Pergerakan Nasional Indonesia: Pengertian, Tujuan & Penyebabnya | Sejarah Kelas 11

Pergerakan Nasional Indonesia

Seperti apa sejarah pergerakan nasional Indonesia, mulai dari pengertian, tujuan, hingga faktor penyebabnya? Yuk, kita bahas bersama di artikel Sejarah Kelas 11 berikut ini!

 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah perjuangannya. Kalimat ini bukan sekadar ungkapan, melainkan cerminan dari perjalanan panjang bangsa Indonesia yang berhasil merebut kemerdekaan dari penjajah melalui perjuangan berbagai elemen masyarakat.

Salah satu babak penting dalam sejarah tersebut adalah masa pergerakan nasional Indonesia, periode yang menandai transisi dari perlawanan bersenjata menuju perjuangan melalui organisasi modern yang dipelopori kaum terpelajar.

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang pergerakan nasional Indonesia, mulai dari pengertiannya, faktor penyebab, tujuan, hingga peran kaum terpelajar dan pers dalam membangun kesadaran nasional.

Yuk, kita telusuri lebih dalam sejarah perjuangan bangsa ini!

 

Apa Itu Pergerakan Nasional?

Pergerakan nasional adalah suatu bentuk perjuangan rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan melalui organisasi modern dan strategi non-kekerasan seperti pendidikan, media massa, dan diplomasi. Masa ini berlangsung dari tahun 1908 hingga 1942, ketika Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda.

Perjuangan pada masa ini bukan lagi perlawanan bersenjata seperti masa sebelumnya, melainkan lebih mengedepankan pemikiran dan strategi kolektif.

Masa pergerakan nasional Indonesia ditandai dengan lahirnya organisasi modern, seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, hingga Partai Nasional Indonesia (PNI). Dalam periode ini, ide nasionalisme dan kebangsaan mulai tumbuh pesat di kalangan rakyat.

Baca Juga: Sejarah Sumpah Pemuda, Tokoh & Makna Dibaliknya

Yuk persiapkan dirimu dari sekarang untuk ujian PTS, PAS, PAT, Tes Skolastik SNBT, dan seleksi Mandiri PTN bersama ruanguji. Semangat terus, ya!

CTA Ruanguji

 

Faktor Penyebab Lahirnya Pergerakan Nasional

Kalau kamu menemukan pertanyaan yang berbunyi, “Sebutkan faktor penyebab lahirnya pergerakan nasional!”, kamu udah tahu jawabannya belum?

Nah, jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya bisa dibagi menjadi dua kategori besar, yakni faktor internal dan eksternal. Apa saja faktor internal dan eksternal yang menyebabkan lahirnya pergerakan nasional?

Faktor Internal

Faktor internal yang mendorong munculnya pergerakan nasional Indonesia adalah:

  • Penderitaan rakyat akibat penjajahan berupa penindasan, kerja paksa, dan pajak yang berat menyebabkan kesengsaraan di kalangan rakyat Indonesia.
  • Kenangan kejayaan masa lalu. Ingatan akan kebesaran kerajaan-kerajaan Nusantara seperti Sriwijaya dan Majapahit membangkitkan semangat nasionalisme.
  • Munculnya kaum terpelajar. Dampak politik etis memberikan akses pendidikan kepada kaum pribumi yang kemudian menjadi motor penggerak organisasi modern.
  • Rasa senasib dan sepenanggungan. Rakyat dari berbagai daerah mulai menyadari bahwa mereka memiliki musuh yang sama, yaitu penjajah.

 

Faktor Eksternal

Sementara itu, faktor eksternal yang turut mendorong adalah:

  • Kemenangan Jepang atas Rusia (1905). Memberikan inspirasi bahwa negara Asia bisa mengalahkan bangsa Barat.
  • Munculnya paham-paham baru. Nasionalisme, sosialisme, demokrasi, dan pan-Islamisme masuk ke Indonesia melalui pendidikan dan media.
  • Bagaimana pengaruh nasionalisme di Asia terhadap pergerakan nasional Indonesia? Nasionalisme yang berkembang di negara-negara Asia seperti India, Filipina, dan Mesir, juga menjadi contoh bagi kaum terpelajar Indonesia bahwa kemerdekaan bisa diperjuangkan tanpa kekerasan.

 

Baca Juga: Pengakuan India atas Kemerdekaan & Kedaulatan Indonesia

 

Tujuan Pergerakan Nasional

Tujuan pergerakan nasional di Indonesia adalah untuk mewujudkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda secara bertahap dan terorganisir. Para tokoh dan organisasi modern menyadari bahwa perjuangan fisik sudah tidak efektif lagi, maka mereka mengubah strategi menuju pergerakan politik, sosial, dan budaya.

Tujuan pergerakan nasional Indonesia diwujudkan dengan mendirikan organisasi, menyebarluaskan ide kebangsaan melalui media massa, memperjuangkan hak-hak rakyat lewat pendidikan dan diskusi terbuka, serta menuntut pemerintahan sendiri yang berdaulat.

Dengan cara ini, perjuangan menjadi lebih terarah dan memiliki visi jangka panjang yang jelas, yaitu Indonesia merdeka.

Baca Juga: Perlawanan Indonesia Sebelum Abad 19 Terhadap Portugis dan VOC 

 

Munculnya Kaum Terpelajar: Buah dari Politik Etis

Salah satu titik awal lahirnya pergerakan nasional adalah munculnya kaum terpelajar. Siapa sangka, latar belakangnya justru berasal dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda sendiri, yaitu politik etis.

 

Sekilas tentang Politik Etis

Politik Etis

Siswa di Sekolah Pertanian untuk Indonesia di Jawa. (Sumber: id.wikipedia.org)

 

Politik Etis, atau Politik Balas Budi, adalah kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20, sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk menyejahterakan rakyat jajahannya, khususnya di Hindia Belanda (Indonesia).

Kebijakan ini muncul sebagai reaksi atas kritik terhadap praktik eksploitasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, terutama melalui sistem tanam paksa

Sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang diterapkan pada abad ke-19 telah menimbulkan penderitaan bagi rakyat Indonesia. Banyak kritik muncul dari berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh Belanda seperti Pieter Brooshooft dan Conrad Theodore van Deventer.

Dalam tulisannya yang berjudul Een Eereschuld (Hutang Kehormatan), Van Deventer berpendapat bahwa Belanda memiliki kewajiban moral untuk membalas budi atas kekayaan yang diperoleh dari Hindia Belanda. 

Politik Etis bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia melalui program-program di bidang pendidikan, infrastruktur, dan ekonomi.

Politik etis kemudian resmi diberlakukan oleh Ratu Wilhelmina pada tahun 1901 sebagai bentuk “balas budi” terhadap rakyat Indonesia. Tiga program utama dari politik etis adalah:

 

1. Edukasi (Pendidikan)

Mendirikan sekolah-sekolah untuk pribumi, termasuk sekolah dasar (Volkschool), sekolah lanjutan (Vervolgschool), sekolah menengah (MULO, AMS), dan sekolah kejuruan (Kweekschool, STOVIA, sekolah hukum). 

 

2. Irigasi

Membangun dan memperbaiki sistem pengairan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani. 

 

3. Emigrasi (Transmigrasi)

Memindahkan penduduk dari daerah padat penduduk (Pulau Jawa) ke daerah lain yang lebih jarang penduduknya (Sumatera, dll.) untuk meratakan kepadatan penduduk dan membuka lahan pertanian baru. 

Meskipun implementasinya seringkali menyimpang, politik etis telah membuka pintu pendidikan bagi masyarakat pribumi, terutama kalangan priyayi.

Sekolah-sekolah seperti STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen) kemudian menjadi tempat lahirnya generasi cendekiawan muda Indonesia pada masa itu.

Baca Juga: Politik Etis: Latar Belakang, Kebijakan, dan Dampaknya

 

Tokoh-Tokoh Terpelajar dan Awal Kebangkitan Nasional

Pergerakan nasional Indonesia dipelopori oleh golongan terpelajar, seperti Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo, yang mendirikan organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Organisasi ini dikenal sebagai organisasi modern pertama dan simbol kebangkitan nasional.

Tokoh lain yang tidak kalah penting adalah Tirto Adhi Soerjo, seorang pelopor jurnalisme pribumi dan pendiri surat kabar “Medan Prijaji”. Ia merupakan tokoh pergerakan nasional yang menggunakan pers sebagai alat perjuangan.

Kamu bisa simak artikel berikut buat kenalan lebih dalam dengan tokoh-tokoh Pergerakan Nasional, ya.

Baca Juga: Sejarah Hari Kebangkitan Nasional, Tokoh & Organisasinya

 

Perbandingan Pergerakan Sebelum dan Setelah 1908

Pergerakan nasional di Indonesia dimulai pada tahun 1908 dengan berdirinya Budi Utomo. Peristiwa ini menandai pergeseran pola perjuangan dari perlawanan fisik ke arah perjuangan intelektual.

Mari kita bandingkan karakteristik perjuangan sebelum dan setelah tahun 1908:

Sebelum 1908 Setelah 1908
Pemimpin Perlawanan

Dipimpin oleh rajabangsawan, atau tokoh agama.

Ketika pemimpin tewas, perlawanan biasanya berhenti.

Dipimpin oleh kaum terpelajar yang memiliki jaringan luas dan mampu berganti-ganti kepemimpinan secara fleksibel.
Ruang Lingkup Bersifat kedaerahan. Sudah berskala nasional dan menjangkau banyak wilayah.
Cara Berjuang Menggunakan senjata dan kekerasan. Menggunakan organisasi modernmedia, dan diplomasi.
Tujuan Reaktif dan spontan, tanpa visi jangka panjang. Terarah dan tujuan utama Indonesia merdeka.

 

Dengan demikian, masa pergerakan nasional ditandai dengan lahirnya organisasi yang memiliki struktur dan tujuan jelas, serta digerakkan oleh kaum intelektual.

 

Peran Pers dalam Pergerakan Nasional

Media massa memiliki peran krusial dalam menyebarkan ide kebangsaan. Salah satu peran pers dalam pergerakan nasional adalah menyuarakan penderitaan rakyat, menyebarkan ide persatuan, serta mengkritik kebijakan kolonial.

Beberapa surat kabar penting pada masa itu antara lain:

1. Medan Prijaji – Didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo, menjadi suara kaum intelektual pribumi.

2. Kaum Muda dan Suara Rakyat – Mengangkat isu-isu pendidikan dan kesadaran politik.

3. Hindia Poetra – Surat kabar yang mendukung gerakan politik Soekarno dan kawan-kawan.

Medan Prijaji

Sampul Depan Surat Kabar Medan Prijaji (Sumber: id.wikipedia.org)

 

Pers menjadi alat penting dalam mencerdaskan rakyat dan membentuk opini publik yang menuntut kemerdekaan. Bahkan, tokoh seperti Soekarno juga aktif menulis dan menyebarkan pemikiran nasionalis melalui media.

Baca Juga: Tirto Adhi Soerjo: Sang Pemula Pers Bumiputera

 

Organisasi-Organisasi Penting dalam Masa Pergerakan Nasional

Indische Partij

Anggota Indische Partij (Sumber: id.wikipedia.org)

 

Selama masa pergerakan nasional, banyak organisasi yang memainkan peran besar dalam perjuangan menuju kemerdekaan, antara lain:

1. Budi Utomo (1908) – Fokus pada pendidikan dan kebudayaan.

2. Sarekat Islam (1911) – Menggabungkan nilai Islam dan nasionalisme.

3. Indische Partij (1912) – Organisasi politik pertama yang menyerukan kemerdekaan.

4. Perhimpunan Indonesia (1925) – Berbasis di Belanda dan memperjuangkan kemerdekaan lewat diplomasi.

5. Partai Nasional Indonesia (1927) – Didirikan oleh Soekarno, memiliki visi kuat tentang Indonesia merdeka.

Salah satu bukti keberhasilan dari pergerakan nasional adalah terbentuknya kesadaran nasional yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia dari berbagai daerah, suku, dan agama.

Baca Juga: 10 Organisasi Pergerakan Nasional Indonesia & Tokoh Pendirinya

 

Warisan Abadi dari Masa Pergerakan Nasional

Tujuan pergerakan nasional di Indonesia adalah untuk membebaskan bangsa dari penjajahan dan membentuk negara merdeka yang berdaulat. Perjuangan ini tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan pena, pemikiran, dan pendidikan.

Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi modern yang membuka babak baru perjuangan bangsa. Para tokoh pergerakan nasional dari kalangan terpelajar memainkan peran penting dalam menyebarkan semangat kebangsaan melalui pendidikan dan media massa.

Kini, semangat itu menjadi warisan abadi. Tugas kita sebagai generasi penerus adalah melanjutkan perjuangan tersebut dengan membangun negeri ini, salah satunya lewat jalur pendidikan.

Oleh karena itu, kita harus belajar dengan giat agar kita bisa turut membangun negeri melalui pendidikan. Belajarnya tentu saja bersama ruangbelajar dengan Master Teacher yang keren dan video pembelajaran yang interaktif! 

CTA Ruangguru

Referensi:

Poesponegoro, Marwanti Djoened & Notosusanto, Nugroho (ed). (2019) Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka

Ricklefs, M.C. (2022) Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi

Sumber Gambar: 

‘Anggota Partai Indische: (duduk dari kiri) Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Dr. E.F.E. Douwes Dekker, R.M. Soewardi Soerjaningrat; (berdiri dari kiri): F. Berding, G.L. Topée, dan J. Vermaesen.’ (daring) Tautan: https://id.wikipedia.org/wiki/Indische_Partij#/media/Berkas:Leden_van_de_Indische_Partij,_vermoedelijk_te_’s_Gravenhage,_KITLV_3725.tiff (diakses 6 Maret 2026)

‘Front page of the 2 April 1910 edition of Medan Prijaji.‘ (daring) Tautan: https://id.wikipedia.org/wiki/Medan_Prijaji#/media/Berkas:Medan_Prijaji.jpg (diakses 6 Maret 2026)

‘Siswa di Sekolah Pertanian untuk Indonesia di Jawa.’ (daring) Tautan: https://id.wikipedia.org/wiki/Politik_Etis#/media/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Leerlingen_van_de_Inlandse_Landbouwschool_Java_TMnr_10002357.jpg (diakses 6 Maret 2026)

Kenya Swawikanti