Mencegah Anak Stress dengan Self Talk

Ringgana Wandy Wiguna Nov 29, 2020 • 5 min read



header-Nov-29-2020-06-03-32-77-AM

Artikel ini membahas tentang bagaimana menanggulangi stres pada anak dengan cara self talk dan berbagai permasalahan yang mungcul pada anak saat pandemi COVID-19.

--

Hello parents, tidak terasa pandemi ini hampir menginjak 1 tahun. Perkembangan jumlah penderita COVID-19 makin hari belum menunjukkan grafik yang belum menerangkan hati. Jumlah penderita COVID-19 makin hari semakin bertambah jumlahnya.

Coronavirus diketahui berasal dari Kota Wuhan Tiongkok yang menyebar dan diketahui oleh masyarakat dunia pada bulan Desember 2019. Penyebaran covid19 tersebut dibuktikan saat seseorang yang terkena virus Corona dari hewan yang diperdagangkan di salah satu pasar seafood Kota Wuhan, diduga 66% pengunjung dan pedagang yang ada di pasar tersebut terjangkit virus Corona (kompas.com).

Virus ini mengganggu stabilitas dari setiap sistem yang ada, seperti pada bidang kesehatan, politik, sosial, pendidikan, bahkan pada institusi terkecil yakni keluarga.

Tak jarang keluarga menemui banyak sekali permasalahan akibat culture shock yang disebabkan oleh coronavirus. Pada saat-saat genting seperti ini, kita diharuskan untuk beradaptasi. Banyak pertengkaran yang terjadi di dalam keluarga dikarenakan penerapan pembatasan sosial ini. Permasalahan tersebut bisa berasal dari tidak terkontrolnya emosi, sampai kondisi psikologis lainnya.

Hurlock Elizabeth (2011) mendefinisikan remaja sebagai masa transisi atau peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang pada kegiatannya termasuk di dalam tangan mental, emosional, sosial, dan juga lingkup fisik. Pada saat anak-anak kita masuk kita dalam masa remaja tidak jarang parents semua bingung kan menghadapinya? Sebelum itu mari kita mengenal lebih dalam tentang remaja dan permasalahannya.

Faktor yang mempengaruhi emosi remaja

 

Kondisi psikologis remaja kebanyakan masih rentan dan mudah terganggu oleh berbagai hal. Hal tersebut bisa semakin parah apabila kondisi lingkungan sekitarnya tidak dapat mendukung mereka untuk melakukan aktivitas yang biasanya mereka lakukan titik pada masa sekarang ini kita tidak bisa melakukan banyak kegiatan di luar rumah dikarenakan karantina untuk mencegah penyebaran covid-19.

Saat seperti itu merupakan saat dimana remaja ataupun kita selaku orang dewasa sering menumpuk kan perasaan kita sehingga beban pikiran kita menjadi banyak. Stres merupakan sebuah perasaan yang dialami oleh seorang individu saat mengalami tekanan dan kejadian di kehidupan sosial mereka.

Menurut Sarafino (2008) sumber dari munculnya stres disebut dengan stressor yang menyebabkan penumpukan perasaan dan pikiran yang berlebihan yang menunjukkan stres, hal tersebut tercipta karena penilaian kognitif tidak sesuai dengan munculnya pikiran-pikiran negatif yang yang akan memunculkan pemikiran stres.

Salah satu faktor penyebab anak remaja saat ini ini banyak mengalami stres adalah karena apa yang mereka alami di lingkungan mereka seperti kesulitan belajar di rumah akibat pandemi, kurangnya interaksi dengan teman sebaya, kurangnya melihat dunia luar, dan banyak hal yang sering dilakukan sebelum pademi pada saat ini tidak bisa dilakukan oleh mereka.

Terapi Kognitif dengan menggunakan Self Talk

Salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan stres pada anak usia remaja adalah dengan cara self talk. Cara ini adalah dialog individu terhadap dirinya sendiri dimana hal itu akan menciptakan penafsiran perasaan dan persepsi terhadap apa yang sedang dialami, hal tersebut juga mengatur dan mengubah keyakinan yang nantinya akan memberikan instruksi dan penguatan kepada dirinya sendiri.

Pengertian self talk dan jenisnya

 

Teknik penyelesaian masalah dengan self talk ini adalah salah satu yang bisa kita lakukan di rumah pada masa penemu seperti saat ini. Self Talk ini bukan mencoba untuk memaksakan dan merubah pikiran serta perilaku dari anak kita untuk menjadi sosok individu tertentu, namun membuat diri mereka yang sedang tidak dalam keadaan seimbang itu menjadi lebih tenang.

Mereka tidak bisa menahan diri untuk memikirkan sesuatu yang tidak rasional yang akhirnya akan menyebabkan tingkat stres mereka meningkat. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan mudahnya menangis, lesu, mudah marah, mereka memiliki perilaku yang tidak seperti biasanya, dan lebih sering mengasingkan diri dari perkumpulan.

Kondisi tersebut ketika terus-menerus berlangsung tanpa adanya penyelesaian permasalahan, akan ditakutkan anak remaja yang kita miliki nantinya bisa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Dengan cara melakukan teknik self talk dengan pengungkapan pernyataan-pernyataan positif untuk merubah pemikiran pemikiran yang tidak masuk akal yang dipikirkan oleh remaja.

Tahapan yang Dilakukan pada Teknik Self Talk

Self talk masuk kedalam Emotive Behavior Therapy (REBT) dari Albert Ellis.
 

Dalam proses penerapan teknik self talk ini dibagi beberapa tahap. Tahapan yang pertama adalah tahapan proses memperlihatkan pemikiran-pemikiran yang tidak logis atau irasional sepeda anak. Tahapan ini anak dalam masa remaja dibantu agar bisa memahami mengapa pemikirannya termasuk kepada pemikiran irasional dan mengapa dirinya bisa menjadi rasional. Hal ini dilakukan karena lingkup pertama yang dia temui adalah lingkungan keluarga.

Kedua, anak dibantu agar dirinya merasa yakin bahwa segala bentuk dari pikiran mereka yang memiliki nilai negatif dapat berubah menjadi nilai-nilai yang positif. Pada tahap ini anak akan diajarkan kan agar bisa membedakan pemikirannya. Anak dalam masa remaja akan dibimbing dan diarahkan orang tuanya bahwa pemikiran yang ada pada dirinya yang mengandung unsur negatif bisa berubah menjadi positif. Misalnya ketika anak Anda berkata bahwa "Aku tidak bisa hidup seperti ini" peran orang tua adalah meyakinkan bahwa anak bisa melalui posisi tersebut dengan kata "aku bisa melewatinya".

Baca juga: Pentingnya Peran Orang Tua Menerapkan Pendidikan Kontekstual di Rumah

Tahap ketiga, anak akan dibantu terus-menerus untuk mengembangkan pikiran-pikirannya rasionalnya sehingga pemikiran-pemikiran negatif yang dibangun oleh anak-anak dapat tergantikan dengan pemikiran-pemikiran yang rasional sehingga melatih dirinya untuk semakin berpikir positif dan mengontrol pemikiran-pemikiran dirinya sendiri.

Jadi parents, kita dapat simpulkan bahwa teknik self talk yang diterapkan pada diri remaja akan sangat bermanfaat untuk membangun sikap kognitif pada diri mereka agar mereka dapat menghilangkan pemikiran pemikiran negatif dan irasional sehingga dapat menghadapi berbagai emosi yang buruk dimasa yang akan datang.

Selain menerapkan teknik dan langkah-langkah di atas sehingga anak bisa selalu berpikiran positif dan rasional, Kita juga bisa memfasilitasi mereka untuk menambah pengetahuan dan memberi ruang untuk dapat mengalihkan pikiran-pikiran negatif dengan belajar melalui aplikasi ruangguru. Belajar jadi lebih mudah dan menyenangkan dengan dibimbing oleh Master teacher yang profesional.

New call-to-action

 

Refrensi:

Hurlock, Elizabeth B. (2011). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Prodjo, W.A. 2020. Saat Covid-19, Dukungan Psikososial Anak Penting Diberikan. https://edukasi.kompas.com/read/2020/05/18/192637571/saat-covid-19-dukungan-psikososial-anak-penting￾diberikan?page=all.

Sarafino, E. P. 2008. Health Psychology: Biopsychosocial Interactions Sixth Edition. USA: The College of New Jersey.

Sherien Sekar Dwi Ananda, Nurliana Cipta Apsari. 2020. "MENGATASI STRESS PADA REMAJA SAAT PANDEMI COVID-19 DENGAN TEKNIK SELF TALK." Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7: 248-256.

Beri Komentar