Quo Vadis, Pendidikan Indonesia? Alarm Kritis PISA 2025 dan Taruhan Masa Depan Bangsa

Pasca terbitnya hasil PISA 2025, Indonesia dinyatakan memenuhi standar kualitas PISA. Namun, apakah hal tersebut cukup merepresentasikan wajah pendidikan Indonesia di masa kini?
—
Pada 1983, Amerika Serikat diguncang oleh sebuah laporan berjudul A Nation at Risk. Laporan itu tidak sekadar menyajikan nilai buruk siswa. Ia menyampaikan peringatan yang lebih besar: jika sistem pendidikan tidak segera berbenah, masa depan bangsa akan dipertaruhkan.
Hari ini, Indonesia membutuhkan momen refleksi yang sama.
Bukan karena PISA adalah satu-satunya ukuran kualitas pendidikan. Bukan pula karena peringkat internasional harus dijadikan obsesi. Namun karena PISA 2025 memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada posisi Indonesia di tabel: fondasi kompetensi kita masih terlalu rapuh, sementara jumlah siswa yang mencapai kemampuan tingkat tinggi masih sangat kecil.
Pertanyaannya bukan lagi, “Indonesia berada di peringkat berapa?”
Toh, komposisi peserta PISA berubah dari satu putaran ke putaran berikutnya. PISA 2022 diikuti oleh 81 negara dan ekonomi, sedangkan PISA 2025 diikuti oleh 91. Pada 2025, beberapa peserta baru untuk pertama kalinya mengikuti PISA, antara lain Armenia, Ekuador, Kenya, Rwanda, Zambia, Dushanbe di Tajikistan, dan Kurdistan Region di Irak. Sebaliknya, Jamaica dan Panama yang tercatat sebagai peserta pada 2022 tidak tercantum dalam daftar peserta 2025.
Artinya, perubahan ranking tidak selalu mencerminkan perubahan kemampuan Indonesia. Kita bisa naik atau turun karena komposisi “lomba”-nya berubah.
Yang lebih penting untuk dibaca adalah tren skor Indonesia dari waktu ke waktu, proporsi siswa yang belum mencapai kompetensi dasar, serta jumlah siswa yang mampu mencapai penalaran tingkat tinggi.
Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: berapa banyak anak Indonesia yang benar-benar siap memahami dunia, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan menciptakan sesuatu yang baru?
Baca Juga: Mengenal Deep Learning, Pendekatan Belajar Baru dari Mendikdasmen
Realitas di balik angka
Pada 8 September 2026, OECD (Organisation for Economic Co-Operation and Development — red.) merilis hasil PISA 2025 yang melibatkan 91 negara dan ekonomi. Di Indonesia, sebanyak 14.168 siswa dari 419 sekolah mengikuti asesmen. Data Indonesia dinyatakan memenuhi standar kualitas PISA.
Skor rata-rata Indonesia adalah:
- Sains: 389
- Membaca: 365
- Matematika: 364
- Computational problem solving: 427
Dibandingkan 2022, terdapat perubahan skor sebesar +6 pada sains, +7 pada membaca, dan -2 pada matematika. Namun, OECD menyimpulkan bahwa capaian 2025 secara umum masih berada di sekitar level 2022 dan tetap berada di bawah capaian Indonesia pada 2015.
Di sinilah kita perlu berhenti memperdebatkan naik-turunnya ranking dan mulai membaca bentuk masalahnya.
Menurut tabel OECD, 60,9% siswa Indonesia berada di bawah Level 2 secara bersamaan dalam sains, membaca, dan matematika. Artinya, sekitar enam dari setiap sepuluh siswa belum mencapai ambang minimum kompetensi PISA di ketiga bidang tersebut.
Sebaliknya, hanya 0,1% siswa yang mencapai Level 5 atau 6 dalam setidaknya satu dari tiga bidang tersebut—sekitar satu dari seribu siswa.
Dua angka ini tidak boleh dibaca sebagai label terhadap anak-anak Indonesia. Mereka bukan “anak gagal”. Mereka adalah anak-anak yang belajar dalam sistem yang belum cukup berhasil mengantarkan mereka pada kompetensi dasar maupun kompetensi tingkat tinggi.
Tetapi bentuk distribusinya sangat jelas: basisnya terlalu lebar, puncaknya terlalu sempit.
Indonesia memiliki terlalu banyak siswa yang belum menguasai fondasi dan terlalu sedikit siswa yang didorong sampai mampu bernalar pada tingkat kompleks. Jika pola ini dibiarkan, bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi: jutaan anak muda memasuki usia produktif tanpa bekal kompetensi yang memadai untuk bekerja, beradaptasi, dan berinovasi.
Baca Juga: Dampak-Dampak Bonus Demografi Bagi Indonesia
—
Kamu butuh pendampingan belajar yang lebih personal? Yuk, pilih guru berkualitas, jadwal, dan materi sesuai kebutuhanmu di Ruangguru Privat!
Ini bukan sekadar masalah nilai
Pada Level 2, siswa setidaknya diharapkan mampu memahami dan menggunakan pengetahuan dalam situasi yang relatif familiar.
Dalam membaca, misalnya, mereka mulai mampu menemukan gagasan utama teks dengan panjang sedang, mengikuti kriteria informasi yang eksplisit, dan merefleksikan tujuan sebuah teks ketika diarahkan.
Dalam matematika, mereka mulai mampu mengenali bagaimana situasi sederhana dapat direpresentasikan secara matematis—seperti membandingkan jarak dua rute atau mengonversi harga.
Dalam sains, mereka mulai mampu menggunakan data sederhana untuk menilai apakah sebuah kesimpulan masuk akal.
Ini adalah keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup sehari-hari, bukan keahlian eksklusif untuk menjadi ilmuwan.
Tanpa kemampuan tersebut, seseorang akan lebih rentan terhadap informasi palsu, kesulitan memahami kontrak atau instruksi kerja, kesulitan mengambil keputusan berbasis data, dan kesulitan mengikuti perubahan teknologi di dunia kerja.
Pada saat yang sama, dunia tidak hanya membutuhkan orang yang mampu mengikuti instruksi. Dunia juga membutuhkan orang yang mampu merancang solusi baru.
Namun, hanya 0,1% siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau 6 dalam setidaknya satu bidang. Pada level ini, siswa dituntut untuk menerapkan pengetahuan secara kreatif dan mandiri pada situasi yang tidak familiar, menghubungkan informasi yang kompleks, serta memilih strategi pemecahan masalah yang tepat.
Inilah kesenjangan yang perlu kita bicarakan secara lebih jujur: bukan hanya bagaimana menyelamatkan siswa yang tertinggal, tetapi juga bagaimana memastikan anak-anak dengan potensi tinggi tidak berhenti berkembang di kelas yang tidak cukup menantang.
Indonesia tidak kekurangan modal manusia
PISA 2025 menunjukkan bahwa Indonesia tidak kekurangan rasa ingin tahu maupun kemauan untuk berusaha.
Sebanyak 80% siswa Indonesia menyatakan bahwa mereka ingin tahu tentang banyak hal. Angka ini lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 73%.
Sebanyak 74% siswa mengatakan bahwa mereka bersedia mengeluarkan usaha tambahan ketika menghadapi pekerjaan yang sulit. Rata-rata OECD hanya 60%.
Dukungan guru juga menjadi salah satu kekuatan penting. Sebanyak 85% siswa melaporkan bahwa guru terus mengajar sampai siswa memahami materi. Sebanyak 82% menyatakan bahwa guru menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran setiap siswa.
Indonesia juga memiliki siswa yang mampu menunjukkan ketangguhan akademik. Sebanyak 15% siswa dari kelompok sosial-ekonomi paling tidak beruntung berhasil masuk ke kuartal performa tertinggi di negaranya. Mereka adalah contoh bahwa latar belakang bukan takdir.
Ada pula perkembangan yang patut dicatat. Dibandingkan Malaysia, kesenjangan skor Indonesia pada 2018–2025 menyempit di tiga bidang: dari 62 menjadi 34 poin dalam matematika, dari 44 menjadi 28 poin dalam membaca, dan dari 42 menjadi 32 poin dalam sains.

Jadi, masalah kita bukan tidak adanya rasa ingin tahu, usaha, atau guru yang peduli.
Masalahnya adalah bagaimana semua modal tersebut diubah menjadi pembelajaran yang menghasilkan kompetensi nyata.
Rasa ingin tahu tanpa fondasi pengetahuan mudah berubah menjadi sekadar konsumsi informasi. Teknologi tanpa kemampuan membaca kritis hanya mempercepat penyebaran informasi yang salah. Guru yang berdedikasi tetap membutuhkan dukungan data, pelatihan, materi, dan waktu untuk merancang pembelajaran yang lebih efektif.
Indonesia tidak kekurangan anak yang ingin belajar. Indonesia membutuhkan sistem yang lebih baik untuk mengubah keinginan belajar menjadi kemampuan yang terukur.
Kita sebenarnya tidak sepenuhnya salah arah
Ada kecenderungan untuk melihat hasil PISA seolah-olah Indonesia tidak pernah memiliki arah perbaikan yang jelas.
Padahal, jika melihat perkembangan asesmen nasional, Indonesia sebenarnya mulai bergerak ke arah yang lebih tepat.
UTBK semakin menekankan kemampuan literasi dan numerasi. TKA juga menempatkan pemahaman dan penalaran sebagai kemampuan penting, bukan sekadar hafalan materi.
PISA, UTBK, dan TKA tentu bukan asesmen yang sama. Masing-masing memiliki tujuan dan desain yang berbeda. Namun, ketiganya memiliki irisan penting: siswa perlu memahami informasi, menerapkan konsep, menggunakan penalaran, dan memecahkan masalah.
Arah ini juga sejalan dengan kebutuhan dunia industri. Dunia kerja tidak cukup membutuhkan lulusan yang pernah mempelajari banyak topik. Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu belajar hal baru, memahami masalah, berkomunikasi, menggunakan data, bekerja sama, dan mengambil keputusan.
Dengan demikian, persoalan Indonesia bukan semata-mata tidak tahu apa yang harus dituju.
Persoalannya adalah bagaimana arah tersebut diterjemahkan secara konsisten dalam pengalaman belajar sehari-hari.
Baca Juga: Kenali Tes Kemampuan Akademik (TKA), Apa Bedanya dengan UN?
—
Sudah sejauh apa kesiapanmu menghadapi ujian? Yuk, ikuti tryout (STS/SAS/SAT/TKA/UTBK) di ruanguji! Kamu juga bisa gunakan hasil analisisnya untuk menyusun strategi belajar berikutnya, loh.
Idealisme kurikulum sudah ada. Eksekusinya yang tertinggal.
Indonesia juga tidak kekurangan gagasan pendidikan yang baik yang tertuang pada berbagai kurikulum nasional yang pernah ada.
Kurikulum Berbasis Kompetensi menekankan bahwa target pembelajaran adalah kemampuan yang dapat ditunjukkan siswa, bukan sekadar materi yang selesai diajarkan.
KTSP menempatkan sekolah sebagai unit yang bertanggung jawab merancang pembelajaran sesuai konteks dan kebutuhan siswanya.
Kurikulum 2013 mendorong siswa untuk aktif mengonstruksi pengetahuan melalui proses mengamati, menanya, mencoba, dan menalar.
Kurikulum Merdeka, termasuk gagasan tentang pembelajaran mendalam, menekankan pemahaman konsep, relevansi, dan pengalaman belajar yang bermakna.
Idealisme-idealisme ini sebenarnya tidak saling bertentangan. Semuanya mengarah pada tujuan yang sama: siswa tidak hanya tahu, tetapi paham dan mampu menggunakan pengetahuannya.
Tantangannya adalah pemahaman dan pelaksanaan di lapangan.
Guru dapat menerima istilah “kompetensi”, tetapi belum tentu mendapatkan contoh konkret bagaimana kompetensi itu diajarkan setiap hari.
Guru dapat memahami pentingnya pembelajaran mendalam, tetapi masih menghadapi target materi, administrasi, keterbatasan waktu, dan kurangnya pendampingan.
Sekolah dapat memiliki dokumen kurikulum yang baik, tetapi praktik di kelas tetap berlangsung satu arah dan berpusat pada hafalan.
Jadi, problem utama kita bukan selalu kurangnya kurikulum baru.
Problemnya adalah jarak antara gagasan dan praktik: apakah kebijakan dipahami, apakah guru dibekali, apakah siswa mengalami proses belajar yang tepat, dan apakah hasilnya diukur serta diperbaiki secara berkelanjutan.
Baca Juga: Mengenal Kurikulum Nasional yang Diresmikan Tahun 2024
Apa yang harus dilakukan?
Target pendidikan tidak boleh berhenti pada kenaikan skor rata-rata. Dua indikator perlu menjadi perhatian utama:
- semakin sedikit siswa yang berada di bawah kompetensi dasar;
- semakin banyak siswa yang mampu mencapai penalaran tingkat tinggi.
Keduanya membutuhkan strategi yang berbeda. Siswa yang belum menguasai fondasi membutuhkan pendampingan terstruktur dan konsisten. Siswa berpotensi tinggi membutuhkan tantangan, pengayaan, dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan secara lebih dalam.
Satu resep untuk semua siswa tidak akan cukup.
1. Jadikan literasi dan numerasi tanggung jawab semua mata pelajaran
Literasi bukan hanya tugas guru Bahasa Indonesia. Numerasi bukan hanya tugas guru Matematika.
Siswa harus dilatih membaca grafik dalam Biologi, mengevaluasi sumber sejarah, memahami persentase dalam Ekonomi, menafsirkan data dalam Geografi, dan menyusun argumen berbasis bukti dalam hampir semua mata pelajaran.
Sekolah perlu mengurangi pembelajaran yang hanya mengejar selesainya materi dan memperbanyak pembelajaran yang menuntut siswa menjelaskan, membandingkan, membuktikan, dan memecahkan masalah.
Kita perlu bergerak dari “siswa sudah pernah mempelajari topik ini” menuju “siswa mampu menggunakan pengetahuan ini.”
2. Gunakan data untuk memberikan bantuan yang tepat
Setiap sekolah perlu mengetahui secara spesifik:
- siapa yang belum lancar memahami bacaan;
- siapa yang belum menguasai operasi dan penalaran dasar;
- siapa yang membutuhkan pendampingan intensif;
- siapa yang membutuhkan tantangan lebih tinggi.
Data dari Asesmen Nasional, asesmen sekolah, TKA, UTBK, dan berbagai sumber lain dapat digunakan untuk memetakan kebutuhan.
Namun, data hanya akan berarti jika diterjemahkan menjadi tindakan di kelas.
Siswa yang tertinggal membutuhkan waktu belajar tambahan, tutoring, pendampingan guru, dan latihan yang terarah. Siswa dengan potensi tinggi membutuhkan klub pengayaan, proyek riset, problem solving, dan pembelajaran yang mendorong mereka bekerja di luar zona nyaman.
3. Beri guru dukungan untuk menerjemahkan kurikulum
Pelatihan guru tidak boleh berhenti pada seminar satu hari atau distribusi modul.
Guru perlu mendapatkan pengembangan profesional yang terus-menerus: merancang soal berbasis kompetensi, membaca hasil asesmen, memberikan umpan balik, mengelola kelas, dan mengintegrasikan literasi-numerasi ke berbagai mata pelajaran.
Sekolah juga perlu membangun budaya kolaborasi. Guru dapat menelaah hasil pekerjaan siswa bersama, menguji pendekatan pembelajaran, lalu memperbaikinya berdasarkan bukti.
Guru Indonesia sudah menunjukkan kepedulian yang kuat. Tantangannya adalah memastikan kepedulian itu ditopang oleh sistem yang membuat kerja mereka semakin efektif.
4. Gunakan teknologi dengan tujuan yang jelas
PISA 2025 menunjukkan bahwa siswa Indonesia menghabiskan rata-rata 2,5 jam per hari menggunakan perangkat digital di sekolah untuk kegiatan belajar, tetapi juga 1,3 jam untuk aktivitas non-pembelajaran.
Sebanyak 23% siswa melaporkan bahwa teman-teman mereka sering terdistraksi perangkat digital dalam sebagian besar atau seluruh pelajaran sains. Siswa yang mengalami distraksi digital mencatat skor sains 11 poin lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak mengalaminya, setelah memperhitungkan faktor sosial-ekonomi.
Ini bukan argumen untuk menolak teknologi. Ini adalah argumen untuk menggunakan teknologi dengan disiplin.
Sekolah perlu memiliki aturan yang jelas mengenai penggunaan gawai. Di sisi lain, siswa juga harus diajarkan menggunakan AI secara bertanggung jawab: memeriksa jawaban, membandingkan sumber, menjelaskan proses berpikir, dan menghasilkan karya sendiri.
AI seharusnya menjadi alat bantu berpikir, bukan jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.
Baca Juga: Artificial Intelligence (AI): Pengertian, Sejarah, Tujuan, dan Contohnya
Dari mengangkat fondasi hingga menumbuhkan talenta
Jika tantangan utama pendidikan Indonesia adalah jarak antara gagasan dan pelaksanaan, maka penyedia layanan pendidikan dapat mengambil peran sebagai jembatan.
Di sinilah Ruangguru dan Brain Academy Center by Ruangguru memiliki peran strategis.
Brain Academy Center kini memiliki hampir 400 cabang di seluruh Indonesia dan melayani hingga 60 ribu siswa dalam satu tahun ajaran. Skala ini memberikan peluang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih konsisten: menggabungkan pengajaran langsung, teknologi, materi, bank soal, analisis hasil belajar, serta pendampingan yang lebih personal.
Namun, kontribusi Ruangguru tidak berhenti pada satu produk atau satu jenjang pendidikan.
Mengangkat kemampuan dasar dan kesiapan akademik
Di Brain Academy Center, visi Learn It! Love It! Live It!—atau Aku Paham, Aku Suka, Aku Bisa—menjadi kerangka untuk memastikan bahwa belajar tidak berhenti pada kemampuan menghafal jawaban. Setiap pengajar Brain Academy mengikuti proses pelatihan berkelanjutan agar berkualifikasi untuk membawakan proses pembelajaran yang qualitatively distinct jika dibandingkan dengan bimbingan konvensional.
Siswa secara konsisten didorong untuk memahami konsep esensial, bukan sekadar menghafal rumus. Mereka perlu belajar melalui konteks yang dekat dengan kehidupan, dialog yang membuat mereka aktif berpikir, serta persoalan yang menuntut pemecahan masalah.
Proses belajar berlangsung secara bertahap. Melalui scaffolding, siswa dibantu bergerak dari “belum bisa”, menjadi “bisa dengan bantuan”, lalu menjadi “bisa secara mandiri”. Pendekatan ini relevan dengan kebutuhan PISA, UTBK, TKA, dan industri sekaligus.
Pemahaman konsep membantu siswa menghadapi variasi soal. Literasi dan numerasi membantu mereka memahami informasi. Problem-based learning melatih mereka menerapkan pengetahuan. Pembelajaran dialogis, multisensori, dan kontekstual membantu membangun motivasi serta keterlibatan siswa.
Inilah hubungan antara pembelajaran bermakna dan kesiapan menghadapi ujian maupun dunia nyata. Siswa tidak hanya dipersiapkan untuk menjawab pertanyaan yang sudah dikenal, tetapi juga untuk menghadapi persoalan yang bentuknya berubah.
Dengan proses pembelajaran demikian, Brain Academy Center telah berhasil mengantarkan puluhan ribu siswa ke berbagai PTN, termasuk PTN dan program studi unggulan di seluruh Indonesia. Kesiapan masuk perguruan tinggi, dengan demikian, tidak dibangun hanya melalui latihan soal, tetapi melalui pemahaman, strategi belajar, pendampingan, dan kebiasaan berpikir yang lebih kuat.
Menemukan dan membina talenta sejak dini
Di sisi lain, pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada siswa yang sedang mengejar ketertinggalan.
Jika 60,9% menunjukkan betapa besarnya pekerjaan untuk mengangkat fondasi, angka 0,1% menunjukkan bahwa Indonesia juga perlu bekerja lebih serius untuk menemukan dan membina talenta terbaiknya.
Di sinilah berbagai inisiatif Ruangguru saling melengkapi.
- Math Champs membantu memperkuat fondasi matematika sejak sekolah dasar dengan metode pembelajaran Singapore Math. Discovery of Champions membantu menemukan dan menumbuhkan bibit-bibit juara sejak usia dini. Ruangguru Olympiad Academy membina siswa dalam berbagai kompetisi akademik nasional maupun internasional.
- Kompetisi Sains Ruangguru (KSR), yang diikuti hingga 200 ribu siswa, berperan sebagai sarana latihan sekaligus pemetaan kemampuan dalam skala besar. Sudah sering terjadi bahwa medalis KSR di berbagai bidang keilmuan yang diujikan pada tahun depannya menjadi medalis OSN tingkat Nasional. Dengan format ujian yang dirancang untuk memetakan kesiapan siswa menghadapi OSN, KSR dapat membantu siswa, orang tua, dan sekolah mengetahui posisi mereka sebelum masuk ke kompetisi yang sesungguhnya.
- Program seperti Clash of Champions dan Academy of Champions juga memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar tontonan. Keduanya menghidupkan kembali selera terhadap prestasi akademik dan menunjukkan bahwa belajar, berpikir, berkompetisi, dan mencapai keunggulan dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda.
- Sementara itu, Schoters memperluas horizon siswa melampaui batas Indonesia dengan mendampingi mereka meraih beasiswa dan melanjutkan pendidikan ke universitas-universitas dunia.
Dengan demikian, peran Ruangguru membentuk satu jalur yang utuh: mengangkat siswa yang masih jauh dari kompetensi dasar, membantu siswa mencapai target akademik, menemukan potensi sejak dini, membina calon juara, dan membuka akses menuju pendidikan tinggi terbaik di Indonesia maupun dunia.
—
Ingin kemampuan matematika dan logika anak berkembang lebih kuat? Kenalkan ia pada pembelajaran bertahap dan interaktif di Math Champs!
Bekerja bersama sekolah dan stakeholders
Peran tersebut tidak hanya dijalankan melalui layanan langsung kepada siswa. Ruangguru juga sudah banyak dan selalu siap untuk bergandengan tangan dengan sekolah negeri maupun swasta, pemerintah daerah, yayasan, perusahaan, dan berbagai pemangku kepentingan pendidikan melalui kerja sama B2B.
Bentuknya dapat berupa Try Out UTBK, tes diagnostik, persiapan UTBK, pelatihan guru, pelatihan kompetisi, penyediaan bahan ajar dan bank soal berbasis kompetensi, hingga konten interaktif untuk pembelajaran melalui IFP di sekolah-sekolah.
Kerja sama semacam ini penting karena peningkatan pendidikan tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja.
Sekolah memahami konteks dan kebutuhan siswanya. Guru memahami dinamika pembelajaran sehari-hari. Pemerintah memiliki mandat dan jangkauan kebijakan. Penyedia teknologi pendidikan dapat membantu menyediakan perangkat, data, materi, dan skala.
Jika seluruh pihak bekerja bersama, hasil asesmen seperti PISA, UTBK, TKA, dan asesmen sekolah tidak berhenti sebagai angka. Semuanya dapat menjadi dasar untuk menentukan siapa yang membutuhkan bantuan, program apa yang harus diperkuat, dan bagaimana kemajuan siswa dapat diukur.
Dari alarm menjadi keputusan
PISA tidak boleh berhenti sebagai ritual tiga tahunan: hasilnya dirilis, publik sama-sama prihatin, ranking diperdebatkan, lalu perhatian perlahan bergeser tanpa target dan tindak lanjut yang jelas.
PISA harus menjadi titik awal untuk menetapkan sasaran jangka pendek, menengah, dan panjang—lengkap dengan indikator keberhasilan, penanggung jawab, serta langkah konkret yang dapat dijalankan di kelas, sekolah, dan tingkat sistem pendidikan.
Setiap sekolah perlu dapat menjawab:
- Berapa banyak siswa yang belum mencapai fondasi?
- Kompetensi apa yang paling tertinggal?
- Intervensi apa yang diberikan?
- Berapa banyak siswa yang meningkat setelah intervensi?
- Bagaimana sekolah menantang siswa dengan potensi tinggi?
- Apakah kesenjangan antarsiswa semakin menyempit?
Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai hanya dengan slogan, kurikulum baru, atau perangkat digital yang lebih banyak.
Ia dibangun dari jutaan proses kecil: seorang siswa yang akhirnya memahami bacaan, seorang guru yang menemukan cara baru menjelaskan konsep, sebuah sekolah yang menggunakan data untuk menolong siswa, seorang anak yang menemukan kecintaan pada matematika, dan seorang talenta muda yang mendapatkan kesempatan untuk berprestasi.
Arah pendidikan Indonesia sebenarnya mulai terlihat. Literasi, numerasi, pemahaman konsep, penalaran, dan kesiapan menghadapi dunia nyata semakin menjadi perhatian.
Namun, arah yang benar tidak akan menghasilkan perubahan jika tidak diterjemahkan ke dalam praktik yang konsisten.
Alarm PISA 2025 sudah berbunyi. Tantangan kita sekarang bukan sekadar mengakui bahwa situasinya serius, melainkan menerjemahkan kesadaran itu menjadi target, program, dan tindakan yang dapat diukur.
Ruangguru telah memulai sedikit langkah awal dalam berkontribusi terhadap peningkatan sumber daya manusia Indonesia. Namun, Ruangguru tidak dapat memajukan pendidikan Indonesia sendirian. Melalui pengajaran langsung kepada siswa, pembinaan talenta, dukungan kepada guru, kerja sama dengan sekolah, dan kolaborasi dengan berbagai stakeholders, Ruangguru siap menjadi bagian dari gerakan bersama untuk mengangkat kualitas pendidikan Indonesia—dari fondasi paling dasar hingga prestasi tertinggi.
—
Yuk, pelajari seluruh konsep mata pelajaran yang belum kamu pahami lewat video belajar adaptif, rangkuman, dan latihan soal di ruangbelajar!
Artikel ini ditulis oleh Andi Soemarli Rasak, Head of K-12 Academics dan Christin Widjaja, Academic Manager





