Biografi Moh Hatta, Pendiri Bangsa yang Lebih dari Bapak Koperasi Indonesia

Biografi Moh Hatta

Seperti apa kisah hidup Bung Hatta, wakil presiden pertama Indonesia? Yuk, simak  dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Bung Hatta, semua orang pasti sudah mengenal sosoknya. Pada hari kemerdekaan ke-77 Republik Indonesia ini, saya begitu tertarik untuk membaca dan menuliskan cerita tentang Wakil Presiden Republik Indonesia pertama, bermodalkan sebuah seri buku saku yang dituliskan oleh tim Tempo. Bung Hatta, ternyata bukan sekedar Bapak Koperasi Indonesia.

 

Bung Hatta di Masa Kecilnya

Dr. (H.C) Drs. H. Mohammad Hatta, lahir di sebuah daerah bernama Bukittinggi, Sumatra Barat. Ia lahir ketika Indonesia berada di bawah bayang-bayang bangsa kolonial. Hatta, tumbuh sebagai anak yang sangat tekun, pandai, dan juga disiplin mengaji.

rumah bung hatta

Rumah Bung Hatta sejak kecil di Bukittinggi, Sumatra Barat. (Sumber: Kalderanews.com)

 

Selain itu, ia juga merupakan sosok yang rendah hati, sederhana, dan memiliki kedalaman pemikiran, begitu kata seorang budayawan Indonesia, Nurcholish Madjid. Hatta memang tumbuh sebagai sosok yang religius, namun ia juga berkembang menjadi pribadi yang modern.

Siapa sangka, Bapak Proklamator kita ini, ternyata sangat gemar bermain sepak bola. Selain mulai aktif terlibat dalam urusan politik negeri, Bung Hatta remaja ternyata pernah bergabung dengan klub sepak bola Padang, yang bernama Young Fellow.

Kalau dari cerita yang didapat Marthias Doesky Pandoe (Wartawan kelahiran 1924 dari Padang) dari teman-teman Bung Hatta, ternyata Wakil Presiden RI pertama kita itu adalah seorang gelandang tengah yang sangat tangguh. Bahkan, orang-orang Belanda yang sering bermain bola dengannya, berkesan bahwa ia sangat sukar diterobos.

Hmm apakah Bung Hatta lebih hebat dari Andrea Pirlo bahkan Gattuso? Atau jangan-jangan, ia pun tidak bisa diterobos oleh pemain sekelas Cristiano Ronaldo?

 

Kisah Perjalanan Politik Bung Hatta

Religius, gemar bermain bola, modern, lalu bagaimana kesadaran politiknya sebagai anak bangsa itu tumbuh?

Ternyata kesadaran politik Bung Hatta sudah tumbuh sejak ia masih menjadi pelajar. Selain aktif sekolah di Europeesche Lagere School (ELS) dan belajar agama di Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) dengan dibimbing oleh Haji Abdullah Ahmad, Bung Hatta juga sering mengikuti ceramah dan pertemuan-pertemuan politik yang diadakan oleh tokoh politik lokal di Padang.

Baca Juga: Siapa Saja Tokoh Kemerdekaan dan Revolusi Indonesia?

Sejak menjadi pelajar di ELS itu, Bung Hatta sudah sering bersentuhan dengan bentuk-bentuk ketidakadilan yang dilakukan oleh bangsa kolonial Belanda. Kesadaran politiknya terus berkembang hingga ia tumbuh menjadi remaja yang tajam pemikirannya.

Kedalaman pemikiran Bung Hatta tumbuh sejak ia menjadi pembaca yang baik. Ya, Hatta sangat senang membaca buku. Sejak remaja, entah sudah berapa banyak gagasan para tokoh ia baca. Ia selalu membaca, dan terus membaca buku. Ia berusaha menemukan format apa yang ideal diterapkan pada bangsanya. Sebuah tatanan negara dengan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur.

Bung Hatta tidak menyimpan sendiri pengetahuannya di dalam kepala. Ia pun menulis gagasan-gagasannya. Tulisan pertama yang menunjukkan ketertarikannya pada sastra dan keluasan pengetahuannya, tertuang dalam sebuah cerpen yang ia buat pada umur 18 tahun.

cerita bung hatta

Bung Hatta sedang menulis dengan mesin ketik. (Sumber: Republika.co.id)

 

Cerpen itu berjudul “Namaku Hindania!” dan terbit di majalah Jong Sumatra. Sebuah cerita pendek dengan bumbu cinta yang ia tulis sebagai bentuk personifikasi bangsa Indonesia.

Cerita itu ia tulis sebelum dirinya berangkat ke Belanda untuk melanjutkan kuliah. Berkat perjuangannya, ia mendapatkan beasiswa dari Yayasan van Deventer, dan resmi menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Bisnis Rotterdam pada tahun 1921, saat usianya 19 tahun. Ya, selain cerdas dan pengetahuannya yang luas, Bung Hatta juga fasih berbicara bahasa Belanda, bahkan Inggris, Perancis, juga Jerman.

Kemampuannya dalam menggunakan banyak bahasa asing, membuat gaung tulisan-tulisannya tentang gagasan kemerdekaan Indonesia, semakin luas ke berbagai negara.

Kedatangannya ke Negeri Belanda untuk kuliah, tidak membuat Bung Hatta menjadi cendekiawan di menara gading. Sebuah menara tinggi yang nyaman dan keindahannya menutupi kejadian realitas. Bung Hatta bukanlah orang semacam itu.

Ia justru semakin lihai dalam menulis, dan bacaannya pun semakin banyak. Pemikirannya tentang kemerdekaan Indonesia, membuatnya terus bergerak. Ia bahkan mengubah wajah perhimpunan mahasiswa Hindia yang bernama Indische Vereeniging, yang semula hanya bersifat sosial, menjadi sebuah gerakan politik perlawanan.

cerita bung hatta

Bung Hatta (berdiri kedua dari kiri) foto bersama rekan-rekannya di Belanda. (Sumber: liputan6.com)

 

Melalui perhimpunan mahasiswa itu, Bung Hatta dan teman-temannya menerbitkan sebuah majalah bernama Indonesia Merdeka. Sebuah nama yang cukup provokatif, karena sebelumnya, majalah itu bernama Hindia Poetra. Pada edisi perdana, Bung Hatta membuat dua tulisan dalam bahasa Belanda.

Tulisan-tulisan Bung Hatta yang bermuatan kritik tajam terhadap pemerintah Belanda, semakin sering terbit. Merasa terusik, pada tahun 1927 pemerintah Belanda pun menahan Bapak Proklamator kita tersebut.

Bukan Bung Hatta namanya kalau hanya ditahan membuat semangatnya runtuh. Berada di dalam ruang tahanan yang sempit, ia tetap menulis. Kali ini bukan artikel, melainkan sebuah pidato berjudul “Indonesia Merdeka.”

Pidato itupun ia bacakan di hadapan pengadilan. Selama kurang lebih tiga setengah jam, ia bacakan isi pidatonya yang begitu tajam menusuk kekuasaan bangsa kolonial.

Bung Hatta memanglah seorang pejuang kemerdekaan yang memilih jalur tanpa kekerasan, seperti apa yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi. Tajamnya tulisan Bung Hatta, dan kekuatan analisisnya, dianggap lebih jitu dibandingkan tembakan senjata api manapun. Hal itu pun meruntuhkan mitos di kalangan tentara, jika militerlah yang paling berjasa memerdekakan Indonesia melalui perjuangan senjata.

Baca Juga: Tan Malaka: Bapak Republik yang Jejaknya Sempat Dihapus

Setelah menyelesaikan masa studinya di Perguruan Tinggi Belanda, Bung Hatta pun bertemu Sutan Sjahrir di Indonesia. Bersama Sjahrir, Bung Hatta mendirikan sebuah partai politik, dengan fokus pada aspek pendidikan politik serta pemberdayaan rakyat terjajah. Partainya bernama Pendidikan Nasional Indonesia.

Lagi-lagi, usaha Bung Hatta melakukan perlawanan melalui tulisan yang terbit dalam majalah Daulat Ra’jat (buatan partainya), pun dihentikan oleh pemerintah kolonial. Ia diasingkan ke sebuah wilayah pembuangan bernama Boven Digul, yang terletak di Irian, bagian paling timur Indonesia.

tempat pengasingan moh hatta - penjara boven digul

Penjara Boven Digul, tempat pengasingan Bung Hatta. (Sumber: Liputan6.com)

 

Bung Hatta membawa 16 buah peti ke tempat pengasingannya itu. Tahukah kamu, barang apa yang dibawa oleh Bung Hatta ke pengasingannya itu? Bukan pakaian, melainkan amunisi yang akan membuat senjatanya tetap ampuh, tajam, dan mematikan.

Ya, Bung Hatta membawa 16 peti yang seluruhnya berisi buku. Ia terus membaca selama di dalam pengasingan. Dan sudah barang tentu, ia tetap menuliskan pemikirannya. Tulisan-tulisan itu dibuat untuk terbit dalam koran-koran di Batavia juga Den Haag Belanda.

Suara-suara gagasannya tentang kemerdekaan Indonesia begitu tajam tertulis dalam tinta pena. Membangkitkan semangat anak-anak muda bangsa untuk melakukan perlawanan dan memperjuangkan kemerdekaan.

Berjuang tanpa kekerasan, terus membaca dan menulis gagasan, Bung Hatta bukanlah seorang yang bisa dihentikan. Baik di lapangan sepakbola, ataupun perlawanan terhadap berbagai bentuk jajahan. Ia tetaplah sosok Bapak Pendiri bangsa yang gigih, kuat, dan sangat cerdas.

Biografi Moh Hatta

 

Peran Bung Hatta dalam Kemerdekaan Indonesia

Hingga teks proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh Bung Karno, Bung Hatta tetap dan selalu menjadi bagian terpenting di dalam perumusan berdirinya bangsa Indonesia.

Baca Juga: Ide dan Pemikiran-Pemikiran Proklamasi Kemerdekaan 1945

Kepeduliannya terhadap kedaulatan rakyat, serta kesejahteraan ekonomi mereka, Ia tuangkan ke dalam pasal-pasal penting konstitusi negara, seperti “penguasaan negara atas sumber daya alam” dan juga “hak berkumpul dan berserikat.”

Banyak dari kita, termasuk saya, yang tidak banyak tahu bahwa Bung Hatta adalah pendiri bangsa yang merelakan waktu hidupnya hanya untuk memikirkan kemerdekaan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Keluasan pemikirannya, dipersempit oleh pemerintahan Orde Baru, hingga kita hanya mengenalnya sebatas “Bapak Koperasi Indonesia.”

Menurut yang saya baca di dalam seri buku saku Tempo yang membahas Mohammad Hatta, keluasan pikirannya itu banyak tertuang dalam sebuah buku berjudul “Demokrasi Kita”, yang pernah ia tulis pada tahun 1960. Namun, justru menjadi bacaan yang dilarang kala itu.

Ada sebuah kutipan yang tertuang dalam tulisan Bung Hatta yang terbit pada tahun 1962. Coba deh baca dengan seksama.

“Di mana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot.”

“Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban, sehingga memicu pergolakan daerah. Tentara merasa tak puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”

Jika memang perkataannya relevan dengan saat ini, jangan menilai Bung Hatta sebagai peramal. Tapi lihatlah bagaimana ia membuat pengetahuannya menjadi sangat luas.

 

Kisah Pernikahan Bung Hatta

Ohya, Bung Hatta juga pernah berjanji lho kalau ia tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka. Hebatnya, janji itu ia tepati. Ia melamar seorang perempuan bernama Rahmi Rahim, tiga bulan setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Pernikahan Bung Hatta

 

Tahukah emas kawin apa yang ia hadiahi kepada calon istrinya itu? Bung Hatta memang selalu membuat semua orang takjub, ia menghadiahi Rahmi dengan sebuah buku tulisannya sendiri yang berjudul “Alam Pikiran Yunani”.

 

Warisan Bung Hatta

Belum sampai di situ saja Bung Hatta membuat saya takjub. Bahkan ketika ia wafat pada tahun 1980, ternyata ia meninggalkan warisan yang sangat mahal, yaitu perpustakaan pribadi berisi 30 ribu judul buku di dalamnya.

Bung Hatta dan buku

Bung Hatta dan buku-bukunya. (Sumber: Jurnaba.co)

 

Bung Hatta, memang sosok pemimpin bangsa yang begitu langka, dengan integritas dan kesederhanaan, dan kemampuannya dalam menulis.

Baca Juga: Mengenal Tokoh-Tokoh Nasional dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Nah, siapa di antara kamu yang setelah membaca ini langsung terkagum-kagum dengan sosok Bung Hatta? Kamu juga bisa menjadi sepertinya, banyaklah belajar. Terlebih lagi, saat ini perkembangan teknologi membuatmu begitu mudah belajar di manapun dan kapanpun.

Salah satu alternatif belajar terlengkap dan efektif adalah ruangbelajar di aplikasi Ruangguru. Kamu bisa mendapatkan materi belajar yang sangat lengkap, mulai dari topik pelajaran akademik, sampai non akademik yang membantu memperkaya pengetahuan umum kamu.

IDN CTA Blog ruangbelajar for desktop Ruangguru

Fahri Abdillah