Fixed Mindset vs Growth Mindset: Apa Sih Perbedaan Keduanya?

Kresnoadi Feb 6, 2021 • 7 min read


apa yang dimaksud dengan growth mindset

Artikel ini menjelaskan tentang apa sih pentingnya individu memiliki pola berpikir growth mindset untuk masa depannya.

--

Manusia berbeda-beda dan itu biasa saja. Ada mereka yang, seperti kata Tan Malaka, melalui hidupnya dengan terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk.

Di sisi lain, ada mereka yang berpikir, “Ngapain terbentur kalau untuk babak belur?”

Kita sepakat bahwa hidup adalah persoalan mengambil keputusan-keputusan duniawi. Tapi, apa yang sebenarnya mempengaruhi seseorang, berkali-kali, dalam waktu hidupnya, untuk mengambil keputusan tersebut?

Carol Dweck, psikolog, dalam bukunya Mindset: How You Can Fulfill Your Potential, mengatakan hal paling klise yang sering diabaikan orang: bahwa cara pandang akan mempengaruhi bagaimana kita menjalankan hidup.

 

Fixed Mindset vs Growth Mindset

Saat ini kita hidup di dunia yang terlihat menyenangkan dan gampang.

Coba buka media sosial. Pilih satu atau dua selebgram atau Youtuber favoritmu. Sambil rebahan dengan kaki satu di atas yang lainnya, kita berpikir: “Asyik banget ya jadi dia. Kaya, kerja gampang, hidupnya makmur.”

Lalu, secara tidak sadar, kepala kita kemudian mengubah postingan tersebut menjadi kaca depan toko baju branded. Ia memajang kesuksesan-kesuksesan dan kebahagiaan dan hal-hal positif. Hanya bermodalkan foto dan video yang menurut beberapa orang tidak spesial-spesial amat.

Manusia berbeda-beda dan itu biasa saja. Dan menurut Dweck, orang barusan punya fixed mindset.

Mereka yang punya pola pikir fixed mindset selalu beranggapan bahwa bakat adalah sesuatu yang mutlak. Ia tidak bisa berubah dan dikembangkan. Kamu jago main basket, itu karena kamu punya bakat di basket. Saya tidak jago, berarti saya tidak berbakat. Dan itu artinya, kehidupan saya dan basket berhenti sampai di sini saja.

Kamu pintar matematika, artinya kamu berbakat. Kamu memang pintar dari sananya.

Saya tidak pintar matematika. Ya udah. Saya emang bukan di sini.

Ketika dihadapkan dengan matematika, saya akan lari dan sembunyi. Karena buat saya, “Ngapain terbentur kalau untuk babak belur?”

Mereka yang punya pola pikir fixed mindset selalu melihat “hasil” dari kesuksesan seseorang. Youtuber yang punya followers 2 juta. Atlet yang ahli di olahraga tertentu. Mereka yang juara olimpiade.

Mereka selalu terpapar gemerlap ini.

Pada akhirnya, yang mereka ingin capai adalah untuk terlihat sukses dan keren dan pintar. Youtuber yang punya followers 2 juta ini keren buat saya. Jadi, saya memutuskan untuk ke mal seperti cara ia berpakaian. Dengan begitu, saya merasa seperti dia. Saya merasa keren.

Tapi, manusia itu berbeda-beda dan itu biasa saja. Dan menurut Dweck, manusia jenis lain adalah mereka yang memiliki growth mindset.

Mungkin mereka sadar bahwa sebagian orang dilahirkan dengan bakat tertentu. Tapi, itu bukan sesuatu yang mutlak.

perbedaan nfixed mindset dan growth mindset

Orang-orang dengan pemikiran ini sadar kalau kualitas seseorang, kayak skill intelektual, bisa didapat lewat usaha.

Mereka bukan cuma tidak takut gagal. Mereka bahkan tidak merasa kalau dirinya gagal. Yang mereka rasa justru ini: mendapatkan pelajaran baru yang bisa dipakai untuk mengembangkan diri.

Mereka menghargai kerja keras.

Mereka terbentur, terbentur, terbentur, dan terbentuk.

Ketika mereka melihat Youtuber dengan followers 2 juta, yang mereka pikirkan adalah ini: bagaimana dia bisa menghasilkan satu video dalam dua hari. Proses shooting-nya, pengeditannya, pemikiran ide-ide untuk video selanjutnya, seberapa lama ia begadang.

Pada akhirnya, yang ia lihat bukan cuma gemerlap di depan kaca, tapi usaha dan keringat di belakangnya.

Itu lah mengapa orang-orang dengan pemikiran growth mindset beranggapan kalau usaha itu penting.

Mereka punya keinginan untuk tumbuh.

Kesuksesan bagi orang dengan growth mindset bukan sekadar terlihat keren. Bagi mereka, kesuksesan adalah tentang progres. Seberapa jauh kita berkembang dari kemarin. Seberapa mau kita melangkah lagi. Seberapa mampu kita merenggangkan diri untuk menjangkau lebih jauh lagi.

Baca juga: Mengatasi Anxiety, Kegelisahan, dan Emosi Negatif dengan Filosofi Stoik

Di dunia dengan orang-orang berpemikiran growth mindset, kalau saya tidak bisa matematika, saya akan bertanya: “Apakah saya harus menguasainya?”

Kalau iya, alih-alih menyalahkan diri tidak berbakat, saya akan mengevaluasi, mencari tahu bagaimana cara mempelajari, lalu take action for that. Karena saya yakin, meskipun teman saya yang jago matematika tidak pernah terlihat serius di kelas, dia berusaha lebih baik dari saya. Mungkin tadi malam ia mengulang pelajaran. Mungkin ia suka berlatih kemampuan logika melalui hal-hal lain. Saya cuma tidak melihatnya aja.

Mata orang dengan pemikiran growth mindset berbinar-binar setiap menemukan tantangan. Karena dia tahu, setelah melewati ini, dia akan naik kelas. Toh kalau gagal, dia akan punya pelajaran baru untuk dibawa.

 

Bagaimana Cara Mengubah Pola Pikir Menjadi Growth Mindset

Manusia dilahirkan berbeda-beda dan lucunya, pola pikir tidak termasuk ke dalamnya. Ia bersemayam di pikiranmu. Kamu bisa saja orang keturunan jawa atau sumatera, berambut keriting atau lurus, tinggi atau pendek, berhidung mancung atau pesek. Tapi, kamu bisa bebas menentukan ingin jadi orang dengan pemikiran seperti apa. 

Saya dan orang lain tidak akan peduli karena itu adalah hidupmu. Dan pada akhirnya, cuma kamu yang bisa memilih: apakah ingin menjadi seseorang dengan pola pikir fixed mindset atau growth mindset.

 

Hal-hal yang Salah Dipahami dari Growth Mindset

Pertama, setiap orang pasti punya campuran fixed mindset dan growth mindset. Tidak ada orang yang seratus persen berpikiran dengan growth mindset terhadap apapun. Kamu tidak perlu takut ketika sedang memahami sesuatu dengan fixed mindset. Hal yang lebih penting adalah, kamu tahu ada kedua cara pandang ini, dan bisa memilih mana cara pandang yang tepat untuk posisimu.

Kedua, growth mindset itu bukan tentang sekadar bagaimana kamu mengapresiasi effort. Loh, bukannya di atas dikasih tahu kalau orang-orang dengan growth mindset selalu menghargai kerja keras? 

Baca juga: Cara Mengatasi Kebiasaan Menunda-nunda Pekerjaan (Procrastination)

Betul. Tetapi, pemikiran growth mindset lebih dalam dari itu. Kita bisa aja ngelakuin sesuatu dengan effort tinggi. Misalnya, kamu mengerjakan suatu tugas dengan effort ampun-ampunan. Sampai tidak tidur berhari-hari dan itu bikin kamu sakit. Lalu, karena hal ini, kamu menilai hasil pekerjaanmu dari effort-nya. “Gue udah bikin ini capek-capek, masa dibilang jelek? Masa cuma dapat nilai segini?”

Kenyataan pahitnya: effort tidak selalu berbanding lurus dengan produktivitas. Dan juga tidak selalu berbanding lurus dengan output.

Dan effort yang nggak produktif adalah hal buruk. Mobil jelek yang dibuat dengan effort berlebih hasilnya tetap mobil jelek. Makanya, penting buat kita untuk nggak cuma mikirin effort, tetapi juga progress dari apa yang kita pelajari di situ.

Ketiga, orang yang cuma mendukung growth mindset lalu berharap mukjizat baik akan datang kepadanya. Growth mindset adalah cara pandang. Ketika kamu berharap bisa maju satu langkah ke depan, kamu nggak cuma butuh “Oke, gue mau jago basket dan gue tahu gue harus latihan. Siapapun bisa asal latihan termasuk gue.” dan berpikir besoknya kamu langsung jago.

Hal terberat dari growth mindset adalah komitmen untuk melakukan apa yang telah kamu pikirkan. Nggak cuma lip service, tapi take action.

--

Kayaknya segini dulu kali ya pemahaman konsep soal pola pikir fixed mindset dan growth mindset. Mudah-mudahan kamu udah tahu kalau ada dua pola pikir ini. Buat yang mau nanya atau diskusi, yuk ramein aja kolom komentar!

Buat yang lagi pengin persiapin diri menghadapi UTBK tapi masih ada materi-materi pelajaran yang belum paham, langsung aja tonton video ruangbelajar! Di sana bakal ada tutor berpengalaman yang ngasih tahu kamu semua konsep pelajaran dengan pembawaan yang asyik dan seru!

ruangbelajar

Referensi:

Dweck, Carol. 2016. What Having a “Growth Mindset” Actually Means. [daring] Tautan: https://hbr.org/2016/01/what-having-a-growth-mindset-actually-means (diakses pada: 29 Januari 2021).

Dweck, Carol. Mindset: 2012. How You Can Fulfill Your Potential. New York: Constable & Robinson.

Beri Komentar