Kondisi Iklim di Indonesia, Ciri-Ciri, dan Pengaruhnya Bagi Kehidupan | IPS Terpadu Kelas 6

Kondisi Iklim di Indonesia

Pada petualangan Roro dan Guntur kali ini, kita akan membahas tentang kondisi iklim di Indonesia, ciri-ciri, dan pengaruhnya bagi kehidupan. Yuk, kita simak kisahnya!

--

 

Siang itu, Roro sedang berkunjung ke rumah Guntur untuk mengerjakan tugas bersama. Setelah menyelesaikan tugas, mereka menonton televisi bersama Ibu Guntur di ruang tengah. Acara yang mereka tonton sedang membahas situasi dan kondisi Negara Jepang ketika musim panas berlangsung. 

“Ohhh, jadi sekarang di Jepang lagi musim panas, ya?” ujar Guntur. 

“Iya nih, Guntur. Kelihatannya asyik ya, liburan ke Jepang waktu musim panas!” kata Roro.

“Ah, kalau menurutku sih, liburan ke Jepang bakalan asyik-asyik aja sih, Ro, mau musim apapun juga.” ujar Guntur.

“Wah, iya juga ya..” Roro menganggukkan kepalanya tanda setuju.

“Eh, ngomong-ngomong di Jepang kan lagi musim panas, berarti sama dong, dengan Indonesia? Di Indonesia juga lagi musim panas, kan?” tanya Guntur.

“Yeeee, di Indonesia bukan musim panas, Guntur, tapi musim kemarau!” ujar Roro.

“Lho, emang beda, ya? Bukannya sama aja?” 

“Keduanya memang serupa, tapi tak sama ya, Guntur. Musim panas itu musim yang dimiliki negara-negara beriklim subtropis atau beriklim sedang, sementara musim kemarau dimiliki oleh negara-negara beriklim tropis.” jelas Ibu Guntur.

“Iklim? Iklim itu apa, Bu?” tanya Guntur kembali.

Iklim adalah keadaan rata-rata cuaca pada suatu wilayah dalam jangka waktu yang relatif lama. Bumi kita dibagi menjadi 4 iklim berdasarkan letak astronomisnya, tepatnya berdasarkan garis lintangnya.”

Iklim di Indonesia

“Kalau Jepang punya berapa musim, Tante?” ganti Roro yang bertanya.

“Jepang itu termasuk negara beriklim subtropis. Jadi, Jepang punya 4 musim yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin.” jelas Ibu Guntur.

Baca juga: Pengaruh Letak Geografis Bagi Kehidupan

“Ooohh begitu.. Tapi, Bu. Apa bedanya musim panas dan musim kemarau? Kan sama-sama panas?” tanya Guntur.

“Keduanya memang sama-sama panas, tapi tolak ukurnya berbeda, Guntur. Kalau musim panas, tolak ukurnya adalah temperatur atau suhu. Sedangkan musim kemarau, tolak ukurnya adalah curah hujan.” 

Perbedaan Musim Panas dengan Musim Kemarau

“Aku kira musim kemarau sama musim panas sama aja, ternyata beda, ya.” ujar Guntur.

“Iya, nih. Aku juga baru tau kalau keduanya ternyata serupa tapi tak sama.” ujar Roro.

“Eh tapi, ngomongin tentang iklim, sekarang Guntur jadi penasaran deh, sama iklim di Indonesia. Guntur boleh nanya-nanya lagi kan, Bu?” tanya Guntur.

“Boleh, dong! Roro dan Guntur kalau punya pertanyaan, langsung tanyain aja, ya. Nah, sekarang Guntur mau tanya apa, Nak?” tanya Ibu Guntur.

“Mau tanya ini, Bu. Kan Indonesia itu beriklim tropis, ya. Nah, ada nggak sih, ciri-ciri tertentu dari iklim tropis?”

“Tentu ada, Guntur. Ciri-ciri iklim tropis ada beberapa, salah satunya yang tadi sudah kita bahas bersama, yaitu memiliki 2 musim.”

Ciri-Ciri Iklim Tropis

“Ohh iya juga ya, di Indonesia meskipun lagi musim hujan, suhunya nggak terlalu beda jauh sama pas musim kemarau.” ujar Guntur.

“Betul, Guntur. Suhu di Indonesia tergolong stabil, tidak seperti negara-negara beriklim subtropis atau beriklim sedang yang suhunya naik turun seiring bergantinya musim.” jelas Ibu Guntur.

“Kalau pengaruh iklim tropis bagi kehidupan masyarakat Indonesia ada nggak sih, Tante?” tanya Roro.

“Tentu ada, Roro! Pengaruh iklim tropis bagi kehidupan masyarakat Indonesia salah satunya menyebabkan Indonesia memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang relatif subur sepanjang tahun. Karena di Indonesia nggak ada musim dingin, jadi lahan pertanian dan perkebunan bisa terus tumbuh tanpa tertutup salju.”

“Kalau di bidang budaya, ada nggak, Tante?” tanya Roro kembali.

“Kalau di bidang budaya, salah satunya yang paling menonjol adalah budaya berpakaian warga Indonesia yang cenderung berbahan tipis. Karena suhu rata-rata Indonesia cukup panas sepanjang tahun, jadi kita nggak terlalu butuh baju-baju hangat dan tebal seperti yang dipakai oleh orang-orang di negara bersalju.” jelas Ibu Guntur.

“Oh, betul juga ya, Tante. Orang Indonesia bajunya cenderung tipis. Kecuali kalau mau ke gunung, baru deh, pakai baju-baju yang tebal!” ujar Roro.

“Ih, jadi pengen ke gunung, deh!” celetuk Guntur.

“Iya nih, Guntur! Kayaknya seru ya, jalan-jalan ke gunung!” ujar Roro setuju.

“Ah, kalian ini. Tadi katanya pengen liburan ke Jepang, sekarang pengen ke gunung. Lagi butuh piknik, ya?” tanya Ibu Guntur.

“Hehehe.. Iya nih, Tante. Sudah setahun lebih nggak liburan..” ujar Roro sedih.

“Iya, Bu. Guntur juga pengen liburan lagi..” ujar Guntur tak kalah sedih.

Baca juga: Macam-Macam Holiday Activities

“Sabar ya, anak-anak. Nanti setelah keadaan membaik, kita liburan bareng, ya! Sekarang, kita makan aja, yuk! Kalian pasti lapar, kan?” 

“Ah, Ibu tau aja perut Guntur udah keroncongan, hehe..” ujar Guntur menepuk-nepuk perutnya.

“Iyaa, Roro juga sudah lapar, hehe.. Terima kasih ya, Tante!” ujar Roro.

“Sama-sama, Roro. Yuk, kita makan yuuukk!” 

Mereka bertiga pun bangkit dari ruang tengah dan berjalan menuju meja makan.

Nah, selesai sudah petualangan Roro dan Guntur kali ini. Kalau kamu ingin mempelajari materi kondisi iklim di Indonesia lebih lanjut, kamu bisa tonton video belajarnya di ruangbelajar, lho! Klik banner-nya dan langganan sekarang, yuk!

New call-to-action

 

Referensi:

Kusumawati, Y. dan Ariguntar, P. (2018). Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Tema 5 Kelas III. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Maryanto. (2017). Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Tema 1 Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Profile

Kenya Swawikanti

A full-time cat person who likes spicy food a bit more than Oreo cheesecake and chocolate ice cream. You can call me Kenya or Kay. Nice to meet you!

Beri Komentar