Pengertian Keseimbangan Ekosistem, Ancaman & Pelestariannya | Biologi Kelas 7

keseimbangan ekosistem

Artikel Biologi kelas 7 ini akan membahas mengenai keseimbangan ekosistem, ancaman, dan cara untuk melestarikan keseimbangan ekosistem tersebut. Yuk, pelajari bersama!

 

Pernah nggak, sih, kamu berpikir tentang bagaimana cara menjaga lingkungan di sekitarmu? Menjaga lingkungan itu penting banget, lho. Soalnya, Bumi yang kita tempati ini hanya satu dan saat ini sudah semakin rawan mengalami kerusakan akibat berbagai aktivitas manusia. Karena itu, kita semua punya tanggung jawab untuk ikut menjaga dan melestarikannya.

Salah satu cara menjaga lingkungan adalah dengan mempertahankan keseimbangan ekosistem. Ekosistem yang seimbang akan membuat semua makhluk hidup di dalamnya dapat hidup dengan baik dan saling mendukung satu sama lain. Jika keseimbangan ini terganggu, maka kehidupan di dalamnya juga bisa ikut terganggu.

Lalu, seperti apa sebenarnya ekosistem yang dapat dikatakan seimbang? Yuk, kita cari tau di artikel ini!

Baca Juga: Pengertian Ekosistem, Komponen Penyusun, Jenis & Contoh

 

Mengenal Apa itu Ekosistem?

Coba deh kalau lagi bermain di luar rumah, kamu perhatikan lingkungan di sekitarmu? Misalnya, taman di dekat rumah, pepohonan, sungai, atau sawah. Di tempat-tempat itu, ada manusia, tumbuhan, hewan, air, tanah, dan udara yang saling berhubungan. Nah, kumpulan dari semua itu disebut dengan ekosistem.

Secara sederhana, ekosistem adalah tempat terjadinya hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan sekitarnya. Di dalam ekosistem, semua makhluk hidup tidak bisa hidup sendiri. Mereka saling membutuhkan satu sama lain untuk bertahan hidup. Nah, ekosistem juga terdiri dari dua komponen utama, yaitu komponen biotik dan komponen abiotik.

 

a. Komponen Biotik

Komponen biotik adalah semua makhluk hidup yang ada di dalam ekosistem. Contohnya tumbuhan, hewan, manusia, bakteri, dan jamur. Tumbuhan berperan sebagai penghasil makanan. Hewan dan manusia memanfaatkan makanan tersebut untuk mendapatkan energi. Sementara itu, bakteri dan jamur membantu menguraikan sisa-sisa makhluk hidup agar tidak menumpuk dan bisa dimanfaatkan kembali oleh lingkungan.

contoh komponen biotik

 

b. Komponen Abiotik

Selain makhluk hidup, ada juga komponen abiotik, yaitu semua makhluk tak hidup yang mendukung kehidupan di dalam ekosistem. Contohnya air, tanah, udara, cahaya matahari, suhu, dan batuan. Walaupun tidak hidup, komponen abiotik ini tetap penting. Tanpa air, makhluk hidup akan kekurangan minum. Tanpa cahaya matahari, tumbuhan tidak bisa membuat makanan. Tanpa tanah yang subur, tanaman sulit tumbuh dengan baik.

contoh komponen abiotik

 

Komponen biotik dan abiotik juga saling bekerja sama dalam menjaga kehidupan. Jika salah satu komponen terganggu, maka keseimbangan ekosistem juga bisa ikut terganggu. Oleh karena itu, menjaga lingkungan berarti juga menjaga hubungan antara semua komponen dalam ekosistem.

Baca Juga: Apa Saja Jenis-Jenis Interaksi dalam Ekosistem?

 

Bagaimana Keseimbangan Ekosistem bisa Tercipta?

Ekosistem bisa dikatakan seimbang kalau semua bagian di dalamnya bekerja sama dengan baik. Keseimbangan ekosistem juga berarti adanya hubungan yang baik antara produsen, konsumen, dan pengurai. Tumbuhan sebagai produsen akan menghasilkan makanan, hewan sebagai konsumen dapat memanfaatkannya, dan pengurai membersihkan sisa-sisa makhluk hidup. Ketiganya bekerja sama agar lingkungan tetap bersih dan subur.

Sekarang, coba bayangkan padang rumput yang dipenuhi rumput hijau dan beberapa ekor kijang. Rumput berfungsi sebagai makanan utama bagi kijang. Kalau rumput tumbuh dengan subur dan jumlahnya cukup, kijang tidak akan kesulitan mencari makan.

Dengan makanan yang cukup, kijang bisa tumbuh sehat, kuat, dan bisa berkembang biak. Jumlah kijang pun tetap stabil. Kijang yang sehat juga bisa menjadi makanan bagi hewan pemangsa. Dengan begitu, rantai makanan tetap berjalan dengan baik.

Tapi, gimana kalau rumputnya berkurang karena kekeringan atau rusak akibat ulah manusia? Kijang akan kesulitan mencari makan. Lama-kelamaan, tubuhnya menjadi lemah dan jumlahnya bisa berkurang. Kalau kijang berkurang, hewan pemangsa juga akan kekurangan makanan. Akhirnya, keseimbangan ekosistem pun terganggu.

Dari contoh ini, kita bisa melihat bahwa keseimbangan ekosistem sangat penting bagi kehidupan semua makhluk hidup. Kalau satu bagian saja rusak, bagian lainnya juga bisa ikut terdampak. Maka dari itu, menjaga keseimbangan ekosistem berarti menjaga kehidupan kita sendiri juga.

 

Ciri-Ciri Keseimbangan Ekosistem

Lalu, bagaimana cara kita mengetahui bahwa suatu ekosistem berada dalam keadaan seimbang? Ada beberapa ciri yang bisa kita perhatikan, yakni:

  1. Jumlah makhluk hidup di dalamnya relatif stabil. Artinya, tidak terjadi ledakan jumlah hewan tertentu, dan tidak juga terjadi kepunahan secara tiba-tiba. Semua makhluk hidup hidup dalam jumlah yang wajar.
  2. Rantai dan jaring-jaring makanan berjalan dengan baik. Setiap makhluk hidup mendapatkan makanan sesuai kebutuhannya. Tidak ada yang kekurangan makanan, dan tidak ada pula yang berlebihan.
  3. Lingkungan terlihat bersih dan terjaga. Air tidak tercemar, udara segar, dan tanah tetap subur. Kondisi lingkungan yang baik akan membuat makhluk hidup merasa nyaman untuk tinggal di sana.
  4. Jarang terjadi wabah penyakit atau kematian massal. Dalam ekosistem yang seimbang, makhluk hidup cenderung lebih sehat karena lingkungan mendukung kehidupan mereka.
  5. Tumbuhan dapat tumbuh dengan subur dan hewan dapat berkembang biak dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan mendukung proses kehidupan secara alami.

 

Berbagai Ancaman terhadap Keseimbangan Ekosistem

Ada banyak hal yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, baik yang berasal dari aktivitas manusia maupun faktor alam. Kita bakal bedah satu per satu ya.

Baca Juga: Keanekaragaman Makhluk Hidup: Manfaat & Upaya Pelestariannya

 

a. Aktivitas Manusia

Manusia memiliki peran besar dalam menjaga ekosistem. Sayangnya, masih banyak kegiatan manusia yang dapat merugikan lingkungan. Salah satu contohnya adalah penebangan liar. Penebangan liar adalah kegiatan menebang pohon secara sembarangan tanpa izin dan tanpa memikirkan dampaknya. Akibatnya, hutan menjadi gundul, hewan kehilangan tempat tinggal, dan risiko banjir serta longsor semakin besar.

banjir sumatera

Banjir di Sumatra yang dipenuhi oleh kayu-kayu gelondongan. (Sumber: ylbhi.or.id)

 

Selain itu, ada juga pencemaran lingkungan. Pencemaran terjadi ketika air, udara, atau tanah tercemar oleh limbah pabrik, asap kendaraan, atau sampah. Air sungai yang tercemar bisa membahayakan ikan dan makhluk hidup lainnya. Udara yang kotor juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi manusia. Sampah plastik juga menjadi masalah besar bagi lingkungan. Plastik sulit terurai dan bisa bertahan di alam selama puluhan bahkan ratusan tahun. Banyak hewan laut yang mati karena memakan plastik yang mereka kira makanan. Selain itu, sampah plastik juga mencemari tanah dan air.

Ancaman berikutnya perburuan liar, terutama hewan yang sudah langka. Beberapa hewan diburu untuk diambil daging, kulit, atau bagian tubuhnya. Jika perburuan dilakukan secara berlebihan, jumlah hewan akan semakin berkurang dan bahkan bisa punah. Hal ini tentu dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan. Contoh kasus kelangkaan hewan yang disebabkan oleh tingkat reproduksi yang rendah adalah, badak bercula satu. Ia hanya mampu melahirkan 1 anak dalam kurun waktu 5 tahun. Lama banget kan, ya? Oleh karena itu, jumlah mereka juga tidak banyak, sehingga rentan menghadapi kelangkaan.

Ancaman lainnya alih fungsi lahan, yaitu perubahan hutan, sawah, atau daerah hijau menjadi perumahan, pabrik, atau pusat perbelanjaan. Jika dilakukan secara berlebihan, alih fungsi lahan dapat mengurangi daerah resapan air, merusak habitat hewan, dan menyebabkan banjir.

 

b. Faktor Alam

Selain aktivitas manusia, keseimbangan ekosistem juga bisa terganggu oleh faktor alam. Faktor alam adalah peristiwa yang terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia.

Salah satu faktor alam yang sering terjadi adalah bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan badai. Bencana ini dapat merusak lingkungan dalam waktu singkat dan menghancurkan habitat makhluk hidup.

Letusan gunung berapi juga dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem. Letusan dapat menutupi daerah sekitar dengan abu vulkanik dan lava, sehingga tumbuhan dan hewan di sekitarnya bisa mati. Meskipun dalam jangka panjang, tanah bekas letusan bisa menjadi subur kembali.

Selain itu, banjir dan kekeringan juga dapat mengganggu kehidupan makhluk hidup. Banjir dapat merusak tanaman dan tempat tinggal hewan. Sebaliknya, kekeringan membuat air sulit ditemukan, sehingga tumbuhan layu dan hewan kekurangan minum.

Perubahan iklim juga menjadi ancaman besar bagi ekosistem. Suhu bumi yang semakin meningkat dapat menyebabkan es di kutub mencair, cuaca menjadi tidak menentu, dan musim berubah. Akibatnya, banyak tumbuhan dan hewan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Sebelum kita bahas tentang upaya menjaga keseimbangan ekosistem, kalo masih ada poin-poin yang belum kamu mengerti, mending belajar sama ahlinya, deh. Belajar bareng kakak-kakak pengajar di Ruangguru Privat Biologi misalnya.

Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (offline) atau daring (online). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!

CTA Ruangguru Privat

 

Upaya Menjaga Keseimbangan Ekosistem

Lalu setelah mengenal macam-macam ancaman keseimbangan ekosistem, bagaimana cara menjaganya? Ternyata nggak susah, lho! Menjaga keseimbangan ekosistem pada dasarnya memang merupakan tanggung jawab kita semua, baik pemerintah, masyarakat, maupun kamu yang masih pelajar juga bisa melakukan cara yang sederhana. Jika setiap orang mau ikut berperan, pasti lingkungan akan tetap terjaga dan nyaman untuk ditinggali.

Baca Juga: Klasifikasi Makhluk Hidup, Kunci Determinasi & Binomial Nomenklatur

 

a. Peran Pemerintah

Pemerintah memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Beberapa cara yang dilakukan adalah dengan membuat kawasan khusus, seperti cagar alam, suaka margasatwa, dan taman nasional. Kawasan-kawasan ini dilindungi agar makhluk hidup di dalamnya dapat hidup dengan aman tanpa gangguan manusia.

Di tempat-tempat tersebut, kegiatan seperti perburuan liar dan penebangan pohon dilarang. Tujuannya supaya hewan dan tumbuhan tetap bisa hidup di tempat asalnya, mencari makan sendiri, dan berkembang biak secara alami. Cara pelestarian seperti ini disebut pelestarian in situ, yaitu pelestarian yang dilakukan langsung di habitat asli makhluk hidup.

Contoh pelestarian in situ di Indonesia, antara lain Taman Nasional Ujung Kulon sebagai tempat perlindungan badak bercula satu dan Taman Nasional Komodo sebagai habitat asli komodo.

Selain pelestarian di habitat asli, pemerintah juga melakukan pelestarian di luar habitat asal makhluk hidup. Cara ini disebut pelestarian ex situ. Pelestarian ex situ dilakukan dengan memindahkan hewan atau tumbuhan ke tempat khusus yang aman dan terawat.

Pelestarian ex situ dapat dilakukan di kebun binatang, kebun raya, tempat penangkaran, atau pusat konservasi. Di tempat-tempat tersebut, hewan dan tumbuhan dirawat dengan baik, diberi makanan yang cukup, dan dibantu untuk berkembang biak. Jika jumlahnya sudah bertambah dan kondisinya sudah kuat, sebagian dari mereka dapat dikembalikan ke alam.

Keseimbangan Ekosistem

 

Selain itu, pemerintah juga membuat undang-undang lingkungan. Undang-undang ini bertujuan untuk mengatur kegiatan manusia agar tidak merusak alam. Misalnya, aturan tentang pembuangan limbah, larangan perburuan liar, dan sanksi bagi perusak lingkungan. Dengan adanya aturan yang tegas, diharapkan masyarakat lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Pemerintah juga melakukan reboisasi, yaitu kegiatan menanam kembali pohon di hutan yang gundul. Reboisasi bertujuan untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai tempat hidup hewan, penyerap air, dan penghasil oksigen. Dengan adanya reboisasi, risiko banjir dan longsor juga dapat berkurang.

 

b. Peran Masyarakat

Selain pemerintah, masyarakat juga memiliki peran besar dalam menjaga lingkungan. Salah satu cara paling sederhana adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan. Sampah yang dibuang sembarangan dapat menyumbat saluran air, mencemari sungai, dan merusak pemandangan.

Masyarakat juga dapat ikut menjaga kelestarian alam dengan menanam pohon di sekitar rumah atau lingkungan tempat tinggal. Pohon dapat membuat udara lebih sejuk, menghasilkan oksigen, dan mencegah banjir. Selain itu, menanam pohon juga dapat membuat lingkungan terlihat lebih indah.

Cara lain yang bisa dilakukan masyarakat adalah dengan menghemat energi. Misalnya, mematikan lampu saat tidak digunakan, menghemat air, dan menggunakan alat listrik seperlunya. Dengan menghemat energi, kita dapat mengurangi pencemaran dan menjaga sumber daya alam agar tidak cepat habis.

Baca Juga: 10 Dampak Pemanasan Global bagi Makhluk Hidup & Lingkungan

 

c. Peran Pelajar

Sebagai pelajar, kita juga bisa ikut berperan dalam melestarikan ekosistem lho, meskipun dengan cara-cara yang sederhana. Salah satunya adalah dengan membawa botol minum atau kotak makan sendiri dari rumah. Dengan begitu, kita dapat mengurangi penggunaan wadah plastik sekali pakai yang dapat mencemari lingkungan.

Pelajar juga perlu menjaga kebersihan sekolah. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya, ikut piket kelas, dan tidak mencoret-coret fasilitas sekolah. Lingkungan sekolah yang bersih dan rapi akan membuat kegiatan belajar menjadi lebih nyaman.

Selain itu, pelajar dapat ikut dalam kegiatan lingkungan, seperti kerja bakti, penanaman pohon, lomba kebersihan, atau ekstrakurikuler pecinta alam. Melalui kegiatan tersebut, pelajar dapat belajar mencintai alam sekaligus berlatih bekerja sama dengan teman-teman.

Agar upaya pelestarian hewan dan tumbuhan berjalan dengan baik, diperlukan sosialisasi yang tepat kepada masyarakat. Nah, sosialisasi ini harus dilakukan oleh pemerintah yang berwenang dan harus dilakukan secara masif serta berkelanjutan. Selain itu, masyarakat juga perlu mengetahui aturan, denda, dan hukuman bagi pelaku perusakan alam dan perburuan liar. Dengan begitu, orang-orang tidak hanya sekadar tahu, tetapi juga lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Setelah mempelajari tentang keseimbangan ekosistem, ancaman, dan cara pelestariannya, semoga kamu semakin semangat untuk menjaga lingkungan, ya. Jangan lupa juga untuk terus belajar dan menambah pengetahuan supaya makin paham tentang alam dan kehidupan di sekitar kita. Supaya belajar makin seru, yuk, coba belajar pakai ruangbelajar!

CTA Ruangguru

Referensi:

Purjiyanta, Eka, Triyono, Agus, Dkk. IPA Terpadu untuk SMP/MTs Kelas VII Edisi Revisi. Erlangga: Jakarta.

 

Artikel ini telah disunting oleh Hani Ammariah.

Embun Bening Diniari