Selingkung Bikin Setiap Media Punya Gaya Penulisan Berbeda, Kok Bisa?

Devi Lianovanda Apr 23, 2021 • 5 min read


header-gaya-selingkung

Artikel ini membahas kenapa gaya selingkung bisa membuat setiap media atau penerbit punya gaya penulisan yang berbeda untuk karya yang mereka terbitkan.

--

Pernah nggak kamu melihat dua buku yang beda penerbit? Atau dua artikel dari dua media yang berbeda? Kalau diperhatikan, kadang ada perbedaan penulisan satu kata yang sama, lho. Misalnya penulisan kata “Ramadan”. Media A, menulis “Ramadhan”, dan media B menulis “Ramadan”. Di KBBI terbaru, yang benar adalah “Ramadan”.

Terus, kalau seperti ini, apakah berarti media A salah dan media B benar? Atau berarti media A nggak taat KBBI?

Belum tentu seperti itu. Dalam dunia penulisan, ada istilah gaya selingkung. Hah? Selingkung? Itu yang kalau pacaran diduain bukan? BUKAN. Itu selingkuh :( yang ini namanya selingkung.

Apa sih gaya selingkung itu?

Menurut KBBI, selingkung artinya terbatas pada satu lingkungan. Berasal dari kata “lingkung-melingkung” yang berarti memberi batas pada sekeliling. Seperti pagar.

Jadi, gaya selingkung adalah gaya penulisan yang disepakati pada satu lingkungan tertentu. Lingkungan di sini maksudnya bisa penerbit atau media, ya. Bisa media cetak, bisa juga media elektronik.

Setiap media atau penerbit punya gaya selingkungnya masing-masing. Ada yang mengikuti KBBI, ada juga yang nggak. Memilih untuk mengikuti KBBI atau nggak, setiap media pasti punya alasannya sendiri. Mempertimbangkan kalangan, usia, dan kenyamanan pembaca, misalnya. Atau karena kata tersebut sudah menjadi kebiasaan orang banyak.

Seperti cerpen berjudul “setengah” ini. Biasanya, judul cerpen atau artikel diawali dengan huruf kapital, kan? Tapi cerpen yang satu ini judulnya sengaja ditulis tanpa kapital. Di dalam ceritanya bahasa daerah dan istilah asing tidak dimiringkan. Media tersebut punya alasannya.

contoh-selingkung-judul-cerpen-kumparan

Contoh gaya selingkung penulisan judul kumparan.com

 

Makanya ada media yang menuliskan kata-kata tertentu nggak mengikuti KBBI. Bukan berarti nggak taat atau nggak punya KBBI, tapi bisa jadi itu adalah kesepakatan para penulis dari media atau penerbit itu.

Misalnya, di KBBI kata yang baku adalah “Idulfitri”, tapi beberapa media seperti Tempo dan Harian Kompas menulisnya “Idul Fitri”. Berarti, ini adalah kesepakatan dari lingkungan mereka. Pasti ada alasan di baliknya.

Atau memilih kata “nggak” daripada “tidak” karena dianggap lebih santai untuk pembacanya. Media tersebut ingin membuat tulisan seperti percakapan sehari-hari dengan pembaca, misalnya.

Ya, namanya juga “gaya selingkung”. Ada kata gaya di dalamnya. Jadi, kalau beda media atau penerbit beda gaya, itu sesuatu yang wajar kan? Kamu sama temanmu juga kadang beda gaya, dia fiminin, kamu agak tomboy. Tapi tetap sama-sama perempuan, kan?

Gaya selingkung, nggak cuma tentang pemilihan diksi, ini bisa mencakup, isi, tata letak sampul, penomoran halaman, jenis dan ukuran huruf, gaya bahasa sampai jenis kertas juga termasuk dalam gaya selingkung.

Baca juga: Tanda Baca: Penggunaan, Fungsi, dan Contohnya

Misalnya, koran Tempo. Dari ukuran, koran Tempo lebih kecil dibanding koran lainnya. Selain itu, sampul koran Tempo juga beda. Kalau di koran lainnya sampulnya tentang berita utama, sampul koran Tempo biasanya dibuat seperti majalah dan punya makna yang dalam.

perbedaan-selingkung-tempo-dan-kompas

Selain itu, gaya bahasa yang digunakan koran Tempo juga berbeda, mereka lebih banyak menggunakan diksi-diksi sastra, seperti temaram dan semburat.

gaya-bahasa-koran-tempo

Nggak cuma media atau penerbit saja yang menerapkan gaya selingkung, penulisan tesis, tugas akhir, jurnal ilmiah, karya ilmiah, dan skripsi juga punya gaya selingkungnya masing-masing. Setiap universitas pasti memiliki gaya selingkung untuk penyusunan jurnal dan tugas akhir yang berbeda-beda.

Di Malaysia, mereka punya buku khusus untuk gaya selingkung yang diterapkan secara seragam dan wajib diikuti oleh seluruh penerbit atau media. Terutama dalam masalah penerbitan buku. Namanya buku Gaya Dewan.

buku-gaya-dewan

Buku Gaya Dewan (buku gaya selingkung) milik negara Malaysia

Kalau di Indonesia, belum ada buku gaya selingkung yang dikeluarkan Dinas Perbukuan atau Pusat Bahasa. Karenanya, penerbit atau media menentukan gaya selingkung mereka sendiri. Selain untuk keseragaman karya yang terbit dari suatu media atau penerbit, gaya selingkung ini juga bisa menjadi ciri khas suatu media atau penerbit.

Blog Ruangguru juga punya gaya selingkung sendiri. Kalau kamu perhatikan, artikel-artikel di blog ini menggunakan kalimat-kalimat santai dan sederhana. Sebenarnya bisa aja pakai bahasa yang formal dan kaku. Tapi, bahasa santai dan sederhana dipilih agar kamu nggak bosan atau malah jadi semakin bingung setelah membaca tulisan dari blog ini. Biar kamu merasa kalau lagi baca blog ini kayak lagi diceritain sesuatu yang baru aja sama teman.

 

Perbedaan gaya selingkung bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan. Selama itu nggak merusak dasar kepenulisan seperti tanda titik (.) untuk mengakhiri kalimat dan sebagainya.

Jadi, kalau pas lagi baca sesuatu terus ketemu kata yang nggak baku atau nggak sesuai dengan KBBI tapi konsisten digunakan sepanjang artikel atau banyak artikel di media tersebut. Jangan suudzon dulu “Ah penulisnya nggak taat KBBI nih” atau “Ah typo nih nulisnya”. Bisa jadi, itu adalah gaya selingkung yang diterapkan oleh media artikel yang kamu baca.

Sekarang sudah tahu ya, kenapa ada perbedaan media yang satu dengan yang lain dalam penulisan suatu kata? Yup, karena mereka punya gaya selingkung yang sudah disepakati bersama. Untuk belajar materi menarik lainnya, kamu bisa download aplikasi ruangbelajar di smartphone atau desktop juga. Selamat belajar~

New call-to-action

Referensi: 

Blog Diva Press. ‘Selingkung? Makhluk Apa Itu?’ [daring]. Tautan:  http://blogdivapress.com/dvp/mengenal-selingkung-penerbitan/ (Diakses pada: 16 April 2021)

Trim, Bambang. 2011. ‘Gaya Selingkung: Perlu Tidak?’ [daring]. Tautan: https://manistebu.com/2011/04/gaya-selingkung-perlu-tidak/ (Diakses pada: 19 April 2021)

Pring. 2019. ‘Selingkung Bukan Selingkuh’ [daring]. Tautan: https://catatanpringadi.com/selingkung-bukan-selingkuh/  (Diakses pada: 20 April 2021)

Sumber foto:

Foto sampul koran Tempo: https://koran.tempo.co/edisi/7239/2020-03-02

Foto sampul Harian Kompas: https://ebooks.gramedia.com/id/koran/kompas/19-mar-2020 

Foto buku Gaya Dewan: https://www.kkdbooks.my/judul-am/Language-Grammar/gaya-dewan-edisi-ketiga

Foto cerpen "setengah" : https://kumparan.com/ratri-ninditya/setengah-1vFcTP87I7E 

Beri Komentar