Sejarah Isra Mikraj, Kisah Perjalanan Rasulullah yang Penuh Mukjizat

sejarah isra mikraj

Dalam rangka memperingati Isra Mikraj 1447 H, yuk kita perdalam pemahaman kita tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW yang penuh keajaiban ini!

 

Tidak terasa kita sudah sampai di tahun baru 2026, dan kembali dipertemukan dengan bulan Rajab, bulan terjadinya peristiwa Isra Mikraj (dibaca: Isra’ Mi’raj). Tahukah kamu apa itu Isra Mikraj? 

Isra Mikraj merupakan salah satu peristiwa bersejarah yang sangat penting dalam agama Islam. Setiap tahunnya, umat Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, melaksanakan peringatan Isra Mikraj dengan penuh suka cita. Tapi, bagaimana tepatnya peristiwa Isra Mikraj terjadi? Langsung aja yuk, simak selengkapnya berikut ini!

 

Pengertian Isra Mikraj

Isra Mikraj adalah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW yang terdiri atas dua bagian, yaitu Isra dan Mikraj:

  • Isra → Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.
  • Mikraj → Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha atau langit ketujuh.

 

Jika dilihat secara bahasa, kata “isra” berasal dari kata “sara”, yang dalam bahasa Arab yang berarti “perjalanan malam”. Secara istilah, Isra menggambarkan perjalanan Rasulullah SAW pada suatu malam dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Sementara itu, kata “mi’raj” dalam bahasa Arab berarti “naik”. Secara istilah adalah naiknya Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha. 

galaksi

Gambar Galaksi (Sumber: en.wikipedia.org)

Baca Juga: Sejarah Bani Umayyah, Khalifah Pertama setelah Khulafaur Rasyidin

 

Jadi, peristiwa Isra Mikraj dimulai ketika Nabi Muhammad SAW berada di Masjidil Haram di Mekkah, di mana beliau melakukan perjalanan malam menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem dengan menaiki Buraq. Setelah tiba di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan menuju Sidratul Muntaha di langit ketujuh.

Beliau bertemu dengan para Nabi terdahulu pada setiap lapisan langit yang dilalui. Di langit ketujuh, Nabi Muhammad SAW bertemu langsung dengan Allah SWT dan menerima perintah untuk melaksanakan sholat lima waktu dalam sehari. Seluruh perjalanan Isra Mikraj ini dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam semalam.

 

Kapan Terjadinya Peristiwa Isra Mikraj?

Isra Mikraj terjadi pada malam 27 Rajab di tahun ke-11 kenabian Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, tanggal 27 Rajab setiap tahunnya diperingati sebagai hari Isra Mikraj. Di Indonesia sendiri, peringatan Isra Mikraj biasanya diwarnai dengan beragam tradisi yang unik dan khas dari masing-masing daerah. Kalau di daerahmu, peringatan Isra Mikraj biasanya diwarnai dengan tradisi seperti apa, nih? Coba tulis di kolom komentar, ya!

 

Sejarah Isra Mikraj

Tujuan Peristiwa Isra Mikraj

Menurut Syekh Muhammad Khudori dalam Nur Al Yaqin fi Sirati Sayyidil Mursalin, adapun hal yang memicu peristiwa kisah Isra MiKraj adalah sebagai bentuk tasliyah (hiburan) yang Allah SWT berikan kepada Nabi Muhammad SAW karena ditinggal oleh dua orang yang dicintainya yaitu Khadijah, sang istri, dan Abu Thalib, sang paman. Peristiwa ini tepatnya terjadi pada tahun ke-11 dari kenabian Nabi Muhammad SAW yang pada saat itu berumur 51 tahun. Tahun ini juga disebut sebagai amul huzn (tahun kesedihan). 

 

Tempat-Tempat yang Disinggahi Rasulullah

Dalam perjalanan Isra Mikraj bersama Malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW singgah di lima tempat. Pada setiap tempat tersebut, Nabi Muhammad SAW berhenti sejenak dan melaksanakan shalat 2 rakaat. 

Salah satu tempat yang beliau singgahi yaitu Kota Madinah, yang dijelaskan oleh malaikat Jibril sebagai tempat Nabi Muhammad SAW berhijrah kelak. Selanjutnya, beliau singgah di Kota Madyan, tempat persembunyian Nabi Musa AS dari kejaran tentara Fir’aun. 

Lalu tempat yang ketiga yaitu Thuur Sina, yang merupakan tempat Nabi Musa AS berbicara langsung dengan Allah SWT. Kemudian, Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril berhenti sejenak dan melakukan shalat dua rakaat di Baitul Lahm, tempat Nabi Isa AS dilahirkan. Kemudian yang terakhir, mereka berhenti di Masjidil Aqsa.

masjidil aqsa

Masjidil Aqsa, tempat singgah Rasulullah sebelum menuju Sudratul Muntaha. (Sumber: Bachtiarnasir.com)

Baca Juga: 99 Asmaul Husna (Arab, Latin, Artinya), Dalil & Hikmah Mengimaninya

 

Selama perjalanan Isra Mikraj yang penuh keajaiban, Nabi Muhammad SAW dihadapkan dengan pilihan antara susu dan anggur, yang melambangkan kebaikan dan keburukan. Beliau dengan bijaksana memilih susu, yang melambangkan kesucian dan jalan yang diridhoi Allah. Hal ini menjadi gambaran bahwa beliau dan umatnya akan senantiasa di jalan kebenaran.

Setelah shalat berjamaah di Masjidil Aqsha, Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril naik menuju Sidratul Muntaha atau langit ketujuh untuk menghadap Allah SWT. Dalam perjalanan, mereka singgah di tujuh lapis langit, bertemu para nabi terdahulu, di antaranya:

  • Langit pertama, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam AS.
  • Langit kedua, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Ishaq AS.
  • Langit ketiga, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yusuf AS.
  • Langit keempat, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Idris AS.
  • Langit kelima, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Harun AS.
  • Langit keenam, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa AS.
  • Langit ketujuh, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS.

 

Setelah bertemu dengan nabi-nabi terdahulu, beliau bersama Malaikat Jibril singgah untuk mengunjungi Baitul Makmur, tempat para malaikat beribadah.

 

Hikmah Isra Mikraj

Isra Mikraj mengandung banyak hikmah dan keutamaan yang dapat kita teladani untuk memperkuat keimanan kita kepada Allah SWT. Beberapa hikmah dan keutamaan dari Isra Mikraj adalah sebagai berikut:

 

1. Menjadi Bukti Kebesaran Allah SWT

Peristiwa Isra Mikraj merupakan bukti kebesaran Allah SWT. Jika dipikir menggunakan logika manusia, perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Yerusalem kemudian naik ke langit ketujuh dalam waktu semalam merupakan hal yang tidak mungkin terjadi, namun hal ini dapat terjadi atas Kuasa Allah SWT. Cerita Isra Mikraj adalah murni kekuasaan Allah SWT, sang pemilik Alam Semesta yang Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak, yang mana tak bisa dinalar oleh akal manusia.

 

2. Menjadi Bukti Kenabian Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya manusia yang pernah mengalami perjalanan Isra Mikraj. Kejadian ini menjadi tanda nyata bahwa beliau adalah nabi utusan Allah SWT yang diutus untuk menyampaikan kebenaran kepada umat Islam di seluruh dunia.

 

3. Menjadi Bukti bahwa Allah SWT Mampu Melakukan Apa Saja Atas Kuasa-Nya

Peristiwa Isra Mikraj menunjukkan bahwa Allah SWT mampu melakukan apa saja atas kuasa-Nya. Allah SWT dapat melakukan hal-hal yang di luar logika manusia, seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW saat Isra Mikraj, yakni melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha atau langit ketujuh hanya dalam waktu semalam.

 

4. Menjadi Bukti bahwa Islam adalah Agama yang Benar

Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW. Terbukti mukjizat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang benar dan berasal dari Allah SWT, sang pencipta alam semesta. Dengan memahami keutamaan Isra Mikraj, umat Islam diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan atas segala nikmat hidup yang Allah SWT limpahkan kepada kita.

Yuk, cari guru ngaji terbaikmu di Ruangguru Privat Mengaji. Bebas tentukan jadwal belajar dan pilih guru sendiri, lho! Belajar di Ruangguru Privat nggak hanya menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (offline) atau daring (online). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!

CTA Ruangguru Privat

 

Ayat tentang Peristiwa Isra Mikraj

Perjalanan Rasulullah SAW saat Isra Mikraj diabadikan dalam surah Al-Isra [17] : 1 yang berbunyi:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

 

Sub-ḥānallażī asrā bi’abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī’ul-baṣīr

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Baca Juga: Nama-Nama 25 Nabi dan Rasul yang Wajib Diketahui

Selain itu, peristiwa Isra Mikraj juga terkandung dalam surah An-Najm [53] : 13-18, yang berbunyi:

(13) وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ

wa laqad ra`āhu nazlatan ukhrā

Artinya: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,”

 

(14) عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ

‘inda sidratil-muntahā

Artinya: “(yaitu) di Sidratil Muntaha.”

 

(15) عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ

‘indahā jannatul-ma`wā

Artinya: “Di dekatnya ada surga tempat tinggal,”

 

(16) إِذْ يَغْشَى ٱلسِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ

iż yagsyas-sidrata mā yagsyā

Artinya: “(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.”

 

(17) مَا زَاغَ ٱلْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ

mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā

Artinya: “Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.”

 

(18) لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلْكُبْرَىٰٓ

laqad ra`ā min āyāti rabbihil-kubrā

Artinya: “Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

 

Hadits Tentang Isra Mikraj

Terdapat beberapa hadist riwayat yang menceritakan tentang kisah Isra Mikraj yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Salah satu hadits tentang Isra Mikraj diceritakan oleh Anas bin Malik, yang juga menceritakan kendaraan berupa hewan Buraq. Dalam hadist tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

Didatangkan Buraq, hewan putih yang panjang, ukurannya lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal (anak kuda), dia meletakkan telapak kakinya dengan jarak sejauh ujung pandangan. Aku menungganginya dan sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang biasa digunakan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat lalu keluar. Setelah itu, Jibril datang kepadaku membawa wadah berisi anggur dan susu. Aku memilih wadah berisi susu lalu Jibril berkata, “Kau telah memilih (yang sesuai) fitrah.”

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit pertama dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya), “Siapa Kau?” Dia menjawab: “Jibril”. Lalu Jibril ditanya lagi: “Siapa yang bersama denganmu?” Dia menjawab: “Muhammad” Pertanyaan berikutnya: “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus.” Pintu langit pertama lalu terbuka dan aku bertemu Nabi Adam. Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian kami naik ke langit kedua dan Jibril kembali minta dibukakan pintu. Jibril juga ditanya, “Siapa kau?” Dia menjawab: “Jibril.” Pertanyaan selanjutnya: “Siapa yang bersama denganmu?” Dia menjawab: “Muhammad.” Kemudian: “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab: “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi Isa putra Maryam dan Nabi Yahya bin Zakariya. Mereka menyambutku dan berdoa untuk kebaikanku.

Kemudian aku dibawa ke langit ketiga dan Jibril minta dibukakan pintu, maka Jibril ditanya: “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad,” pertanyaan selanjutnya: “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab: “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Nabi Yusuf yang diberi separuh dari pesona dunia. Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, lalu Jibril ditanya: “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Ditanya lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad,” Selanjutnya: “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab: “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan Nabi Idris. Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (Maryam: 57)

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan lagi: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan Nabi Harun. Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad.” Pertanyaan selanjutnya: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keenam) dan saya bertemu dengan Nabi Musa. Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Ditanya lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad.” Selanjutnya: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Nabi Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha yang daunnya seperti telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Saat ditutupi perintah Allah, Sidratul Muntaha mengalami perubahan yang tidak bisa digambarkan makhluk Allah SWT.

Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Nabi Musa. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas umatmu?” Saya menjawab: “50 sholat.” Nabi Musa berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Saya telah menguji dan mencoba Bani Israil dan ternyata mereka terlalu lemah untuk menanggung tugas berat.”

Aku kembali kepada Tuhanku seraya berkata, “Wahai Tuhanku ringankanlah untuk umatku.” Maka dikurangi dariku lima sholat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata: “Allah mengurangi untukku 5 sholat.” Dia berkata: “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan.” 

Maka terus menerus saya pulang balik antara Allah SWT dan Nabi Musa, hingga Allah berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis (baginya) satu kejelekan.” Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Nabi Musa seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan,” maka saya pun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai saya pun malu kepada-Nya”. (HR Muslim)

Baca Juga: Kisah Nabi Ibrahim AS, Mukjizatnya, hingga Perintah Kurban

Dalam hadits lain, dikisahkan bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra Mikraj dengan menunggangi Buraq. Buraq disebutkan sebagai sosok makhluk yang memiliki kecepatan secepat kilat. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِالْبُرَاقِ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ مُسْرَجًا مُلْجَمًا لِيَرْكَبَهُ، فَاسْتَصْعَبَ عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: مَا يَحْمِلُكَ عَلَى هَذَا؟ فَوَاللَّهِ مَا رَكِبَكَ قَطُّ أَكْرَمُ عَلَى اللَّهِ مِنْهُ. قَالَ: فارفضَّ عَرَقًا.

 

Artinya: “Dari Anas radhiallahu anhu, bahwa didatangkan kepada Nabi Muhammad SAW hewan Buraq di malam melakukan Isra. Buraq itu telah diberi pelana dan tali kendali untuk dinaiki Nabi Muhammad, tetapi Buraq sulit untuk dinaiki. Maka Jibril berkata kepadanya, ‘Apakah yang mendorongmu bersikap demikian? Demi Allah, tiada seorang pun yang menaikimu lebih dimuliakan oleh Allah SWT. daripada orang ini.’ Setelah itu Buraq mengucurkan keringatnya.”

Demikian penjelasan mengenai kisah perjalanan Isra Mikraj yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Sesuai kalender Hijriah Indonesia tahun 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI, Isra Mikraj tahun 2026 Masehi jatuh pada hari Jumat, 16 Januari 2026. Jadi, selamat merayakan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah! Semoga kita senantiasa menjadi umat Muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Aamiin~

CTA Ruangguru

Referensi:

https://baznas.go.id/artikel-show/Sejarah-dan-Keutamaan-Isra-Miraj:-Memperteguh-Keimanan-Umat-Islam/279 (Diakses pada 31 Desember 2024)

https://kabjombang.baznas.go.id/news-show/isramiraj/4680?back=https://kabjombang.baznas.go.id/news-all (Diakses pada 31 Desember 2024)

https://www.gramedia.com/literasi/peristiwa-isra-miraj/?srsltid=AfmBOorWljjp2K9My241mqCOz8KhYDoyv0KJo9W0Vl6ckU8MU1-1vOKQ (Diakses pada 31 Desember 2024)

Sumber Gambar:

https://bachtiarnasir.com/artikel/hukum-ziarah-ke-masjidil-aqsha-saat-dalam-keadaan-terjajah/ (Diakses pada 15 Januari 2026)

https://en.wikipedia.org/wiki/Galaxy (Diakses pada 15 Januari 2026)

Kenya Swawikanti