Latihan Soal UTBK SBMPTN 2021: Pengetahuan Umum

Salsabila Nanda Mar 9, 2021 • 33 min read


LS_-_UTBK_Pengetahuan_Umum-01

Hai hai pejuang UTBK! Masih semangat 'kan? Sekarang waktunya berlatih soal Pengetahuan Umum. Check these out!

---

LS_-_Separator_Semua_Mapel_TPS-Mar-09-2021-12-04-55-50-PM

Topik: Pengetahuan Umum (NEW!)

Subtopik: Kepaduan dan Keefektifan Wacana

1. Bacalah teks berikut untuk menjawab soal di bawah ini!

    (1) Masa kejayaan tambak bandeng di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa sejak 1970-an perlahan musnah. (2) Ombak yang mengikis garis pantai atau disebut abrasi menjadi musababnya. (3) Di Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, belasan hektare tambak bandeng kini rata air sehingga menjadikan pendapatan tergerus. (4) Sekitar dua ribu kepala keluarga mengungsi ke daratan lebih tinggi. (5) Kemusnahan tambak adalah akhir dari awal ancaman lebih serius dari abrasi. (6) Hilangnya mata pencaharian, tempat tinggal, ... rusaknya ekosistem di daerah pesisir menjadi catatan besar yang harus diwaspadai semua pihak. (7) Perlu diingat bahwa bencana iklim yang memengaruhi suhu permukaan laut berkontribusi terhadap kekuatan angin yang dibawa ombak.

    (8) Abrasi sangat bergantung pada proses sedimentasi wilayah pesisir. (9) Selain faktor gelombang laut, manusia juga bisa menyebabkan abrasi. (10) Ketimpangan ekosistem laut akibat eksploitasi besar-besaran terhadap terumbu karang dan ikan laut serta penambangan pasir turut menciptakan efek buruk dari abrasi. (11) Badan Informasi Geospasial tidak memiliki data konkret mengenai luas daratan di sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa yang terkikis ombak. (12) Begitu pula mengenai garis waktu abrasi yang mengikis daratan Pulau Jawa; hanya bertumpu perkiraan pada saat sekitar tahun 2000-an. 

    (13) Studi terbaru Climate Central, memprediksi air laut akan meninggi 20—30 sentimeter pada 2050 sehingga menyebabkan permukiman-permukiman yang dihuni sekitar 23 juta penduduk di kawasan pesisir Indonesia, termasuk DKI Jakarta akan tenggelam. (14) Ancaman ini merupakan efek parah dari emisi karbon, juga kenyataan bahwa ada sekitar satu miliar penduduk menghuni wilayah yang berada 10 meter di bawah air laut ketika gelombang ombak pasang. (15) Sebuah riset yang turut disusun oleh peneliti abrasi utara Jawa dari Badan Informasi Geospasial, Ratna Sari Dewi, menyebut tambak ikan maupun udang berkontribusi terhadap perubahan topografi tanah di sekitar pesisir. (16) Salah satunya terkait pilihan masyarakat menebang pohon bakau demi membuat areal pertambakan.

    (17) Data Badan Pusat Statistik menunjukkan luasan hutan bakau di Jawa Barat mencapai 34.321 hektare pada 2016, tetapi hanya 2.830 hektare dalam kondisi baik. (18) Bagaimana pun, tumbuhan bakau tak mungkin berjuang sendiri menghadapi ancaman ganas abrasi. (19) Benteng mangrove harus diperkuat tembok penangkal ombak. (20) Sayangnya, tembok penangkal ombak sejauh ini sebatas rencana, belum menjadi aksi nyata. (21) Pemerintah daerah maupun pusat perlu memperbaiki sistem pendataan area, termasuk mendata masyarakat-masyarakat pesisir yang terdampak abrasi. (22) Semuanya dibutuhkan demi landasan menyusun kebijakan tepat sasaran.

(Diadaptasi dari https://tirto.id/ pada 24 April 2020)

 

Kalimat yang semakna dengan kata menciptakan pada kalimat (10) adalah ...

  1. Tuhan menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit tanpa perantara.
  2. Ebiet G. Ade banyak menciptakan lagu bertema cinta, alam, dan kehidupan sosial.
  3. Konon, Bandung Bondowoso mampu menciptakan Candi Prambanan dalam semalam.
  4. Semua orang berharap agar bencana yang telah terjadi bisa menciptakan suasana saling mengasihi antarsesama.
  5. I. Nyoman Tjokot menciptakan patung-patung yang seolah mampu memberi napas baru pada dunia seni tiga dimensi di Bali.

Jawaban: D

Pembahasan:

Dalam KBBI, kata menciptakan memiliki empat arti, yaitu sebagai berikut.

  1. Menjadikan sesuatu yang baru tidak dengan bahan
  2. Membuat atau mengadakan sesuatu dengan kekuatan batin
  3. Membuat (mengadakan) sesuatu yang baru (belum pernah ada, luar biasa, lain dari yang lain)
  4. Membuat suatu hasil kesenian (seperti mengarang lagu, memahat patung); menggubah

Makna kata menciptakan pada kalimat (10) sesuai dengan makna ke-3, yaitu ‘membuat atau mengadakan sesuatu yang baru’. Makna menciptakan tersebut terdapat pula pada kalimat Semua orang berharap agar bencana yang telah terjadi bisa menciptakan suasana saling mengasihi antarsesama. 

  • Kata menciptakan pada pilihan jawaban A memiliki makna ke-1
  • Kata menciptakan pada pilihan jawaban B memiliki makna ke-4
  • Kata menciptakan pada pilihan jawaban C memiliki makna ke-2
  • Kata menciptakan pada pilihan jawaban E memiliki makna ke-4

Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah D. 

LS_-_Separator_Semua_Mapel_TPS-Mar-09-2021-12-04-55-50-PM

Topik: Pengetahuan Umum (NEW!)

Subtopik: Pengetahuan Kebahasaan

2. Bacalah teks berikut!

    Erotomania atau dikenal dengan sebutan sindrom de Clerambault adalah suatu bentuk gangguan kepribadian saat para penderitanya memiliki keyakinan bahwa orang lain memendam perasaan cinta kepada si penderita. Pada 1921, Clérambault berargumen bahwa perempuan lebih sering mengalami sindrom de Clerambault daripada laki-laki. Martin Brune dari Ruhr University, Jerman, mengafirmasi argumen Clérambault setelah menganalisis 246 kasus erotomania pada 2007 dan menemukan sebanyak 69,1% pengidapnya adalah kaum hawa. Clérambault juga berpendapat, orang-orang dengan erotomania percaya bahwa objek cintanya jatuh cinta dan membuat pendekatan terlebih dahulu kepadanya.

    Dalam tulisan ilmiah berjudul “De Clérambault's syndrome: diagnostic and therapeutic challenge“, Sampaio, et. al. (2007) memaparkan beberapa gejala yang lazim ditemukan dalam diri orang dengan erotomania. Pengidap erotomania biasanya secara mendetail menjelaskan sinyal-sinyal asmara yang dianggap dikirimkan oleh si pujaan hati, mulai dari ekspresi wajah, percakapan, atau gestur. Selain itu, si penderita juga mengira bahwa sang objek cinta sengaja mengirimkan pesan asmara lewat telepati kepadanya. Perilaku delusional dalam konteks asmara semacam ini, menurut Sampaio, et.al., kerap diasosiasikan dengan gangguan mental lain seperti schizophrenia (34%), sindrom depresi (13%), gangguan afektif bipolar (9%), dan paranoia (9%).

    Gejala paling kelihatan dari seorang pengidap erotomania adalah perilaku mengutil atau mengintai orang yang ditaksirnya. Ia juga cenderung bersikeras mempertahankan keyakinannya sekalipun objek cintanya telah berupaya menolaknya. Alih-alih menerima kenyataan, pengidap erotomania justru menginterpretasikan penolakan ini sebagai kamuflase dari rasa cinta yang terpendam.

    Kasus penguntilan penyanyi Madonna oleh Robert Hoskins pada 1995 adalah salah satu contoh ekstrem dari erotomania. Dilansir Psychology Today, Robert Hoskins adalah tunawisma yang berdelusi bahwa Madonna telah ditakdirkan menjadi istrinya. Beberapa kali Robert Hoskins coba menyusup masuk kediaman pelantun "Frozen" tersebut, tetapi upayanya berhasil digagalkan, pertama kali oleh penjaga Madonna, dan kali kedua ia langsung ditembak dan dibekuk polisi. Lebih parahnya, di dalam penjara pun ia tak henti terobsesi terhadap Madonna.

(Diadaptasi dari tirto.id pada April 2020)

 

Makna kata “mengafirmasi” pada paragraf pertama teks tersebut adalah …. 

  1. memercayai
  2. menolak
  3. meneguhkan
  4. mengukur
  5. menjelaskan

 

Jawaban: C

Pembahasan:

Kata “mengafirmasi” memiliki kata dasar afirmasi yang berarti penegasan atau meneguhkan. Jadi, pada teks Martin Brune meneguhkan atau menguatkan argumen Clérambault tentang penyakit erotomania. 

Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah C.

LS_-_Separator_Semua_Mapel_TPS-Mar-09-2021-12-04-55-50-PM

Topik: Pengetahuan Umum (NEW!)

Subtopik: Kepaduan dan Keefektifan Wacana

3. Bacalah teks berikut untuk menjawab soal di bawah ini!

    (1) Selain demam, batuk, dan sesak napas, beberapa pasien yang terinfeksi Covid-19 di rumah sakit di New York tampak sangat bingung sampai-sampai tidak tahu tempat mereka berada atau tahun mereka hidup saat ini. (2) Kadang-kadang, gejala ini berhubungan dengan kadar oksigen yang rendah dalam darah mereka; ada pula pasien tertentu yang terlihat sangat kebingungan dan khawatir dengan nasib paru-paru mereka. (3) Melihat gejala yang dialami sejumlah pasien ini, Jennifer Frontera, seorang ahli saraf di Rumah Sakit NYU Langone Brooklyn mengatakan bahwa temuan itu meningkatkan kekhawatiran tentang dampak virus Corona pada otak dan sistem saraf. (4) Saat ini, sebagian besar orang mengetahui bahwa penyakit yang telah menginfeksi lebih dari 2,2 juta orang di seluruh dunia ini umumnya menyerang sistem pernapasan. (5) Tetapi, tanda-tanda yang lebih tidak umum muncul dalam laporan terbaru.

    (6) Sebuah studi yang diterbitkan pekan lalu dalam Journal of American Medical Association, misalnya, menemukan 36,4% dari 214 pasien di Tiongkok memiliki gejala neurologis, mulai dari kehilangan kemampuan mencium bau dan nyeri saraf hingga kejang dan stroke. (7) Sebuah makalah di New England Journal of Medicine pekan ini mengungkapkan hasil pemeriksaan terhadap 58 pasien di Strasbourg, Prancis, yakni lebih dari setengah pasien merasa bingung atau gelisah, dengan pencitraan otak yang menunjukkan peradangan. (8) Bagi para ilmuwan, temuan ini tidak sepenuhnya mengejutkan karena hal tersebut juga terlihat pada sejumlah virus, termasuk HIV yang dapat menyebabkan penurunan kognitif pengidapnya jika tidak diobati. (9) Michel Toledano, seorang ahli saraf di Mayo Clinic di Minnesota mengatakan, virus memengaruhi otak dengan dua cara. (10) Salah satunya adalah dengan memicu respons imun abnormal yang dikenal sebagai badai sitokin, yang menyebabkan peradangan otak atau yang disebut autoimun ensefalitis. (11) Kedua adalah infeksi langsung pada otak yang disebut ensefalitis virus.

    (12) Otak dilindungi oleh sesuatu yang disebut penghalang darah-otak, yakni sesuatu yang menghalangi zat asing, tetapi bukan berarti tidak bisa ditembus. (13) Dari temuan pada sejumlah pasien terinfeksi yang kehilangan kemampuan indra penciuman, beberapa orang berpendapat bahwa hal tersebut ada kaitannya dengan otak. (14) Namun, dugaan ini belum terbukti. (15) Apalagi, banyak pasien yang mengalami anosmia tanpa mengalami gejala neurologis yang parah. (16) Dalam kasus virus Corona, dokter percaya bahwa berdasarkan bukti saat ini, dampak neurologis cenderung merupakan hasil dari respons imun yang terlalu aktif daripada serangan terhadap otak. (17) Untuk membuktikan adanya serangan terhadap otak, virus harus dideteksi dalam cairan serebrospinal. (18) Hal ini pernah dilakukan pada seorang pria Jepang berusia 24 tahun yang kasusnya diterbitkan dalam International Journal of Infectious Disease. (19) Pria itu mengalami kebingungan dan kejang serta pencitraan yang menunjukkan otaknya meradang. (20) Tetapi, karena ini adalah satu-satunya kasus yang diketahui sejauh ini dan tes virus belum divalidasi untuk cairan tulang belakang, para ilmuwan tetap berhati-hati dalam mengambil kesimpulan.

(Diadaptasi dari www.mediaindonesia.com pada April 2020)

Gagasan utama pada paragraf pertama adalah …. 

  1. jumlah kematian akibat virus Corona
  2. penelitian atas maraknya kerusakan sistem saraf
  3. perlunya bantuan medis bagi pasien virus Corona
  4. hipotesis dampak virus Corona terhadap otak dan sistem saraf
  5. kerusakan sistem pernapasan pada pasien virus Corona

 

Jawaban: D

Pembahasan:

Gagasan utama merupakan ide atau pokok pikiran dalam sebuah paragraf maupun teks. Secara garis besar, paragraf pertama membahas munculnya gejala lain yang ditemukan pada pasien virus Corona yang saat ini menjadi pandemi global. Gejala lain tersebut, antara lain, adalah pasien bingung, khawatir berlebihan, hingga merasa tidak mengenali tempat dan tahun yang sedang berjalan.

Lebih lanjut, disebutkan bahwa gejala-gejala baru yang muncul tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang dampak virus Corona pada otak dan sistem saraf. Kekhawatiran tersebut menunjukkan bahwa gejala-gejala yang disebutkan masih merupakan hipotesis maupun anggapan dasar terhadap adanya dampak virus Corona pada otak dan sistem saraf. Jadi, dapat disimpulkan bahwa gagasan utama pada paragraf pertama di atas adalah hipotesis dampak virus Corona terhadap otak dan sistem saraf.

Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah D. 

LS_-_Separator_Semua_Mapel_TPS-Mar-09-2021-12-04-55-50-PM

Topik: Pengetahuan Umum (NEW!)

Subtopik: Kepaduan dan Keefektifan Wacana

4. Bacalah teks berikut untuk menjawab soal di bawah ini!

    (1) Selain demam, batuk, dan sesak napas, beberapa pasien yang terinfeksi Covid-19 di rumah sakit di New York tampak sangat bingung sampai-sampai tidak tahu tempat mereka berada atau tahun mereka hidup saat ini. (2) Kadang-kadang, gejala ini berhubungan dengan kadar oksigen yang rendah dalam darah mereka; ada pula pasien tertentu yang terlihat sangat kebingungan dan khawatir dengan nasib paru-paru mereka. (3) Melihat gejala yang dialami sejumlah pasien ini, Jennifer Frontera, seorang ahli saraf di Rumah Sakit NYU Langone Brooklyn mengatakan bahwa temuan itu meningkatkan kekhawatiran tentang dampak virus Corona pada otak dan sistem saraf. (4) Saat ini, sebagian besar orang mengetahui bahwa penyakit yang telah menginfeksi lebih dari 2,2 juta orang di seluruh dunia ini umumnya menyerang sistem pernapasan. (5) Tetapi, tanda-tanda yang lebih tidak umum muncul dalam laporan terbaru.

    (6) Sebuah studi yang diterbitkan pekan lalu dalam Journal of American Medical Association, misalnya, menemukan 36,4% dari 214 pasien di Tiongkok memiliki gejala neurologis, mulai dari kehilangan kemampuan mencium bau dan nyeri saraf hingga kejang dan stroke. (7) Sebuah makalah di New England Journal of Medicine pekan ini mengungkapkan hasil pemeriksaan terhadap 58 pasien di Strasbourg, Prancis, yakni lebih dari setengah pasien merasa bingung atau gelisah, dengan pencitraan otak yang menunjukkan peradangan. (8) Bagi para ilmuwan, temuan ini tidak sepenuhnya mengejutkan karena hal tersebut juga terlihat pada sejumlah virus, termasuk HIV yang dapat menyebabkan penurunan kognitif pengidapnya jika tidak diobati. (9) Michel Toledano, seorang ahli saraf di Mayo Clinic di Minnesota mengatakan, virus memengaruhi otak dengan dua cara. (10) Salah satunya adalah dengan memicu respons imun abnormal yang dikenal sebagai badai sitokin, yang menyebabkan peradangan otak atau yang disebut autoimun ensefalitis. (11) Kedua adalah infeksi langsung pada otak yang disebut ensefalitis virus.

    (12) Otak dilindungi oleh sesuatu yang disebut penghalang darah-otak, yakni sesuatu yang menghalangi zat asing, tetapi bukan berarti tidak bisa ditembus. (13) Dari temuan pada sejumlah pasien terinfeksi yang kehilangan kemampuan indra penciuman, beberapa orang berpendapat bahwa hal tersebut ada kaitannya dengan otak. (14) Namun, dugaan ini belum terbukti. (15) Apalagi, banyak pasien yang mengalami anosmia tanpa mengalami gejala neurologis yang parah. (16) Dalam kasus virus Corona, dokter percaya bahwa berdasarkan bukti saat ini, dampak neurologis cenderung merupakan hasil dari respons imun yang terlalu aktif daripada serangan terhadap otak. (17) Untuk membuktikan adanya serangan terhadap otak, virus harus dideteksi dalam cairan serebrospinal. (18) Hal ini pernah dilakukan pada seorang pria Jepang berusia 24 tahun yang kasusnya diterbitkan dalam International Journal of Infectious Disease. (19) Pria itu mengalami kebingungan dan kejang serta pencitraan yang menunjukkan otaknya meradang. (20) Tetapi, karena ini adalah satu-satunya kasus yang diketahui sejauh ini dan tes virus belum divalidasi untuk cairan tulang belakang, para ilmuwan tetap berhati-hati dalam mengambil kesimpulan.

(Diadaptasi dari www.mediaindonesia.com pada April 2020)

Pertanyaan yang jawabannya terdapat pada paragraf ketiga adalah … 

  1. Kapan hasil tes akan divalidasi?
  2. Siapakah nama pasien asal Jepang yang berusia 24 tahun?
  3. Bagaimana keterkaitan antara otak dan tulang belakang?
  4. Bagaimana cara membuktikan adanya serangan terhadap otak?
  5. Mengapa virus Corona sangat berbahaya bagi manusia?

Jawaban: D

Pembahasan:

Pertanyaan yang jawabannya terdapat pada isi bacaan paragraf ketiga adalah Bagaimanakah cara membuktikan adanya serangan terhadap otak? Jawaban dari pertanyaan tersebut terdapat pada kalimat (17), yakni Untuk membuktikan adanya serangan terhadap otak, virus harus dideteksi dalam cairan serebrospinal

Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah D. 

LS_-_Separator_Semua_Mapel_TPS-Mar-09-2021-12-04-55-50-PM

Topik: Pengetahuan Umum (NEW!)

Subtopik: Kepaduan dan Keefektifan Wacana

5. Bacalah teks berikut untuk soal di bawah ini!

[...] 

    (1) Selama kurun waktu 2015 sampai 2019, tercatat sedikitnya ada 55 kejadian hewan laut terdampar. (2) Sebanyak 30 kejadian bahkan terjadi sepanjang tahun 2019. (3) Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah kejadian terbanyak sebanyak 20 kejadian dan selama tahun 2019 telah ditemukan 9 hewan laut yang terdampar. 

    (4) Pada tanggal 16 September 2019, diberitakan adanya hiu tutul yang tersesat di perairan dekat Pembangkit Listrik Tenaga Uap Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. (5) Setelah beberapa hari, akhirnya pada 20 September 2019 hiu tutul yang memiliki nama latin Rhincodon typus yang masuk dalam famili Rhincodontidae dari kelas Chondrichthyes ini berhasil dihalau keluar dari perairan disekitar PLTU Paiton.

    (6) Pekan lalu, tepatnya Kamis-Jumat (19-20/9) tim peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menuju Lumajang, Jawa Timur untuk melakukan identifikasi dan analisis terhadap laporan terdamparnya hewan laut di pantai di wilayah kecamatan Pasiran, Lumajang. (7) Tim mendapatkan laporan pada bulan Juli terdapat paus bongkok (Megaptera novaeangliae) yang terdampar. (8) Sementara di bulan September, tepatnya tanggal 9 dan 16 September, ada dua ekor hiu tutul terdampar di pantai Kajaran dan pantai Bambang.

    (9) Saat tim tiba di lokasi, bangkai hiu tutul ini telah dikubur di dua tempat yang berbeda. (10) Sementara paus bongkok kondisinya sudah tercerai berai terbawa ombak dan arus. (11) Potongan kulit ditemukan berserakan di beberapa tempat dan tidak ada tulang yang ditemukan.

    (12) Hiu tutul dan paus bongkok yang terdampar memiliki status hewan yang berbeda. Hiu tutul yang masuk dalam kelas hiu dan pari ini tercantum di Daftar Merah IUCN dalam kategori Endangered (EN). (13) “Hiu tutul tergolong jenis terancam atau threatened species. (14) Jika tidak ada upaya penyelamatan dapat masuk kategori critically endangered atau keritis.” ujar Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI,Cahyo Rahmadi. (15) Saat ini berdasarkan Keputusan Men KKP No. 18/Kepmen-KP/2013, hiu tutul ditetapkan sebagai jenis dengan perlindungan penuh. (16) Sedangkan paus bongkok masuk kategori least concern  atau memiliki tingkat risiko rendah  dan dilaporkan populasinya meningkat.

    (17) “Ada pesan yang ingin disampaikan laut kepada kita yang perlu disikapi,” kata Cahyo. (18) Dirinya menjelaskan, peningkatan jumlah kejadian hewan laut terdampar ini semakin menunjukkan ada permasalahan serius yang saat ini belum banyak diketahui. (19) “Perubahan ekosistem laut akibat perubahan iklim, polusi, eksploitasi berlebih, perubahan tata guna laut, dan masuknya jenis asing invasif yang menyebabkan kepunahan menjadi hal yang patut disikapi serius,” jelas Cahyo. 

(Diadaptasi dari lipi.go.id diakses pada 23 April 2020)

 

Penulisan kalimat (14) menjadi benar jika diperbaiki dengan cara …. 

  1. mengubah kata keritis menjadi kritis
  2. menambahkan tanda koma setelah kata keritis
  3. menambahkan tanda koma (,) setelah kata jika
  4. menambahkan tanda petik dua (“) critically endangered
  5. mengubah kata critically endangered menjadi Critically Endangered

 

Jawaban: A

Pembahasan:

Kesalahan pada kalimat (14) terletak pada penulisan keritis yang tidak tepat karena tidak baku. Penulisan yang tepat adalah kritis. Sementara itu penggunaan kata jika sudah tepat dan tidak menggunakan tanda koma. Kemudian penulisan critically endangered juga sudah tepat, penulisan bahasa asing ditulis dengan menggunakan cetak miring. 

Jawaban yang tepat adalah A.

LS_-_Separator_Semua_Mapel_TPS-Mar-09-2021-12-04-55-50-PM

Topik: Pengetahuan Umum (NEW!)

Subtopik: Pengetahuan Kebahasaan

6. Bacalah tulisan berikut, kemudian jawablah soal-soal yang tersedia dengan memilih jawaban yang tepat di antara pilihan jawaban A, B, C, D, atau E.

(..........)

    (1) Salah satu lembaga negara dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). (2) Sebelum perubahan UUD 1945 pada awal era Reformasi (1999-2002), kedudukan MPR merupakan lembaga tertinggi negara dengan kekuasaan yang sangat besar. (3) Hal tersebut mengacu pada Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 sebelum perubahan yang berbunyi “Kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat”. (4) Dari ketentuan tersebut diketahui bahwa pelaksanaan kedaulatan rakyat di negara Indonesia di berada dalam satu tangan atau badan, yakni MPR.

    (5) Republik Indonesia diambil pola dasar bahwa kedaulatan secara penuh diwakilkan oleh suatu lembaga yang bernama MPR. (6) Kepada lembaga inilah segala kegiatan kenegaraan harus dipertanggungjawabkan, baik kewenangan-kewenangan yang sesuai dengan teori Montesquieu maupun kewenangan-kewenangan lainnya di bidang kenegaraan yang tumbuh setelah zamannya Montesquieu.

    (7) Perubahan UUD 1945 pada awal era Reformasi, 1999-2002 telah mengubah secara mendasar sistem ketatanegaraan Indonesia, termasuk mengenai MPR. (8) Dengan perubahan konstitusi tersebut, tidak lagi menetapkan MPR sebagai lembaga tertinggi negara yang sepenuhnya melaksanakan kedaulatan rakyat [...] MPR tidak lagi berkedudukan sebagai sumber/lembaga/institusi kekuasaan negara yang tertinggi yang mendistribusikan kekuasaannya pada lembaga-lembaga negara yang lainnya.

(Diadaptasi dari jurnal.unissula.ac.id pada April 2020)

 

Konjungsi intrakalimat yang tepat untuk melengkapi kalimat kedelapan paragraf ketiga adalah ....   

  1. atau
  2. dan
  3. sehingga
  4. kemudian
  5. karena

 

Jawaban: C

Pembahasan:

Konjungsi intrakalimat merupakan kata penghubung yang menghubungkan kata dengan kata maupun klausa dengan klausa. Klausa pertama pada kalimat tersebut menjelaskan bahwa perubahan konstitusi tidak lagi menetapkan MPR sebagai lembaga tertinggi negara yang sepenuhnya melaksanakan kedaulatan rakyat. Sementara itu, klausa kedua menjelaskan bahwa MPR tidak lagi berkedudukan sebagai sumber/lembaga/institusi kekuasaan negara yang tertinggi. Kata hubung yang paling tepat untuk melengkapi kalimat (8) adalah sehingga

Jawaban yang tepat adalah C.

LS_-_Separator_Semua_Mapel_TPS-Mar-09-2021-12-04-55-50-PM

Topik: Pengetahuan Umum (NEW!)

Subtopik: General and Specific Information

7. Read the text and answer the question!

    As of April 17, 2020, 36 people infected with the outbreak strain of Listeria monocytogenes have been reported from 17 states in the US. The disease they suffered from is called Listeriosis. Listeriosis can cause different symptoms, depending on the person and the part of the body affected. Pregnant women typically experience only fever and other flu-like symptoms, such as fatigue and muscle aches. However, infections during pregnancy can lead to miscarriage, stillbirth, premature delivery, or life-threatening infection of the newborn. People other than pregnant women symptoms are headache, stiff neck, confusion, loss of balance, and convulsions in addition to fever and muscle aches.

    State and local public health officials interviewed ill people about the foods they ate in the month before they became ill. Twelve out of 22 (55%) reported eating mushrooms, including enoki, portobello, white, button, cremini, wood ear, maitake, and oyster. Later, Epidemiologic, traceback, and laboratory evidence indicates that enoki mushrooms labeled as “Product of Korea” are  the likely source of this outbreak. The products were known to came from H&C Food Inc. (on April 7, 2020), Guan's Mushroom Co. (on March 23, 2020), and Sun Hong Foods, Inc. (on March 9, 2020). In response to the situation, the three companies recalled the enoki mushrooms.

    Preventing further outbreak, Center for Disease Control and Prevention, or CDC, advises that people who are more likely– pregnant women, adults to get Listeria  infections - pregnant women, adults age 65 or older, and people with weakened immune systems, such as people with cancer or on dialysis – avoid eating any enoki mushrooms from Korea (Republic of Korea) even if they are not part of the recalls until they learn more about the source and distribution of the enoki mushrooms.

    CDC asked citizens who have stocks on enoki mushroom which originated from Korea to either return the products or throw them away should the country of origins are unclear. CDC also encourages people to wash and sanitize any surfaces and containers that may have come in contact with the recalled enoki mushrooms. Listeria can survive in refrigerated temperatures and easily spread to other foods and surfaces. When buying, ordering, or eating out, check with stores and restaurants to make sure they do not use enoki mushrooms from Korea. If they don’t know where their enoki mushrooms are from, don’t buy or order the product. CDC pledges a commitment that they will provide updates when more information is available.

(Adapted from www.cdc.gov/listeria/outbreaks Accessed on Thursday, 23 April 2020)

 

It can be predicted based on the passage that … 

  1. The immigration process will add more regulations to prevent repeating the same mistake.
  2. Investigators will try to determine the origin of the contamination.
  3. The CDC will revise the quality checking procedures on foreign foods.
  4. The government will ban mushroom imports from Korea.
  5. The CDC will learn more on why Listeria monocytogenes is lethal.

 

Jawaban: C

Pembahasan:

Setelah mengetahui bahaya dari jamur enoki yang diimpor dari Korea Selatan, kita dapat memprediksi bahwa langkah yang akan diambil Amerika Serikat adalah memperbaiki prosedur pengecekan untuk produk-produk makanan impor. Jadi, jawaban yang tepat adalah C.

Jawaban A salah karena imigrasi tidak ada kaitannya dengan Listeria. Listeria disebabkan oleh jamur enoki dan tidak ditularkan melalui manusia.

Jawaban B salah karena para penginvestigasi sudah mengetahui sumber wabah Listeria, yaitu jamur enoki dari Korea Selatan.

Jawaban D salah karena yang bermasalah hanyalah jamur enoki sehingga tidak tepat jika dikatakan bahwa pemerintah akan melarang semua impor jamur dari Korea.

Jawaban E salah karena Listeria bukanlah penyakit baru sehingga CDC tidak perlu lagi melakukan penelitian tersebut.

LS_-_Separator_Semua_Mapel_TPS-Mar-09-2021-12-04-55-50-PM

Topik: Pengetahuan Umum (NEW!)

Subtopik: General and Specific Information

8. Read the text and answer the question!

    Perfectionism has come to be viewed as an important maintaining factor of disordered eating. In the transdiagnostic theory of eating disorders, Fairburn, Cooper, and Shafran assert that clinical perfectionism is one of four core mechanisms that maintain eating disorder pathology. In the cognitive-interpersonal model of anorexia nervosa, perfectionism / cognitive rigidity is one of the four postulated maintaining factors. In addition, the three-factor theory by Bardone-Cone and colleagues implicates the interaction between high perfectionism, high body dissatisfaction, and low self-esteem in the growth of bulimic behaviour. In support of these theoretical positions, research consistently shows perfectionism to be elevated in people with eating disorders and people recovering from eating disorders compared to controls.

    However, the precise nature of the construct of perfectionism continues to be debated in the literature. Perfectionism has been proposed to be a multidimensional construct by two groups of theorists. The first construct, proposed by Hewitt and Flett, focuses on the interpersonal components of perfectionism, and the associated 45-item scale is divided into three subscales. The self oriented perfectionism subscale relates to setting high standards for achievement and self-criticism for not meeting standards. The other oriented perfectionism subscale includes items that relate to having high standards for other people that are unrealistic. The socially prescribed perfectionism subscale items are related to perceiving that other people hold unrealistically high standards for the individual.

    The second theory proposes a six factor construct for perfectionism, measured using the Frost Multidimensional Perfectionism Scale, they are: Personal Standards (setting high standards), Concern over Mistakes (negative reactions to mistakes and perceiving mistakes as failures), Doubts about Actions (doubting one’s own performance), Parental Expectations (parents setting high standards), Parental Criticism (parents criticising for mistakes), and Organisation (organisation and neatness). Factor analysis have consistently shown a two-factor solution, consisting of adaptive (achievement striving) perfectionism (Personal Standards and Organisation), and maladaptive evaluative concerns (Concern over Mistakes, Doubt about Action, Parental Expectations, and Parental Criticism). Achievement striving is typically associated with healthy functioning while maladaptive evaluative concerns are more consistently associated with psychopathology. There is one exception to this general finding, which is that elevated levels of both types of perfectionism are associated with eating disorders. Thus, it has been suggested that elevated levels of both types of perfectionism confers most risk for disordered eating.

    Findings from a research study by Wade and Tiggemann suggest that perfectionism is pertinent to the normative state of body dissatisfaction. Given the role of body dissatisfaction in increasing risk for disordered eating, this suggests that targeting perfectionism may be of benefit in buffering young people against the development of disordered eating. One piece of research has investigated an intervention that targeted perfectionism in middle adolescence which significantly reduced maladaptive evaluative concerns compared to two other conditions (media literacy informed by inoculation theory, which suggests that building skills to resist social persuasion will prevent the development of health-risk behaviours and a control condition). 

(Adapted from eatdisord.biomedcentral.com/articles/10.1186/2050-2974-1-2 Accessed on Thursday, 23 April 2020)

 

Which of the following is NOT TRUE according to the text? 

  1. Eating disorder isn’t caused by perfectionism alone.
  2. Perfectionism is barely influential to eating disorder.
  3. Decreasing perfectionism may reduce eating disorder.
  4. Maladaptive evaluative is the opposite of achievement striving.
  5. One of the contrast theories has more than three categorizations.

 

Jawaban: B

Pembahasan:

Kalimat pertama paragraf pertama menyebutkan tentang perfeksionisme sebagai faktor penting yang menyebabkan gangguan perilaku makan

Pada pilihan B disebutkan bahwa perfeksionisme nyaris tidak berpengaruh terhadap gangguan perilaku makan. Kedua pernyataan tersebut saling bertentangan, maka pilihan yang tidak sesuai dengan teks adalah pilihan B. 

Jadi, jawaban yang tepat adalah B.

LS_-_Separator_Semua_Mapel_TPS-Mar-09-2021-12-04-55-50-PM

Topik: Pengetahuan Umum (NEW!)

Subtopik: General and Specific Information

9. Read the text and answer the question!

    Perfectionism has come to be viewed as an important maintaining factor of disordered eating. In the transdiagnostic theory of eating disorders, Fairburn, Cooper and Shafran assert that clinical perfectionism is one of four core mechanisms that maintain eating disorder pathology. In the cognitive-interpersonal model of anorexia nervosa, perfectionism/cognitive rigidity is one of the four postulated maintaining factors. In addition, the three-factor theory by Bardone-Cone and colleagues implicates the interaction between high perfectionism, high body dissatisfaction, and low self-esteem in the growth of bulimic behaviour. In support of these theoretical positions, research consistently shows perfectionism to be elevated in people with eating disorders and people recovering from eating disorders compared to controls.

    However the precise nature of the construct of perfectionism continues to be debated in the literature. Perfectionism has been proposed to be a multidimensional construct by two groups of theorists. The first construct, proposed by Hewitt and Flett, focuses on the interpersonal components of perfectionism, and the associated 45-item scale is divided into three subscales. The self oriented perfectionism subscale relates to setting high standards for achievement and self-criticism for not meeting standards. The other oriented perfectionism subscale includes items that relate to having high standards for other people that are unrealistic. The socially prescribed perfectionism subscale items are related to perceiving that other people hold unrealistically high standards for the individual.

    The second theory proposes a 6 factor construct for perfectionism, measured using the Frost Multidimensional Perfectionism Scale, they are: Personal Standards (setting high standards), Concern over Mistakes (negative reactions to mistakes and perceiving mistakes as failures), Doubts about Actions (doubting one’s own performance), Parental Expectations (parents setting high standards), Parental Criticism (parents criticising for mistakes), and Organisation (organisation and neatness). Factor analyses have consistently shown a two factor solution, consisting of adaptive (achievement striving) perfectionism (Personal Standards and Organisation), and maladaptive evaluative concerns (Concern over Mistakes, Doubt about Action, Parental Expectations, and Parental Criticism). Achievement striving is typically associated with healthy functioning while maladaptive evaluative concerns is more consistently associated with psychopathology. There is one exception to this general finding, which is that elevated levels of both types of perfectionism are associated with eating disorders. Thus it has been suggested that elevated levels of both types of perfectionism confers most risk for disordered eating.

    Findings from a research study by Wade and Tiggemann suggest that perfectionism is pertinent to the normative state of body dissatisfaction. Given the role of body dissatisfaction in increasing risk for disordered eating, this suggests that targeting perfectionism may be of benefit in buffering young people against the development of disordered eating. One piece of research has investigated an intervention that targeted perfectionism in middle adolescence which significantly reduced maladaptive evaluative concerns compared to two other conditions (media literacy informed by inoculation theory, which suggests that building skills to resist social persuasion will prevent the development of health-risk behaviours and a control condition).

(Adapted from jeatdisord.biomedcentral.com/articles/10.1186/2050-2974-1-2 Accessed on Thursday, 23 April 2020)

 

What is the correlation between paragraph 2 and 3? 

  1. Paragraph two provides one side of the argument while paragraph three questions it.
  2. Paragraph two points out one of the construct theories of perfectionism while paragraph three exemplifies it.
  3. Paragraph two argues about one of perfectionism constructs while paragraph three elaborates more constructs.
  4. Paragraph three continues the information contained in paragraph two.
  5. Paragraph two and paragraph three consistently display separate information.

 

Jawaban: D

Pembahasan:

Paragraf dua menyampaikan bahwa ada dua teori konstruksi perfeksionisme yang diperdebatkan. Salah satu teori tersebut kemudian dijelaskan pada paragraf tersebut. Hal ini dibuktikan dengan kalimat berikut: "The first construct, proposed by Hewitt and Flett, focuses on ..."

Teori yang kedua dijabarkan dalam paragraf tiga. Hal ini dibuktikan dengan kalimat pertamanya, yaitu “The second theory proposes a 6 factor construct for perfectionism,. 

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa paragraf ketiga melanjutkan informasi yang terkandung dalam paragraf kedua sehingga jawaban yang tepat adalah D.

LS_-_Separator_Semua_Mapel_TPS-Mar-09-2021-12-04-55-50-PM

Topik: Pengetahuan Umum (NEW!)

Subtopik: General and Specific Information

10. Read the text and answer the question!

    Perfectionism has come to be viewed as an important maintaining factor of disordered eating. In the transdiagnostic theory of eating disorders, Fairburn, Cooper and Shafran assert that clinical perfectionism is one of four core mechanisms that maintain eating disorder pathology. In the cognitive-interpersonal model of anorexia nervosa, perfectionism/cognitive rigidity is one of the four postulated maintaining factors. In addition, the three-factor theory by Bardone-Cone and colleagues implicates the interaction between high perfectionism, high body dissatisfaction, and low self-esteem in the growth of bulimic behaviour. In support of these theoretical positions, research consistently shows perfectionism to be elevated in people with eating disorders and people recovering from eating disorders compared to controls.

    However the precise nature of the construct of perfectionism continues to be debated in the literature. Perfectionism has been proposed to be a multidimensional construct by two groups of theorists. The first construct, proposed by Hewitt and Flett, focuses on the interpersonal components of perfectionism, and the associated 45-item scale is divided into three subscales. The self oriented perfectionism subscale relates to setting high standards for achievement and self-criticism for not meeting standards. The other oriented perfectionism subscale includes items that relate to having high standards for other people that are unrealistic. The socially prescribed perfectionism subscale items are related to perceiving that other people hold unrealistically high standards for the individual.

    The second theory proposes a 6 factor construct for perfectionism, measured using the Frost Multidimensional Perfectionism Scale, they are: Personal Standards (setting high standards), Concern over Mistakes (negative reactions to mistakes and perceiving mistakes as failures), Doubts about Actions (doubting one’s own performance), Parental Expectations (parents setting high standards), Parental Criticism (parents criticising for mistakes), and Organisation (organisation and neatness). Factor analyses have consistently shown a two factor solution, consisting of adaptive (achievement striving) perfectionism (Personal Standards and Organisation), and maladaptive evaluative concerns (Concern over Mistakes, Doubt about Action, Parental Expectations, and Parental Criticism). Achievement striving is typically associated with healthy functioning while maladaptive evaluative concerns is more consistently associated with psychopathology. There is one exception to this general finding, which is that elevated levels of both types of perfectionism are associated with eating disorders. Thus it has been suggested that elevated levels of both types of perfectionism confers most risk for disordered eating.

    Findings from a research study by Wade and Tiggemann suggest that perfectionism is pertinent to the normative state of body dissatisfaction. Given the role of body dissatisfaction in increasing risk for disordered eating, this suggests that targeting perfectionism may be of benefit in buffering young people against the development of disordered eating. One piece of research has investigated an intervention that targeted perfectionism in middle adolescence which significantly reduced maladaptive evaluative concerns compared to two other conditions (media literacy informed by inoculation theory, which suggests that building skills to resist social persuasion will prevent the development of health-risk behaviours and a control condition). 

(Adapted from jeatdisord.biomedcentral.com/articles/10.1186/2050-2974-1-2 Accessed on Thursday, 23 April 2020)

 

Based on the text, which of the following statements is TRUE?

  1. Women are more likely to be perfectionists than men.
  2. Perfectionism is an inborn trait that cannot be fully eliminated from a person’s life.
  3. Hewitt and Flett’s construction and 6 factor construct are similar.
  4. Maladaptive evaluative concerns escalates eating disorders for some people.
  5. Addressing perfectionism at the age of 15-16 may lower the risk of future eating disorders.

 

Jawaban: E

Pembahasan:

Opsi A, B, dan D tidak dijelaskan dalam teks sehingga semua jawaban tersebut salah.

Konstruksi Hewitt dan Fleet pada paragraf dua berbeda dari 6 faktor konstruksi yang disampaikan pada paragraf tiga. Jadi, jawaban C salah. 

Jawaban yang tepat adalah E. Hal ini sejalan dengan yang tertuang dalam paragraf terakhir teks. Di situ disebutkan tentang suatu penelitian yang membuktikan bahwa penanganan perfeksionisme yang dilakukan pada anak usia pertengahan remaja (usia 15-16 tahun) dapat menurunkan maladaptif evaluatif. Dampak penurunan tersebut adalah berkurangnya gangguan perilaku makan.

Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah E.

LS_-_Separator_Semua_Mapel_TPS-Mar-09-2021-12-04-55-50-PM

Huft, memang butuh kesabaran dan ketelitian saat mengerjakan soal Pengetahuan Umum. Tapi nggak apa-apa, semua akan berbuah manis ketika pengumuman UTBK SBMPTN nanti.  Ada soal yang membingungkan? Jangan takut, tanya langsung sama Star Master Teacher di Brain Academy!

Oh iya, menurut kamu mapel termudah dan tersulit di UTBK tuh apa sih? Coba kasih tau di kolom komentar ya! 

BA online

Profile

Salsabila Nanda

Anak broadcasting yang cita-citanya mau jadi PR, tapi malah jadi content writer. Siang kerja, malam nonton teen drama. Terima kasih sudah baca tulisanku!

Beri Komentar