bisa ngobrol dan menghabiskan waktu dengan Austin, Azka, Fansen, Gabriel, Derrick, dan teman-teman lainnya. Itu mungkin salah satu hal yang paling aku nikmati dari ikut Clash of Champions.)

 

16. Menurut kamu, game apa yang paling menantang selama kamu jadi peserta COC Season 3? Ceritain alasannya!

Jawaban: 

Honestly, every single game in Clash of Champions had its own unique pressure, but the ones involving memorization with Indonesian was definitely the most challenging (namely, the memorization of 100s of recipes). Coming from a math and coding background, I’m used to analyzing complex systems deeply, but memorization with Indonesian that I still need to work on with zero margin for error is a completely different ballgame. It really tests your mental stamina and how quickly you can adapt when your initial strategy fails.

(Jujur, setiap game di Clash of Champions punya tekanannya masing-masing. Tapi buatku, game yang melibatkan hafalan dalam bahasa Indonesia adalah yang paling menantang, terutama tantangan menghafal ratusan resep.

Dengan latar belakang matematika dan coding, aku lebih terbiasa menganalisis sistem yang kompleks secara mendalam. Tapi menghafal dalam bahasa Indonesia, yang masih terus aku latih, dengan ruang kesalahan yang sangat kecil, itu benar-benar tantangan yang berbeda.

Game seperti itu menguji stamina mental dan kemampuan untuk cepat beradaptasi saat strategi awal ternyata tidak berjalan sesuai rencana.)

Baca Juga: Profil Peserta Clash of Champions (COC) Season 3 Batch 6

Itu dia profil Ayden Victory Haoken, mahasiswa Harvard University yang punya perjalanan akademik, pengalaman riset, dunia startup, sampai robotika yang luar biasa. Dari kisahnya, kita bisa lihat bahwa prestasi besar nggak datang begitu saja, tapi dibangun lewat rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan konsistensi untuk terus mengembangkan diri.

Dengan latar belakang yang kuat di bidang teknologi, matematika, ekonomi, dan problem solving, Ayden tentu jadi salah satu champion yang menarik untuk diikuti di Clash of Champions Season 3. Kira-kira, strategi seperti apa yang akan ia tunjukkan di arena nanti?

Yuk, vote Ayden sebagai peserta favorit pilihan kamu di sini. Jangan sampai kelewatan juga keseruan episode Clash of Champions Season 3 berikutnya. Pantengin terus blog Ruangguru, sosial media, channel WhatsApp, aplikasi, dan YouTube Ruangguru, buat dapetin info ter-update!

Siap jadi juara di Tahun Ajaran Baru 2026/2027? Yuk, segera klaim diskon spesial beragam paket produk dari Ruangguru.

clash of <em>champion</em>s season 3 ruangguru

Ruangguru

Platform bimbingan belajar online terbesar dan terbaik di Indonesia. Menyediakan layanan belajar berbasis teknologi interaktif untuk jenjang SD, SMP, SMA/SMK.