Profil Ayden, Mahasiswa Harvard Jago Robotic di COC Season 3

Profil Ayden CoC Season 3

Ayden mencatat sejarah sebagai peserta pertama dari Harvard di Clash of Champions. Kehadirannya pun langsung mencuri perhatian dan menambah daftar kampus elite di panggung COC. Cari tahu tentang Ayden lewat artikel ini, yuk!

Kalau kamu mengikuti Clash of Champions Season 3, nama Ayden Victory Haoken mungkin langsung menarik perhatian. Gimana nggak, Ayden adalah salah satu peserta yang saat ini menempuh pendidikan di Harvard University, salah satu kampus paling bergengsi di dunia.

Tapi, perjalanan Ayden sampai ke Harvard bukan cuma soal nilai akademik yang bagus. Sejak masih sekolah, ia sudah aktif mengikuti riset internasional, memimpin tim robotika, sampai membangun startup berbasis teknologi. Nggak heran kalau sosoknya jadi salah satu champion yang paling bikin penasaran di Clash of Champions Season 3.

Penasaran dengan sosok Ayden yang sudah punya banyak pencapaian di usia muda? Yuk, kenalan lebih dekat lewat artikel ini!

 

Yuk, Kenalan dengan Ayden!

 

Biodata Singkat Ayden 

Nama Lengkap

Ayden Victory Haoken

Nama Panggilan

Ayden

Tempat, Tanggal Lahir

Medan, 31 Agustus 2007

Riwayat Pendidikan

  • Harvard University
  • Sinarmas World Academy

 

Jurusan

Applied Mathematics and Economics

GPA

3.50/4.00

Akun Media Sosial

 

Prestasi Ayden

  • 1st Winner – The World Robot Olympiad 2020 in Canada
  • Best Research Paper Award at the University of Tokyo (Best STEM Paper Award)

 

Baca Juga: Profil Azka Adziman, Mahasiswa Oxford Peserta COC Season 3

 

Ayden lahir di Medan pada 31 Agustus 2007. Ia merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara, dengan seorang kakak laki-laki dan satu kakak perempuan. Latar belakang keluarganya juga cukup unik. Ayahnya berasal dari Kazakhstan, sementara ibunya berasal dari Medan.

Perpaduan budaya ini membuat Ayden tumbuh di lingkungan yang multikultural sejak kecil. Ia terbiasa berinteraksi dengan berbagai bahasa dan budaya, apalagi masa sekolahnya juga banyak dihabiskan di lingkungan internasional. Ayden bahkan sempat bersekolah di sekolah Jepang sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan di Sinarmas World Academy, sekolah dengan kurikulum International Baccalaureate (IB). Karena latar belakang tersebut, bahasa yang paling sering digunakan Ayden sejak kecil adalah bahasa Inggris dan bahasa Jepang.

Menariknya lagi, meskipun ayahnya berasal dari Kazakhstan, Ayden justru merasa lebih percaya diri menggunakan bahasa Mandarin dibanding bahasa Kazakhstan. Selama kuliah di Harvard University, ia mengambil mata kuliah bahasa Mandarin, sehingga kemampuan Mandarinnya ikut berkembang.

Selain dikenal punya kemampuan akademik yang kuat, Ayden juga cukup mencuri perhatian sejak pertama kali diperkenalkan sebagai peserta Clash of Champions Season 3. Salah satu alasannya adalah posturnya yang tinggi, sekitar 182 cm.

Kini, Ayden melanjutkan studi di Harvard University dengan mengambil jurusan Applied Mathematics and Economics. Sebelum akhirnya memilih Harvard, ia juga berhasil mendapatkan tawaran dari berbagai universitas ternama dunia, seperti Stanford University, UC Berkeley, University of Pennsylvania (Wharton), UCLA, hingga Purdue University.

Pada akhirnya, Harvard menjadi kampus yang ia pilih untuk mengembangkan minatnya di bidang matematika terapan dan ekonomi. Pilihan ini juga terasa semakin menarik karena Harvard ternyata sudah menjadi kampus impian Ayden sejak kecil.

Di balik deretan pencapaiannya, Ayden juga punya beberapa fakta menarik yang membuat penonton semakin penasaran. Salah satunya adalah hasil tes IQ yang pernah ia jalani saat masih kecil. Berdasarkan hasil tersebut, Ayden memiliki skor IQ 141 yang termasuk dalam kategori sangat tinggi.

Meski begitu, Ayden membuktikan bahwa prestasi bukan hanya soal kecerdasan. Ia juga aktif mengikuti organisasi, kompetisi internasional, penelitian ilmiah, hingga membangun startup sejak usia muda. Rasa ingin tahu, konsistensi belajar, dan keberanian mencoba hal baru menjadi bagian penting dari perjalanannya hingga bisa berkuliah di Harvard University.

 

Aktif Membangun Startup Sejak Masih Muda

(Sumber: dok. pribadi)

 

Selain berprestasi di dunia akademik, Ayden juga punya ketertarikan besar di bidang teknologi dan kewirausahaan. Ia nggak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mencoba menerapkannya dalam proyek dan solusi nyata.

Saat ini, Ayden merupakan Founder Vertasier, perusahaan yang bergerak di bidang data intelligence. Melalui Vertasier, ia membantu perusahaan mengembangkan intent data dan topologies untuk berbagai kebutuhan bisnis.

Sebelumnya, Ayden juga pernah mengembangkan beberapa proyek teknologi lain, mulai dari platform pemasaran digital, sistem sales funnel berbasis SaaS, sampai berbagai inisiatif yang menggabungkan teknologi dengan kebutuhan bisnis modern.

Pengalaman ini membuat profil Ayden semakin beragam. Ia bukan hanya dikenal sebagai mahasiswa berprestasi, tetapi juga sebagai entrepreneur, peneliti, dan software builder yang sudah mulai membangun karya sejak usia muda.

Baca Juga: Profil Rexx, Alumni AOC yang Siap Bersaing di COC Season 3

 

Deretan Prestasi Ayden yang Mendunia

Kalau bicara soal prestasi, Ayden punya daftar pencapaian yang nggak main-main. Salah satu yang paling membanggakan adalah saat ia terpilih sebagai RISE Global Scholar 2024, program bergengsi dengan tingkat penerimaan yang sangat rendah.

Dalam program tersebut, Ayden mengembangkan inovasi berupa kendaraan pertanian bertenaga surya yang mendorong penggunaan energi terbarukan. Dari sini terlihat bahwa ketertarikannya pada teknologi bukan sekadar untuk kompetisi, tetapi juga untuk menghadirkan solusi yang bermanfaat.

Di bidang riset, Ayden pernah memperoleh penghargaan Best STEM Research Paper dari University of Tokyo. Ia juga menjalani program magang riset di University of Malaya yang berfokus pada bidang fotonika dan engineering, serta berhasil menerbitkan beberapa makalah penelitian selama program tersebut berlangsung.

Kemampuan Ayden di bidang robotika juga nggak kalah mengesankan. Sebagai President of Sinarmas World Academy Robotics Team, ia berhasil membawa timnya meraih berbagai pencapaian, termasuk penghargaan desain industri pada kompetisi robotika internasional yang didukung oleh General Motors.

Dengan kombinasi kemampuan akademik, pengalaman riset internasional, kepemimpinan, dan dunia startup, Ayden menjadi salah satu peserta yang patut diperhitungkan di Clash of Champions Season 3.

Kemampuan berpikir analitisnya, ditambah pengalaman membangun solusi berbasis teknologi, membuat Ayden punya bekal yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan di arena kompetisi. Nggak heran kalau banyak penonton penasaran dengan strategi mahasiswa Harvard ini saat berhadapan dengan peserta-peserta berprestasi lainnya.

Menarik untuk ditunggu, apakah Ayden mampu membuktikan kualitasnya dan melangkah jauh di Clash of Champions Season 3? Kita nantikan aksi kerennya di setiap episode!

Nah, supaya kamu bisa mengenal Ayden lebih dekat, tim Ruangguru sudah menyiapkan QnA session bersama Ayden. Lewat QnA ini, Ayden cerita tentang perjalanannya masuk Harvard hingga akhirnya melangkah ke Clash of Champions Season 3. Penasaran seperti apa ceritanya? Langsung baca QnA session di bawah ini!

Baca Juga: Jadwal Tayang Clash of Champions (COC) Season 3 Minggu Ini

 

QnA Sessions Bersama Ayden – Perjalanannya di Harvard hingga Melaju ke COC Season 3

(Sumber: dok. pribadi)

 

1. Kamu berhasil tembus ke Harvard University, kampus impian banyak orang di seluruh dunia. Boleh dong ceritain prosesnya dari awal sampai keterima. Ada strategi khusus, persiapan, atau pengalaman yang paling berkesan?

Jawaban:

The process was very intense. Harvard and other Ivy Leagues demand more than just good grades, competitions and awards. In fact, almost every single applicant is probably a student council president, olympiad awardee, or leader of an organization. Other than always trying to maintain high grades and winning competitions, I pursued my passion and built a “brand.”

In college applications, you go through multiple rounds of screenings up till your interview. You  need to convey why you are “unique” and also have a strong “why” about what you’re doing. I was interested in business & finance but also merged my knowledge in engineering to build tech startups.

There’s too many different elements to list in short, but the main goal is to treat yourself as a brand and build things around your passions. For instance, I built an AI robot for surgical applications and also a system to power agricultural vehicles. Don’t limit yourself to just one field.

 

(Prosesnya benar-benar intens. Harvard dan universitas Ivy League lainnya mencari lebih dari sekadar nilai bagus, prestasi kompetisi, atau deretan penghargaan. Hampir semua pelamar punya pencapaian yang luar biasa, entah sebagai ketua OSIS, peraih olimpiade, atau pemimpin organisasi. Jadi, selain menjaga nilai tetap tinggi dan aktif ikut kompetisi, aku juga berusaha mengejar hal yang benar-benar aku minati dan membangun “personal brand” dari situ.

Dalam proses aplikasi kuliah, ada beberapa tahap seleksi sampai akhirnya masuk ke tahap wawancara. Di sini, kamu perlu bisa menunjukkan apa yang membuat kamu berbeda dan punya alasan yang kuat di balik hal-hal yang kamu lakukan. Aku sendiri tertarik dengan bisnis dan keuangan, tapi juga menggabungkannya dengan pengetahuan di bidang teknik untuk membangun startup teknologi.

Ada banyak elemen yang sebenarnya sulit dijelaskan satu per satu secara singkat. Tapi intinya, penting untuk melihat diri kita seperti sebuah brand dan membangun karya berdasarkan hal yang memang kita sukai. Misalnya, aku pernah membangun robot AI untuk aplikasi bedah dan sistem untuk menggerakkan kendaraan pertanian. Jadi, jangan membatasi diri hanya pada satu bidang.)

 

2. Dari awal, apakah Harvard memang jadi kampus impianmu? Atau dulu sempat mengincar universitas lain juga? Ceritain dong gimana akhirnya kamu memilih Harvard sebagai tujuan kuliah.

Jawaban:

Yes, Harvard has always been my dream campus. I had set my sights on it since I was in second grade and looked up to figures such as Mark Zuckerberg and Bill Gates. Now everyone is into startups and AI because of all the hype, but I had been interested in it since primary school, building robotics projects for medical applications, software, and other businesses.

I’ve also been fortunate enough to be accepted in other universities namely Stanford University with scholarships, Wharton, UC Berkeley (with scholarships), UCLA, UCSD, University of Washington, Purdue, etc. However, after deep thought, I still chose my childhood university, Harvard, and am now studying applied mathematics and economics.

 

(Iya, Harvard memang sudah jadi kampus impianku sejak lama. Aku bahkan sudah mengincarnya sejak kelas dua SD, karena waktu itu aku banyak terinspirasi dari tokoh-tokoh seperti Mark Zuckerberg dan Bill Gates. Sekarang, banyak orang tertarik dengan startup dan AI karena sedang ramai dibicarakan. Tapi, aku sendiri sudah tertarik dengan bidang itu sejak sekolah dasar, mulai dari membangun proyek robotika untuk aplikasi medis, software, sampai bisnis lainnya.

Aku juga bersyukur sempat diterima di beberapa universitas lain, seperti Stanford University dengan beasiswa, Wharton, UC Berkeley dengan beasiswa, UCLA, UCSD, University of Washington, Purdue, dan lainnya. Tapi setelah dipikirkan matang-matang, aku tetap memilih kampus impianku sejak kecil, yaitu Harvard. Sekarang, aku sedang menempuh studi di bidang matematika terapan dan ekonomi.)

 

3. Selama kuliah di Harvard, kamu pakai beasiswa atau enggak? Kalau iya, boleh dong dijelasin beasiswa apa, bagaimana cara daftarnya, dan tips buat yang ingin mengikuti jejakmu?

Jawaban:

I have been fortunate enough to have scholarship attending Harvard, and also external scholarships from companies related to Google (Schmidt foundation). For instance, if I chose to attend a different university, the external scholarship would cover the majority of my expenses including flight tickets.

Needless to say, when applying for scholarship to these universities, your chance of getting in will decrease — afterall, if the university receives 2 similar applicants, and one requires scholarship and the other doesn’t, which do you think they will pick? Of course, the one that can pay in full. So keep this in mind when applying.

However, there’s also strategies you can apply when applying for external scholarships. You shouldn’t apply blindly to a lot of them, but rather pick a few quality ones and build a strong profile according to your passions.

 

(Aku cukup beruntung bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Harvard. Selain itu, aku juga mendapatkan beasiswa eksternal dari perusahaan yang berkaitan dengan Google, yaitu Schmidt Foundation. Kalau aku memilih kuliah di universitas lain, beasiswa eksternal ini bahkan bisa menutupi sebagian besar biaya, termasuk tiket pesawat.

Tentu, saat mendaftar beasiswa ke universitas-universitas seperti ini, ada hal yang perlu dipertimbangkan. Peluang diterima bisa saja lebih menantang, karena kalau ada dua pelamar dengan profil yang mirip, lalu satu membutuhkan beasiswa dan satu lagi bisa membayar penuh, universitas mungkin akan lebih mempertimbangkan pelamar yang bisa membayar penuh. Jadi, hal seperti ini penting untuk dipahami sejak awal.

Meski begitu, tetap ada strategi yang bisa dilakukan saat mencari beasiswa eksternal. Menurutku, jangan asal mendaftar ke banyak beasiswa sekaligus. Lebih baik pilih beberapa beasiswa yang benar-benar berkualitas, lalu bangun profil yang kuat dan sesuai dengan minat yang kamu punya.)

 

4. Apa yang membuat kamu suka banget sama robot? Boleh sebutkan gak robot yang sudah pernah kamu buat?

Jawaban:

I fell in love with robotics at a young age because it gave me the freedom to build anything, a form of expression.

To be honest, I did not speak English until later in primary school (mainly spoke Bahasa and Japanese), so it was my way of expressing myself

Later on, I ended up representing my country on the world stage & also built a robotics startup around tele-surgery. I thought that building things that mattered to people was my way of making a mark in this world.

Eventually, I now pursue finance & business but robotics gifted me the skills to problem solve and not be afraid of technical problems.

 

(Aku mulai jatuh cinta dengan robotika sejak kecil karena bidang ini memberiku kebebasan untuk membangun apa saja. Buatku, robotika adalah salah satu bentuk ekspresi diri.

Sejujurnya, aku baru bisa berbicara bahasa Inggris saat sudah masuk jenjang akhir sekolah dasar. Sebelumnya, aku lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Karena itu, robotika menjadi caraku untuk mengekspresikan diri.

Seiring waktu, aku akhirnya bisa mewakili negaraku di panggung dunia dan juga membangun startup robotika di bidang tele-surgery. Aku merasa, membangun sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang adalah caraku untuk meninggalkan jejak di dunia ini.

Sekarang, aku memang menekuni bidang finance dan business. Tapi, robotika sudah memberiku kemampuan untuk memecahkan masalah dan tidak takut menghadapi tantangan teknis.)

 

5. Ceritain dong, gimana awalnya kamu bisa ikutan Clash of Champions Season 3? Apakah kamu daftar sendiri, direkomendasikan orang lain, atau mungkin ditawarkan oleh pihak Ruangguru? Kita pengin tahu cerita di balik layar sampai akhirnya kamu bisa terjun di ajang kompetitif ini!

Jawaban:

It’s a really interesting story. I was checking my Instagram inbox and received a message from Kak Pian on behalf of RuangGuru. I was intrigued as during my Stanford interview, my interviewer (Budi Waskita) mentioned that he was acquainted with the co-founders of RuangGuru.

Afterwards, we went through multiple rounds of testing ranging from spatial, numerics, and even interviews. I knew that though my Indonesian language was lacking, this was an amazing opportunity to meet so many bright minds and show what we Indonesians are capable of.

 

(Ceritanya cukup menarik. Waktu itu, aku sedang mengecek inbox Instagram dan mendapat pesan dari Kak Pian atas nama Ruangguru. Aku langsung tertarik, apalagi saat wawancara Stanford dulu, pewawancaraku, Budi Waskita, sempat menyebutkan bahwa ia mengenal salah satu pendiri Ruangguru.

Setelah itu, aku mengikuti beberapa tahap tes, mulai dari tes spasial, numerik, sampai wawancara. Walaupun kemampuan bahasa Indonesiaku masih belum terlalu lancar, aku merasa ini adalah kesempatan yang luar biasa untuk bertemu banyak orang hebat dan menunjukkan kemampuan kita sebagai orang Indonesia..)

 

6. Katanya kamu nggak bisa makan tanpa tempe, yaa. Kalau kamu mau ngenalin makanan Indonesia ke teman-teman kamu di Harvard, makanan apa sih yang mau kamu pilih selain tempe?

Jawaban:

Fun fact, I really, really love tempe! But besides tempe, I really love kwetiau, nasi goreng, rendang, and chocolate cheese martabak. I’ll definitely introduce these foods to my friends at Harvard!

 

(Fakta seru, aku suka bangettt tempe! Tapi selain tempe, aku suka banget kwetiau, nasi goreng, rendang, dan martabak coklat keju. Pastinya aku akan mengenalkan makanan-makanan ini ke teman-teman di Harvard!)

Baca Juga: Profil Peserta Clash of Champions (COC) Season 3 Batch 6

Itu dia profil Ayden Victory Haoken, mahasiswa Harvard University yang punya perjalanan akademik, pengalaman riset, dunia startup, sampai robotika yang luar biasa. Dari kisahnya, kita bisa lihat bahwa prestasi besar nggak datang begitu saja, tapi dibangun lewat rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan konsistensi untuk terus mengembangkan diri.

Dengan latar belakang yang kuat di bidang teknologi, matematika, ekonomi, dan problem solving, Ayden tentu jadi salah satu champion yang menarik untuk diikuti di Clash of Champions Season 3. Kira-kira, strategi seperti apa yang akan ia tunjukkan di arena nanti?

Yuk, vote Ayden sebagai peserta favorit pilihan kamu di sini. Jangan sampai kelewatan juga keseruan episode Clash of Champions Season 3 berikutnya. Pantengin terus blog Ruangguru, sosial media, channel WhatsApp, aplikasi, dan YouTube Ruangguru, buat dapetin info ter-update!

Siap jadi juara di Tahun Ajaran Baru 2026/2027? Yuk, segera klaim diskon spesial beragam paket produk dari Ruangguru.

clash of <em>champion</em>s season 3 ruangguru

Ruangguru

Platform bimbingan belajar online terbesar dan terbaik di Indonesia. Menyediakan layanan belajar berbasis teknologi interaktif untuk jenjang SD, SMP, SMA/SMK.