Sejarah Kerajaan Banten Sejak Awal Berdiri hingga Runtuh | Sejarah Kelas 10

Tahukah kamu seperti apa sejarah kerajaan Banten? Yuk, kita kupas tuntas, mulai dari awal berdiri, masa kejayaan, hingga peninggalannya di artikel Sejarah Kelas 10 berikut ini!
—
Kalau lagi belajar sejarah kerajaan Islam di Indonesia, banyak orang langsung ingat sama Kesultanan Demak atau Kesultanan Mataram Islam. Padahal, ada juga kerajaan besar yang punya pengaruh penting dalam perdagangan internasional dan penyebaran Islam di Nusantara, yaitu Kesultanan Banten.
Kerajaan ini pernah menjadi salah satu pusat perdagangan paling ramai di Asia Tenggara. Letaknya yang strategis membuat banyak pedagang dari Arab, India, Cina, hingga Eropa datang ke wilayah ini. Nggak heran kalau sejarah Kerajaan Banten jadi salah satu materi penting dalam pelajaran sejarah Indonesia, khususnya ketika membahas perkembangan kerajaan Islam.
Selain terkenal sebagai pusat perdagangan lada, kehidupan politik Kerajaan Banten juga menarik untuk dipelajari. Ada masa ketika kerajaan ini berkembang pesat dan disegani bangsa asing, tetapi ada juga masa kemunduran yang dipicu konflik internal dan campur tangan VOC. Nah, supaya kamu makin paham tentang sejarah Kesultanan Banten, yuk kita bahas mulai dari berdirinya, masa kejayaannya, sampai peninggalan Kerajaan Banten yang masih bisa dilihat sampai sekarang!
Berdirinya Kerajaan Banten
Sebelum menjadi kerajaan Islam besar, wilayah Banten awalnya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Pada abad ke-16, wilayah ini dikenal sebagai pelabuhan penting yang menjadi pusat perdagangan lada. Karena letaknya strategis, banyak kerajaan ingin menguasainya.
Lokasi Kerajaan Banten berada di bagian barat Pulau Jawa, tepatnya di wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten. Kerajaan Banten terletak di jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Nusantara dengan Asia dan Timur Tengah. Letak Kerajaan Banten yang sangat strategis inilah yang membuat perekonomiannya berkembang pesat.
Baca Juga: Jalur Rempah Nusantara: Pengertian, Sejarah, dan Pengaruhnya
Kesultanan Banten didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati. Pendiri Kerajaan Banten ini memiliki peran besar dalam menyebarkan Islam di wilayah Jawa Barat. Sebelum berdiri sendiri, Banten sempat mendapat dukungan dari Kesultanan Demak.
Banyak yang bertanya, bagaimana fungsi Kerajaan Banten terhadap Kerajaan Demak? Pada masa itu, Banten berfungsi sebagai wilayah strategis untuk memperluas pengaruh Demak di Jawa bagian barat sekaligus menghambat kekuasaan Portugis di Nusantara. Dengan bantuan Demak, Banten berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Sunda dan berkembang menjadi kerajaan Islam mandiri.
Sumber sejarah Kerajaan Banten berasal dari berbagai catatan, seperti naskah kuno, arsip VOC, berita perjalanan bangsa asing, hingga peninggalan bangunan bersejarah. Salah satu sumber penting adalah kronik lokal yang dikenal sebagai “Sajarah Banten”.
Dalam sejarah Kesultanan Banten, proses Islamisasi berlangsung cukup cepat. Setelah wilayah Banten berhasil dikuasai, masyarakat mulai memeluk Islam dan kerajaan berkembang menjadi pusat dakwah sekaligus perdagangan.
Baca Juga: Penjelasan 4 Teori Masuknya Islam ke Indonesia
—
Kamu bisa lho konsultasi lebih dalam tentang Kesultanan Banten bersama tutor-tutor yang sudah terstandarisasi kualitasnya lewat Ruangguru Privat Sejarah! Kamu juga bisa pilih, mau ikut kelas offline atau online. Fleksibel, kan? Yuk cari tahu informasinya lebih lanjut dengan klik banner di bawah ini~
Para Pemimpin Kerajaan Banten
Silsilah Kesultanan Banten dipenuhi tokoh-tokoh penting yang membawa kerajaan ini berkembang menjadi kekuatan besar di Nusantara. Berikut beberapa raja Kerajaan Banten yang paling terkenal:
1. Sultan Maulana Hasanuddin
Sultan Maulana Hasanuddin merupakan pendiri kerajaan sekaligus sultan pertama Banten. Ia memerintah sekitar tahun 1552–1570. Pada masa pemerintahannya, wilayah Banten mulai berkembang sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam.
Sultan Hasanuddin juga memperkuat kehidupan politik Kerajaan Banten dengan membangun pemerintahan yang lebih teratur. Ia berhasil menjadikan Banten sebagai kerajaan Islam yang mandiri setelah sebelumnya mendapat pengaruh dari Demak.

Sultan Maulana Hasanuddin (Sumber: Wikipedia.org)
2. Maulana Yusuf
Setelah Sultan Hasanuddin wafat, kekuasaan dilanjutkan oleh putranya, Maulana Yusuf. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Banten semakin luas. Ia berhasil menaklukkan Kerajaan Pajajaran pada tahun 1579.
Peristiwa ini sangat penting karena menandai berakhirnya kekuasaan Hindu besar di Jawa Barat sekaligus memperkuat pengaruh Islam di wilayah tersebut.
3. Sultan Muhammad
Raja Kerajaan Banten berikutnya adalah Sultan Muhammad. Ia memimpin pada usia muda dan dikenal berani. Sayangnya, pemerintahannya tidak berlangsung lama karena gugur saat melakukan ekspedisi ke Palembang.
4. Sultan Ageng Tirtayasa
Kalau membahas masa kejayaan Kerajaan Banten, nama Sultan Ageng Tirtayasa pasti nggak boleh dilewatkan. Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.
Di bawah kepemimpinannya, Banten berkembang menjadi kerajaan maritim yang sangat kuat. Sultan Ageng terkenal tegas terhadap VOC dan berusaha mempertahankan kedaulatan kerajaan dari campur tangan Belanda.
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng karena perdagangan internasional berkembang sangat pesat. Banyak kapal dagang asing datang ke pelabuhan Banten untuk membeli lada dan rempah-rempah lainnya.
5. Sultan Haji
Setelah Sultan Ageng Tirtayasa, muncul konflik internal antara dirinya dan putranya sendiri, yaitu Sultan Haji. Konflik inilah yang kemudian menjadi awal kemunduran kerajaan.
Sultan Haji memilih bekerja sama dengan VOC demi mendapatkan dukungan politik. Akibatnya, pengaruh Belanda di Banten semakin besar.
Masa Kejayaan Kerajaan Banten
Masa kejayaan Kerajaan Banten terjadi pada abad ke-17, terutama ketika dipimpin Sultan Ageng Tirtayasa. Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan sultan ini karena berhasil menguasai perdagangan internasional di Selat Sunda.
Pelabuhan Banten menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Asia Tenggara. Pedagang dari berbagai negara datang untuk membeli lada, beras, gula, dan hasil bumi lainnya. Kehidupan ekonomi Kerajaan Banten berkembang sangat pesat karena aktivitas perdagangan tersebut.
Selain perdagangan, Banten juga memiliki armada laut yang kuat. Kapal-kapal Banten digunakan untuk menjaga jalur perdagangan sekaligus melawan ancaman bangsa asing.

Ilustrasi Wilayah Kesultanan Banten (Sumber: Wikipedia.org)
A. Kehidupan Politik Kerajaan Banten
Kehidupan politik Kerajaan Banten pada masa kejayaan relatif stabil. Sultan memiliki kekuasaan besar dan dibantu pejabat kerajaan dalam menjalankan pemerintahan.
Namun, hubungan dengan VOC sering memicu konflik. VOC ingin memonopoli perdagangan lada di Banten, sedangkan Sultan Ageng Tirtayasa menolak campur tangan asing. Persaingan ini menyebabkan ketegangan politik yang berkepanjangan.
B. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Banten
Kehidupan ekonomi Kerajaan Banten sangat bergantung pada perdagangan internasional. Karena letaknya strategis, pelabuhan Banten menjadi pusat aktivitas ekonomi yang ramai.
Kerajaan Banten terletak di dekat Selat Sunda, jalur pelayaran penting yang menghubungkan perdagangan dari Asia hingga Eropa. Kondisi ini membuat Banten menjadi pusat distribusi rempah-rempah.
Selain perdagangan lada, masyarakat Banten juga bekerja di bidang pertanian, perikanan, dan kerajinan tangan.
C. Kehidupan Sosial Kerajaan Banten
Kehidupan sosial Kerajaan Banten dipengaruhi budaya Islam yang cukup kuat. Banyak pesantren dan pusat pendidikan Islam berkembang pada masa itu.
Masyarakat Banten terdiri dari berbagai kelompok etnis karena banyak pedagang asing menetap di wilayah ini. Interaksi antarbudaya membuat Banten berkembang menjadi kota pelabuhan yang multikultural.
Selain itu, masyarakat hidup cukup makmur karena aktivitas perdagangan yang ramai. Infrastruktur seperti pelabuhan dan pasar juga berkembang dengan baik.
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Aceh: Asal Mula, Masa Kejayaan, hingga Peninggalannya
Runtuhnya Kerajaan Banten
Walaupun pernah berjaya, Kesultanan Banten akhirnya mengalami kemunduran. Penyebab Kerajaan Banten mulai mengalami kemunduran adalah konflik internal antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji.

Reruntuhan Kesultanan Banten (Sumber: Wikipedia.org)
Sultan Haji meminta bantuan VOC untuk melawan ayahnya sendiri. Sebagai imbalan, VOC memperoleh berbagai hak istimewa dalam perdagangan dan politik di Banten.
Penyebab runtuhnya Kerajaan Banten bukan hanya konflik keluarga, tetapi juga campur tangan VOC yang semakin besar. Setelah Sultan Ageng kalah, pengaruh Belanda makin kuat dan kekuasaan kerajaan perlahan melemah.
Selain itu, monopoli perdagangan yang dilakukan VOC membuat perekonomian Banten menurun. Pelabuhan Banten yang sebelumnya ramai mulai kehilangan pengaruh karena perdagangan dialihkan ke Batavia.
Pada akhirnya, Kesultanan Banten resmi dihapus oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1813. Sejak saat itu, kerajaan ini tidak lagi memiliki kekuasaan politik.
Peninggalan Kerajaan Banten
Walaupun kerajaan telah runtuh, masih banyak peninggalan Kerajaan Banten yang bisa ditemukan hingga sekarang. Peninggalan ini menjadi bukti kejayaan Kesultanan Banten pada masa lalu.
1. Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten merupakan salah satu peninggalan paling terkenal. Masjid ini dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanuddin dan masih digunakan hingga sekarang. Arsitekturnya unik karena memadukan unsur Jawa, Cina, dan Eropa.

Masjid Agung Banten pada kurun 1882-1889 (Sumber: Wikipedia.org, COLLECTIE TROPENMUSEUM)
2. Keraton Surosowan
Keraton Surosowan adalah bekas istana Kesultanan Banten. Saat ini bangunannya memang sudah berupa reruntuhan, tetapi tetap menjadi situs sejarah penting. Keraton ini dulunya menjadi pusat pemerintahan kerajaan.

Reruntuhan Keraton Surosowan, diambil tahun 2020 (Sumber: Wikipedia.org)
3. Benteng Speelwijk
Benteng Speelwijk dibangun oleh Belanda pada abad ke-17. Benteng ini menjadi simbol kuatnya pengaruh VOC di Banten setelah masa kemunduran kerajaan.

Benteng Speelwijk (Sumber: Wikipedia.org, Mirani Pramitasari)
4. Danau Tasikardi
Danau Tasikardi merupakan danau buatan yang digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga kerajaan sekaligus sumber air.
5. Vihara Avalokitesvara
Vihara Avalokitesvara menunjukkan bahwa masyarakat Banten pada masa lalu hidup dalam keberagaman budaya dan agama. Keberadaan vihara ini juga membuktikan hubungan perdagangan Banten dengan pedagang Cina.
Dari berbagai peninggalan Kerajaan Banten tersebut, kita bisa melihat betapa maju dan terbukanya kerajaan ini terhadap dunia luar.
Baca Juga: Pengaruh Islam di Indonesia dalam Berbagai Bidang
Sejarah Kerajaan Banten menunjukkan bahwa Nusantara pernah memiliki kerajaan maritim besar yang disegani dunia internasional. Dengan lokasi Kerajaan Banten yang strategis di jalur perdagangan dunia, kerajaan ini berkembang menjadi pusat ekonomi dan penyebaran Islam di Jawa bagian Barat.
Kesultanan Banten didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin dan mencapai masa kejayaan Kerajaan Banten pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada masa itu, perdagangan berkembang pesat dan Banten menjadi pelabuhan internasional yang ramai.
Namun, konflik internal dan campur tangan VOC menjadi penyebab runtuhnya Kerajaan Banten. Meski begitu, berbagai peninggalan sejarahnya masih bisa kita pelajari hingga sekarang sebagai bukti kejayaan masa lalu.
—
Belajar sejarah memang jadi lebih seru kalau dipahami lewat cerita dan pembahasan yang runtut. Nah, kalau kamu mau belajar materi sejarah, ekonomi, geografi, dan pelajaran sekolah lainnya dengan cara yang lebih asyik, langsung aja belajar bersama Ruangguru!
Ada banyak video pembelajaran, latihan soal, dan rangkuman materi yang bikin belajar jadi lebih mudah dipahami, lho. Yuk, download sekarang!
Referensi:
Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho (ed). (2019) Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka
Sumber Foto:
Sultan Maulana Hasanuddin [daring]. Tautan: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/cf/Maulana_Hasanuddin_of_Banten.jpg (Diakses: 13 Mei 2026)
Ilustrasi Wilayah Kesultanan Banten [daring]. Tautan: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Banten-city-Java-1724.jpg (Diakses: 13 Mei 2026)
Masjid Agung Banten [daring]. Tautan: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banten#/media/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_moskee_en_minaret_in_Karang_Antu_TMnr_3728-818.jpg (Diakses: 13 Mei 2026)
Keraton Surosowan [daring]. Tautan: https://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Surosowan#/media/Berkas:Keraton_Surosowan.jpg (Diakses: 13 Mei 2026)
Benteng Speelwijk [daring]. Tautan: https://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Speelwijk#/media/Berkas:Benteng_Speelwijk_(19).jpg (Diakses: 13 Mei 2026)



