Mengenal Tokoh-Tokoh Nasional dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia | Sejarah Kelas 11

tokoh-tokoh dalam proklamasi kemerdekaan RI

Artikel Sejarah Indonesia kelas 11 kali ini membahas mengenai tokoh-tokoh nasional dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Siapa saja mereka?

--

Tidak terasa ya, sebentar lagi kita akan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-76 Republik Indonesia. Biasanya sih menjelang HUT kemerdekaan, pernak-pernik perlombaan serta bendera dan umbul-umbul sudah mulai dipersiapkan, ya. Baik di sekolah atau pun di lingkungan tempat tinggalmu. Kamu tahu nggak, kenapa setiap HUT kemerdekaan RI selalu disemarakkan dengan perlombaan?

Iya, betul sekali. Selain sebagai perayaan tiap tahunnya, perlombaan dalam rangka menyambut kemerdekaan Republik Indonesia dapat menanamkan nilai semangat juang para pahlawan yang berjuang melawan penjajah pada saat itu. Dalam artikel ini kita nggak bahas macam-macam perlombaan dalam 17-an, ya. Kita akan bahas tokoh-tokoh nasional yang ada dibalik proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ada siapa saja ya?

 

Soekarno

Siapa sih yang nggak kenal dengan beliau? Presiden pertama Republik Indonesia. Beliau lahir di Surabaya, 6 Juni 1901. Soekarno yang lebih akrab disapa Bung Karno ini perannya banyak sekali, lho! Terlebih dalam bidang politik sejak masa pergerakan nasional hingga masa Orde Lama.

Kamu tahu nggak kalau Soekarno itu pernah diasingkan sementara? Soekarno itu pernah didesak oleh golongan muda agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Saat itu, dua kota di Jepang, yaitu Hiroshima dan Nagasaki baru saja dibom oleh Sekutu (Amerika Serikat). Oleh karena itu, menurut pengamatan golongan muda, ini merupakan saat yang tepat untuk memproklamirkan kemerdekaan. Para golongan muda akhirnya memindahkan sementara Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945.

soekarno

Keesokan harinya, tepat pada 17 Agustus 1945 pukul 10:00 WIB, walau dalam keadaan sakit, Soekarno dengan suara lantang membacakan teks proklamasi yang merupakan tanda Indonesia telah merdeka. 

Soekarno wafat pada 21 Juni 1970. Beliau dikukuhkan sebagai Pahlawan Proklamator berdasarkan Keputusan Presiden No. 081/TK/1986 tanggal 23 Oktober 1986. Di tahun 2012, Soekarno juga dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 83/2012.

 

Moh. Hatta

Kamu pernah atau suka nonton Captain Tsubasa? Siapa pasangan emas dari Tsubasa? Yap, Misaki. Kalau Tsubasa punya Misaki, maka Soekarno punya Moh. Hatta sebagai pasangan emas dalam membangun negara. Nama lengkap Moh. Hatta ialah Mohammad Hatta yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 12 Agustus 1902. Sama seperti Soekarno, Moh. Hatta juga “diamankan” ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 untuk merumuskan proklamasi.

Pada 17 Agustus, tepat sebelum membacakan teks proklamasi, Moh. Hatta datang menghampiri Soekarno yang sedang demam kala itu. Ia datang memberikan dukungan kepada Soekarno supaya bisa bersama-sama segera memproklamasikan kemerdekaan. Selain dikenal sebagai proklamator, beliau dikenal sebagai seorang yang setia dan rela berkorban. Ada fun fact nih, bahwa Moh. Hatta pernah bersumpah nggak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.

Baca juga: Detik-Detik Menuju Proklamasi Kemerdekaan RI

Moh. Hatta

Moh. Hatta wafat pada 14 Maret 1980. Sesuai dengan amanahnya, beliau ingin dimakamkan di tengah-tengah rakyat. Maka dari itu, jenazahnya nggak dimakamkan di taman makam pahlawan, melainkan di pemakaman umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi Moh. Hatta gelar Pahlawan Proklamator berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.081/TK/1986, tanggal 23 Oktober 1986 dan juga dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 84/2012.

 

Sutan Sjahrir

Salah satu golongan muda yang merencanakan pengasingan sementara Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok ya Sutan Sjahrir. Beliau yang lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909 ini memiliki intelektual tinggi dalam pergerakan nasional. Sjahrir yang menjabat sebagai pemimpin gerakan bawah tanah, mendapatkan kabar dari radio luar negeri bahwa Jepang sudah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.

Langsung setelah mendengar berita itu, Sjahrir buru-buru kasih tau nih berita tersebut ke Moh. Hatta. Tapi, apa respon Moh. Hatta? Kurang mempercayai berita tersebut karena harus menunggu kepastian tentang kekalahan Jepang. Maklum saja, Moh. Hatta saat itu baru tiba dari Dalat, Vietnam, dan Sjahrir langsung memberitahu.

Nah, Sjahrir kecewa tuh dan akhirnya mengoordinasikan para pemuda untuk mengamankan Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok. Kenapa sih yang dipilih Rengasdengklok? Menurut Sjahrir dan golongan muda, Rengasdengklok di daerah Karawang itu merupakan tempat yang aman dari pengaruh Jepang supaya Soekarno dan Moh. Hatta bisa fokus menyusun proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

sjahrir

Sutan Sjahrir wafat pada 9 April 1966 di Zurich, Swiss karena penyakit darah tinggi. Pemerintah Indonesia kemudian menganugerahi gelar Pahlawan Nasional untuk menghargai jasa-jasanya melalui S.K. Presiden No.76 tahun 1966 pada tanggal 9 April 1966.

 

Achmad Soebardjo

Diplomat yang lahir pada 23 Maret 1896 di Teluk Jambe, Karawang, merupakan penengah dari perbedaan pandangan golongan tua dan golongan muda tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Golongan muda itu kan ingin Soekarno dan Moh. Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, sedangkan golongan tua itu maunya sabar dulu nih, nunggu konfirmasi kalau Jepang sudah benar-benar kalah atau belum. Achmad Soebardjo yang tahu dari Wikana bahwa Soekarno dan Moh. Hatta sedang berunding di Rengasdengklok dengan para pemuda, langsung menemui dan ingin membawa Soekarno dan Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Achmad Soebardjo di depan para pemuda mengatakan,

achmad soebardjo

Coba, kalau kamu mendengar ucapan dari Achmad Soebardjo seperti itu, gimana perasaan kamu? Golongan muda yang tadinya nggak yakin bahwa golongan tua akan melaksanakan proklamasi sesuai dengan desakan para pemuda, dengan ucapan dari Achmad Soebardjo tersebut langsung yakin bahwa pada 17 Agustus 1945 akan dilaksanakan Proklamasi.

Achmad Soebardjo wafat di Jakarta pada 15 Desember 1978. Atas jasa-jasanya pada Indonesia, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor : 058/TK/Tahun 2009 tanggal 6 November 2009.

Baca juga: Ide dan Pemikiran-Pemikiran Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 

Nah, itu tadi penjelasan tentang tokoh-tokoh nasional dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ada 4 tokoh nasional yang berperan cukup penting, yakni Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Achmad Soebardjo. Mari kita doakan agar para pahlawan yang telah gugur mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. 

Kalau kamu ingin tahu lebih dalam tentang peran dari keempat tokoh tersebut, yuk tonton videonya di ruangbelajar. Penjelasan dari Master Teacher dengan animasi-animasi keren bakalan lebih seru lho dan pastinya bikin kamu makin paham. Daftar sekarang ya!

New call-to-action

Referensi:

AM, Sardiman. (2017) Sejarah Indonesia Kelas XI Semester 2. Jakarta: Kemendikbud RI.

Sumber gambar:

Foto 'Soekarno' [Daring]. Tautan: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Presiden_Sukarno.jpg (Diakses pada 16 Agustus 2021).

Foto 'Soekarno Muda' [Daring]. Tautan: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sukarno_HBS.jpg (Diakses pada 16 Agustus 2021).

Foto 'Achmad Soebardjo' [Daring]. Tautan: http://ikpni.or.id/pahlawan/achmad-soebardjo/ (Diakses pada 16 Agustus 2021).

Foto 'Sutan Sjahrir' [Daring]. Tautan: http://ikpni.or.id/pahlawan/achmad-soebardjo/ (Diakses pada 16 Agustus 2021).

Foto 'Moh. Hatta' [Daring]. Tautan: https://fotokita.grid.id/read/111821345/layak-jadi-pahlawan-anti-korupsi-bung-hatta-tak-pernah-miliki-sepatu-mewah-yang-diidamkannya?page=all (Diakses pada 16 Agustus 2021).

Foto 'Moh. Hatta dan Rahmi' [Daring]. Tautan: https://www.idntimes.com/life/relationship/vita/kisah-cinta-romantis-bung-hatta-tak-menikah-sebelum-indonesia-merdeka/7 (Diakses pada 16 Agustus 2021).

 

Artikel terakhir diperbarui pada 16 Agustus 2021.

Profile

Tedy Rizkha Heryansyah

Beri Komentar