Kenali 10 Jenis Awan, Karakteristik & Proses Terbentuknya

Luke Howard, Peneliti Awan

Dengan memahami bentuk awan yang beragam, kita dapat mengetahui keadaan cuaca dalam waktu dekat, lho! Yuk, ketahui 10 jenis awan, masing-masing karakteristik, dan proses terbentuknya di artikel ini!

 

Putih, menggemaskan, seperti kapas, dan berjalan di atas langit, apakah itu? Apalagi kalau bukan awan. Pernah nggak sih kamu berkhayal untuk menyentuh, mengendarai, bahkan menggigit benda satu ini? hihihi selain bentuknya yang lucu, awan juga sangat mirip dengan permen kapas, ya.

gif_cloud

Cute Cloud Gif (sumber: dribbble.com)

 

Tapi, benda lucu ini bisa berubah menjadi sangat besar, berwarna gelap, disertai dengan hujan, dan petir yang menyeramkan, lho! Kadang lucu, kadang seram, kadang indah, kadang menakutkan, seperti gebetan lagi ngambek aja!

Apa dia berubah gara-gara banyak yang sering bilang, “langit, bisakah kau turunkan hujan dengan petir… aku ingin menangis tanpa terlihat..”?

Baca Juga: Kenapa Langit Berwarna Biru?

 

Apa itu Awan?

Awan adalah sekumpulan uap air yang kemudian mengembun di atmosfer, bisa dalam bentuk tetesan air ataupun kristal es. Jadi, bagi kamu yang ingin naik awan, sebaiknya urungkan niat ya, karena walau terlihat gembul dan empuk, awan tidaklah cukup kuat untuk dikendarai. Bahkan jika kita bisa menyentuhnya, awan hanya berisi tetesan air dan kristal es layaknya kabut.

 

Proses Terbentuknya Awan

Lalu, dari mana ya awan berasal? Bagaimana proses terbentuknya awan? Yuk, simak penjelasannya dalam infografik di bawah ini!

Proses Terbentuknya Awan

 

Banyak yang mengira kalau awan itu ya sama seperti uap air, tapi ternyata itu salah, lho! Karena sebenarnya kalau sekadar uap air, di sekeliling kita sangat banyak uap air, tergantung dari kelembaban udara. Belum lagi uap air sangat sulit untuk dapat terlihat.

Jadi secara sederhana, terbentuknya awan bermula dari sekumpulan uap air yang dipanaskan matahari. Kemudian, uap naik ke permukaan udara.

Nah, seperti saat kita naik gunung, semakin tinggi kita naik, maka akan semakin dingin udaranya, demikian juga dengan uap tadi. Suhu yang dingin juga tidak bisa menampung uap air terlalu banyak, hingga kemudian uap tadi mengembun menjadi tetesan-tetesan kecil atau kristal es. Kumpulan kristal es inilah yang kemudian membentuk awan.

Baca Juga: Bagaimana Proses Terbentuknya Pelangi?

 

Mengenal Jenis-Jenis Awan dari Luke Howard

Luke-Howard - Peneliti Bentuk Awan

Gambar: Luke Howard (Sumber: www.meteorologiaenred.com)

 

Kurang afdol rasanya jika kita membahas awan tanpa membahas Luke Howard, si ‘bapak awan’. Howard merupakan seorang ahli kimia kelahiran Inggris tahun 1772. Walau secara pekerjaan merupakan seorang ahli kimia, tapi kecintaannya pada langit membuatnya menjadi seorang meteorolog amatir berpengaruh, khususnya pada studi tentang awan.

bagan Jenis-jenis Awan Beserta Kombinasinya

 

Ini semua bermula saat Howard menginjak sekolah dasar. Ia kerap memandangi langit tanpa menghiraukan pelajaran. Tapi, siapa yang menyangka bengong-nya Howard membawa pengaruh besar pada meteorologi. Pada tahun 1802, Howard berhasil mengklasifikasi 3 bentuk dasar awan dan kombinasinya.

3 bentuk dasar awan

 

Ketiga bentuk dasar awan itu adalah Cirrus, Cumulus, dan Stratus. Cirrus merupakan awan dengan bentuk seperti rambut atau serat. Lalu, Cumulus merupakan awan dengan bentuk seperti gumpalan atau timbunan menumpuk. Sedangkan Stratus adalah bentuk awan seperti lapisan layar atau lembaran.

 

1. Awan Cirrus

awan cirrus

Gambar: Awan Cirrus (sumber: www.id.wikipedia.org)

 

Cirrus adalah jenis awan yang terbentuk pada ketinggian antara 6.000 – 12.000 meter di atas permukaan laut. Awan ini terbentuk dari kristal es karena udara pada ketinggian tersebut sangatlah dingin. Warnanya putih atau keperakan karena terkena cahaya matahari. Jika cirrus mulai berkumpul, ini bisa menjadi pertanda kalau cuaca akan berubah dalam beberapa hari ke depan, loh.

Baca Juga: 10 Fakta Menarik Lubang Hitam (Black Hole) yang Penting Diketahui

 

2. Awan Cumulus

awan cumulus

Gambar: Awan Cumulus (sumber: www.id.wikipedia.org)

 

Cumulus sering menjadi penanda cuaca yang baik dan cerah. Jenis awan ini terbentuk pada ketinggian rendah hingga menengah dari permukaan bumi. Bentuknya menyerupai gundukan, bulat, atau bergelombang dengan tepi yang jelas. Umumnya, warnanya putih atau keabu-abuan saat terkena cahaya matahari. Jika matahari sedang terbit atau tenggelam, cumulus bisa berubah menjadi merah muda kejinggaan, loh.

 

3. Awan Stratus

awan stratus

Gambar: Awan Stratus (sumber: www.id.wikipedia.org)

 

Awan stratus cenderung terlihat datar dan menutupi langit. Mereka dapat membentang membentuk lembaran yang tebal dan sering kali tampak menyelimuti langit secara keseluruhan, memberikan tampilan yang abu-abu atau keabu-abuan. Nah, lain halnya dengan cumulus, stratus sering dikaitkan dengan kondisi cuaca yang teduh, mendung, bahkan bisa menyebabkan hujan ringan.

 

4. Awan Cirrocumulus

awan cirrocumulus

Gambar: Awan Cirrocumulus (sumber: www.zonareferensi.com)

 

Karena awan ini terus berubah sepanjang waktu, maka dari ketiga dasar tadi terjadilah beberapa kombinasi bentuk awan. Ada perpaduan antara Cirrus dan Cumulus bernama Cirrocumulus, di mana awan berbentuk serat saling menumpuk. Awan jenis ini berbentuk seperti sekumpulan ombak air putus-putus. Awan ini terbuat dari kristal es, jadi tetes airnya akan terasa dingin.

 

5. Awan Cirrostratus

awan cirrostratus

Gambar: awan Cirrostratus (sumber: www.zonareferensi.com)

 

Berikutnya ada awan Cirrostratus, yang merupakan perpaduan awan Cirrus dan stratus. Jadi, awan ini terbentuk dari awan Cirrus yang halus, kemudian bersatu dan membentuk lembaran. Biasanya, awan ini sangat luas ukurannya dan sulit untuk diidentifikasi karena terlalu tipis. Awan ini biasanya menandakan akan datang hujan saat terjadi cuaca panas.

Baca Juga: Teori Bumi Bulat vs Bumi Datar, Manakah yang Benar?

 

6. Awan Stratocumulus

awan stratocumulus

Gambar: Awan Stratocumulus (sumber: cloudatlas.wmo.int)

 

Lalu ada awan Stratocumulus, awan ini merupakan perpaduan antara awan Cumulus dan Stratus. Jadi, awan ini terbentuk dari sekumpulan awan cumulus yang bersatu dan kemudian menyebar membentuk lapisan seperti selimut yang bertumpuk. Awan ini biasanya tidak menimbulkan hujan.

 

7. Awan Nimbus

awan nimbus

Gambar: Awan Nimbus (sumber: web.extension.illinois.ed)

 

Lalu ada perpaduan kombinasi antara awan stratus, cumulus, dan cirrus yang bernama awan nimbus. Awan ini biasanya membawa hujan, berwarna abu-abu gelap, teksturnya tebal dan merata. Awan ini biasanya menutup sinar matahari secara luas dan menimbulkan suasana mendung.

 

8. Awan Cumulonimbus

awan cumulunimbus

Gambar: awan Cumulonimbus (sumber: https://cloudatlas.wmo.int/)

 

Kemudian ada awan Cumulonimbus, awan ini bentuknya cukup besar dan menjulang tinggi seperti pohon. Cumulonimbus memiliki warna putih, hingga abu-abu sangat gelap dan membawa muatan air atau kristal es cukup banyak. Nah, awan yang satu ini juga merupakan awan pertanda hujan lebat, lho! Awan ini biasanya juga menandakan akan terjadi hujan badai disertai petir.

 

9. Awan Altocumulus

awan altocumulus

Gambar: awan Altocumulus (Sumber: https://cloudatlas.wmo.int/)

 

Lalu ada awan Altocumulus, awan ini berbentuk seperti bola-bola salju yang menyebar di langit. Terkadang awan ini bentuknya teratur dan lucu, tetapi di balik itu, ternyata awan ini biasanya merupakan pertanda badai petir, lho! Awan jenis ini biasanya ditemukan di ketinggian yang cukup rendah.

 

10. Awan  Altostratus

awan altostratus

Gambar: Awan  Altostratus (sumber: https://cloud-maven.com)

 

Berikutnya ada awan Altostratus. Awan ini memiliki bentuk seperti lembaran tipis, dan terkadang membentuk sebuah jalur yang unik. Awan ini biasanya berwarna putih sampai abu-abu, namun terkadang masih dapat ditembus sinar matahari dan biasanya membawa hujan yang ringan.

Hebat ya Pak Howard ini, walau pada zamannya studi meteorologi masih minim dia melakukan pengamatan yang teliti, padahal awan tidak bisa di potek lalu diamati di laboratorium. Berkat penemuan Howard, studi meteorologi menjadi lebih berkembang, manusia jadi bisa memprediksi cuaca dan kondisi alam.

Nah, itulah penjelasan mengenai jenis-jenis awan, masing-masing karakteristik, dan proses terbentuknya. Ingin hebat dan pintar seperti Pak Howard? Yuk, belajar bersama kami di ruangbelajar. Siapa tau rasa penasaran kamu tentang alam bisa membawa kamu menjadi penemu terkenal seperti cerita di atas. Temukan pembelajaran dan guru yang asik di sini, bersama teman-teman yang lain!

IDN CTA Blog ruangbelajar Ruangguru

Referensi:

Jerman, Portilo. “Luke Howard dan klasifikasi awan” [online]. Meteorologiaenred. Link: https://www.meteorologiaenred.com/id/luke-howard.html (diakses 28 November 2021)

Aulialia. “Awan Cirrocumulus : Pengertian, Karakteristik dan Jenisnya”. Ilmugeografi.com 27 september 2016 [online]. https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/awan-cirrocumulus (diakses 28 November 2021)   

Aulialia. “Awan Cirrostratus : Pengertian, Proses dan Jenisnya”. Ilmugeografi.com 27 september 2016 [online]. https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/awan-cirrostratus (diakses 28 November 2021)

Fatma, Desy. ”Awan Strato Cumulus : Pengertian, Karakteristik, Jenis dan Kandungannya”. Ilmugeografi.com 29 Spetember 2016 [online] .https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/awan-strato-cumulus. (Diakses 28 November 2021)

Lestari, Ika. “6 Jenis Awan yang Menimbulkan Hujan Beserta Ciri-cirinya”. Ilmugeografi.com 23 Mei 2019 [online]. https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/jenis-awan-yang-menimbulkan-hujan (di akses 28 November 2021)

Kurniawan, Andre. “10 Jenis Awan yang Sering Terlihat di Langit, Tidak Semua Menyebabkan Hujan”. Merdeka.com 3 September 2020 [online]. https://m.merdeka.com/jabar/10-jenis-awan-yang-sering-terlihat-di-langit-tidak-semua-menyebabkan-hujan-kln.html (diakses 28 November 2021)

Hambyn, Richard. “How did clouds get their names?” TED-ed Youtube Chanel 24 November 2015 [online]. https://www.youtube.com/watch?v=UuW1jhxCgx0 (diakses 28 November 2021)

Sumber Foto:

Meteorologiaenred. Luke Howard. [online] https://www.meteorologiaenred.com/id/luke-howard.html (diakses 28 November 2021)

Nicholas B. Lhoest. Cute Cloud Gif. [online] https://dribbble.com/shots/6833456-Cute-Cloud-Gif (diakses 28 November 2021) 

Referensi, Zona. Awan Cirrocumulus. 6 Februari 2020 [online]. https://www.zonareferensi.com/jenis-jenis-awan/ (diakses 28 November 2021) 

Referensi, Zona. Awan Cirrostratus. 6 Februari 2020 [online]. https://www.zonareferensi.com/jenis-jenis-awan/ (diakses 28 November 2021) 

Breman, Ger. Stratocumulus radiatus. 10 April 2010 [online]. https://cloudatlas.wmo.int/en/varieties-stratocumulus-radiatus-sc-ra.html (diakses 28 November 2021)

University of Illinois Board of Trustees. Nimbus Cloud. [online]. https://web.extension.illinois.edu/treehouse/clouds.cfm?Slide=6 (diakses 28 November 2021)

Antonio J. Galindo. Cumulonimbus. 16 Juni 2014 [online]. https://cloudatlas.wmo.int/en/cumulonimbus-cb.html (diakses 28 November 2021)

Kwong Hung Tam. Altocumulus. 16 November 2015 [online]. https://cloudatlas.wmo.int/en/altocumulus-ac.html (diakses 28 November 2021) 

Art Rangno. Altorstratus Cloud. 11 Maret 2018 [online]. https://cloud-maven.com/category/altostratus-clouds/ (diakses 28 November 2021)

https://id.wikipedia.org/wiki/Awan_sirus#/media/Berkas:CirrusField-color.jpg (diakses 22 Desember 2023)

https://en.wikipedia.org/wiki/Cumulus_cloud#/media/File:GoldenMedows.jpg (diakses 22 Desember 2023)

https://id.wikipedia.org/wiki/Stratus#/media/Berkas:Stratus-Opacus-Uniformis.jpg (diakses 22 Desember 2023)

Galang Kris Nanda