Pembabakan Zaman Praaksara Berdasarkan Arkeologi | Sejarah Kelas 10

Hai. Kemu penasaran nggak bagaimana sih sejarah peradaban kehidupan manusia, jika ditinjau dari aspek arkeologi? Yuk simak pembahasannya di artikel Sejarah kelas 10 berikut ini!
—
Kehidupan manusia itu terus mengalami perubahan dan perkembangan. Contohnya aja zaman sewaktu orang tua kita seumuran kalian, pastinya berbeda dengan kehidupan di zaman sekarang, begitu juga dengan kakek nenek, apalagi buyut kita.
Nah kira-kira bagaimana ya awal babak kehidupan manusia dahulu? Biar engga penasaran, kita bahas yuk pembabakan zaman praaksara berdasarkan arkeologi.
Pembabakan Zaman Praaksara Berdasarkan Arkeologi
Sekitar 10.000 tahun sebelum Masehi merupakan masa berakhirnya zaman praaksara atau masa prasejarah, yaitu masa sebelum memasuki sejarah. Nah, dari zaman itu muncul deh nenek moyang kita, ia adalah spesies Homo sapiens yang berarti manusia cerdas.
Baca Juga: Pengertian Zaman Praaksara dan Corak Kehidupan Masyarakatnya
Kemudian masa praaksara terbagi menjadi beberapa babak menurut arkeologi. Arkeologi itu ilmu yang mempelajari hasil budaya pada masa lampau, hasil budayanya itu berupa benda-benda peninggalan dari kebudayaan manusia itu sendiri, nah orang yang mendalami ilmu itu disebut arkeolog.
Perlu kalian ketahui juga nih, jadi masa praaksara itu tidak dapat dilacak berdasarkan sumber tulisan, kenapa? Ya bayangin aja, dulu itu kan belum ada tulisan atau belum dikenal aksara.
Akan tetapi, perkembangan kebudayaan manusianya bisa dilacak berdasarkan sumber-sumber yang berupa fosil, yaitu sisa-sisa makhluk hidup yang hidup pada zaman tersebut dan telah membatu, selain itu ada juga artefak yaitu alat-alat yang digunakan pada masa praaksara.
—
Eits, sebelum lanjutin pembahasan tentang pembabakan zaman praaksara berdasarkan arkeologi, misal kamu tertarik lebih dalam dengan materi sejarah nih, kamu boleh loh belajar langsung bareng tutor yang keren-keren dari Ruangguru Privat Sejarah!
Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (offline) atau daring (online). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik banner berikut!
Lanjut ya! Pembabakan kehidupan manusia pada masa praaksara dibagi menjadi beberapa zaman berdasarkan teknologi yang digunakan. Sekarang kita bahas berdasarkan peninggalan arkeologi ya.

1. Zaman Batu Tua (Paleolitikum)
Zaman batu tua disebut juga paleolitikum. Pada zaman ini, hasil kebudayaannya terbuat dari batu dan tulang yang relatif masih sederhana dan kasar. Kalau dilihat dari aspek geologis, zaman paleolitikum bertepatan dengan zaman neozoikum, terutama pada akhir zaman tersier dan zaman awal kuarter.
Baca Juga: Pembabakan Zaman Praaksara Berdasarkan Geologi
Secara umum, zaman paleolitikum terbagi menjadi Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong. Hm, apa ya perbedaan dari dua kebudayaan itu? Lalu, apakah dua kebudayaan ini juga menjadi peninggalan zaman paleolitikum?
a. Kebudayaan Pacitan
Kebudayaan ini berkembangnya di daerah Pacitan, Jawa Timur. Pada tahun 1935, von Koenigswald, paleontologis asal Belanda, menemukan beberapa teknologi bebatuan di Sungai Baksoka, dekat Punung.
Alat batu tersebut masih kasar, dan bentuk ujungnya agak runcing. Alat batu ini disebut dengan kapak genggam atau kapak perimbas. Biasanya, kapak ini digunakan untuk menusuk binatang atau menggali tanah saat mencari umbi-umbian.
Selain kapak perimbas, ditemukan pula alat penetak atau chopper, dan alat serpih atau flakes.
Nah, gak cuma di Pacitan aja, kapak perimbas juga ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, seperti Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Bali, Flores, hingga Timor.
Para ahli berpendapat, jenis manusia Pithecanthropus merupakan pencipta budaya Pacitan karena budaya ini diduga dari tingkat akhir Plestosin Tengah atau awal permulaan Plestosin Akhir.
b. Kebudayaan Ngandong
Kebudayaan Ngandong berkembangnya di daerah Ngandong dan Sidorejo, dekat Ngawi, Jawa Timur. Di daerah ini ditemukan alat-alat dari batu dan alat-alat dari tulang binatang (termasuk tanduk rusa). Alat dari tulang ini diperkirakan digunakan sebagai penusuk atau belati.
Baca Juga: Mengenal Peralatan Manusia Purba Zaman Praaksara
2. Zaman Batu Tengah (Mesolitikum)
Zaman batu tengah atau madya disebut juga mesolitikum. Di kebudayaan ini, peninggalan yang dihasilkan masih berupa batu, tapi lebih halus dari zaman paleolitikum. Ibaratnya, menyempurnakan dari peninggalan paleolitikum, seperti flakes dan alat-alat dari tulang. Otomatis, zaman ini lebih maju ya.
Nah, zaman ini dibagi jadi dua kelompok berdasarkan lingkungan tempat tinggal, yaitu di pantai dan di gua. Yuk kita bahas satu per satu.
a. Kebudayaan Kjokkenmoddinger (Pantai)

Kjokkenmoddinger (sumber: asset eksklusif Ruangguru x Museum Nasional Indonesia)
Kjokkenmoddinger berasal dari bahasa Denmark. Kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah. Jadi, kjokkenmoddinger adalah sampah dapur.
Kaitannya sama kebudayaan manusia adalah, kjokkenmoddinger ini merupakan tumpukan kulit kerang dan siput yang menggunung di sepanjang pantai Sumatra Timur, tepatnya antara Langsa di Aceh sampai Medan. Dari sini ketahuan, kalau manusia purba zaman mesolitikum tinggalnya di tepi pantai.
Hal ini diperkuat dengan penemuan jenis chopper yang berbeda dari zaman paleolitikum. Chopper ini ditemukan di bukit kerang di pantai Sumatara Timur oleh Von Stein Callenfels (tahun 1925), yang kemudian diberi nama pebble atau kapak sumatra. Pebble ini terbuat dari batu kali yang pecah.
Selain pebble, ditemukan juga batu pipisan (sebagai alat penggiling). Di Jawa, batu pipisan ini biasanya digunakan untuk menumbuk dan menghaluskan jamu.
b. Kebudayaan Abris Sous Roche (Gua)
Kebudayaan ini pertama kali diteliti oleh Von Stein Callenfels di Gua Lawa dekat Sampung, Ponorogo. Hasilnya, ditemukan beberapa peninggalan seperti ujung panah, flakes, batu penggilingan, alat-alat dari tulang, dan tanduk rusa. Kebudayaan abris sous roche ditemukan di beberapa daerah, seperti di Besuki, Bojonegoro, dan Lamoncong, Sulawesi Selatan.
3. Zaman Batu Baru (Neolitikum)
Zaman batu baru atau zaman batu muda disebut juga neolitikum. Pada zaman ini, perubahan besar terjadi. Awalnya, manusia melakukan food gathering, di zaman ini beralih menjadi food producing.
Manusia mulai mengenal bercocok tanam dengan cara berladang dan mereka tinggal sekaligus menetap di dekat ladang-ladang yang mereka buat, mereka membabat hutan dengan sistem ladang berpindah.
Setelah berkali-kali panen dan kesuburan ladang berkurang, mereka akan berpindah dan membuka ladang baru di tanah yang masih subur. Pada masa ini, manusia mulai memelihara hewan ternak dan hidup dalam kelompok-kelompok besar serta mulai mengenal kepemimpinan secara terbatas. Peralatan yang digunakan masih terbuat dari batu yang diasah hingga halus dan berbentuk lebih baik.
Ingat guys, karena zaman neolitikum peradaban manusianya sudah semakin maju, maka tidak heran kalau mereka sudah bisa membuat perhiasan, seperti gelang dari batu, dan alat-alat gerabah atau tembikar.
Pada zaman ini juga, bahan yang sering digunkan dalam membuat peralatan adalah jenis batuan kersikan atau silicified stones seperti gamping kersikan, kaleson, dan jasper. Jenis-jenis batuan ini sifatnya keras dan retas, dengan pecahan yang cenderung tajam dan tipis, sehingga memudahkan pengerjaan.
Secara garis besar, zaman neolitikum terbagi menjadi dua tahap perkembangan, yaitu:
a. Kebudayaan Kapak Persegi
Kenapa dinamakan kapak persegi? Karena bentunya memang persegi panjang, meskipun ada juga yang berbentuk trapesium.
Ukurannya juga bermacam-macam, guys. Kalau yang besar sering disebut pacul (cangkul). Malah kalau dikasih tangkai, miripnya seperti cangkul yang biasa kamu lihat di sawah atau di belakang rumah. Kalau yang ukurannya kecil, dinamakan tarah atau tatah. Biasanya, kapak persegi ini digunakan sebagai alat pertanian ya.
Alat-alat ini tersebar di Indonesia bagian barat seperti Lahat (Palembang), Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya, Pacitan-Madiun, Gunung Ijen (Jawa Timur), hingga Bali.
b. Kebudayaan Kapak Lonjong
Namanya kapak lonjong, yaaa karena bentuknya lonjong seperti bulat telur. Pada ujung lancip ditempatkan tangkai, sedangkan pada bagian ujung yang lain diasah sampai tajam. Kapak lonjong berukuran besar disebut walzenbeil, sementara yang kecil disebut kleinbeil. Penyebaran kapak lonjong tersebar di Indonesia bagian timur seperti Papua, Seram, dan Minahasa.
4. Zaman Logam
Zaman logam disebut juga masa perunggu dan besi atau masa perundagian. Pada zaman ini, manusia telah menetap dan mulai mengenal pembagian kerja berdasarkan keahlian tertentu.
Manusia pada zaman ini juga telah mengenal peralatan yang terbuat dari logam tertentu yang mudah didapat seperti tembaga, perunggu, dan besi. Tapi, yang perlu kamu ketahui, di Indonesia hanya ada dua jenis logam yang digunakan oleh manusia pada zaman ini, yaitu perunggu dan besi. Beberapa peninggalan dari zaman logam khususnya perunggu antara lain kapak corong, nekara, moko, dan berbagai barang perhiasan.
Baca Juga: 5 Tahap Sistem Kepercayaan Manusia Purba Masa Praaksara

Nah, itu dia pembabakan zaman praaksara berdasarkan temuan arkelogi. Namun, pemababakan zaman praaksara itu tidak hanya berdasarkan arkeologi, tetapi juga geologi, dan juga ciri-ciri kehidupan masyarakatnya. Jadi, jangan lupa dipelajari semuanya yaa.
Oh iya, kamu juga bisa lho belajar dengan santai melalui video-video materi beranimasi. Kalian bisa daftar di ruangbelajar untuk mengakses materi-materi belajar dengan format video beranimasi. Dengan begitu, kalian bisa belajar di mana saja dan kapan saja.
Referensi:
Gunawan, Restu, Amurwani Dwi Lestariningsih, dan Sardiman. (2017) Sejarah Indonesia Kelas X Untuk SMA/MA/SMK/MAK. Kurikulum 13 Revisi. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sumber Foto:
Pena, Sterno (2016). Dolmen [online]. Available at: https://www.belajarsosial.com/2016/10/apa-itu-dolmen.html (Accessed: 13 November 2020)
Artikel ini pertama kali terbit 22 Desember 2017 dan ditulis oleh Fahri Abdillah, kemudian diperbarui pada 2 Februari 2026.



