Cara Mengatasi Kebiasaan Menunda-nunda Pekerjaan (Procrastination)

Kresnoadi Jan 28, 2021 • 8 min read


gimana cara mengatasi kebiasaan menunda

Artikel ini mengungkapkan berbagai cara untuk mengatasi kebiasaan menunda-nunda pekerjaan atau yang disebut dengan procrastination.

--


Jujur, deh. Setelah selama ini belajar dari rumah, kamu mulai ngerasa bosen gak? Nggak bisa dipungkiri, banyak dari kita yang mulai mengalami penurunan motivasi belajar. Entah apapun alasannya. Entah pelajarannya yang susah masuk ke otak. Entah kita yang gak terbiasa mandiri. Entah tugas yang numpuk banyak banget.

Parahnya, situasi ini bikin kita suka menunda-nunda pekerjaan. Padahal banyak yang harus diselesaiin, tapi malah sibuk rebahan, atau main hape, atau ngelakuin pekerjaan lain yang nggak penting.

Makanya, di tulisan kali ini, kita akan coba mengatasinya.

Kita mulai dari cari tahu dulu. Kenapa, sih, orang suka menunda-nunda pekerjaan? Kenapa hawa-hawa procrastinate itu enak banget. Sampai hari berlalu, dan malam-malam kita menyesal karena nggak produktif. Dari situ, kita akan cari faktor yang berpengaruh, dan berbagai tools produktivitas sederhana yang bisa kamu pakai untuk mengatasi itu ke depannya.

 

Bedanya Penunda dan Pemalas

Orang-orang yang sedang menunda pekerjaan seringkali dicap sebagai pemalas. Padahal, kedua hal ini berbeda. Artinya, solusi dari masalah keduanya juga berbeda.

perbedaan orang yang suka menunda dan pemalas

 

Kenapa Orang Suka Menunda-nunda Pekerjaan

Piers Steele, di The Procrastination Equation menuliskan tentang teori Temporal Motivation, atau Motivasi Sementara. Teori ini menunjukkan bahwa motivasi seseorang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan bisa dijelaskan oleh sebuah formula:

Motivasi = (Harapan x Nilai) / (Impulsivitas x Waktu)

Apa tuh maksudnya?

Maksudnya, motivasi seseorang itu dipengaruhi oleh beberapa variabel. Mulai dari Harapan, Nilai, Impulsivitas, dan Waktu.

Begini. Harapan itu menunjukkan seberapa percaya kita bisa menyelesaikan suatu pekerjaan. Kalau kamu merasa pekerjaanmu bisa diselesaikan dengan gampang, kamu jago dan percaya diri, tentu tingkat Harapanmu untuk bisa menyelesaikan pekerjaan itu akan tinggi. Akibatnya, motivasi untuk mengerjakan hal itu juga meningkat.

Misalnya, kamu adalah orang yang jago sejarah. Maka, kamu akan punya motivasi yang lebih tinggi ketika mendapatkan tugas yang berkaitan dengan sejarah, ketimbang kimia. Karena, ya, kamu ngerasa tugas sejarah itu gampang. Kamu bisa mengerjakannya dengan baik, cepat, dan gak ada beban. Dari sini, peluangmu untuk menunda-nunda pekerjaan jadi kecil.

Sebaliknya, ketika mendapatkan tugas yang berkaitan dengan kimia, kamu akan merasa susah duluan. Sehingga, nilai Harapanmu untuk bisa nyelesainnya akan rendah, dan itu bakal bikin kamu keburu males duluan. Alhasil, kemungkinanmu untuk mengundur ngerjain kimia akan tinggi.

Variabel lain yang mempengaruhi adalah nilai. Nilai ini merupakan “rewards” yang akan kamu dapat ketika berhasil menyelesaikan pekerjaan itu. Rewards itu bukan cuma berarti hadiah berupa barang fisik, ya. Tetapi, apakah kamu happy saat mengerjakannya, apa pengalaman yang kamu dapat ketika melakukannya. Kepuasan seperti apa yang kamu dapat setelah menyelesaikan pekerjaan itu.

Baca juga: Cara Membentuk Kebiasaan dengan Identity Based Habit

Misalnya, kamu adalah tipikal orang yang suka mengerjakan tugas sendirian. Ketika di suatu hari rumahmu kedatangan tamu atau saudara dan menjadikannya berisik, kemungkinanmu menunda ngerjain tugas akan tinggi. Karena, pengalamanmu saat mengerjakan tugas tidak kamu sukai.

Impulsivitas adalah seberapa mudah kamu terdistraksi. Tentu, semakin gampang kedistrak, maka kemungkinan kamu menunda pekerjaan juga semakin tinggi. Buka laptop, mau buka file pekerjaan, eh tiba-tiba dapat notifikasi dari Instagram. Lalu, kamu kepancing untuk buka medsos dan berakhir main hape selama beberapa jam.

Faktor terakhir adalah Waktu. Ini merupakan jumlah waktu dari sekarang sampai kamu mendapatkan rewards akibat menyelesaikan pekerjaan. Semakin panjang jangka waktunya, semakin besar keinginanmu buat menunda-nunda. 

Well, ini memang menjadi sifat natural manusia, sih,  bagaimana kita lebih tertarik kepada rewards yang didapat dengan instan ketimbang harus menunggu lama terlebih dahulu.

Misalnya, kita cenderung lebih suka mendapatkan uang sepuluh ribu untuk membeli makanan di warung untuk ibumu sekarang, ketimbang dapat lima puluh ribu setelah 4 kali membelikan makanan di warung. Makanya, ketika kita mendapatkan tugas yang deadline-nya “masih lama”, otak kita cenderung berpikir, “Apa penting gue kerjain sekarang?” Alhasil, motivasimu untuk mengerjakan jadi berkurang.

 

Cara Mengatasi Kebiasaan Menunda-nunda

Berhubung kita udah punya formula dalam meningkatkan motivasi, tentu jawabannya jadi mudah. 

Untuk mengatasi kebiasaan menunda, kita cuma perlu memainkan variabel-variabel yang ada di dalam rumus, sesuai dengan kondisi masing-masing.

Misalnya, kamu secara skill ragu kalau bisa menyelesaikan pekerjaan itu dengan gampang dan cepat. Artinya, variabel yang bisa kamu otak-atik adalah “Nilai” dan “Impulsivitas”.

Ya udah, deh. Kita tinggal meningkatkan Nilai dan mengurangi Impulsivitas. Caranya? Buanyak, dan tentu setiap orang berbeda.

Kamu bisa berkomitmen untuk memberikan rewards jika pekerjaanmu selesai. Kamu bisa memodifikasi pengalamanmu saat bekerja (contoh: ada yang suka bekerja di tempat agak ramai, maka coba bekerja di kafe. Ada yang suka sambil mendengarkan lagu biar membangkitkan gairah kerja. Ada yang suka memakai baju rapi agar mendapatkan suasana kerja benaran. Ada yang mau ningkatin pengalaman ngelakuinnya dengan kerja bareng temen, maka kamu bisa buat grup belajar, misalnya. Ngerjain tugas sambil video call bareng).

It’s really okay. Karena lagi-lagi, setiap orang berbeda.

Lalu, gimana cara mengurangi Impulsivitas? Itu juga buanyak. Tergantung kepada karaktermu dan jenis pekerjaan yang sedang kamu lakukan. Kalau kamu orang yang gatelan ketika udah megang hape, coba taroh hapemu di kamar lain saat ngerjain aktivitasnya. Kalau aktivitasmu sebetulnya gak butuh internet, coba matikan sambungan internet ke laptopmu sebentar.

Intinya, kamu tinggal melihat variabel mana dari formula tersebut yang bisa kamu kendalikan untuk mengurangi keinginan menunda-nunda.

Sederhana, tapi memang butuh latihan untuk melakukan ini.

 

Berbagai Metode Produktivitas Agar Tidak Menunda-nunda

Kalau kamu udah tahu secara konsep cara untuk mengatasi kebiasaan menunda-nunda, sekarang kita bantu dari segi teknis. Hal-hal praktis apa yang bisa dicoba untuk mencegah itu terjadi.

 

To-Do List dan Matriks Eisenhower

Hal paling sederhana yang bisa kamu coba adalah buat To-Do List setiap kamu mau tidur. Kenapa pas mau tidur?

Supaya sewaktu bangun, kamu gak pusing lagi mikirin mau ngapain.

Percaya, deh. Perasaan ketika kita bangun, lalu “Gue hari ini ngapain ya enaknya?” itu menyebalkan dan bikin gak produktif. Bangun tidur duduk. Ngambil hape. Mikir. Bengang-bengong. Tahu-tahu udah melewatkan 2 jam di kasur. Melek, tapi gak bangun-bangun.

Baca juga: Apa Sih Dampak Teknologi Terhadap Kebiasaan Belajar Kita?

Bandingkan dengan kamu yang bangun lalu melihat catatan To-Do List. “Oh, iya, hari ini gue pengin ngelakuin anu dan ini.” Tentu aja, fungsi To-Do List ini bukan hal yang saklek banget buat kita lakuin. Boleh boleh aja kita modifikasi lagi paginya, atau nggak ngelakuin semua hal yang ada di sana. Tapi, tujuan kamu bikin itu adalah supaya kamu nggak hilang arah. D

Paling tidak, di pagi hari, kamu tahu bahwa ada hal yang mau kamu lakuin.

Dan itu, secara tidak sadar, akan nge-boost energi kita.

Masalahnya, gimana kalau To-Do List kita banyak dan malah bikin bingung. Saking banyaknya, kamu gatau mana yang harus dikerjain terlebih dahulu.

Buat nyelesain masalah itu, kamu bisa pakai matriks Eisenhower.

matriks eisenhower

 

Matriks Eisenhower ini gak perlu kamu bikin atau tulis secara literal di kertas, tapi bisa aja dipikirin doang ya. Fungsinya, untuk memisahkan, mana, sih, dari berbagai To-Do List kamu yang sifatnya mendesak dan penting, mendesak tapi gak penting, gak mendesak tapi penting, dan gak mendesak dan gak penting.

Jadi, kamu punya pemetaan deh. Mana kegiatan atau aktivitas yang harus kamu kerjain terlebih dahulu.

 

Pomodoro

Pomodoro juga bisa kamu pakai sebagai alternatif biar kerja dengan produktif. Soalnya, pomodoro adalah teknik produktivitas yang berlandaskan seberapa banyak pekerjaan yang kamu lakukan dalam kurun waktu tertentu (input based). Dengan pomodoro, kita gak perlu pusing mikirin “Wah, gue ada tugas bikin 2 esai dengan masing-masing 5 halaman!” karena itu adalah output-nya. Tetapi, pomodoro membuat kita fokus untuk mengerjakan esai selama 25 menit. Tanpa punya beban mikirin dalam kurun waktu segitu, kita bisa membuat berapa halaman tulisan. Kalau bisa selesai ya mantap, kalau kurang tinggal dilanjut setelah istirahat 5 menit. Tetapi, selama 25 menit tadi kamu jadi bisa benar-benar fokus in the zone buat ngerjainnya.

Untuk mempelajari kayak gimana itu teknik pomodoro dengan lebih lengkap, kami sudah pernah menuliskannya di artikel ini.

Itu adalah berbagai cara yang bisa kamu coba untuk mengatasi kebiasaan menunda-nunda pekerjaan (procrastination). Kamu sendiri, belakangan lagi suka menunda-nunda kah? Atau punya tips manjur yang bisa ningkatin gairah produktivitas? Coba cerita yuk di kolom komentar!

Kalau kamu udah semangat tapi masih bingung memahami berbagai konsep pelajaran yang ada di sekolah, kamu bisa pakai ruangbelajar. Di sana, terdapat berbagai video pembelajaran seru dengan Master Teacher yang udah pengalaman lho! Jadi, belajar terasa menyenangkan deh!

New Call-to-action

Referensi:

Steel, Piers. 2011. The Procrastination Equation: How to Stop Putting Things Off and Start Getting Stuff Done. HarperCollins: New York.

Profile

Kresnoadi

Pembuat cerita. | http://www.keriba-keribo.com/

Beri Komentar