Memahami Konsep Ikigai: Biar Bahagia Menjalani Hidup

memahami konsep hidup ikigai

Artikel ini membahas tentang Ikigai, sebuah prinsip hidup yang digunakan orang Jepang tentang mencari arti hidup. Banyak yang menganggap ini kayak konsep realistis dari passion, markicaritahu!

Akan ada masanya di hidup ini kamu harus menentukan, “hidup kayak apa yang harus gue jalani?”

Banyak anak SMA yang menjelang lulus dia galau setengah mati. Dia belum tahu setelah lulus mau melanjutkan hidup seperti apa. Apakah kuliah atau langsung kerja? Kalau kuliah, mau kuliah di luar kota atau menetap di kota tempat tinggal? Jurusan seperti apa yang harus dia ambil? Pertanyaan-pertanyaan ini bahkan masih bisa berlanjut sampai kita kuliah dan lulus. Biasanya, mereka akan curhat, “Duh, gue existensial crisis nih.”

Lalu mempertanyakan segala hal. Mulai dari kenapa dia lahir di tempat ini, sampai pertanyaan filosofis kayak “Sebenarnya buat apa gue terlahir di dunia ini?Sambil bikin tiktok pakai lagu Joji dan bermetamorfosis jadi sadboi dan sadgirl.

Menariknya, orang Jepang punya semacam prinsip yang bisa membantu kita menjawab pertanyaan itu.

Namanya Ikigai.

Ikigai ini berarti “the purpose of life” atau “tujuan hidup”. Kurang lebih, ini adalah prinsip yang bikin hidup orang jadi lebih bermakna, berharga, dan seimbang. Seakan, setiap bangun pagi, kamu berkata, “Oke, gue tahu hari ini mau ngapain.” lalu menjalani hari dengan sukacita. Beda sama orang yang gak punya tujuan hidup. Yang setiap bangun, dia bercermin, lalu, berkata pada dirinhya sendiri, “Kenapa? Kenapahhh? Kenapaaaa??”

apa itu ikigai

Pada dasarnya, Ikigai adalah irisan dari empat diagram venn: 1) apa yang kamu cintai, 2) apa yang kamu kuasai, 3) apa yang dunia butuhkan, 4) apa yang membuatmu bisa dibayar.

Menemukan Ikigai artinya menemukan titik tengah dari keempat hal tadi dari diri kita.

Nah, sebelum kita lanjut, coba deh kamu ambil notes, lalu buat daftar dari masing-masing hal tadi. Bikin yang banyak dan sebebas-bebasnya. Anggap aja ini ajang latihan biar kamu makin kenal sama diri sendiri.

Di sini, biar seru dan bisa dibayangin, kita coba buat satu manusia imajiner ya. Sebut aja namanya Rachel. Dan kita akan buatkan daftar dari keempat hal tadi.

Apa yang disenangi Rachel:

  • Travelling
  • Masak kue
  • Menulis
  • Ekplor hal-hal baru
  • Suka ke pantai
  • Suka berenang
  • Suka kucing

Tugas buatmu: jangan pikirin diagram venn yang lain. Fokus pada “apa yang kamu suka” selama menjalani hidup.

 

Apa yang dikuasai Rachel:

  • Jago hal-hal yang berbau hitungan
  • Jago mengedit video
  • Bikin puisi
  • Jago mengatur waktu
  • Jago bersosialisasi (ini bukan cuma senang nongkrong, tapi Rachel emang “jago” menempatkan diri di berbagai lingkuangan sosial)

Tugas buatmu: jangan pikirin diagram venn yang lain. Fokus pada “apa yang kamu kuasai” selama menjalani hidup.

 

Apa (skill) yang Rachel punya sampai orang berani bayar dia:

  • Mengajar (Rachel sempat diminta teman ibunya untuk mengajar anaknya yang masih kelas 5 SD)
  • Bikin video

Tugas buatmu: jangan pikirin diagram venn yang lain. Fokus pada “apa yang kamu punya sampai orang berani bayar kamu” selama menjalani hidup.

 

Apa yang dunia butuhkan:

  • Otomatisasi
  • Konektivitas
  • Kesetaraan
  • Kepedulian terhadap binatang

Tugas buatmu: jangan pikirin diagram venn yang lain. Fokus pada “apa yang dunia butuhkan saat ini” selama menjalani hidup.

 

Kalau udah, kita akan masuk ke tahap berikutnya. Periksa notes-mu, lalu berterimakasihlah karena setiap manusia diberikan kreativitas untuk membuat sesuatu dari hal-hal yang ada. Cari irisan dari masing-masing kelompok diagram venn kamu.

Baca juga: Berbagai Macam Sesat Pikir

Kamu akan menemukan passion, dari irisan antara apa yang kamu suka dan kamu kuasai. Dalam kasus Rachel, passion-nya mungkin segala sesuatu yang berkaitan sama puisi, travelling dan menjalin networking dengan orang baru, atau mengabadikan sesuatu lewat video.

Tapi, apa bisa Rachel hidup dari mengandalkan “passion” dia ini?

Bisa, tapi menurut Ikigai itu kurang.

Di perjalanan hidupnya, Rachel akan pusing karena nggak memikirkan keuangannya. Dia melakukan semata-mata untuk kesenangan diri (walaupun hasil yang dia buat itu bagus).

Coba kita cari irisan antara “apa yang Rachel kuasai” dan “Skill yang membuat Rachel bisa dibayar”. Mungkin Rachel bakal mutusin buat masuk ke sekolah jurusan perfilman. Dan di masa depan, dia bakal bisa punya profesi kerja menjadi editor film. Karena dia jago ngedit, dan bisa dibayar untuk itu.

Biasanya, orangtua bakalan punya andil di bagian ini. Dan biasanya, orangtua selalu ingin anaknya “sukses” di masa depan. Maka, dia melihat diagram venn di bagian “skill yang bisa dibayar”. Ibunya Rachel pun pengin dia masuk jurusan akuntansi karena menurut sang Ibu, “nanti gampang dapat kerja”.

Ini sangat bisa terjadi kan?

Lalu setelah Rachel lulus dia punya skill dan jago di bidang akuntansi. Dia pun bisa hidup sebagai seorang akuntan. Dalam diagram di atas, kondisi Rachel cuma hidup sebagai “profesi” karena sebenarnya dia nggak suka jadi akuntan.

Hidup sebagai akuntan sebetulnya sah-sah aja dan gakpapa. Tapi, dalam Ikigai, supaya hidup kita berharga dan bahagia, kita perlu mikirin 2 aspek diagram venn lain: apa yang kita suka, dan apa yang dibutuhkan dunia.

Oke, kayaknya itu tadi contoh kasus paling sering yang dialami orang deh. Sisanya kita diskusiin di kolom komentar aja ya. Supaya tulisannya nggak terlalu panjang, kita langsung coba buat karir palsu yang paling ideal buat Rachel. Kita akan menemukan konsep Ikigai dalam diri Rachel.

Dengan mengiriskan keempat diagram venn tadi, Rachel mungkin akan paling merasa happy, dan selalu punya tujuan hidup setelah bangun saat dia hidup sebagai produser video dalam sebuah brand travel. Dia suka menulis dan mengeksplor tempat dan traveling, dia jago akan editing, lalu bisa dibayar untuk melakukan itu. Buat Rachel, yang dia lakukan juga bermakna karena pekerjaannya punya impact kepada dunia: mengenalkan lokasi tempat wisata baru yang selama ini kurang terekspose. Impact lanjutannya, roda perekonomian di sekitar tempat tersebut juga maju.

Nah, kalau kamu gimana? Mencari Ikigai emang susah-susah gampang. Tantangan berikutnya setelah menemukannya, adalah konsisten menjalani Ikigai. Satu hal yang perlu kamu ingat adalah, Ikigai ini sifatnya sangat personal. Jadi, kamu nggak perlu ngebandingin hidup kamu dan hidup orang lain ya! Kalau kamu pengin pelajarin materi-materi sekolah dengan gaya asik kayak gini dalam format video, yuk tonton aja ruangbelajar!

IDN CTA Blog ruangbelajar Ruangguru

Kresnoadi