Teori Ketimpangan Sosial Klasik & Modern | Sosiologi Kelas 12

Teori Ketimpangan Sosial

Ketimpangan sosial itu apa, ya? Simak pembahasannya sampai selesai untuk cari tahu macam-macam teorinya, ya!

--

Di sebelah kanan, terlihat beberapa gedung pencakar langit yang berkumpul di dalam suatu area. Apartemen mewah, gedung kantor start-up besar, mal yang megah, hingga hotel berbintang. Semuanya tertata rapih terlihat sangat modern.

Namun di sebelah kiri, terlihat pemukiman kumuh dan sesak. Letaknya hanya terpaut tembok tinggi dengan area mewah di samping kanannya. Banyak rumah yang saling bertumpuk, gang kecil yang kumuh, dan saluran perairan yang mampat penuh sampah.

contoh ketimpangan sosialContoh ketimpangan sosial (dosenpendidikan.com)

Kamu familiar dengan pemandangan ini, kah? Kalau iya, kamu sedang menyaksikan langsung sebuah bentuk ketimpangan sosial, loh! Eits, tapi ketimpangan sosial nggak sesimpel itu, nih. Yuk, simak bahasan lengkapnya mengenai macam-macam teori ketimpangan sosial!

 

Ketimpangan Sosial

Ketimpangan sosial adalah keadaan yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan akses untuk mendapatkan dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Bahasa kerennya, ketimpangan sosial ini bisa juga disebut sebagai social inequality

Ketimpangan ini seringkali terjadi akibat adanya kebijakan yang tidak adil terhadap kelompok tertentu, loh! Nih, aku mau kasih sebuah cerita biar kamu makin gampang bayanginnya, ya. Hehe

Pengertian Ketimpangan Sosial

Baca juga: Faktor-Faktor Penyebab Ketimpangan Sosial

Alkisah, terdapat sebuah sumur sebagai sumber mata air di suatu lahan. Di sebelah utara dan selatan sumur ini masing-masing terdapat sebuah desa yang sama-sama membutuhkan air bersih. Di sebelah utara, Desa Sunagakure merupakan desa dengan banyak gunung dan lembah. Sedangkan Desa Konohagakure yang terletak di sebelah selatan merupakan desa dengan hamparan tanah yang luas.

Karena perjalanan untuk mendapat air bersih dari Desa Sunagakure memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, desa ini sering mengalami krisis air bersih. Sedangkan Desa Konohagakure yang dapat dengan mudah mengambil air ke sumur tiap harinya memudahkan kegiatan sehari-hari masyarakatnya dalam bertani.

Seiring berjalannya waktu, Desa Konohagakure berkembang menjadi kota kecil karena produktivitasnya tinggi. Sedangkan Desa Sunagakure kondisinya masih tidak berbeda dengan kondisinya beberapa tahun silam. Ini karena Desa Sunagakure masih sering dihantui dengan krisis air bersih yang menyebabkan berbagai masalah dan kemunduran di desanya.

Nah, cerita kedua desa di atas bisa dikatakan sebagai bentuk ketimpangan sosial, loh! Desa Konohagakure tidak salah, begitu juga Desa Sunagakure. Hal yang menyebabkan ketimpangan pada cerita ini adalah, kedua desa memiliki sumber daya yang sama, namun salah satunya tidak memiliki akses yang memadai untuk menggunakan sumber daya tersebut.

Sampai di sini udah paham, kan? Kalo gitu udah dulu ceritanya, ya. Xixixi. Sekarang aku mau lanjut jelasin beberapa teori mengenai ketimpangan sosial. Ada beberapa teori dengan pandangan yang berbeda, loh. Kuy langsung aja, ya~

Baca juga: Ketimpangan Sosial di Era Globalisasi

 

Teori Ketimpangan Sosial

Selama berkembangnya zaman, pemikiran teori ketimpangan sosial dapat dibagi menjadi 2 era, yaitu teori ketimpangan sosial klasik dan modern. Teori ketimpangan sosial klasik muncul dari abad ke-19 akhir hingga abad ke-20 awal. Sedangkan teori ketimpangan sosial modern muncul pasca Perang Dunia II.

Teori ketimpangan sosial klasik dan modern

Teori ketimpangan sosial klasik terdiri dari teori yang dikemukakan oleh Emile Durkheim,  Karl Marx, dan Max Weber. Sedangkan teori ketimpangan sosial modern terdiri dari teori yang dikemukakan oleh Julius H. Boeke dan Raul Prebisch. Yuk, kita bahas satu-satu, ya!

 

1. Teori Ketimpangan Sosial Klasik


Teori Struktural Fungsional (Emile Durkheim)

Menurut Emile Durkheim, ketimpangan sosial tidak dapat dihindari dan memiliki peran penting dalam masyarakat. Ini karena ketimpangan berfungsi untuk menciptakan sistem meritokrasi, yaitu sistem yang digunakan untuk menilai seseorang berdasarkan kualitas dan keahliannya.

Contoh dari teori ini adalah masyarakat yang berpendidikan dan berketerampilan rendah mengisi pekerjaan dengan penghasilan yang rendah juga. Namun, hal ini justru dibutuhkan oleh orang dengan pendidikan dan keterampilan tinggi.

Bayangkan, kalau semua orang bekerja sebagai CEO, pengacara, atau dokter, lalu siapa yang akan mengisi posisi petani, pramusaji, tukang cukur rambut, atau bahkan kurir ekspedisi? Inilah mengapa menurut Emile ketimpangan sosial tidak dapat dihindari dan memiliki peran yang penting.

Yang dapat menjadi masalah adalah, apabila kesempatan kerja didasari oleh faktor keturunan, gender, suku, atau agama. Apabila ini terjadi, barulah ketimpangan sosial dikatakan sebagai hal yang buruk. Ohiya, kelemahan dari teori ini adalah tidak mempertimbangkan adanya konflik yang muncul akibat ketimpangan sosial.

Teori Struktural Fungsional Emile Durkheim

Baca juga: Contoh Ketimpangan Sosial dalam Aspek Ekonomi

 

Teori Konflik (Karl Marx)

Menurut teori konflik, ketimpangan sosial dapat terjadi akibat adanya eksploitasi oleh kelompok yang lebih kuat. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kapitalisme yang lebih menguntungkan pemodal, tetapi lebih merugikan pekerja/buruh. 

Contoh yang sesuai dengan teori ini adalah kontrak kerja yang tidak jelas atau sewenang-wenang, sehingga pekerja lebih rentan dipecat. Adanya ketidakadilan upah dan perlindungan kerja bagi buruh/pekerja juga merupakan contoh kasus yang sesuai.

Kelemahan dari teori ini adalah terlalu berfokus pada aspek ekonomi dalam ketimpangan sosial. Padahal, terdapat beberapa bentuk ketimpangan sosial selain dari ketimpangan ekonomi.

Teori Konflik Karl Marx

 

Teori Kelas, Status, Kekuasaan (Max Weber)

Teori ini beranggapan bahwa ketimpangan sosial memiliki 3 dimensi, yaitu status, kekayaan, dan kekuasaan. Jadi sebenarnya, teori ini mengisi kekurangan pada teori konflik yang terlalu berfokus pada masalah ekonomi.

Pada dimensi kelas, ketimpangan sosial bergantung pada usaha individu untuk mencapai kekayaan. Pada dimensi status berkaitan dengan individu atau kelompok dalam berhubungan dengan satu sama lain. Sedangkan pada dimensi kekuasaan adalah ketika yang berkuasa cenderung lebih mendominasi. 

Contoh kasus yang sesuai dengan teori adalah munculnya politik uang yang menguntungkan beberapa pihak ketika pemilu sedang berlangsung.

Teori Kelas, Status, dan Kekuasaan Max Weber

Baca juga: Masalah Ketimpangan Sosial di Bidang Pendidikan

 

Teori Ketimpangan Sosial Modern


Teori Dualisme Sosial (Julius H. Boeke)

Teori Dualisme Sosial berpandangan bahwa ketimpangan antara negara Barat (maju) dengan negara Timur (berkembang) terjadi karena adanya perbedaan tujuan ekonomi. Karena dualisme ekonomi ini, kebijakan ekonomi di negara maju tidak berlaku untuk menyejahterahkan masyarakat di negara berkembang dan bekas jajahan.

Contoh kasus yang sesuai dengan teori ini adalah adanya pola pikir tradisional pada masyarakat yang bekerja hanya sekedar mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari. Hal ini menghambat terjadinya industrialisasi yang akhirnya sulit mencapai kemajuan.

Mirip dengan teori konflik, kelemahan teori ini adalah masih terlalu berfokus pada faktor ekonomi. Teori Boeke juga cenderung pesimis terhadap perkembangan negara berkembang.

Teori Dualisme Sosial Julius H Boeke

 

Teori Dependensi (Raul Prebisch)

Teori dependensi atau ketergantungan berhubungan dengan adanya ketergantungan antara negara berkembang dengan negara maju. Adanya ketergantungan ini menyebabkan kemunduran bagi negara-negara berkembang atau bekas jajahan.

Kenyataannya, banyak negara maju yang mengutamakan hasil pertaniannya sendiri, sehingga cenderung menutup peluang bagi negara berkembang untuk mengekspor hasil pertaniannya. Di sisi lain, negara berkembang kesulitan membeli barang industri dari negara maju. Padahal, harga hasil pertanian di negara berkembang cenderung tidak naik, sehingga hal ini terus mencegah negara berkembang mencapai kemakmuran.

Akhirnya, negara industri semakin maju dan berkembang, sedangkan negara berkembang semakin tertinggal. Inilah poin utama pada teori ini.

Kelemahan dari teori ini adalah terlalu berfokus pada aspek eksternal, yaitu ketergantungan pada negara maju. Teori ini juga masih terlalu fokus pada aspek ekonomi.

Teori Dependensi Raul Prebisch

Baca juga: Cara dan Upaya Mengatasi Ketimpangan Sosial

 

Nah, itu dia macam-macam teori ketimpangan sosial yang ada. Kalau menurut kamu, yang paling relate dengan kehidupan sekarang itu teori yang mana? Atau kamu punya pandangan lain mengenai ketimpangan sosial? Kalau iya, coba kita diskusi ya di kolom komen. Xixixi.

Kalau kamu mau belajar lebih banyak lagi mengenai ketimpangan sosial atau materi lainnya, langsung cobain ruangbelajar, deh! Di ruangbelajar materi seperti ini bahasannya lebih detail dan tentunya lebih asik, loh! Karena dibahasnya lewat video animasi yang keren dan nggak ngebosenin banget! Huehe.

Sampai jumpa di materi berikutnya, ya! Jaga kesehatan dan tetap semangat dalam belajar, xixixi. Dadah~

ruangbelajar

Referensi:

Nuraini, dkk. (2018) Ketimpangan Sosial sebagai Dampak Perubahan Sosial di Tengah Globalisasi. Kemendikbud. Diakses pada: http://repositori.kemdikbud.go.id/19432/ (13 Januari 2022)

Widiningsih. (2020) Ketimpangan Sosial sebagai Dampak Perubahan Sosial di Tengah Globalisasi. Kemendikbud. Diakses pada: http://repositori.kemdikbud.go.id/21908/ (13 Januari 2022)

Profile

Kak Ali MT Soshum

Lulusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta. Hobi berkebun, menulis, dan membaca (yang fiksi aja tapi hehe). Suka ngajar dan ngelatih juga. Pelatih Paskibra favoritmu.