Unsur-Unsur Ekstrinsik Cerpen (Cerita Pendek) | Bahasa Indonesia Kelas 9

09IND - Unsur Ekstrinsik Cerpen-01

Artikel kelas IX kali ini akan membahas tentang pengertian unsur ekstrinsik dalam cerita pendek. Penasaran apa saja unsur-unsur ekstrinsik tersebut? Simak penjelasannya dalam artikel berikut ini.

--

Sebelumnya, kita sudah belajar mengenai unsur intrinsik cerpen, yaitu unsur yang terbentuk dari dalam cerita pendek. Nah, sekarang, kita akan belajar unsur dari luar cerpen. Unsur-unsur yang terbentuk dari luar cerpen disebut unsur ekstrinsik. Unsur-unsur ekstrinsik meliputi nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat. Seringkali, cerpen merupakan cerminan kehidupan masyarakat. 

Cerita yang ditulis dalam cerpen merupakan cerminan dari kehidupan nyata. Namun, dari tokoh-tokoh fiktif dalam cerpen, kita dapat menemukan nilai-nilai kehidupan. Ada perbuatan baik yang dapat kita tiru dan ada pula perbuatan buruk yang sepatutnya kita jauhi. Adapun unsur ekstrinsik atau nilai-nilai yang terdapat dalam cerpen, yaitu:

1. Nilai agama

Nilai agama adalah hal-hal yang berkaitan dengan ajaran agama. Nilai yang terkandung di dalam cerpen ini bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupan nyata. Contohnya,

Renata rajin mengikuti ibadahnya di hari Minggu bersama keluarganya. Setiap kali memiliki masalah, ia selalu mengunjungi gereja untuk bercerita kepada Tuhannya. Renata yakin bahwa Tuhan selalu memberi solusi yang baik untuk setiap masalah yang dialami oleh umatnya. 

Nah, di dalam kutipan cerpen tersebut, kita diajak untuk yakin dan bersabar kalau Tuhan pasti akan membantu dari setiap masalah yang kita hadapi.

2. Nilai sosial

Nilai sosial adalah nilai yang bisa dipetik dari interaksi-interaksi tokoh-tokoh yang ada di dalam cerpen. Misalnya, interaksi dengan tokoh lain, lingkungan, dan masyarakat sekitar. Contohnya,

Rangga menjadi anak yang cukup terkenal karena sikapnya yang ramah. Banyak warga di sekitar rumah yang senang ketika bertemu dengan Rangga. Alasannya karena Rangga tak pernah absen menyapa warga sekitar ketika ia berangkat sekolah.

Oke, di dalam kutipan cerpen tersebut, manakah yang menjadi nilai sosial? Betul, interaksi antara Rangga dengan warga sekitar rumahnya, ya. Dijelaskan kalau Rangga tak pernah absen menyapa warga ketika berpapasan. Itu merupakan nilai sosial yang bisa kita tiru lho, teman-teman.

Baca juga: Belajar Menyunting Karangan

3. Nilai moral

Nilai moral adalah nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen yang berkaitan dengan akhlak atau etika yang berlaku di dalam masyarakat. Di dalam suatu cerpen, nilai moral bisa menjadi suatu nilai yang baik maupun nilai yang buruk. Contohnya,

Aku pun sudah tidak sabar menghadapi kelakuannya. Ia bersikap semena-mena terhadap teman-temannya. Mulai membentak, memukul, hingga mengambil barang-barang milik teman-temannya termasuk aku. Tiap hari Dito bersikap kasar. Herannya, tidak ada seorang pun yang melawan kelakuan Dito. Semua teman-teman hanya menuruti kemauan Dito saja.

 

 

Ada nggak nih temanmu yang punya sifat seperti Dito? Jangan ditiru ya, teman-teman. Nah, sikap yang dimiliki Dito ini menunjukkan nilai moral yang ada pada cerpen karena berkaitan dengan akhlak atau etika. Nilai moral yang baik atau yang buruk, nih? Jawabannya yang buruk, jadi harus kita jauhi. 

4. Nilai budaya

Nilai budaya adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan nilai-nilai kebiasaan, tradisi, dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat yang diceritakan di dalam cerpen. Contohnya,

Pagi ini suasana di rumah begitu ramai. Kakakku yang sedang mengandung akan mengadakan acara di rumah. Di desa tempatku tinggal, setiap ada wanita hamil yang usia kandungannya menginjak 7 bulan akan ada acara yang bernama "tingkepan 7 bulanan" atau "mitoni". Istilah ini asalnya dari kata pitu yang artinya tujuh, sehingga acara ini dilakukan saat usia kehamilan 7 bulan. Dalam pelaksanaannya, ibu yang hamil 7 bulan akan dimandikan dengan air kembang setaman. Selain itu, disertai juga dengan doa-doa khusus selama acara berlangsung.

Hayo, ada yang tau nggak tradisi yang ada di desa si tokoh aku itu berasal dari mana? Coba jawab di kolom komentar, ya!

Nah, tradisi tingkepan 7 bulanan atau mitoni yang dijelaskan pada kutipan cerpen di atas menandakan adanya nilai budaya dalam cerpen. Jelas, ya?

Unsur Ekstrinsik Cerpen

Oke, setelah kamu mengetahui unsur-unsur ekstrinsik dalam cerpen, sekarang, coba jawab contoh soal berikut ini, yuk!

Bacalah teks berikut!

“Kemungkinan rambut Anda rontok setelah dikemoterapi,” kata dokter dengan lembut. “Saya siap, Dok. Demi kesehatan saya, Dok,” jawaban Fati.

“Oh iya, ketika obat kemoterapi  disuntikkan, pada umumnya pasien merasa sakit,” lanjut dokter.

“Saya paham, Dok. Saya ingin sembuh.”

“Kalau begitu, selamat istirahat.”

Dokter meninggalkan ruang tempat Fati dirawat menuju ruang sebelah untuk memeriksa pasien-pasien lain.

 

Sikap terpuji dari tokoh Fati adalah …

A. Kemauan keras untuk kemoterapi
B. Semangat untuk sembuh
C. Kemauan keras untuk disuntik
D. Semangat untuk berobat ke dokter

 

Jawaban: B

Pembahasan:

Sikap terpuji merupakan bentuk dari nilai moral. Dalam cerita di atas, kita dapat menemukan sikap terpuji dari tokoh Fati. Kutipan “Saya paham, Dok. Saya ingin sembuh.” Ini menunjukkan bahwa Fati tetap semangat berjuang demi kesembuhannya. Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah B.

Bagaimana, sudah semakin paham kan tentang unsur-unsur ekstrinsik cerpen? Jadi, kamu nggak akan bingung lagi saat mengerjakan soal tentang unsur ekstrinsik cerpen. Yuk, buat belajar lebih seru dan menyenangkan dengan ruangbelajar. Ada video belajar beranimasi, soal latihan dan rangkumannya, lho!

ruangbelajar

Referensi:

Trianto, Agus dkk. 2018. Bahasa Indonesia (edisi revisi). Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Sumber Foto:

Contoh cerpen. Tautan: https://rosimeilani.com/2015/05/13/cerpen-anak-di-majalah-socakoran-sinar-harapan/

 

Artikel diperbarui 5 November 2021.

Profile

Shabrina Alfari

Content Writer at Ruangguru. Hope my writing finds you well and help you learn a thing or two :)