Resensi Buku Malam Seribu Jahanam, Kisah Perempuan-Perempuan Kelam

Intan Paramaditha kembali dengan novel terbarunya yang, seperti karakter karya-karyanya yang lain, dipenuhi horor lokal nan eksotik dan kisah kelam para tokoh yang berhamburan di setiap halaman.
–
Pendahuluan
Tahun 2018 pertengahan, Ramadhan akan datang. Tapi, kurang dari sebulan sebelum datangnya bulan suci, Kotawijaya menghadapi realita pahit–tiga gereja dan satu lokasi pengajian transpuan dibom.
Pelakunya? Sekelompok manusia yang membalut tubuhnya dengan identitas agama tertentu, tapi tidak benar-benar paham dengan ajaran dan praktik agama tersebut. Bahkan, mereka membawa anak-anak dalam tindakan biadab itu.
Mari kita tengok ke belakang sejenak, bagaimana salah satu pelaku tumbuh, bersama keluarga yang mencintai tapi ada juga yang menyimpan iri kepadanya. Setidaknya, ia tidak kurang kasih sayang, kan?
Isi Cerita
Malam Seribu Jahanam tidak hanya bercerita tentang Annisa, anak ketiga Sulaiman, yang paling cantik, yang paling disayang. Tapi juga Mutiara, anak pertama, Maya, anak kedua, serta, Rohadi–tokoh yang dipandang sebelah mata, tapi menyimpan rahasia dan kunci utama dalam cerita.
Mereka bertiga (atau berempat) bertemu di Rumah Victoria. Victoria adalah nenek dari Mutiara, Maya, dan Annisa. Sementara Rohadi, ia adalah anak Mak Romlah, asisten rumah tangga yang mengabdi setia kepada si nenek.
Rumah Victoria menjadi salah satu latar kisah mereka. Cerita tentang luasnya rumah, kuali-kuali raksasa yang tergantung di dapur, kuntilanak di sumur belakang, menemani liburan mereka setiap berkunjung ke rumah nenek.
Suatu hari, Victoria meramal masa depan ketiga cucunya. Ia berkata, Mutiara akan menjadi penjaga. Antar yang mati, rawat yang hidup. Maya, ia akan berkelana bersama buku-buku. Dan Annisa, ia akan menjadi pengantin. Rohadi, ah, dia bukan siapa-siapa. Apakah perlu ia turut diramal seperti tiga dara cucu kesayangan Victoria?
Hari berganti, tahun berlalu. Begitu banyak kisah terajut di antara mereka berempat. Mutiara berusia empat puluh dan belum menikah. Maya pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan kuliah. Annisa menikah dan menjadi seorang ibu. Rohadi, ia pergi bertahun-tahun sebelumnya, secara mendadak, tanpa pamit.
Satu per satu, ramalan Victoria terbukti. Satu hal yang Victoria tidak tahu bahkan setelah kematiannya, bahwa Annisa akan pergi paling awal dari kedua kakaknya yang lain.
Pernah pada suatu sore, Annisa pulang sekolah telat beberapa jam. Seisi rumah panik karena anak paling cantik tidak ada kabar. Anak yang ditunggu pun datang, tapi motornya hilang, pakaiannya compang-camping.
Annisa pulang, tapi Victoria masih meracau untuk tetap mencari Annisa. Kata Victoria, Annisa masih hilang. Tubuh Annisa memang hadir, tapi jangan-jangan Victoria benar, kalau Annisa tidak benar-benar pulang.
Baca Juga: Resensi Buku Di Tanah Lada Karya Ziggy Zazsyazeoviennazabrizkie

Malam Seribu Jahanam dan Konflik Para Perempuan
Dalam Malam Seribu Jahanam, perempuan adalah penunggang utama. Pembaca akan merasakan, bahwa perempuan memiliki kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Feminism, matriarch, woman empowerment, you name it.
Sebut saja Hajjah Victoria. Ia bukan hanya sekadar ibu dan nenek. Ia seperti memiliki ‘kekaisarannya’ sendiri. Saat suaminya meninggal, ia menjadi penguasa tunggal keluarga. Anak dan cucunya tidak hanya hormat, tapi juga menaruh rasa percaya dan aman di pundak beliau.
Apalagi, spoiler sedikit, konon Victoria adalah siluman harimau. Tidak heran kalau ia bisa mengetahui lebih daripada yang orang lain ketahui.
Kemudian, Mutiara. Ia adalah definisi wanita tangguh sebenarnya. Anak dan cucu pertama perempuan, memiliki dua adik perempuan, dan harus berhadapan dengan om-tante menyebalkan sepanjang ia hidup.
Kepada Mutiara, Maya, Annisa, bahkan papa dan mamanya bersandar. Ia adalah anak mama yang paling patuh. Ia tidak akan mengecewakan. Ia harus menjaga kedua adiknya. Lebih jauh, ia juga yang harus mengurus serpihan tubuh Annisa yang mati karena bom.
Mutiara hidup dengan kucing-kucing. Tanpa suami dan kekasih. Tapi, berkat Mutiara, keluarga mereka yang mungkin koyak dari dalam, kembali utuh. Meskipun ia bukan kesayangan papa, tapi Mutiara selalu membuktikan, bahwa ia paling bisa diandalkan.
Lalu, Maya. Ia ditakdirkan untuk berkelana. Betul, banyak momen penting di keluarga terlewat dalam hidupnya. Di usianya yang berada di ujung kepala tiga, ia masih menjadi selingkuhan suami orang dan belum terpikirkan melanjutkan hidup normal (seperti standarisasi orang-orang).
Tapi, Maya adalah cucu Victoria yang paling peka. Ia melihat bagaimana Mutiara menjaga, juga melihat kejanggalan yang ada dalam diri Annisa. Ia juga melihat Rohadi, anak pembantu, yang ia ikrarkan untuk menjadi sahabat selamanya.
Maya, lebih jauh, juga menulis tentang Victoria saat si nenek masih muda. Konon, Maya sering mendapat bisikan dari Victoria. Maka, pada akhirnya, Maya berhenti berkelana (entah sementara atau selamanya), untuk kembali kepada keluarganya yang tersisa.
Annisa. Perempuan ini lagi. Anak kesayangan papa, si paling cantik, yang membuat kedua kakaknya iri hati. Tentu, tentu. Annisa diramal akan menikah. Ia ingin menjadi putri cantik di pernikahannya kelak.
Sayangnya, Annisa punya rahasia. Manusia memang tidak sempurna. Manusia, juga, layaknya tidak perlu melihat seseorang hanya dari tampilan luarnya saja. Karena kita tidak benar-benar tahu apa yang disembunyikan Annisa, hingga ia harus berakhir dengan perut berhamburan dan sisa tubuh yang bentuknya tak karuan.
Tapi Annisa, diam-diam ia memiliki kekuatan di atas laki-laki, di atas suami yang ia nikahi dan pengajian yang ia bangun.
Lalu, Rohadi. Seperti Annisa, Rohadi juga menyimpan rahasia. Rohadi membawa konflik novel ini di pundaknya. Ia akan berkelana, jauh, demi memantaskan diri di hadapan tiga dara cucu Victoria.
Kepada Rohadi, mata dan hati kita akan terbuka, bahwa lagi-lagi tampilan luar tidak akan menjamin kebaikan seseorang. Ia berdaya di atas dirinya sendiri. Ia, bersama komunitas yang ia bangun, tidak boleh bergantung kepada siapapun. Harus kuat dan tahan banting.
Terakhir, peran yang mungkin kecil, tapi ternyata punya pengaruh juga. Mama. Beberapa kali ia menjelaskan, bahwa perempuan tidak boleh percaya dan menaruh hidupnya kepada laki-laki. Biar bagaimanapun, perempuan harus punya uang sendiri, supaya tidak ditindas laki-laki, supaya bisa melakukan apapun yang perempuan suka.
Baca Juga: Berhenti Menjadi Positif bukan Berarti Mengembangkan Diri Menjadi Negatif
Penutup
Pada akhirnya, perempuan-perempuan dalam Malam Seribu Jahanam memiliki perannya masing-masing. Seluruh tokoh dalam novel ini memiliki karakter yang sangat kuat. Mereka memiliki identitas yang sangat membekas pada diri pembaca.
Meskipun alur novel ini maju-mundur, tapi pembaca tidak akan bingung dan sangat bisa menikmati cerita.
—
Resensi ditulis oleh Laras Sekar Seruni.


