Contoh Kalimat If Clause & Tipe Penggunaannya | Bahasa Inggris Kelas 9

Contoh penggunaan kalimat if clause

Artikel ini menjelaskan tentang berbagai tipe penggunaan dan contoh kalimat if clause.

--

Hayo, siapa yang suka berandai-andai. "Coba aja kemaren gue belajar, pasti gue bisa dapetin kampus incaran." atau "Kalau gue jadi elo... gue sih bakal ngelakuin bla bla bla." Kira-kira gimana, ya, cara ngomongin hal kayak gitu dalam bahasa inggris?

Pengandaian dalam bahasa inggris disebut If Clause. Dan di dalam If Clause, kita mengenal berbagai macam "tipe pengandaian". Dua kalimat di atas, misalnya. Itu adalah dua jenis pengandaian yang berbeda. Yang pertama adalah showing regrets. Berandai-andai tentang hal yang bertolak belakang dengan yang kita lakukan. Sementara yang "kalau gue jadi elo..." adalah pengandaian yang tidak mungkin terjadi. 

Kalau begitu, langsung kita bahas satu per satu aja, yuk, kayak gimana penggunaan masing-masing if clause itu!

 

If Clause First Conditional

Ada dua hal yang tergolong ke dalam First Conditional dalam If Clause. Yaitu, penggunaan if untuk pengandaian tentang hal yang akan terjadi di masa depan, dan if sebagai hal yang akan kamu lakukan, jika sebuah hal terpenuhi.

 

Sebagai Pengandaian di Masa Depan

"Langitnya mendung ya. Kalo ga bawa payung, nanti keujanan lho!"

Kamu pasti pernah, kan, mengatakan hal seperti itu. Dari kalimat itu, kita tahu bahwa di masa depan, belum pasti terjadi hujan. Tapi kita berandai-andai "kalau hujan dan gak bawa payung. kamu bakal kehujanan. Di bahasa inggris, yang kayak gini disebut dengan If Clause atau Conditional Sentence. 

Kalau kalimat itu diubah ke bahasa Inggris jadinya gini:

“The sky is really dark. It’s going to rain soon. If you don't bring your umbrella, you’ll get wet.

Kalau ngomongin pengandaian yang akan terjadi di masa depan kayak gini, pola yang dipakai adalah seperti ini:

contoh if clause tipe satu

 

Sebagai Akibat dari Suatu Syarat yang Terpenuhi

Selain sebagai pengandaian untuk hal yang akan terjadi, If Clause First Conditional juga bisa dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang akan dilakukan, jika ada hal yang terjadi. Misalnya, “Aku gamau berangkat kalau kamu nggak mandi!”

Atau contoh yang sering dilontarkan orang ketika main: 

“Lo datang gak nanti ke tempat Budi?”

“Gue sebetulnya males sih. Tapi kalau lo ikut, gue ayo deh!” 

 

Di bahasa inggris, percakapan itu menjadi seperti ini:

“Do you wanna go to Budi’s house?”

“Actually, I am kinda lazy. But, if you come, i will come too.”

What if i don't?” 

“If you don’t go. I won't go. I don’t want to go alone.”

 

Gimana? Simpel banget kan? Kayak ngomong bahasa indonesia aja sebetulnya. Di If Clause pengandaian dan hal yang akan kamu lakukan jika suatu syarat terpenuhi, hanya menggunakan Present (Verb 1), diikuti dengan Future (Will) untuk kejadian resultnya. Sekarang, coba latihan soal ya!

 

 

 

If Clause Zero Conditional

Apa itu zero conditional? Ini tuh pengandaian juga. Mirip kayak pengandaian yang ada di First Conditional. Bedanya, pengandaian di sini menunjukkan kebiasan atau fakta yang pasti terjadi.

Misalnya, “Kalau kamu merem, kamu gak bisa liat.” Atau “Kalau kebanyakan main hape di tempat gelap, mata jadi rusak.” Itu adalah fakta. Dan itu masuk ke dalam zero conditional.

Sekarang kita coba dalam bahasa inggris ya:

If i close my eyes, I see nothing but darkness.

If you play your mobile phone too long in the darkness, your eyes will be at risk.”

 

Dari situ keliatan, kan, kalau zero conditional menunjukkan hal yang pasti terjadi. Masalahnya, gimana kalau fakta itu hanya terjadi di kita aja? Misalnya, buat saya, minum susu di pagi hari itu bikin sakit perut. Itu fakta. Tapi, hanya untuk saya. Buat orang-orang lain, mungkin minum susu di pagi hari biasa aja.

Lalu, kalau begitu, kita harus pakai sentence apa?

Buat hal-hal yang bersifat fakta, baik ilmiah, fakta umum, maupun kebiasaan, kita menggunakan simple present.

rumus if clause tipe nol

 

If or When

Secara harfiah, dua kata ini punya arti yang berbeda. "If" mempunyai arti "seandainya, kalau, atau jika". Sementara "when" berarti "ketika atau saat." Lalu, apakah if bisa digantikan when? Otentu iya. Di dalam zero conditional, if bisa digantikan oleh when.

Kok gitu?

Ya karena, walaupun secara arti harfiah beda, tapi if dan when tuh sama-sama menunjukkan akibat yang ditimbulkan dari suatu hal.

Misalnya:

“Kalau aku tutup mata, aku ga bisa liat apa-apa.” Ini bisa kita ganti dengan “Saat aku tutup mata, aku ga bisa liat apa-apa” kan? Kurang lebih konsepnya kayak gitu.

Alhasil, “If i close my eyes, i see nothing but darkness.” bisa diganti dengan “When i close my eyes, i see nothing but darkness.”

Contoh lain:

“If you are tired, get some sleep.” Jika kita ganti dengan “When you are tired, get some sleep “tetap akan bisa. Karena secara makna kalimat tersebut tetap sama. Pun dengan “If i feel bored, i read my favorite novels.” Dia bisa kita ganti dengan “When i feel bored, i read my favorite novels.”

 

If Clause 2nd Conditional

If Clause tipe kedua ini digunakan ketika kamu berandai-andai tentang sesuatu yang gak mungkin terjadi. Bahasa sederhananya, kamu mengkhayal. Lebih sederhananya lagi, anda halu. Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.

Di sore yang hujan, tiba-tiba saya bilang ke temen, “Duh, kalo aja gue bisa balik ke masa muda, pasti gue bakal lebih sering main sama temen.” 

Lihat perbedaannya, kan, dengan zero dan first conditional? Gak mungkin kita benaran bisa kembali ke masa muda.

Dalam bahasa inggris, kehaluan ini menjadi “If i became teenager again, i would play more with my friends at school.

rumus if clause tipe 2

 

Sekarang, kita coba contoh dialog If Clause untuk 2nd Condition ya:

Father: Happy birthday sweetie!

Son: Hey, Dad!

Father: Did you get my present?

Son: Yeah! I love it, but I wish you were here. 😔

Father: I’m sorry. If i were Superman, I would fly there to be with you and your mom.

 

Eits, bentar bentar. Kok kayak ada yang aneh ya di kalimat si bapak itu? “If I were Superman” katanya? Bukannya I seharusnya berpasangan dengan “was”?

If I Were

Seperti yang udah dijelasin di atas bahwa dalam If Clause 2nd Condition, kita menggunakan past tense. Yaitu “If + S + Verb 2”. Nah, yang dimaksud dengan verb di sini gak cuma kata kerja aja kayak “go, sleep, read, dll”, tetapi juga “Is, am, are.” ya. Maksudnya? Coba aja liat kalimat “I am a teacher.” Di situ, yang tergolong ke dalam predikat adalah “am”-nya.

Berhubung dalam 2nd Condition ini kita menggunakan Verb 2, maka kita memakai bentuk lampaunya, alias were.

Lho, kenapa cuma were? Kenapa nggak was? Kan dia verb 2 juga.”

Betul. Was juga termasuk ke dalam verb 2. Kamu bahkan mungkin akan mendengar kalimat “If I was her parents, i wouldn’t do it!” misalnya. Kalimat itu bisa aja kamu temui di kehidupan nyata, atau diomongin langsung sama native speaker. Orang-orang pun paham maksudnya. Tetapi, kalimat tersebut secara grammar salah. Yang benar adalah:

“If i were her parents, I wouldn’t do it!”

Mau depannya he, she, atau I, dalam If Clause tetap menggunakan were ya! Misalnya dalam contoh dialog if clause ini:

Anwar: I think Desy is angry now.

Ratu: I don’t think so. If she were angry, she would shut herself up in her room.

Okee, semoga paham yaa. Sekarang kita lanjut ke tipe ketiga.

 

If Clause 3rd Condition

Bayangkan kejadian ini: kamu janjian sama teman dekatmu pukul 10 pagi. Malamnya, karena lagi demen binge watching, kamu begadang dan akhirnya tidur pagi. Kamu bangun setengah sepuluh! Alarm kok gak bunyi? Akhirnya kamu loncat dari kasur, ngibrit ke kamar mandi.

Kamu bersiap-siap pakai baju terbaik. Waktu tinggal 10 menit lagi! 

Kamu ambil motor, tancap gas ngebut… lalu kecelakaan.

Di rumah sakit, Ibumu pun menasehati, “Kan… coba aja kamu gak begadang. Kalo gak begadang pasti gak bangun kesiangan. Kalo gak kesiangan kan nggak buru-buru deh. Jadi nggak perlu ngebut, gak bakal kayak gini kejadiannya.”

Nah, pengandaian si ibu itu termasuk ke dalam If Clause 3rd Condition. Di tipe ini, kita menggunakan past perfect tense. Karena tujuannya menggambarkan hal-hal yang bertolak belakang dengan apa yang terjadi atau apa yang seharusnya/ingin dilakukan di masa lalu.

Jadi, bisa digunakan untuk express regret, atau sense of relief. 

Dalam contoh kasus kecelakaan tadi, dalam bahasa inggris jadi begini:

“If Fahri had woken up on time, he would not have been in such a hurry. If Fahri had been more careful, he would not have had an accident.”

rumus if clause tipe 3

 

Wah, ternyata banyak juga ya contoh kalimat if clause yang sudah kita pelajarin. Meski begitu, tetap seru kan! Cara paling gampang belajar bahasa inggris adalah dengan praktik. Jadi, jangan sampai kamu coba baca dan hafalin teori dari rumus-rumus di atas ya. Tapi, pahami penggunaannya. Cobain aja kamu ajak teman kamu ngomong, pasti belajar bahasa inggris jadi jauh lebih seru.

Nah, kalau kamu pengin merasakan pengalaman serunya belajar bahasa inggris, yukikutan English Academy! Di sana, kamu bisa belajar bahasa inggris dengan kurikulum internasional dan dibantu tutor yang udah berpengalaman!

New call-to-action

 

Referensi:

Wachidah, Siti. 2018. Bahasa Inggris Kelas IXThink Globally Act Locally. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Profile

Kresnoadi

Pembuat cerita. | http://www.keriba-keribo.com/

Beri Komentar