Sejarah Terjadinya Revolusi Hijau dan Dampaknya | Sejarah Kelas 12

Artikel Sejarah kelas 12 ini akan membahas tentang sejarah terjadinya revolusi hijau di dunia dan di Indonesia. Yuk, pelajari bersama!
—
Ada rasa bahagia tersendiri saat kamu—terutama yang sehari-harinya tinggal di kota—melihat hamparan sawah yang mulai menguning, siap dipanen. Pemandangan seperti itu rasanya menenangkan mata dan pikiran. Soalnya, kalau di kota besar, yang sering kita temui justru kemacetan panjang, hiruk-pikuk kendaraan, dan polusi udara yang bikin penat.
Tapi, di balik pemandangan sawah yang terlihat indah, ternyata tersimpan cerita panjang tentang bagaimana manusia berusaha memenuhi kebutuhan pangan, lho. Dunia pertanian mengalami banyak perubahan besar, salah satunya melalui sebuah peristiwa penting yang dikenal sebagai Revolusi Hijau.
Nah, di artikel ini kita akan membahas sejarah yang berkaitan dengan dunia pertanian, mulai dari kemunculannya di dunia, hingga dampaknya bagi pertanian di Indonesia. Penasaran kan? Keep scroll ya!
Pengertian Revolusi Hijau
Kamu pernah mendengar tentang Revolusi Hijau nggak? Tenang, ini bukan gerakan orang-orang pakai baju hijau atau kampanye lingkungan, ya.
Revolusi Hijau adalah sebuah upaya besar untuk mengembangkan teknologi di bidang pertanian dengan tujuan utama meningkatkan produksi pangan. Revolusi ini muncul sebagai jawaban atas masalah kekurangan pangan dan meningkatnya jumlah penduduk di berbagai negara, terutama setelah Perang Dunia II.
Melalui Revolusi Hijau, cara bertani yang sebelumnya masih tradisional mulai mengalami perubahan besar. Petani tidak lagi hanya mengandalkan alat sederhana dan cara alami, tetapi mulai menggunakan teknologi pertanian modern. Contohnya seperti penggunaan bibit unggul, pupuk kimia, pestisida, sistem irigasi yang lebih teratur, hingga alat-alat pertanian modern.
Dengan kata lain, Revolusi Hijau mengubah sistem pertanian dari yang awalnya berskala kecil dan tradisional menjadi lebih modern, efisien, dan produktif. Perubahan inilah yang kemudian berdampak besar pada meningkatnya hasil panen dan ketersediaan pangan di banyak negara, termasuk Indonesia.
Latar Belakang Terjadinya Revolusi Hijau
Revolusi Hijau tidak muncul begitu saja. Ada berbagai kondisi global yang mendorong lahirnya upaya besar untuk meningkatkan produksi pangan di dunia, di antaranya:
1. Krisis Pangan Pasca Perang Dunia II
Setelah Perang Dunia II berakhir, yaitu sekitar tahun 1945, banyak negara mengalami kehancuran besar, termasuk di sektor pertanian. Lahan pertanian rusak, alat produksi terbatas, dan sistem distribusi pangan terganggu. Akibatnya, persediaan makanan menjadi sangat terbatas, sementara kebutuhan pangan terus meningkat.
Kondisi ini menimbulkan krisis pangan di berbagai wilayah dunia. Banyak negara mulai khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan makan penduduknya sendiri jika cara bertani tidak segera diperbaiki.
2. Pertumbuhan Penduduk Dunia yang Pesat
Selain krisis pangan, dunia juga menghadapi ledakan jumlah penduduk. Jumlah manusia meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan pertanian tradisional dalam menghasilkan bahan makanan.
Misalnya, pada pertengahan abad ke-20, jumlah penduduk dunia meningkat tajam, terutama di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Ketika kebutuhan pangan meningkat, luas lahan pertanian justru tidak bertambah secara signifikan. Nah, kalau cara bertani tetap menggunakan metode lama, produksi pangan dikhawatirkan tidak akan mampu mengejar pertumbuhan penduduk.
Thomas Robert Malthus menyatakan bahwa Revolusi Hijau terjadi karena semakin meningkatnya jumlah penduduk di dunia, namun tidak diiringi dengan peningkatan jumlah produksi pangan.

3. Kekhawatiran Akan Kelaparan Massal di Negara Berkembang
Kondisi paling parah dirasakan oleh negara-negara berkembang, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Banyak wilayah di negara-negara tersebut mengalami hasil panen yang rendah, ketergantungan pada iklim dan musim, serta keterbatasan teknologi pertanian.
Sebagai contoh, beberapa negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara sempat diprediksi akan mengalami kelaparan massal karena produksi pangan yang tidak mencukupi. Di Afrika dan Amerika Latin, kekeringan dan rendahnya produktivitas pertanian menyebabkan jutaan orang kekurangan pangan.
Nah, untuk mengatasi masalah tersebut, ada beberapa lembaga yang melakukan penelitian seperti Ford Foundation dan Rockerfeller Foundation. Lembaga-lembaga tersebut melakukan penelitian di negara-negara berkembang. Meksiko, Filipina, India, dan Pakistan menjadi objek penelitian mereka. Kita ambil contohnya di negara Meksiko dan Filipina ya.
Baca Juga: Peran Indonesia dalam Menjaga Perdamaian di Asia
—
Sebelum kita bahas materi revolusi hijau lebih lanjut, kalo masih ada poin-poin yang belum kamu mengerti, mending belajar sama ahlinya, deh. Belajar bareng kakak-kakak pengajar di Ruangguru Privat Sejarah misalnya.
Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (offline) atau daring (online). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!
Penelitian dan Tokoh Revolusi Hijau
Pertama, kita ke Meksiko dulu. Di tahun 1944, ada sebuah pusat penelitian bening jagung yang didukung Rockerfeller Foundation. Apakah penelitian tersebut berhasil? Wuuoooh sudah tentu dong. Penelitian tersebut berhasil menemukan beberapa varietas baru dari hasil jagung yang hasilnya di atas rata-rata varietas lokal Meksiko.
Sekarang kita beralih ke Filipina ya. Nah, pada tahun 1962, Rockerfellar Foundation dan Ford Foundation mendirikan sebuah badan penelitian tanaman di Los Banos. Nama badan tersebut ialah International Rice Research Institute (IRRI).
Apa sih yang dilakukan IRRI? Intinya, IRRI ini meneliti tentang pengembangan varietas padi yang lebih produktif, tahan banjir, dan tahan kekeringan. IRRI juga menjaga dan menyaring lebih dari 132 ribu jenis padi untuk keanekaragaman genetik.
Nah, kalau kamu penasaran dengan tokoh Revolusi Hijau, yuk kenalan dengan Norman Ernest Borlaug. Ia merupakan seorang ahli agronomi dan genetika tanaman, yaitu ilmu yang mempelajari cara meningkatkan kualitas dan hasil tanaman melalui penelitian ilmiah. Ia dikenal luas sebagai Bapak Revolusi Hijau Dunia karena jasanya yang sangat besar dalam mengatasi krisis pangan global.
Peran utama Norman Borlaug dalam Revolusi Hijau adalah mengembangkan varietas gandum unggul yang memiliki beberapa kelebihan, seperti hasil panen tinggi, tahan terhadap penyakit, dan batang pendek sehingga nggak mudah roboh. Varietas gandum ini kemudian dikembangkan dan diuji di berbagai negara, terutama di wilayah yang rawan kekurangan pangan.

Revolusi Hijau di Indonesia
Gimana dengan Indonesia pada waktu itu? Apa sudah ada Revolusi Hijau?
Yaps, pada masa Orde Baru, tepatnya sejak dilaksanakannya Pelita I di tahun 1969, Revolusi Hijau diterapkan dan fokus pada peningkatan hasil pertanian (beras). Pelaksanaannya ada 4 program yakni intensifikasi pertanian, ekstensifikasi pertanian, diversifikasi pertanian, dan rehabilitasi. Kita bahas satu per satu ya.
Baca Juga: Kehidupan Politik dan Ekonomi Masa Orde Baru
1. Intensifikasi Pertanian
Pertama, intensifikasi pertanian. Ini diterapkan dalam bentuk Panca Usaha Tani yakni pemilihan bibit unggul, pengaturan irigasi, pemupukan, teknik pengolahan tanah, dan pemberantasan hama.
2. Ekstensifikasi Pertanian
Kedua, ekstensifikasi pertanian. Langkah ini merupakan perluasan area pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan. Contohnya itu seperti pemanfaatan hutan, lahan gambut, atau padang rumput untuk digunakan sebagai lahan pertanian.
3. Diversifikasi Pertanian
Ketiga, diversifikasi pertanian. Ini dapat katakan pengalokasian sumber daya pertanian ke beberapa aktivitas lainnya yang menguntungkan, baik secara ekonomi atau lingkungan. Contohnya, menanamkan beberapa jenis tanaman dalam satu lahan atau memelihara beberapa hewan ternak dalam satu kandang.
4. Rehabilitasi
Nah, yang terakhir, rehabilitasi. Rehabilitasi ini merupakan sebuah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan cara memperbarui segala hal terkait pertanian. Misalnya memperbaiki sawah tadah hujan menjadi sawah irigasi.

Dampak Revolusi Hijau di Indonesia
Revolusi Hijau membawa perubahan besar dalam sistem pertanian Indonesia. Namun, di sisi lain, ada juga dampak negatif yang muncul dalam jangka panjang. Yuk, kita simak!
Dampak Positif Revolusi Hijau di Indonesia
1. Produksi Padi Meningkat Pesat
Salah satu dampak paling nyata dari Revolusi Hijau adalah meningkatnya produksi padi. Dengan penggunaan varietas padi unggul, pupuk kimia, dan irigasi yang lebih baik, petani data panen lebih sering, bahkan 2–3 kali setahun, sehingga sangat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia yang jumlahnya terus bertambah.
2. Indonesia Tidak Bergantung pada Impor Beras
Pada masa awal penerapan Revolusi Hijau, Indonesia sempat mencapai swasembada beras. Artinya prgram ini mampu memenuhi kebutuhan beras dari produksi dalam negeri. Hal tersebut juga berdapak pada ketahanan pangan nasional yang semakin baik, srta meningkatkan rasa percaya diri bangsa dalam sektor pertanian.
3. Pendapatan Petani Meningkat
Dengan hasil panen yang lebih banyak, banyak petani mengalami peningkatan pendapatan, perbaikan taraf hidup, dan kesempatan ekonomi yang lebih baik, terutama di pedesaan.
Dampak Negatif Revolusi Hijau di Indonesia
Meski membawa banyak manfaat, Revolusi Hijau juga menimbulkan berbagai masalah, terutama jika diterapkan secara terus-menerus tanpa pengelolaan yang baik.
1. Penurunan Kualitas Tanah
Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dalam jangka Panjang, ternyata dapat menyebabkan tanah menjadi keras, kesuburan alami tanah menurun, dan kematian pada mikroorganisme tanah yang bermanfaat. Akibatnya, tanah menjadi ketergantungan pupuk, sehingga ketika petani nggak menggunakan pupuk Kimia, hasil panen justru menurun.
2. Pencemaran Lingkungan
Pemakaian pestisida dan pupuk kimia yang berlebihan juga dapat mencemari tanah, air sungai, dan air tanah. Ujung-ujungnya, hal ini juga berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan air, dan keseimbangan ekosistem lingkungan sekitar sawah.
3. Hilangnya Keanekaragaman Hayati
Sebelum Revolusi Hijau, petani menanam berbagai jenis padi lokal. Namun setelah Revolusi Hijau, hanya beberapa varietas unggul yang digunakan secara massal. Akibatnya, keanekaragaman hayati pertanian berkurang, padahal varietas lokal biasanya lebih tahan terhadap kondisi alam tertentu.
—
Nah, gimana nih gais? Masih penasaran dengan sejarah terjadinya Revolusi Hijau? Simak ulasannya lebih lengkap di ruangbelajar ya. Ada video belajar dengan animasi keren yang bakal membantu kamu dalam belajar. Daftar sekarang juga ya.
Referensi:
Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009. Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XII Program IPA. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Hapsari, Ratna dan Adil M. Sejarah untuk SMA/MA Kelas XII Kurikulum 2013 Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Erlangga.



