Menangkal Hoax Dengan Cara Berpikir Diakronik dan Sinkronik | Sejarah Kelas 10

Fahri Abdillah Jul 15, 2021 • 6 min read


cara berpikir diakronik dan sinkronik

Artikel ini menjelaskan tentang cara berpikir diakronik dan sinkronik dalam sejarah, meliputi pengertian, ciri-ciri, serta pentingnya dalam kehidupan kita.

--

Guys, kamu tahu nggak yang dimaksud dengan cara berpikir diakronik dan sinkronik dalam sejarah? Kedua cara berpikir itu penting lho buat kamu memahami peristiwa-peristiwa pada masa lampau, juga peristiwa yang tengah terjadi belakangan ini.

Kenapa penting? Karena jika kamu sudah memahami kedua cara berpikir tersebut, kamu bisa menangkal berita-berita hoax. Selain itu, kamu juga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang ke kamu, baik dari guru, juga dari teman-teman kamu. Supaya nggak terjadi nih hal-hal seperti ini:

“Jhonny, coba dong ceritakan ke ibu dan ke teman-teman kamu bagaimana proses terjadinya reformasi di Indonesia,” pertanyaan guru ke kamu.

“A… e…. mm… itu…. karena mahasiswa berhasil menduduki gedung MPR dan DPR bu. Terus Presiden Soeharto akhirnya memutuskan mundur dari jabatannya,” jawab kamu.

“Aduh Jhony…. kan ibu minta kamu ceritain proses terjadinya. Jawabnya yang runtut dong, supaya bisa tahu sebab akibatnya dan ibu bisa tahu pemahaman dan pendapat kamu tentang peristiwa itu,” jawab ibu guru.

patrikMimik muka kalo nggak bisa jawab pertanyaan. (sumber: comicvine.gamespot.com)

 

Kalimat pernyataan ibu guru itu benar. Untuk menceritakan sebuah peristiwa sejarah, kita harus memiliki pemahaman yang baik agar tidak muncul pemahaman-pemahaman yang keliru. Hal itu bisa kamu lakukan dengan cara berpikir diakronik dan sinkronik. Supaya lebih jelas, simak pembahasan di bawah ini ya.

 

Cara Berpikir Diakronik

Secara etimologis, kata diakronik berasal dari bahasa Yunani, yaitu dia dan chronos. Dia artinya melintas, melampaui, atau melalui, sedangkan chronos artinya waktu. So, diakronik itu artinya sesuatu yang melintas, melampaui, atau melalui dalam batasan-batasan waktu.

Cara berpikir diakronik sering dikaitkan dengan cara berpikir secara kronologis. Kronologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu chronos yang berarti waktu dan logos yang berarti ilmu atau uraian. Jadi, kronologi adalah ilmu tentang waktu yang membantu dalam menyusun peristiwa-peristiwa sesuai dengan urutan waktu terjadinya.

Jadi, udah tau nih ya bedanya antara diakronik dan kronologi? Kalo diakronik cara berpikirnya, sedangkan kronologi itu ilmu bantunya. Jangan sampai ketuker, ya!

Contohnya:

Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, Subang, Jawa Barat, pada 8 Maret 1942.

Ketika kamu mampu berpikir dalam aspek diakronik, kamu akan mampu berpikir secara runtut, teratur, dan berkesinambungan. Kenapa bisa begitu? Karena diakronik menekankan pada urutan waktu kejadian. Dengan begitu, dengan cara berpikir diakronikmu, kamu dapat mengidentifikasi suatu masalah dengan tepat. Kamu juga bisa terhindar dari pemahaman anakronik, lho!

Apa itu anakronik? Anakronik artinya menempatkan tokoh, objek, peristiwa, atau kebiasaan yang tidak sesuai dengan urutan waktunya.

ciri-ciri diakronik

Baca Juga: Ada Apa Sebelum Tahun 1?

Selain kronologi, di dalam diakronik kamu juga harus memahami istilah periodisasi. Periodisasi bisa digunakan untuk mengklasifikasikan peristiwa-peristiwa masa lalu secara menyeluruh. Dalam periodisasi, kamu bisa membagi peristiwa ke dalam berbagai macam jenis atau kelompok, mulai dari sistem politik, ekonomi, kepercayaan, agama, sosial, dan budaya. Periodisasi juga bisa disebut sebagai pembabakan, ya.

Contohnya:

Perkembangan sejarah antara zaman praaksara dan zaman aksara di Nusantara, salah satu aspek yang dilihat adalah budaya.

 

Periodisasi dapat memudahkan kamu untuk memahami hal-hal seperti:

  • Perkembangan manusia dari waktu ke waktu.
  • Kesinambungan antarperiode.
  • Kemungkinan pengulangan fenomena.
  • Perubahan dari periode awal hingga periode berikutnya.
periodisasi sejarah indonesia

 

Cara Berpikir Sinkronik

Cara berpikir sinkronik adalah cara berpikir yang mengutamakan penggambaran ruang yang meluas, namun tidak terlalu memikirkan dimensi waktunya. Melalui pendekatan sinkronis, kita bisa menganalisa suatu peristiwa sejarah tertentu pada waktu tertentu. Misalnya penggambaran sosial dan politik Indonesia ketika terjadi reformasi pada tahun 1998. Penggambaran peristiwa sejarah di sini hanya menganalisis struktur dan fungsi sosial dan politik di tahun 1998 saja.

Misal, di situ dijelaskan apa yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998, siapa saja tokoh yang terlibat, di daerah mana saja peristiwa reformasi terjadi, bagaimana dampak reformasi bagi pemerintahan dan masyarakat Indonesia, dan lain sebagainya. Jadi, fokusnya pada peristiwanya, bukan urutan waktunya, ya!

ciri-ciri sinkronik-1

Sinkronik seringkali digunakan dalam ilmu sosial, seperti sosiologi, politik, antropologi, ekonomi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Meski begitu, baik ilmu sejarah maupun ilmu sosial saling berkaitan. Ada kalanya ketika ingin meneliti sejarah, kamu bisa menggunakan ilmu sosial, begitupun sebaliknya.

Contohnya:

Kondisi sosial dan politik Indonesia pada orde baru tahun 1966 sampai tahun 1998 yang ditulis oleh seorang ahli ilmu sosial dan politik.

 

kegunaan sejarah bagi ilmu sosial-1

Bagaimana? Kalau dilihat dari penjelasannya, cara berpikir diakronik dan sinkronik sangat penting bagi kehidupan kita, ya. Ketika kamu, teman, keluarga, serta masyarakat di sekitar kamu sudah bisa memandang suatu hal melalui pendekatan diakronik dan sinkronik, isu-isu yang berkembang belakangan ini dengan sangat mudah dibuktikan kebenarannya. Jadi, masyarakat semakin cerdas dan tidak lagi mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dimunculkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Supaya kamu tambah cerdas dalam melihat suatu permasalahan baiknya kamu belajar lebih giat lagi. Belajar giat yang bisa membuat kamu paham tidak hanya hapal, yaitu dengan menggunakan produk ruangbelajar. Melalui video belajar animasi, kamu bisa lebih memahami maksud dari materi yang dijelaskan oleh tutor.

New Call-to-action

 

Artikel diperbarui pada 15 Juli 2021.

Profile

Fahri Abdillah

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman. Tertarik dengan isu pendidikan, literasi media, dan budaya. Suka jalan-jalan ke tempat asing, fotografi, dan menulis.

Beri Komentar