Proses Perubahan Sosial: Difusi, Akulturasi, Asimilasi, dan Akomodasi | Sosiologi Kelas 12

Artikel Sosiologi Kelas 12 ini membahas tentang proses perubahan sosial mulai dari difusi, akulturasi, asimilasi, dan akomodasi. Yuk simak penjelasan lengkapnya!
—
Halo! Kamu sudah baca artikel tentang pengertian perubahan sosial? Kamu penasaran gak, bagaimana perubahan sosial bisa terjadi di masyarakat?
Nah, pada dasarnya proses perubahan sosial dapat terbentuk melalui difusi, akulturasi, asimilasi, dan akomodasi. Mau tahu lebih lanjut rinciannya?Yuk, kita bahas satu per satu.
1. Difusi
Difusi merupakan proses penyebaran berbagai unsur pembentuk kebudayaan, baik berupa ide, keyakinan, dan lain sebagainya. Hal ini disebarkan dari individu ke individu yang lain, atau bahkan lebih luas dari pada itu. Difusi dibedakan menjadi dua macam yakni difusi intramasyarakat dan difusi antarmasyarakat.
a. Difusi Intramasyarakat
Difusi intramasyarakat merupakan proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan (seperti ide, nilai, norma, teknologi, atau gaya hidup) yang terjadi di dalam satu masyarakat yang sama, baik antarindividu maupun antarkelompok. Proses ini tidak melibatkan budaya dari luar, melainkan berkembang secara internal melalui interaksi sosial sehari-hari.
Difusi ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pengakuan terhadap manfaat atau kegunaan unsur budaya baru. Artinya, suatu inovasi atau kebiasaan baru akan lebih cepat diterima jika masyarakat melihat bahwa hal tersebut:
- Mempermudah kehidupan
- Lebih efisien
- Memberikan keuntungan ekonomi atau sosial
- Sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat
Selain itu, faktor lain yang turut memengaruhi adalah:
- Intensitas interaksi sosial (semakin sering berinteraksi, semakin cepat difusi terjadi)
- Status sosial pelaku (tokoh berpengaruh lebih mudah menyebarkan inovasi)
- Tingkat pendidikan masyarakat
- Keterbukaan terhadap perubahan
Baca Juga: Interaksi Sosial: Pengertian, Ciri-Ciri, Syarat & Faktor
b. Difusi Antarmasyarakat
Difusi antarmasyarakat adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu masyarakat ke masyarakat lain yang berbeda, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional. Unsur kebudayaan yang menyebar dapat berupa teknologi, bahasa, adat istiadat, sistem kepercayaan, makanan, hingga gaya hidup.
Proses ini terjadi karena adanya kontak sosial antarmasyarakat, yaitu interaksi yang memungkinkan terjadinya pertukaran budaya. Kontak tersebut dapat berlangsung melalui berbagai cara, seperti:
- Perdagangan
- Migrasi penduduk
- Pariwisata
- Pendidikan
- Media massa dan teknologi (internet, media sosial)
- Penjajahan atau hubungan politik
Namun, tidak semua unsur budaya yang masuk akan langsung diterima. Penerimaan biasanya terjadi ketika masyarakat penerima mengakui adanya manfaat atau kegunaan dari unsur budaya baru tersebut.
Jika dianggap lebih efektif, praktis, atau sesuai dengan kebutuhan, unsur tersebut cenderung diadopsi dan bahkan bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Selain faktor kegunaan, keberhasilan difusi antarmasyarakat juga dipengaruhi oleh:
- Kesesuaian dengan nilai dan norma lokal
- Tingkat keterbukaan masyarakat terhadap budaya asing
- Intensitas dan frekuensi kontak antarmasyarakat
- Peran agen perubahan (misalnya pelajar, pedagang, atau influencer budaya)
Baca Juga: Nilai, Norma, dan Keteraturan Sosial
—
Mau tanya-tanya tentang materi ini lebih dalam? Kamu bisa gabung di roboguruPlus. Di sana nanti kamu bisa ikuti live streaming dengan kakak tutor Ruangguru yang pastinya udah berpengalaman dong. Gabung sekarang yuk.
C. Contoh Difusi
Sekarang kita bahas contoh difusi intramasyarakat dulu, ya.
1) Penggunaan aplikasi pembayaran digital dalam satu kota
Awalnya hanya beberapa orang menggunakan e-wallet untuk transaksi. Namun, karena terbukti lebih praktis dan cepat dibandingkan pembayaran tunai, penggunaan ini menyebar ke individu lain dalam masyarakat yang sama, seperti pedagang, pembeli, hingga transportasi lokal.
2) Tren penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja
Sekelompok remaja mulai menggunakan istilah baru dalam percakapan sehari-hari. Karena dianggap keren dan mudah digunakan, istilah tersebut kemudian menyebar ke kelompok remaja lain dalam masyarakat yang sama.
3) Penerapan metode belajar baru di sekolah
Seorang guru mencoba metode pembelajaran interaktif menggunakan media digital. Karena hasilnya membuat siswa lebih memahami materi, guru lain di sekolah tersebut mulai mengadopsi metode yang sama.
Kalau yang ini, contoh difusi antarmasyarakat.
4) Masuknya makanan cepat saji dari luar negeri ke Indonesia
Restoran cepat saji dari negara lain diperkenalkan melalui globalisasi dan perdagangan. Karena dianggap praktis dan sesuai dengan gaya hidup modern, masyarakat Indonesia mulai mengadopsi kebiasaan mengonsumsi makanan tersebut.
5) Penggunaan teknologi smartphone
Teknologi smartphone yang awalnya berkembang di negara maju menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Karena manfaatnya besar dalam komunikasi dan akses informasi, masyarakat luas kemudian menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
6) Penyebaran budaya K-Pop ke berbagai negara
Budaya populer dari Korea Selatan, seperti musik dan gaya berpakaian, menyebar ke masyarakat lain melalui media digital. Banyak remaja di berbagai negara kemudian mengadopsi gaya tersebut karena dianggap menarik dan relevan dengan tren global.
2. Akulturasi
Akulturasi adalah proses pertemuan antara dua kebudayaan (kebudayaan asli dan kebudayaan asing) yang menghasilkan perpaduan tanpa menghilangkan ciri utama budaya asli. Dalam proses ini, masyarakat tidak sekadar menerima budaya baru, tetapi juga mengolah, menyesuaikan, dan mengintegrasikannya ke dalam sistem budaya yang sudah ada.
Hal penting dalam akulturasi adalah adanya seleksi dan penyesuaian. Masyarakat cenderung:
- Menerima unsur yang dianggap bermanfaat atau sesuai.
- Menolak unsur yang bertentangan dengan nilai, norma, atau kepercayaan lokal.
- Menggabungkan unsur lama dan baru sehingga terbentuk bentuk budaya baru yang khas.
Dengan demikian, hasil akulturasi sering kali melahirkan budaya yang unik, karena merupakan kombinasi dari dua sumber budaya yang berbeda.
Contoh Akulturasi
1) Arsitektur masjid di Indonesia
Beberapa masjid kuno di Indonesia memiliki bentuk atap bertingkat yang mirip dengan bangunan tradisional lokal (seperti joglo), bukan kubah seperti di Timur Tengah. Ini menunjukkan perpaduan antara budaya Islam dengan budaya lokal.
2) Seni pertunjukan wayang
Cerita dalam wayang di Indonesia banyak dipengaruhi oleh kisah dari India (seperti Ramayana dan Mahabharata), tetapi telah diolah dengan nilai, tokoh tambahan, dan gaya penceritaan khas lokal.
3) Penggunaan pakaian tradisional dengan sentuhan modern
Batik yang merupakan budaya lokal Indonesia kini dipadukan dengan desain modern dari luar, sehingga menghasilkan busana yang tetap mencerminkan identitas lokal namun mengikuti tren global.

Salah satu contoh akulturasi yakni pementasan Barongsai. (Sumber: inibali.com)
3. Asimilasi
Asimilasi adalah proses sosial yang terjadi ketika dua individu atau kelompok dengan latar belakang budaya berbeda berinteraksi secara intensif dan berlangsung lama, sehingga perbedaan-perbedaan budaya di antara mereka semakin berkurang bahkan dapat hilang.
Dalam proses ini, biasanya salah satu budaya akan melebur ke dalam budaya lain yang lebih dominan, atau keduanya membentuk budaya baru dengan ciri yang sudah sangat menyatu.
Berbeda dengan akulturasi yang masih mempertahankan identitas budaya asli, asimilasi cenderung menghasilkan keseragaman budaya. Artinya, ciri khas budaya awal tidak lagi tampak jelas karena telah tergantikan atau bercampur secara menyeluruh.
Proses asimilasi umumnya ditandai oleh:
- Interaksi sosial yang intens dan berkelanjutan.
- Adanya sikap terbuka dan toleransi antar kelompok.
- Kesediaan untuk menyesuaikan diri.
- Berkurangnya prasangka dan konflik sosial.
- Munculnya kepentingan bersama yang lebih diutamakan dibanding identitas kelompok.
Tujuan utama dari asimilasi adalah menciptakan integrasi sosial, yaitu keadaan di mana masyarakat hidup harmonis tanpa adanya perbedaan mencolok yang berpotensi menimbulkan konflik.
Contoh Asimilasi
1) Perkawinan campuran antarbudaya
Seseorang dari budaya A menikah dengan seseorang dari budaya B, lalu dalam kehidupan sehari-hari mereka menggunakan bahasa, adat, dan kebiasaan yang sama. Anak-anak mereka pun tumbuh tanpa mengidentifikasi diri secara kuat pada salah satu budaya asal.

Contoh perkawinan antar budaya. (Sumber: Canva)
2) Penggunaan bahasa nasional
Di negara yang memiliki banyak bahasa daerah, masyarakat dari berbagai latar belakang akhirnya menggunakan satu bahasa nasional dalam kehidupan sehari-hari. Lama-kelamaan, penggunaan bahasa daerah bisa berkurang, terutama di kota besar.
3) Musik dangdut (India – Melayu)
Musik dangdut merupakan hasil percampuran budaya yang berkembang melalui interaksi panjang antara budaya lokal Melayu dengan pengaruh musik dari India (serta unsur Timur Tengah).
4) Penggunaan baju koko (Tionghoa – Indonesia)
Baju koko yang dikenal di Indonesia, khususnya sebagai pakaian muslim pria, memiliki akar dari budaya Tionghoa. Pakaian ini terinspirasi dari busana tradisional Tionghoa seperti tui-khim, yang memiliki ciri kerah tegak dan kancing depan.
4. Akomodasi
Akomodasi adalah proses sosial yang terjadi ketika individu atau kelompok yang memiliki perbedaan (baik kepentingan, nilai, maupun norma) berusaha mencapai keseimbangan dalam hubungan sosial. Dalam proses ini, perbedaan tidak dihilangkan, tetapi dikelola dan disesuaikan agar tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan.
Hal penting dalam akomodasi adalah adanya penyesuaian diri dan sikap saling menghargai. Masyarakat atau kelompok yang terlibat cenderung:
- Menahan diri agar konflik tidak semakin besar.
- Mencari titik temu atau kesepakatan bersama.
- Menghormati norma dan nilai yang berlaku.
- Tetap hidup berdampingan meskipun memiliki perbedaan
Dengan demikian, akomodasi tidak bertujuan untuk menyatukan budaya seperti asimilasi, tetapi lebih kepada menciptakan kestabilan sosial agar hubungan tetap harmonis.
Bentuk-Bentuk Akomodasi
Beberapa bentuk akomodasi yang umum terjadi antara lain:
- Kompromi → kedua pihak saling mengurangi tuntutan untuk mencapai kesepakatan.
- Toleransi → saling menghargai perbedaan tanpa konflik terbuka.
- Mediasi → melibatkan pihak ketiga sebagai penengah.
- Arbitrase → penyelesaian konflik melalui pihak ketiga yang keputusannya mengikat.
Baca Juga: Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial: Asosiatif, Disosiatif, Akomodatif
Contoh Akomodasi
1. Perbedaan pendapat dalam organisasi
Dua kelompok memiliki ide berbeda dalam mengambil keputusan. Agar tidak terjadi konflik, mereka melakukan kompromi dan mengambil jalan tengah.
2. Kehidupan masyarakat multikultural
Masyarakat dengan latar belakang agama atau budaya berbeda tetap hidup rukun dengan saling menghormati kebiasaan masing-masing.
3. Penyelesaian konflik melalui pihak ketiga
Dua pihak yang berselisih meminta bantuan tokoh masyarakat untuk menengahi dan mencapai kesepakatan.

—
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa proses perubahan sosial merupakan penyesuaian masyarakat terhadap perubahan-perubahan unsur kebudayaan yang terjadi. Seru ya belajar sosiologi!
Ingin belajar materi lainnya plus dengan animasi yang seru? Yuk, langganan ruangbelajar sekarang! Kamu akan dijelaskan oleh Master Teacher berpengalaman dengan cara yang interaktif dan pastinya seru banget!
Artikel ini pertama kali terbit 30 November 2017, kemudian diperbarui pada tanggal 24 November 2020 dan 27 Maret 2026.
Referensi:
Dwi, Vina. 2009. Sosiologi untuk SMA/MA kelas XII. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.



