Profil Azka Adziman, Mahasiswa Oxford Peserta COC Season 3

Profil Azka Peserta COC Season 3

Pada Clash of Champions Season 3 kali ini, kita kedatangan salah satu perwakilan dari University of Oxford, yaitu Azka Adziman. Yuk, kita kenalan dengan Azka lebih dekat!

 

Bayangin, kamu kuliah di salah satu kampus terbaik di dunia. Terus, kamu berhasil maintenance GPA kamu di angka 4.00/4.00! Apa itu  namanya kalau bukan gacor? 

Yes! Itu yang terjadi sama Azka Adziman, mahasiswa University of Oxford yang mengambil jurusan Engineering Science dengan spesialisasi Information Engineering. Ia berhasil meraih predikat First-Class Honours, yang mana IPK tersebut setara dengan 4.00/4.00. 😲😍

FYI aja, Azka baru saja menyelesaikan tahun ketiganya, yang sekaligus menandai selesainya jenjang sarjana (S1). Kemudian, ia akan melanjutkan ke tahun keempat untuk menyelesaikan program integrated master’s, yaitu program yang menggabungkan S1 dan S2 dalam satu rangkaian studi. Dengan sistem ini, ia menyelesaikan S1 dalam tiga tahun, lalu melanjutkan satu tahun tambahan untuk memperoleh gelar magister (S2). 

Tolonggg, aku terkagum-kagum dengan spirit belajarmu, Azka!

Penasaran gak sih gimana Azka menjalani perkuliahannya di University of Oxford? Yuk simak artikel ini sampai habis untuk mengenal Azka lebih dalam!

Baca Juga: Profil Peserta Clash of Champions (COC) Season 3 Batch 8

 

Yuk, Kenalan dengan Azka!

Azka Adziman

(Sumber: dok. pribadi)

 

Biodata Singkat Azka

Nama Lengkap

Mohammad Azka Hafizh Adziman

Nama Panggilan

Azka

Tempat, Tanggal Lahir

Bandung, 5 Desember 2004

Angkatan Kuliah

2023

Riwayat Pendidikan

  • University of Oxford
  • Bartholomew School, Oxford
  • William Fletcher Primary School, Oxford

 

GPA

4.00/4.00

 

Akun Media Sosial

 

Hobi

  • Origami
  • Basketball
  • Cycling

 

Prestasi Azka

  1. British Physics Olympiad (BPhO) 2x Medalist (Top Gold Round 1, Silver Round 2) 
  2. UK Royal Society of Chemistry Olympiad Gold Medal
  3. Top 50 in the UK for Maths and Physics problem solving on Isaac Science by University of Cambridge

 

Kisah Azka di University of Oxford

1. Dari awal, apakah Oxford memang jadi kampus impianmu? Atau dulu sempat mengincar universitas lain juga? Ceritain dong gimana akhirnya kamu memilih Oxford sebagai tujuan kuliah.

Jawaban: 

Oxford was always my dream university but I did also apply to Imperial, UCL, KCL and Edinburgh as part of my university application in the UK. 

The reason why I chose Oxford was because the engineering degree here is ‘general’ which means in the first two years, you do all types of engineering disciplines from mechanical, electrical, chemical to thermo and energy. This meant I could firm a solid grounding of many disciplines and then specialise into my field, which is more information engineering and robotics for my 3rd and 4th year. I look forward to my 4th year research project where I will be working at the Oxford Robotics Institute on origami robotics to incorporate fusion of Time of Flight sensors!

Also, since I’m an Oxford local for 12 years, it was a familiar place but as a student now I realise it’s very different being a ‘gown’ rather than a ‘town’ person!

 

(Oxford memang dari dulu jadi kampus impianku. Tapi waktu daftar kuliah di Inggris, aku juga mendaftar ke Imperial, University College London, King’s College London, dan The University of Edinburgh.

Alasan utamaku memilih Oxford adalah karena program Engineering-nya bersifat general. Jadi, selama dua tahun pertama kami belajar berbagai cabang teknik, mulai dari teknik mesin, teknik elektro, teknik kimia, sampai termodinamika dan energi. Menurutku sistem ini bagus karena aku bisa membangun fondasi yang kuat di banyak bidang dulu, baru setelah itu memilih spesialisasi yang paling sesuai.

Di tahun ketiga dan keempat, aku akhirnya fokus di bidang yang paling aku minati, yaitu Information Engineering dan robotika. Yang paling aku tunggu sekarang adalah proyek riset di tahun keempat. Nantinya aku akan melakukan penelitian di Oxford Robotics Institute tentang origami robotics, dengan fokus menggabungkan teknologi Time of Flight sensors ke dalam sistem robotika tersebut.

Selain itu, aku juga sudah tinggal di Oxford selama 12 tahun, jadi kotanya sendiri sebenarnya sudah sangat familiar buatku. Tapi setelah benar-benar jadi mahasiswa di sana, aku baru sadar kalau rasanya ternyata sangat berbeda. Ada istilah di Oxford, yaitu “town and gown”, town untuk warga yang tinggal di Oxford, sedangkan gown untuk mahasiswa dan civitas akademika. Dulu aku bagian dari town, sekarang aku jadi bagian dari gown, dan pengalaman menjalani kehidupan di kota yang sama dari dua sudut pandang itu ternyata benar-benar berbeda.)

 

2. Kamu berhasil tembus ke Oxford, kampus impian banyak orang di seluruh dunia. Boleh dong ceritain prosesnya dari awal sampai keterima. Ada strategi khusus, persiapan, atau pengalaman yang paling berkesan?

Jawaban: 

From a young age, I’ve always loved Maths and Physics. Through the later years of high school, I had fallen in love with solving problems on the Isaac Science website (https://isaacscience.org ) and by being one of the top 50 students in the UK to have done the most problems in 2022 I was invited to a residential at the University of Cambridge. From there, I met friends who ended up competing in International Olympiads for the UK and are still with me today studying at Oxford, who really inspired me to push myself during high school so that I could also get into Oxford.

For the Oxford application, I had to prepare a Personal Statement, get my A Level predicted grades, take the admissions test and finally go through the Oxford interview process.

In my personal statement I mentioned how I loved how you can use Maths and Science to solve problems that help people. One impressive high school project I did was create a robot that detected facial palsy severity using machine learning methods in the hope of setting an objective baseline to speed up patient-client interaction time. From the project, I received a UK CREST Gold Award where I could see how engineering can be used for good!

And then I practiced a lot for the admissions test and made sure I could explain core concepts out loud for the interviews to show the professors that I could just from them. What they were testing were not just my technical ability, but how well I could learn and adapt to new information = how teachable I am, which is what most students underestimate.

I then got the offer, got the grades, and the rest of history!

 

(Dari kecil aku memang udah suka banget sama Matematika dan Fisika. Waktu masuk tahun-tahun terakhir SMA, aku jadi makin jatuh cinta sama latihan soal di website Isaac Science. Bahkan di tahun 2022, aku berhasil masuk 50 siswa terbaik di Inggris dengan jumlah soal yang paling banyak dikerjakan. Dari situ aku diundang ikut program residential di University of Cambridge.

Nah, di sanalah aku ketemu teman-teman yang akhirnya mewakili Inggris di Olimpiade Internasional. Sampai sekarang pun kami masih berteman dan sama-sama kuliah di Oxford. Mereka yang bikin aku makin termotivasi buat terus mendorong diri sendiri selama SMA supaya bisa lolos ke Oxford juga.

Buat daftar ke Oxford, ada beberapa tahapan yang harus aku lewati. Mulai dari menyusun Personal Statement, ngurus predicted grades A Level, ngerjain tes masuk, sampai akhirnya menjalani proses wawancara dengan pihak Oxford.

Di Personal Statement, aku banyak cerita tentang gimana aku suka menggunakan Matematika dan Sains buat menyelesaikan masalah yang benar-benar bisa membantu orang lain. Salah satu proyek yang paling berkesan waktu SMA adalah membuat robot yang bisa mendeteksi tingkat keparahan facial palsy menggunakan metode machine learning. Tujuannya supaya tenaga medis punya acuan yang lebih objektif dan proses penanganan pasien bisa jadi lebih cepat. Dari proyek itu, aku juga berhasil meraih UK CREST Gold Award. Pengalaman itu bikin aku sadar kalau ilmu teknik memang bisa dipakai untuk memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat.

Setelah itu, aku latihan mati-matian buat tes masuknya. Aku juga sering melatih diri buat menjelaskan konsep-konsep dasar secara lisan sebagai persiapan wawancara, supaya para profesor bisa melihat cara berpikirku. Yang sebenarnya mereka nilai bukan cuma kemampuan teknis, tapi juga seberapa cepat aku bisa belajar dan beradaptasi dengan informasi baru, dengan kata lain, seberapa teachable aku sebagai calon mahasiswa. Menurutku, ini justru yang sering banget diremehkan sama banyak pelamar.

Akhirnya aku berhasil dapat offer dari Oxford, memenuhi nilai yang disyaratkan, dan sisanya ya jadi sejarah.)

Baca Juga: Profil Austin Senna, Peserta COC Season 2 yang Punya GPA Jebol

 

3. Selama kuliah di Oxford, kamu pakai beasiswa atau enggak? Kalau iya, boleh dong dijelasin beasiswa apa, bagaimana cara daftarnya, dan tips buat yang ingin mengikuti jejakmu?

Jawaban: 

Even though I am a WNI, I was fortunate enough to be classified as a Home student so I pay Home fees. This means I’m eligible for UK government funded student loans. However, because of good academic achievements in examinations, I am not currently awarded the East Scholarship from Exeter College and I have the privilege to wear a Scholar’s Gown for my examinations. It is part of our uniform called ‘sub-fusc’ that looks a bit silly but we have to wear this every time we take exams!

 

(Walaupun aku berkewarganegaraan Indonesia, aku beruntung karena dikategorikan sebagai Home student di Inggris, jadi biaya kuliah yang aku bayar mengikuti tarif mahasiswa domestik [Home fees], bukan tarif mahasiswa internasional. Status ini juga membuatku berhak mengajukan pinjaman pendidikan yang didanai oleh pemerintah Inggris.

Selain itu, berkat pencapaian akademikku selama ujian, saat ini aku juga menerima The East Scholarship dari Exeter College. Sebagai penerima beasiswa tersebut, aku mendapat kehormatan untuk mengenakan Scholar’s Gown saat ujian berlangsung.

Jubah itu merupakan bagian dari seragam resmi mahasiswa Oxford yang disebut sub-fusc. Jujur aja tampilannya memang agak lucu sih, tapi itu memang wajib dipakai setiap kali kami mengikuti ujian.)

Azka Adziman, Peserta COC Season 3

(Sumber: dok. pribadi)

 

4. Kenapa sih kamu memilih jurusan Engineering Science (Information) di Oxford? Apakah ada pengalaman pribadi, ketertarikan khusus, atau alasan lain yang mendorong keputusan kamu itu?

Jawaban: 

I chose Information Engineering as I’m very interested in machine learning, AI, and their application for robotics. I’ve always been interested in how engineering uses maths and science to help people. I’m also inspired by my dad who I watched growing up in both academia and industry as an engineer and whilst we’re in different fields of engineering, there’s still plenty of overlap. I still remember in one of the vacations in first year where I was taught some of the content for my civil engineering modules at the dinner table by him and feeling very confused but also inspired!

 

(Aku memilih spesialisasi Information Engineering karena memang tertarik banget sama machine learning, AI, dan penerapannya di bidang robotika. Dari dulu aku selalu suka bagaimana ilmu teknik memanfaatkan Matematika dan Sains untuk menciptakan solusi yang benar-benar bisa membantu kehidupan banyak orang.

Selain itu, aku juga banyak terinspirasi dari ayahku. Sejak kecil aku melihat beliau berkarier sebagai engineer, baik di dunia akademik maupun industri. Meskipun bidang teknik yang kami tekuni berbeda, ternyata masih banyak konsep yang saling berkaitan.

Aku masih ingat, waktu liburan di tahun pertama kuliah, beliau pernah ngajarin materi untuk salah satu mata kuliah Civil Engineering di meja makan. Jujur aja, waktu itu aku banyak bingungnya, tapi di saat yang sama juga makin kagum dan makin termotivasi buat terus belajar.)

 

5. Boleh jelasin secara singkat aja nggak tentang apa sih yang dipelajari di Engineering Science (Information) Oxford? Mungkin jurusan ini masih asing di telinga orang Indonesia.

Jawaban: 

Engineering Science at Oxford is really special because you do all types of engineering as it’s ‘general’ for the first two years. It’s a mix of mechanical, electrical, civil and thermo/energy. Then in 3rd and 4th year you specialise, this year I chose machine learning, information engineering, control theory and entrepreneurship / engineering management.

 

(Yang bikin Engineering Science di Oxford unik adalah sistemnya yang bersifat general di dua tahun pertama. Jadi, kami nggak langsung memilih satu bidang tertentu, melainkan belajar berbagai cabang teknik sekaligus, mulai dari teknik mesin, teknik elektro, teknik sipil, sampai termodinamika dan energi. Menurutku, pendekatan ini bikin kami punya fondasi yang kuat sebelum benar-benar mendalami bidang yang diminati.

Baru di tahun ketiga dan keempat kami mulai memilih spesialisasi. Tahun ini aku mengambil fokus di machine learning, Information Engineering, control theory, serta entrepreneurship dan engineering management.)

 

6. Selama kuliah di Oxford, mata kuliah apa yang paling kamu suka dan kenapa? Apakah karena materinya relevan sama kehidupan sehari-hari, atau dosennya inspiratif?

Jawaban: 

This year I really enjoyed learning about machine learning and understanding the complex mathematics behind some of the most commonly used algorithms. The lecturers are very interesting and it’s so cool to see how the stuff we’re learning match onto their research.

 

(Tahun ini, mata kuliah yang paling aku nikmati adalah machine learning. Seru banget karena aku jadi benar-benar memahami matematika yang ada di balik berbagai algoritma yang paling sering digunakan di bidang tersebut.

Para dosennya juga sangat menarik saat mengajar. Yang menurutku paling keren adalah melihat bagaimana materi yang kami pelajari di kelas ternyata benar-benar selaras dengan riset yang sedang mereka kerjakan. Jadi rasanya ilmu yang dipelajari itu benar-benar relevan dan diterapkan secara nyata.)

 

7. Kamu pernah merasa demotivasi untuk belajar enggak? Kalau iya, gimana cara kamu supaya bisa bangkit dari perasaan itu dan kembali lagi termotivasi?

Jawaban: 

In comparison to the usual two semester system in Indonesia, Oxford does it weirdly where we have 3 ‘terms’ of 8 weeks. This means going through a lot of content in a very short amount of time. This can be really stressful! The way I try to tackle this is to take it one week at a time, to make sure I always fit in non-academic social activities because at the end of the day, you always need to find some way to relax. A quote from my professor when I first entered university really sticks with me: “it would be such a shame to graduate from university and the only thing you get out of it is a degree”. With that perspective, I see my university years as an opportunity to grow as a person as well as build my technical knowledge. I’m very grateful to have the professors and students alongside me for this journey and it’s been a pleasure to get to know the other cast members of COC.

 

(Kalau dibandingkan dengan sistem perkuliahan yang umumnya memakai dua semester, Oxford punya sistem yang cukup unik. Dalam satu tahun akademik, kami menjalani tiga term, dan masing-masing cuma berlangsung selama delapan minggu. Artinya, materi yang harus dipelajari sangat banyak dalam waktu yang sangat singkat.

Jujur aja, itu bisa terasa cukup berat dan bikin stres. Cara aku menghadapinya adalah fokus menjalani satu minggu demi satu minggu, tanpa terlalu memikirkan semuanya sekaligus. Selain itu, aku juga selalu berusaha menyempatkan diri buat ikut kegiatan sosial di luar akademik. Soalnya, sesibuk apa pun kuliah, kita tetap butuh waktu buat istirahat dan menikmati hidup.

Ada satu kalimat dari profesorku saat pertama kali masuk kuliah yang sampai sekarang masih terus aku ingat. Beliau bilang, “Sayang sekali kalau lulus dari universitas, tapi satu-satunya hal yang kamu bawa pulang cuma selembar ijazah.”

Sejak mendengar itu, cara pandangku terhadap kuliah berubah. Buatku, masa-masa di universitas bukan cuma soal menambah ilmu atau mengejar nilai, tapi juga kesempatan untuk berkembang sebagai pribadi. Aku ingin lulus bukan hanya dengan kemampuan teknis yang lebih baik, tapi juga dengan pengalaman, relasi, dan cara berpikir yang jauh lebih matang.

Aku benar-benar bersyukur bisa menjalani perjalanan ini bersama dosen-dosen dan teman-teman yang luar biasa. Dan tentu saja, senang banget juga bisa mengenal para cast COC selama perjalanan ini.)

 

8. Kamu pernah aktif di organisasi tertentu nggak, Azka? (Boleh organisasi kampus atau di luar kampus). Kalau iya, kegiatan apa aja yang kamu ikuti dan apa manfaatnya buat pengembangan diri kamu? (Boleh yaa kalau mau ceritain tentang Oxford Robotics Club yang kamu build 🙂)

Jawaban: 

Within Oxford, I’m very active with student societies. I was previously President of OXONIS, the undergraduate society for Indonesians at Oxford. This is where I met Nabil, Joshua, Abelle who were on previous seasons of Clash of Champions and many more! It’s through OXONIS that I have a home away from home, and I’m very grateful I get to have an Indonesian community here. Additionally, I am now currently President of Oxford Robotics Club which we have very recently rolled out, encompassing some projects that I help lead compete in national/international competitions. One example was Unibots where we came 2nd in Regionals and will be competing in the Finals today! (At time of writing).

 

(Di Oxford, aku cukup aktif mengikuti berbagai organisasi mahasiswa. Sebelumnya, aku sempat menjabat sebagai Presiden OXONIS, yaitu organisasi mahasiswa S1 Indonesia di Oxford.

Lewat OXONIS inilah aku kenal sama Nabil, Joshua, dan Abelle yang pernah jadi cast di season-season sebelumnya Clash of Champions, dan masih banyak teman Indonesia lainnya. Buatku, OXONIS benar-benar jadi home away from home. Tinggal jauh dari Indonesia memang nggak selalu mudah, jadi aku bersyukur banget masih punya komunitas Indonesia yang terasa seperti keluarga sendiri di sini.

Sekarang, aku juga dipercaya menjadi Presiden Oxford Robotics Club, organisasi yang belum lama ini kami dirikan. Di sana, aku ikut memimpin beberapa proyek robotika yang kemudian kami bawa untuk berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional.

Salah satu contohnya adalah Unibots. Tim kami berhasil meraih juara dua di babak regional, dan saat jawaban ini ditulis, kami sedang bersiap untuk bertanding di babak final. Semoga hasilnya yang terbaik!)

 

9. Apa sih rahasianya kamu bisa jago di dua bidang science yang berbeda, yaitu kimia dan fisika?

Jawaban: 

I think it all comes down to my foundations in applied maths. I use maths to explain the complex phenomena in Physics as well as the intuition for Chemistry. I think of myself as quite an analytical person and I much prefer solving complex problems through derivations from first principles rather than pure memorisation.

 

(Menurutku, semuanya berawal dari fondasi yang kuat di Matematika Terapan. Aku menggunakan matematika untuk menjelaskan berbagai fenomena kompleks dalam Fisika, sekaligus membangun intuisi dalam memahami konsep-konsep Kimia.

Aku juga merasa diriku adalah tipe orang yang cukup analitis. Aku jauh lebih suka memecahkan suatu masalah dengan menurunkannya dari prinsip-prinsip dasar [first principles], daripada sekadar menghafal rumus atau teori. Menurutku, kalau kita benar-benar paham dasar dari suatu konsep, kita akan lebih mudah menghadapi soal-soal baru yang belum pernah kita lihat sebelumnya, dibanding hanya mengandalkan hafalan.)

Baca Juga: Jadwal Tayang Clash of Champions (COC) Season 3 Minggu Ini

Yuk persiapkan tes IELTS dengan belajar bersama tutor berpengalaman di Ruangguru Privat IELTS! Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (offline) atau daring (online). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!

CTA Ruangguru Privat

 

Azka dan Perjalanan Hidupnya yang SERU BANGET!!

10. Sejak kecil, kamu kan sudah hidup berpindah-pindah negara, menurut kamu manakah negara yang paling berkesan? Lalu, negara mana yang punya kualitas pendidikan paling bagus di antara negara yang sudah pernah kamu tinggali?

Jawaban: 

So my background is quite a mix of things!

A few months after being born in Bandung, my family and I moved to Tokyo, Japan for 6 years, and then Swansea, Wales for 3 years and then Oxford, England for the next 12 years. Recently, my family have just moved back to Jakarta so I go back and forth during my studies here. 

I think each country I’ve been in has taught me a lot both academically and in terms of general life skills. Japan taught me about being meticulous with my work, the UK taught me about depth in a particular subject and Indonesia forms the basis of how I treat others with compassion. I am incredibly fortunate to have the ability to travel to these places and I’m proud to bring my unique perspective to all the things I do.

 

(Latar belakangku bisa dibilang cukup beragam.

Beberapa bulan setelah lahir di Bandung, aku dan keluargaku pindah ke Tokyo, Jepang, dan tinggal di sana selama enam tahun. Setelah itu kami pindah lagi ke Swansea, Wales selama tiga tahun, lalu menetap di Oxford, Inggris selama kurang lebih dua belas tahun. Belum lama ini keluargaku kembali pindah ke Jakarta, jadi sekarang selama kuliah aku sering bolak-balik antara Inggris dan Indonesia.

Menurutku, setiap negara tempat aku tinggal memberikan pelajaran yang berbeda-beda, baik secara akademik maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dari Jepang, aku belajar untuk teliti dan memperhatikan setiap detail dalam bekerja. Dari Inggris, aku belajar pentingnya mendalami suatu bidang secara mendalam, bukan sekadar mengetahui permukaannya. Sementara itu, Indonesia membentuk cara pandangku dalam memperlakukan orang lain dengan empati dan kepedulian.

Aku merasa sangat beruntung punya kesempatan untuk tumbuh di lingkungan yang begitu beragam. Pengalaman itu memberiku perspektif yang unik, dan aku selalu berusaha membawanya ke dalam setiap hal yang aku kerjakan.)

 

11. Gimana cara kamu beradaptasi setiap kamu harus pindah dari satu negara ke negara baru? Mulai dari culture, makanan, dan sebagainya.

Jawaban: 

Fundamentally it’s about just keeping your core values but bring accepting of different cultures. I really enjoy learning about the different ways people set up community in their respective areas and of course, I’m a big foody so I’m always looking for the next recommendations to eat!

But even going from city to city in one country, there’s so much change and things to explore! During my time at Oxford, just going from a local to a student felt like unlocking the keys to the city.

So I’ve tried to explore as much of Oxford’s quirks as possible. Whether that’s the over 100 different libraries it has to offer, or the college rowing experience or the endless balls and activities happening each year. In documenting my adventures, I wrote an article titled ‘101 things to do before you graduate’ (https://www.oxfordstudent.com/2025/06/20/101-things-to-do-before-you-graduate/#google_vignette) which has now been read over 7.7k times!

 

(Menurutku, yang paling penting adalah tetap berpegang pada nilai-nilai yang kita yakini, tapi di saat yang sama juga terbuka dan menghargai budaya yang berbeda. Aku pribadi senang banget belajar bagaimana orang-orang di berbagai tempat membangun komunitas mereka masing-masing. Dan tentu aja, karena aku pecinta kuliner, setiap datang ke tempat baru pasti yang pertama aku cari adalah rekomendasi makanan enak!

Menariknya lagi, bahkan berpindah dari satu kota ke kota lain dalam negara yang sama pun rasanya bisa memberikan pengalaman yang benar-benar berbeda. Waktu aku menjadi mahasiswa di Oxford, misalnya, rasanya seperti membuka sisi lain dari kota yang sebelumnya belum pernah aku kenal. Padahal aku sudah lama tinggal di sana sebagai warga lokal, tapi setelah menjadi mahasiswa, aku merasa seperti baru mendapatkan “kunci” untuk menikmati Oxford dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.

Karena itu, aku berusaha mengeksplorasi sebanyak mungkin hal unik yang ditawarkan Oxford. Mulai dari mengunjungi lebih dari seratus perpustakaan yang tersebar di berbagai college, merasakan pengalaman ikut olahraga dayung antar-college, sampai menghadiri berbagai ball dan kegiatan mahasiswa yang hampir selalu ada setiap tahunnya.

Aku juga mendokumentasikan semua pengalaman itu dalam sebuah artikel berjudul “101 Things to Do Before You Graduate”. Senang banget karena sampai sekarang artikel tersebut sudah dibaca lebih dari 7.700 kali.)

Baca Juga: Profil Maulana Adzima, Peserta COC Peraih 27 Letter of Acceptance

 

12. Apakah kamu punya hobi unik atau kegiatan seru yang jarang orang tahu? Ceritain dong!

Jawaban: 

Other than exploring the city and being involved with student societies, I’m also big on sports. For the last year, I’ve been competing on the first team for Korfball for my University. It’s this goofy sport invented by the Dutch which is like a mixed gender version of Basketball. We won against Cambridge so I am glad to announce that I have a Half Blue in the sport, which is a recognition of sporting success at Oxford. Other than that, I have previously rowed for Exeter College in the men’s second team and played Basketball for PPI Oxford with Nabil and Joshua.

To fund my day-to-day life in the UK, I tutor maths, physics and chemistry as well as help high school students get into top universities in the UK. It brings me so much joy to see a student finally get a peculiar difficult concept by offering a different perspective to how their school taught them!

 

(Selain senang menjelajahi kota dan aktif di berbagai organisasi mahasiswa, aku juga cukup serius menekuni olahraga.

Selama setahun terakhir, aku bermain di tim utama Korfball Universitas Oxford. Olahraga ini mungkin masih terdengar asing. Asalnya dari Belanda, dan bisa dibilang mirip basket, tapi dimainkan oleh tim campuran laki-laki dan perempuan. Seru banget! Tim kami bahkan berhasil mengalahkan Cambridge, jadi aku berhak mendapatkan Half Blue, yaitu penghargaan bergengsi dari Oxford untuk mahasiswa yang berprestasi di bidang olahraga.

Sebelumnya, aku juga pernah menjadi atlet dayung untuk Exeter College di tim putra kedua, dan sempat bermain basket bersama Nabil dan Joshua di PPI Oxford.

Di luar kegiatan kampus, aku juga bekerja sebagai tutor untuk membiayai kebutuhan sehari-hariku selama tinggal di Inggris. Aku mengajar Matematika, Fisika, dan Kimia, sekaligus membimbing siswa SMA yang ingin melanjutkan studi ke universitas-universitas terbaik di Inggris.

Bagian yang paling aku suka dari mengajar adalah ketika melihat seorang siswa akhirnya benar-benar memahami konsep yang sebelumnya terasa sangat sulit. Kadang mereka hanya butuh sudut pandang yang berbeda dari yang diajarkan di sekolah, dan rasanya selalu menyenangkan bisa membantu mereka mencapai momen “oh, ternyata begitu!” itu.)

Azka Adziman Peserta COC Season 3

Azka bersama teman-temannya, termasuk Nabil (COC Season 1) dan Joshua (COC Season 2)

(Sumber: dok. pribadi)

 

13. Azka, boleh dong ceritain salah satu pengalaman seru yang paling berkesan dan sulit untuk kamu lupakan! 

Jawaban: 

This past year, I’ve been living with 25 American exchange students from Williams College to Oxford. Because of that, I was invited to do a short exchange Winter program there in the US studying Yoga and Mindfulness. I also used the trip to explore the US East Coast travelling through Boston and New York. One of the things I learned from my class was ‘Rose, Bud, Thorn’ which is a technique to reflect owen your week when journaling but I use it to ask my friends at dinner to check how they’re doing. I’m a huge fan of travelling and exploring the world!

 

(Selama setahun terakhir, aku tinggal serumah dengan 25 mahasiswa pertukaran dari Williams College yang sedang menjalani program di Oxford. Dari situ aku mendapat kesempatan diundang mengikuti program pertukaran musim dingin di kampus mereka di Amerika Serikat, dengan fokus mempelajari Yoga dan Mindfulness.

Mumpung sudah berada di sana, aku juga sekalian menjelajahi East Coast Amerika. Aku sempat mengunjungi Boston dan New York, jadi selain belajar, aku juga bisa menikmati pengalaman berkeliling kota-kota tersebut.

Ada satu hal yang benar-benar membekas dari kelas yang aku ikuti, yaitu teknik refleksi yang disebut “Rose, Bud, Thorn.” Caranya sederhana: rose adalah hal terbaik yang terjadi minggu itu, bud adalah sesuatu yang sedang dinantikan atau masih berkembang, dan thorn adalah tantangan atau hal yang kurang menyenangkan.

Sekarang aku malah sering memakai metode itu saat makan malam bareng teman-teman. Daripada sekadar bertanya, “Gimana harimu?”, aku biasanya mengajak mereka berbagi rose, bud, dan thorn mereka. Menurutku cara ini membuat percakapan jadi lebih bermakna dan benar-benar membantu kami saling mengetahui kabar satu sama lain.

Aku memang suka banget travelling dan menjelajahi berbagai tempat di dunia. Buatku, setiap perjalanan selalu membawa pengalaman dan sudut pandang baru yang bisa dipelajari.)

 

14. Pensaran deh, kalau lagi liburan musim panas, kamu ngapain aja sih?

Jawaban:

During my summer vacations, I’ve also had my fair share of internships and activities. In first year, I helped my family sell our house and car in Oxford as they moved from the UK back to Indonesia. In second year, I had two summer research internships: one in embodied AI at the University of Tokyo ESEP-G program and one on flow cell batteries at the University of Oxford. This year, I’ll be spending my time at the Oxford Robotics Institute doing more research and I’m very lucky to be invited by Y Combinator for their Start-Up School in San Francisco, USA.

 

(Selama libur musim panas, aku juga selalu berusaha mengisi waktuku dengan berbagai kegiatan dan pengalaman baru.

Di tahun pertama kuliah, aku membantu keluargaku mengurus proses kepindahan dari Inggris ke Indonesia, mulai dari menjual rumah sampai mobil kami di Oxford.

Lalu di tahun kedua, aku menjalani dua summer research internship. Yang pertama di University of Tokyo melalui program ESEP-G, dengan fokus pada embodied AI. Yang kedua di University of Oxford, meneliti flow cell batteries.

Nah, untuk liburan musim panas tahun ini, aku akan menghabiskan waktuku melakukan riset di Oxford Robotics Institute. Selain itu, aku juga merasa sangat beruntung karena mendapat undangan dari Y Combinator untuk mengikuti Start-Up School di San Francisco, Amerika Serikat. Buatku, itu kesempatan yang sangat berharga untuk belajar lebih banyak tentang dunia startup sekaligus bertemu dengan orang-orang yang punya semangat membangun inovasi.)

 

15. Azka, kamu kan sibuk banget yaa. Gimana sih caranya kamu mengatur waktu agar semua kegiatanmu bisa berjalan dengan lancar?

Jawaban:

I put everything in my Google Calendar! If it’s not on there, I will most likely forget so every little thing I try to schedule or make a note of there. I would schedule the main academic time commitments first, and then fill the rest with activities like having dinner with friends, etc.

 

(Semua jadwalku aku masukin ke Google Calendar. Soalnya kalau nggak ada di situ, kemungkinan besar aku bakal lupa. Jadi, sekecil apa pun kegiatannya, aku usahakan selalu dijadwalkan atau minimal dicatat di sana.

Biasanya aku mengisi dulu semua komitmen akademik yang sifatnya wajib, seperti kuliah, praktikum, atau rapat. Setelah itu, baru aku mengatur waktu untuk kegiatan lain, misalnya makan malam bareng teman, ikut organisasi, olahraga, atau aktivitas sosial lainnya.

Menurutku, cara ini bikin semuanya jadi lebih terstruktur. Aku bisa memastikan urusan akademik tetap berjalan dengan baik, tapi di saat yang sama juga tetap punya waktu untuk bersosialisasi dan menikmati kehidupan di luar kuliah.)

 

16. Selain yang sudah kamu capai sekarang, ada nggak goal atau achievement lain yang masih kamu kejar ke depannya?

Jawaban: 

I’m not too sure what I’ll end up doing but I’m a big believer in trying everything and saying yes to as many things as I can. I’m interested in both industry and research, either in the UK, Indonesia, or elsewhere! I’m going to use this summer and next year to really find out whether research is the one for me and to explore industry connections for the future. Maybe I’ll end up starting my own company, who knows?!

 

(Sejujurnya, sampai sekarang aku juga belum tahu pasti akan berakhir di jalur yang mana. Tapi aku selalu percaya untuk mencoba sebanyak mungkin hal dan mengatakan “iya” pada berbagai kesempatan yang datang.

Saat ini aku sama-sama tertarik dengan dunia industri maupun riset. Lokasinya pun belum aku batasi, bisa saja di Inggris, Indonesia, atau bahkan di negara lain. Buatku, yang terpenting adalah menemukan lingkungan yang paling cocok untuk terus berkembang dan memberikan dampak.

Karena itu, aku ingin memanfaatkan libur musim panas tahun ini dan juga satu tahun ke depan untuk benar-benar mencari tahu apakah dunia riset memang jalan yang ingin aku tekuni dalam jangka panjang. Di saat yang sama, aku juga ingin memperluas koneksi dengan dunia industri supaya punya gambaran yang lebih jelas tentang berbagai peluang karier ke depannya.

Siapa tahu, pada akhirnya aku malah memutuskan untuk membangun perusahaan sendiri. Kan, kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.)

Baca Juga: Profil Christoffer Edbert, Mahasiswa BINUS University yang Jago Programming

 

Cerita Azka di Clash of Champions Season 3

17. Ceritain dong, gimana awalnya kamu bisa ikutan Clash of Champions Season 3? Apakah kamu daftar sendiri, direkomendasikan orang lain, atau mungkin ditawarkan oleh pihak Ruangguru? Kita pengin tahu cerita di balik layar sampai akhirnya kamu bisa terjun di ajang kompetitif ini!

Jawaban: 

Funnily enough, I was actually invited for S1, S2 and S3! I was a bit skeptical and thought it was too good to be true when they sent the invite for Season 1 and then I saw my friend Nabil go on there and I was so shocked! It seemed really fun so I was very excited to go for S2 but unfortunately my exams clashed with shooting times and so this year, since my exams were after filming, I took the opportunity and went with it!

 

(Lucunya, aku sebenarnya sempat diundang untuk ikut Season 1, Season 2, sampai Season 3!

Waktu pertama kali dapat undangan untuk Season 1, aku malah sempat skeptis. Rasanya terlalu bagus untuk jadi kenyataan, jadi aku sempat mikir, “Ini beneran nggak sih?” Tapi kemudian aku lihat temanku, Nabil, benar-benar ikut di acara itu, dan aku langsung kaget.

Sejak saat itu, aku jadi makin tertarik karena acaranya kelihatan seru banget. Sebenarnya aku juga sudah sangat antusias buat ikut di Season 2, tapi sayangnya jadwal syutingnya bentrok dengan jadwal ujianku di Oxford, jadi aku terpaksa melewatkannya.

Nah, tahun ini kebetulan jadwal ujianku baru dimulai setelah proses syuting selesai. Jadi tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil kesempatan itu dan akhirnya bisa ikut Clash of Champions.)

 

18. Apakah kamu sempat mengalami language barrier selama kamu ikut COC Season 3?

Jawaban:

Definitely! But that’s one of the biggest rewards I’ve definitely received from being on the show. I’ve been able to improve my Indonesian bit by bit through the questions but also through daily interactions with other cast members who I’m still in contact with to this day.

Thankfully I can understand Indonesian pretty well when it’s spoken to me since I grew up speaking Indonesian with my family at home but sometimes my pronunciation is a little off due to the British accent.

To those of you that have watched me on the show, I apologise in advance for any mistakes, or mispronunciation!

 

(Pastinya! Malah, menurutku itu justru salah satu hal terbaik yang aku dapatkan dari ikut acara ini. Sedikit demi sedikit, kemampuan bahasa Indonesiaku jadi semakin berkembang, baik lewat soal-soal yang ada di Clash of Champions maupun dari interaksi sehari-hari dengan para cast. Sampai sekarang pun aku masih sering berkomunikasi dengan mereka.

Untungnya, aku sudah terbiasa mendengar bahasa Indonesia sejak kecil karena di rumah keluargaku selalu berbicara dalam bahasa Indonesia. Jadi, memahami percakapan sehari-hari bukan masalah buatku. Yang masih jadi tantangan justru pengucapannya. Kadang logat British-ku masih kebawa, jadi ada beberapa kata yang terdengar agak kurang pas saat diucapkan.

Buat teman-teman yang sudah menonton penampilanku di Clash of Champions, aku minta maaf ya kalau masih ada kesalahan atau pengucapan yang kurang tepat. Semoga ke depannya kemampuan bahasa Indonesiaku bisa terus berkembang!)

Baca Juga: Mia, Peserta COC Season 3 yang Aktif di MUN & Beauty Pageant

Penasaran dengan performa Azka di Clash of Champions Season 3? Jangan lewatkan dengan nonton Episode 2 Clash of Champions Season 3 hari Sabtu, 4 Juli 2026 di aplikasi dan YouTube Ruangguru!

Yuk, vote Azka sebagai peserta favorit pilihan kamu di siniJangan sampai kelewatan juga keseruan episode Clash of Champions Season 3 ya. Pantengin terus blog Ruanggurusosial media, dan channel WhatsAppbuat dapetin info ter-update!

Siap jadi juara di Tahun Ajaran Baru 2026/2027? Yuk, segera klaim diskon spesial beragam paket produk dari Ruangguru.

clash of champions season 3 ruangguru

Ruangguru

Platform bimbingan belajar online terbesar dan terbaik di Indonesia. Menyediakan layanan belajar berbasis teknologi interaktif untuk jenjang SD, SMP, SMA/SMK.