Kupas Tuntas Lapisan Tanah (Pedosfer) dan Jenis-Jenisnya | Geografi Kelas 10

Lapisan Tanah (Pedosfer)

Yuk, belajar tentang pedosfer atau lapisan tanah, meliputi pengertian, jenis-jenis, hingga komponen penyusunnya. Baca sampai artikel Geografi Kelas 10 berikut ini selesai, ya!

 

Kenapa ya, tanah itu warnanya bisa beda-beda? Teksturnya juga nggak selalu sama. Bahkan, tanah yang berbeda juga bisa memberikan pengaruh yang berbeda terhadap jenis tanaman yang tumbuh di atasnya, lho!

Nah, semua ini berkaitan erat dengan yang namanya pedosfer. Tapi, apa sih sebenarnya pedosfer itu? Yuk, kita bahas bareng-bareng, mulai dari pengertian, proses terbentuknya, sampai klasifikasi jenis tanah yang ada, terutama di Indonesia!

 

Apa Itu Pedosfer?

Pedosfer adalah salah satu unsur sfera yang dapat dipahami sebagai lapisan tanah. Lapisan tanah ini menutupi seluruh permukaan bumi dan berada di bagian paling atas dari litosfer

Tanah sendiri merupakan batuan yang telah mengalami pelapukan, atau campuran bagian-bagian batuan dengan material serta bahan organik yang merupakan sisa kehidupan yang timbul pada permukaan bumi akibat erosi dan pelapukan karena proses waktu.

Dalam bahasa Yunani, tanah adalah pedon, oleh karena itu, ilmu yang mempelajari pedosfer serta aspek geologi tanah disebut dengan pedologi

Pedosfer terbentuk dari hasil pelapukan batuan dan aktivitas makhluk hidup. Bisa dibilang, pedosfer adalah “kulit bumi” yang jadi tempat berbagai aktivitas biologis dan geologis berlangsung. Di sinilah tanaman tumbuh, hewan mencari makan, dan manusia bercocok tanam. Makanya, lapisan tanah ini sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari.

Nah, struktur lapisan tanah ini nggak cuma satu lapis aja, lho. Ada beberapa lapisan yang masing-masing punya karakteristik berbeda. Selain itu, tiap lapisan ini juga punya peran masing-masing dalam mendukung kehidupan di atas permukaan bumi.

 

Proses Terbentuknya Pedosfer

Pedosfer terbentuk dari proses panjang yang melibatkan pelapukan batuan (baik secara fisik, kimia, maupun biologi), iklim, topografi, waktu, dan aktivitas makhluk hidup. Proses ini bisa berlangsung ratusan hingga ribuan tahun, tergantung kondisi lingkungannya. 

Singkatnya, proses terbentuknya tanah dimulai dari pelapukan batuan induk yang kemudian bercampur dengan bahan organik (seperti sisa tumbuhan dan hewan).

Campuran ini akan membentuk lapisan tanah yang kita kenal sekarang. Jadi, bisa dibilang pembentukan tanah dan persebaran jenis tanah itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat tanah tersebut berkembang. Selain itu, pedosfer juga terbuat dari interaksi antara litosfer dengan atmosfer kriosfer, hidrosfer, maupun biosfer.

Baca Juga: Tenaga Eksogen: Pelapukan, Erosi, Sedimentasi, dan Mass Wasting

 

Faktor Penting dalam Proses Terbentuknya Pedosfer (Proses Pelapukan)

Dalam proses pelapukan, terdapat beberapa faktor penting dalam pembentukan tanah. Adapun faktor pembentuk tanah adalah sebagai berikut:

1. Material Induk

Tanah bisa terbentuk dari hasil pelapukan mineral yang disebut material induk. Material induk tidak selalu berupa batuan dasar, tetapi dapat berupa endapan yang saling merekat.

 

2. Iklim

Suhu dan curah hujan juga sangat berpengaruh dalam proses pembentukan tanah. Perubahan suhu yang ekstrim dapat mempercepat proses pelapukan batuan sehingga pembentukan tanah juga berlangsung cepat.

Intensitas curah hujan yang tinggi juga dapat mempercepat proses pelapukan. Aliran air juga dapat mempengaruhi kesuburan tanah. Semakin banyak aliran air maka semakin banyak pula lapisan tanah bagian atas yang terbawa.

 

3. Waktu

Waktu dapat mempengaruhi sifat fisika, biologi, dan kimia dari tanah yang akan terbentuk. Jika waktu pembentukan tanah singkat, maka sifat tanah akan mirip dengan material induknya.

Jika waktu pembentukan tanah lama, maka faktor iklim berperan lebih dominan sehingga sifat tanah yang terbentuk menjadi berbeda dengan material induknya. Semakin lama proses pembentukan tanah, maka lapisan tanah yang terbentuk juga semakin tebal.

 

4. Organisme

Organisme yang berpengaruh terhadap pembentukan tanah adalah vegetasi dan mikroba tanah. Misalnya tanah gambut yang terbentuk di wilayah rawa yang sebagian besar komponen penyusunnya adalah material organik. Sementara komponen organik di tanah pasir yang ada di gurun sangat sedikit.

 

5. Topografi

Topografi berpengaruh terhadap lapisan tanah yang dihasilkan. Topografi miring pada umumnya memiliki lapisan tanah tipis. Bahkan jika kemiringan lereng sangat curam, maka tidak ada lapisan tanah di wilayah tersebut karena semua hasil erosi bergerak ke bawah oleh pengaruh gravitasi.

Sebaliknya topografi landai menjadi tempat berkumpulnya hasil erosi sehingga lapisan tanahnya lebih tebal.

 

Eits, sebelum lanjutin pembahasan tentang lapisan tanah,  misal kamu tertarik lebih dalam dengan materi geografi nih, kamu boleh loh belajar langsung bareng tutor yang keren-keren dari Ruangguru Privat Geografi!

Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (offline) atau daring (online). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!

CTA Ruangguru Privat

 

Struktur Lapisan Tanah

Setelah tahu bagaimana pedosfer terbentuk, sekarang kita bahas yuk tentang struktur lapisan tanah. Tanah itu nggak cuma gumpalan cokelat doang, lho! Tanah terdiri atas beberapa lapisan yang disebut sebagai horizon. Berikut ini penjelasannya:

1. Lapisan O (Organik)

Lapisan O adalah lapisan paling atas yang terdiri dari sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang membusuk (humus). Lapisan ini kaya akan bahan organik, seperti daun-daun yang membusuk, akar tanaman, dan mikroorganisme. Jadi, bisa dibilang lapisan tanah yang paling banyak mengandung materi organik adalah lapisan O ini.

 

2. Lapisan A (Topsoil)

Nah, lapisan tanah atas disebut topsoil atau horizon A. Lapisan ini merupakan lapisan yang subur dan kaya akan bahan organik, mineral, dan air, sangat penting untuk pertumbuhan tanaman.

 

3. Lapisan E (Eluviasi)

Merupakan lapisan yang mengalami pencucian (eluviasi) karena air, sehingga kehilangan sebagian bahan organik dan mineral karena larut dalam air. Warna lapisan ini biasanya lebih terang.

 

4. Lapisan B (Subsoil)

Merupakan lapisan yang mengalami pengumpulan (iluviasi) bahan yang tercuci dari lapisan E, kaya akan mineral seperti tanah liat dan oksida besi. 

 

5. Lapisan C (Regolith)

Lapisan yang terdiri dari batuan induk yang mengalami pelapukan, tetapi belum sepenuhnya menjadi tanah. Biasanya, lapisan ini keras dan sulit ditembus akar tanaman.

 

6. Lapisan R (Bedrock)

Merupakan lapisan batuan induk yang belum mengalami pelapukan. Lapisan ini merupakan batuan keras yang menjadi bahan asal terbentuknya tanah. 

Jadi, struktur lapisan tanah dari atas ke bawah adalah O, A, E, B, C, dan R. Masing-masing lapisan memiliki peran penting dalam mendukung kehidupan di atasnya.

Baca Juga: Vulkanisme: Pengertian, Gejala, Erupsi & Bentuk Gunung Api

Struktur Lapisan Tanah

 

Penyusun Pedosfer

Kalau kita bongkar lagi isi dari pedosfer, kita akan menemukan berbagai macam komponen penyusun. Secara umum, penyusun pedosfer adalah sebagai berikut:

 

1. Batuan

Merupakan suatu bahan padat yang terbuat secara alami serta juga terdiri atas campuran mineral dan senyawa lainnya dengan berbagai komposisi.

 

2. Mineral

Mineral merupakan komponen penyusun terbesar dari tanah. Mineral berasal dari pelapukan batuan, dan jadi sumber unsur hara bagi tanaman. Mineral terbagi menjadi dua jenis, yaitu mineral primer dan sekunder.

Mineral primer biasanya ditemukan pada pasir dan danau, serta berbentuk bulat atau tidak beraturan. Sedangkan mineral sekunder biasanya berbentuk lebih stabil seperti tanah liat.

 

3. Air

Air bisa mengisi sekitar 2% hingga 50% dari volume tanah. Air berperan penting untuk mengangkut nutrisi ke dalam tanaman, serta organisme tanah. Selain itu, air juga berperan untuk memfasilitasi dekomposisi biologis serta kimia.

 

4. Udara

Merupakan zat bebas yang banyak ditemui di mana saja, serta di dalam tanah. Karena udara bisa menempati ruang yang sama dengan air, maka udara bisa membentuk sekitar 2% hingga mencapai 50% dari volume tanah. Udara terdapat di antara pori-pori tanah dan dibutuhkan oleh akar serta organisme tanah untuk hidup.

 

5. Humus

Humus merupakan komponen yang sering ditemukan di tanah dan mengisi sekitar 1% hingga 5% volume tanah. Humus sendiri berasal dari tumbuhan dan juga hewan yang mati. 

 

6. Mikroorganisme

Mikroorganisme merupakan komponen yang ditemukan di dalam lapisan tanah dengan jumlah yang tinggi, namun jumlahnya kurang dari 1% dari volume tanah. Bagian terbesar dari mikroorganisme adalah nematoda dan cacing tanah, sedangkan bagian yang terkecil adalah actinomycetes, alga, bakteri, serta jamur. Mikroorganisme mengkonsumsi air, bahan organik, serta udara untuk mendaur ulang bahan organik yang mentah hingga menjadi humus.

Gabungan dari keenam komponen ini membuat tanah menjadi subur dan dapat mendukung kehidupan. 

 

Jenis-Jenis Tanah

Tanah itu ternyata punya banyak banget jenis, lho! Berdasarkan ciri fisik, kimia, dan proses terbentuknya, para ahli mengklasifikasikan tanah ke dalam berbagai kategori. Berikut adalah 12 jenis tanah yang diklasifikasikan berdasarkan karakteristik fisik dan kimianya:

 

1. Tanah Aluvial

Jenis tanah aluvial adalah tanah yang berasal dari proses endapan atau sedimentasi yang terjadi di daerah sungai, danau, atau bahkan sedimentasi karena air hujan yang menggenang.

Umumnya, tanah aluvial termasuk tanah yang subur karena unsur hara yang terdapat pada air secara perlahan terserap oleh tanah ini. Ketika kondisi air sudah surut atau menguap barulah kita bisa menemukan tanah aluvial ini. Biasanya tanah ini berwarna coklat hingga keabu-abuan.

 

2. Tanah Vulkanik

Jenis tanah vulkanik adalah tanah yang berasal dari aktivitas vulkanik atau gunung meletus. Material yang keluar dari gunung meletus nantinya akan mengalami pelapukan dan hasil pelapukan inilah yang nantinya akan menjadi tanah vulkanik.

Tanah vulkanik ini sangat subur dan cocok untuk perkebunan maupun pertanian karena kandungan unsur hara dan mineralnya yang sangat tinggi. Tanah vulkanik dapat ditemukan di daerah pegunungan dan lereng gunung berapi.

Tanah vulkanik dibagi menjadi dua jenis, yaitu regosol dan andosol.

a. Tanah Regosol

Jenis tanah regosol butirannya kasar, berwarna kuning hingga keabuan, dan lebih cocok untuk ditanam tanaman palawija, buah-buahan, dan tembakau.

b. Tanah Andosol

Sedangkan jenis tanah andosol butirannya lebih halus, berwarna abu-abu, dan lebih cocok digunakan untuk pertanian.

 

3. Tanah Gambut

Jenis tanah gambut adalah tanah yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk. Gambut juga merupakan tahap awal dari terbentuknya batu bara, tetapi untuk menjadi batu bara, masih diperlukan waktu yang sangat lama.

Tanah gambut memiliki tingkat keasaman yang sangat tinggi, drainase yang buruk, dan pada umumnya tidak subur. Tanah gambut berwarna hitam karena tingginya kandungan karbon dari proses pembusukan tanaman.

Tetapi, meskipun tidak subur, tanah gambut masih cocok untuk ditanami beberapa jenis tanaman, seperti karet, kelapa, dan beberapa jenis tanaman palawija.

Tanah gambut merupakan salah satu jenis tanah organosol. Tanah organosol adalah tanah yang berasal dari pelapukan bahan organik. Tanah organosol sendiri dibagi menjadi dua, yaitu tanah gambut dan tanah humus.

Baca Juga: Seisme (Gempa Bumi): Pengertian, Jenis & Dampaknya

 

4. Tanah Humus

Tanah humus adalah tanah yang terbentuk dari tumbuhan yang sudah mengalami pelapukan sempurna. Tanah humus memiliki warna coklat kehitaman, sangat subur dan gembur, serta memiliki kandungan mineral dan zat hara yang tinggi.

Umumnya, tanah humus ini dapat ditemukan di daerah yang memiliki banyak batuan pohon dengan daun yang lebat. Daun-daun dari pohon yang berguguran nantinya akan membusuk hingga akhirnya menjadi tanah humus ini. Sama seperti tanah gambut, tanah humus merupakan salah satu jenis tanah organosol. 

 

5. Tanah Laterit

Tanah laterit adalah tanah yang sebelumnya subur, namun unsur haranya sudah hilang karena larut dan terbawa air hujan. Tanah ini memiliki warna merah karena kandungan besinya yang tinggi, itulah mengapa disebut juga sebagai tanah merah. Karena unsur haranya sudah terbilas, tanah ini kurang subur dan hanya cocok ditanami tanaman tertentu seperti kopi, cengkeh, dan kelapa sawit.

 

6. Tanah Litosol

Tanah litosol adalah tanah yang baru terbentuk karena proses pelapukan yang masih rendah. Batuan pada tanah ini belum mengalami pelapukan yang sempurna, oleh karena itu tanah ini memiliki tekstur yang beragam, mulai dari halus, berpasir, hingga berkerikil.

Tanah ini kurang subur, namun cocok untuk ditanami rumput ternak dan pohon-pohon besar karena lapisan tanahnya masih sedikit dan lebih banyak batuan padat dan besar. 

 

7. Tanah Latosol

Tanah latosol adalah tanah yang terbentuk karena pelapukan dengan intensitas tinggi. Tanah ini dapat ditemukan di wilayah dengan iklim hutan hujan tropis.

Tanah ini memiliki kandungan besi atau alumunium yang tinggi dan mengalami oksidasi, sehingga berwarna kemerahan. Tanah latosol memiliki humus di lapisan paling atasnya, sehingga dapat dikatakan subur. Namun, apabila lapisan humus ini hilang, maka tanah ini langsung dinyatakan tidak subur

 

8. Tanah Mergel

Tanah mergel adalah tanah dari campuran kapur, pasir, dan tanah liat. Tanah ini berwarna putih keabuan dan memiliki kandungan mineral yang tinggi. Tanah ini dapat terbentuk akibat curah hujan yang tidak merata.

Tanah ini kurang subur karena memiliki kandungan organik dan zat hara yang sangat sedikit. Oleh karena itu, tanah mergel hanya cocok ditanami tanaman yang kuat dan tahan banting seperti pohon jati.

 

9. Tanah Kapur

Tanah kapur adalah tanah yang berasal dari pelapukan batuan kapur. Sesuai dengan karakteristik kapur, tanah ini tidak subur dan tidak cocok ditanami tanaman yang membutuhkan banyak air, ya. Tapi tanah ini cocok ditanami pohon yang kuat dan tebal seperti pohon jati.

 

10. Tanah Grumosol

Tanah grumosol adalah tanah yang berasal dari bahan induk batu kapur, batuan lempeng, atau mergel yang memiliki kandungan liat tinggi dan unsur hara rendah. Tanah ini dapat digunakan untuk menanam tanaman semusim seperti padi, jagung, tebu, tembakau, atau kedelai. Tanah grumosol dapat dimanfaatkan untuk pembuatan gerabah.

 

11. Tanah Podsol

Tanah podsol adalah tanah yang berasal dari sedimen kuarsa dan terbentuk karena pengaruh suhu yang rendah dan curah hujan yang tinggi. Tanah podsol dapat berwarna kuning, merah, ataupun kuning keabuan.

Ciri-ciri utama dari tanah podsol adalah tanahnya tidak subur dan bertekstur pasir hingga lempung. Tanah ini tidak subur karena curah hujan yang tinggi, sehingga kandungan unsur haranya sudah tercuci oleh air hujan.

Tanah podsol juga memiliki kandungan alumunium dan besi yang tinggi, oleh karena itu tanah podsol dapat berwarna kuning hingga kemerahan. Tanaman yang cocok dengan tanah ini adalah karet, kelapa sawit, jambu mete, dan kelapa.

 

12. Tanah Argosol

Tanah argosol adalah jenis tanah yang terbentuk di wilayah dengan curah hujan tinggi dan proses pencucian yang intens. Tanah ini memiliki warna yang kemerahan karena memiliki kandungan besi. Kandungan besi ini mengakibatkan tingkat kesuburan tanah argosol rendah, sehingga tidak terlalu cocok ditanami tanaman.

Kedua belas jenis tanah di atas termasuk jenis-jenis tanah di Indonesia yang banyak ditemukan di berbagai wilayah. Klasifikasi jenis tanah di atas sangat penting untuk menentukan pemanfaatan lahannya, apakah cocok untuk pertanian, perkebunan, atau konservasi.

Baca Juga: Tektonisme: Pengertian, Jenis, Bentuk & Dampaknya

Jenis-Jenis Tanah

 

Persebaran Tanah di Indonesia

Persebaran tanah di Indonesia berdasarkan jenis-jenisnya antara lain:

1. Tanah aluvial

Dapat ditemukan di sekitar sungai Bengawan Solo (Jawa), sekitar sungai Barito dan Kapuas (Kalimantan), dan sekitar sungai Mamberamo (Papua). 

 

2. Tanah vulkanik

Dapat ditemukan di seluruh pulau kita, yakni di Pulau Jawa, Bali, Sumatra, dan Sulawesi.

 

3. Tanah gambut

Dapat ditemukan di daerah pantai Barat dan Selatan Kalimantan, pantai Timur Sumatra, dan pantai Selatan Papua.

 

4. Tanah humus

Dapat ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Jawa, Papua, dan sebagian Sulawesi.

 

5. Tanah laterit

Dapat ditemukan di beberapa daerah seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat.

 

6. Tanah litosol

Dapat ditemukan di daerah curam sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.

 

7. Tanah latosol

Dapat ditemukan di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan sebagian Pulau Jawa.

 

8. Tanah mergel

Dapat ditemukan di daerah pegunungan atau dataran rendah yang terdapat batuan kapur, seperti di sekitar Gunung Kidul, Kediri, dan Madiun.

 

9. Tanah kapur

Dapat ditemukan di daerah Indonesia yang kering, seperti sekitar Gunung Kidul, Yogyakarta, dan daerah pegunungan kapur di sekitar Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

 

10. Tanah grumosol

Dapat ditemukan di Jawa Tengah (Demak, Jepara, Pati, Rembang), Jawa Timur (Ngawi, Madiun) dan Nusa Tenggara Timur.

 

11. Tanah podsol

Dapat ditemukan di daerah pegunungan Sumatra, Kalimantan, Maluku, Papua, dan Jawa bagian Barat.

 

12. Tanah argosol

Dapat ditemukan di daerah dengan curah hujan tinggi dan di wilayah rawa, misalnya di Kalimantan Selatan, Riau, dan Sumatera Selatan. 

Baca Juga: 11 Manfaat Tanah dan Bagaimana Cara Menjaganya 

Nah, sekarang kamu udah paham kan, kalau tanah itu bukan cuma sekadar tempat berpijak? Mulai dari proses terbentuknya, struktur lapisannya, sampai jenis-jenisnya, semuanya punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Dengan memahami klasifikasi jenis tanah serta pembentukan tanah dan persebaran jenis tanah, kita jadi bisa lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam ini. Apalagi buat kita yang tinggal di Indonesia, negara yang kaya akan jenis tanah. Jadi, yuk jaga tanah kita supaya tetap subur dan bermanfaat buat generasi berikutnya!

Eits, jangan lupa juga untuk selalu belajar bersama Master Teacher yang seru banget di ruangbelajar! Klik banner berikut ini untuk tahu info promo-promo terbaru, ya!

CTA Ruangguru

Kenya Swawikanti