13 Kerajaan Maritim Hindu-Buddha di Nusantara | Sejarah Kelas 11

Sejarah Kerajaan Maritim Hindu-Buddha - Sejarah Kelas 11

Artikel Sejarah kelas 11 ini akan menjelaskan alasan terbentuknya kerajaan maritim Hindu-Buddha dan macam-macam kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Yuk, kita pelajari bersama!

 

Indonesia memiliki kondisi geografis yang unik di antara negara-negara lain di Asia Tenggara. Berdasarkan letak geografisnya, Indonesia berada di posisi strategis. Indonesia terletak di antara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, serta di antara dua benua yaitu Benua Asia dan Benua Australia.

Selain itu, Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan bergaris pantai sepanjang 81.000 km. Yak, betul sekali, wilayah Indonesia memiliki perairan yang lebih luas daripada daratan, tepatnya terdiri dari 70% lautan dan 30% daratan.

Wilayah laut Indonesia yang luas ini, membuat Indonesia menjadi negara yang memiliki potensi besar di bidang kelautan dan perikanan. Oleh karena itulah Indonesia disebut sebagai negara maritim.

 

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia - Asal-Usul Indonesia Sebagai Negara Maritim

Jadi, kalau kamu bertanya-tanya, ‘kenapa sih Indonesia disebut sebagai negara maritim?’, jawabannya adalah karena Indonesia memiliki wilayah laut yang luas. Sejak dulu, masyarakat Indonesia memanfaatkan sumber daya di perairan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Contohnya, melakukan pelayaran, perdagangan laut, dan armada laut.

Kata maritim sendiri berasal dari bahasa latin, yaitu Mare yang artinya laut. Secara istilah, maritim diartikan sebagai “connecting to the sea or near the sea”, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan laut atau dekat dengan laut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maritim adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan laut atau yang berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut.

Nah, awal mula munculnya julukan Indonesia sebagai negara maritim ternyata tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Hindu-Buddha yang bercorak maritim, guys. Kerajaan-kerajaan ini juga bisa disebut sebagai kerajaan maritim Hindu-Buddha.

Tapi kira-kira, apa aja sih faktor-faktor yang melatarbelakangi terbentuknya masyarakat maritim di Nusntara pada masa itu?

 

Faktor Terbentuknya Masyarakat Maritim di Nusantara

Pada masa itu, kondisi masyarakat di Nusantara mendukung berbagai aktivitas maritim. Sehingga, ketika kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha terbentuk, aspek maritim turut menjadi hal yang diperhitungkan, khususnya dalam bidang ekonomi dan militer.

Beberapa faktor yang mendukung terciptanya masyarakat maritim di Nusantara, di antaranya sebagai berikut:

  1. Nusantara memiliki kekayaan rempah-rempah yang membuat masyarakat India dan Tiongkok ingin berdagang dengan masyarakat Nusantara.
  2. Letak geografis. Pulau Indonesia berada di lautan dengan perairan yang tenang, sehingga memungkinkan untuk terjadinya perdagangan antar negara.
  3. Pengetahuan. Masyarakat Indonesia memiliki pengetahuan akan rasi bintang dan arah mata angin sebagai penunjuk jalan ketika berlayar dan memiliki pengetahuan dalam membangun kapal laut. Hal ini yang memaksimalkan proses perdagangan.

 

Dalam aktivitas perdagangan ini, masyarakat Tiongkok dan India membawa pengetahuan tentang kepercayaan mereka, yaitu kepercayaan Hindu dan Buddha. Sehingga kerajaan-kerajaan maritim Nusantara memiliki ciri-ciri atau corak yang menggambarkan kepercayaan-kepercayaan tersebut. Nah, kira-kira apa saja ya kerajaan maritim Hindu-Buddha yang ada di Nusantara?

 

Kerajaan Maritim Hindu Buddha di Nusantara

1. Kerajaan Sriwijaya

Salah satu kerajaan maritim Hindu-Buddha terbesar di Nusantara adalah kerajaan Sriwijaya. Kerajaan bercorak Buddha ini didirikan oleh Dapunta Hyang.

Menurut Prasasti Kedukan Bukit, Kerajaan Sriwijaya terletak di sekitar pertemuan Sungai Musi dan Sungai Ogan, sampai ke pesisir di sebelah timur. Salah satu raja paling terkenal dari Kerajaan Sriwijaya adalah Balaputradewa.

Kalau dilihat dari peta zaman sekarang, letak kerajaan ini ada di Palembang, Sumatera Selatan. Nah, posisi kerajaan yang berada di pesisir ini yang membuatnya strategis dalam melaksanakan aktivitas maritim.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-8, membentang dari Sumatera, Jawa Tengah, hingga Semenanjung Malaya. Panah merah menunjukkan rangkaian ekspedisi dan penaklukan Sriwijaya. (Sumber: Wikipedia Commons/Gunawan Kartapranata)

 

Sungai-sungai dijadikan jalur lalu lintas dari wilayah pedalaman menuju laut dan juga sebaliknya. Sebagai salah satu kerajaan maritim Hindu-Buddha, kerajaan Sriwijaya berfokus pada kegiatan pelayaran dan perdagangan laut.

Salah satu produk yang menjadi daya tarik kerajaan ini adalah emas dan kapur barus. Lokasi kerajaan Sriwijaya yang strategis ini membuat pelabuhannya ramai didatangi pelanggan dari India dan dari Tiongkok.

Kronik Zhu Fan Zhi

 

Selain bidang ekonomi, Kerajaan Sriwijaya juga memanfaatkan kekuatan maritim untuk bidang  militer, guys. Hal ini berkaitan ketika Sriwijaya memiliki wacana untuk memperluas wilayah kekuasaanya. Sriwijaya akan mencoba menaklukan kerajaan yang akan memberi keuntungan dari segi maritim.

Misal, pada abad ke-8, Sriwijaya menaklukan wilayah Semenanjung Malaya, agar dapat menguasai Selat Malaka secara utuh.

Meskipun sempat memegang julukan sebagai salah satu kerajaan maritim Buddha terbesar di Nusantara, kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya sebagai berikut

  1. Serangan Kerajaan Chola dari India pada 1025 yang ingin merebut jalur perdagangan Selat Malaka.
  2. Kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukan di Semenanjung Malaya mulai melepaskan diri, sehingga Kerajaan Sriwijaya tidak lagi menguasai jalur utama perdagangan maritim.
  3. Serangan Majapahit ke Sumatera 1377, yang benar-benar ‘meruntuhkan’ Kerajaan Sriwijaya.

 

Baca Juga: Kerajaan-Kerajaan Maritim Islam di Indonesia

 

2. Kerajaan Singhasari

Singasari merupakan kerajaan bercorak Hindu yang didirikan oleh Ken Angrok atau Sri Ranggah Rajasa. Kerajaan ini terletak di sebelah timur Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur.

Kerajaan Singhasari mengalami masa kejayaan ketika dipimpin oleh Raja Kertanegara. Pada saat itu, sektor perdagangan dan pelayaran Singhasari berkembang sangat pesat.

Di bawah kepemimpinannya, Kertanegara memiliki kebijakan politik maritim bernama Cakrawala Mandala Dwipantara. Singkatnya, kebijakan ini adalah cita-cita Kertanegara agar pulau-pulau dan laut di Nusantara berada di bawah kekuasaan Singhasari. Menurut Kertanegara, laut adalah pemersatu wilayah, bukan pemisah.

Nah, dalam menjalankan kebijakan Dwipantara, Singhasari melakukan dua ekspedisi. Ada Ekspedisi Pamalayu dan Ekspedisi Bali.

Hmm. Kalau kamu perhatikan, cita-cita Kertanegara agak familiar gak guys? Yesss.. Cita-cita beliau kemudian coba diwujudkan oleh Gadjah Mada pada masa Majapahit. Selain itu, statement tentang laut adalah pemersatu wilayah juga menjadi landasan yang kuat ketika Deklarasi Djuanda dirumuskan.

Baca Juga: Program Kerja Kabinet Djuanda | Sejarah Kelas 12

Oiya guys, Singhasari melakukan ekspansi politik dan memiliki armada laut yang kuat. Komoditas yang diperdagangkan adalah rempah-rempah, kayu cendana, beras, dan emas.

Namun, pada tahun 1292 terjadi pembunuhan Kertanegara dalam Pemberontakan Jayakatwang yang mengakibatkan Kerajaan Singhasari runtuh.

 

3. Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit terletak di ibu kota Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya, yang merupakan menantu Kertanegara. Jadi bisa dibilang, Kerajaan Majapahit masih ‘satu garis’ dengan Kerajaan Singhasari ya guys.

Kerajaan Majapahit memiliki salah seorang mahapatih yang bernama Gadjah Mada. Gadjah Mada terkenal dengan Sumpah Palapa-nya yang ingin menyatukan wilayah Nusantara (bahkan hingga ke Singapura dan sebagian wilayah Filipina) untuk berada di bawah kekuasaan Majapahit.

Secara politis, Sumpah Palapa (yang bisa dibilang meneruskan kebijakan Dwipantara), menjadikan Majapahit sebagai kerajaan maritim.

Meskipun aktivitas masyarakatnya banyak bergulat di sektor agraris, tapi Majapahit memanfaatkan salah satu komoditas utamanya, yaitu beras, untuk diekspor ke negara lain. Hal ini kemudian mendorong Majapahit melakukan perdagangan laut. 

Majapahit juga memiliki armada laut dengan berbagai fungsi dan bentuk kapal, seperti kapal perang, kapal dagang, kapal khusus yang hanya digunakan kepentingan raja dan upacara keagamaan.

gambar kerajaan majapahit saat ini

Gambar Candi Bajang Ratu, salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit. (Sumber: detik.com)

 

Kerajaan Majapahit mengalami puncak kejayaan ketika dibawah pimpinan Hayam Wuruk. Pada masa ini juga terjadi perkembangan pesat dalam kesusastraan.

Beberapa di antaranya adalah Kitab Nagarakertagama yang dibuat oleh Mpu Prapanca. Kitab tersebut berisi sejarah singkat berdirinya kerajaan Majapahit, dan Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular yang berisi puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa keemasan kerajaan Majapahit.

Kehancuran yang dialami oleh kerajaan Majapahit terjadi ketika Hayam Wuruk wafat. Selain itu, terdapat faktor-faktor lain, seperti perebutan tahta di kerajaan, dan berdirinya kerajaan Islam di Demak, yang didirikan oleh Raden Patah.

 

Kerajaan Hindu Buddha di Nusantara

For your information aja nih guys. Kalau ngomongin Kerajaan Maritim Hindu-Buddha di Nusantara, sebenernya yang beneran ‘maritim’ yaa tiga kerajaan yang barusan kita bahas di atas.

Terus yang lain bukan maritim?

Memang betul, kerajaan-kerajaan yang lain bisa jadi memanfaatkan sektor maritim untuk menunjang kehidupan masyarakatnya. Tapi aspek maritim gak terlalu menonjol gitu lho.

Biasanya mereka lebih condong memanfaatkan sektor lainnya, misalnya seperti sektor agraris. Selain itu, bukti-bukti sejarah yang mendukung kerajaan tersebut bercorak maritim juga sedikit, guys.

Nah, tapi biar adil, di artikel ini akan tetep dibahas juga yaa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha lainnya di Nusantara. Check this out!

 

4. Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai berdiri di dekat Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Namun, nggak banyak peninggalan sejarah yang menceritakan kehidupan kerajaan Hindu satu ini.

Peninggalan sejarah kerajaan Kutai, yaitu 7 prasasti Yupa yang ditemui di Muara Kaman. Prasasti-prasasti tersebut ditulis dengan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.

Diyakini prasasti tersebut mengisahkan tentang raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Kutai, beberapa di antaranya adalah Raja Kudungga, Raja Aswawarman, dan Raja Mulawarman. Kerajaan Kutai dipercaya sebagai kerajaan Hindu tertua di Nusantara.

Prasasti Yupa Kerajaan Kutai

 

Pada masa Raja Mulawarman, kerajaan Kutai mencapai puncak keemasan dan diperkirakan menjadi tempat singgah jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Selat Makassar, Filipina, dan China. Oleh karena itu, salah satu sumber perekonomian Kerajaan Kutai berasal dari kegiatan perdagangan.

 

5. Kerajaan Tarumanegara

Berdasarkan sumber sejarah, hingga saat ini, Kerajaan Tarumanegara (atau Tarumanagara) adalah kerajaan tertua di Jawa Barat. Kerajaan Tarumanagara mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Purnawarman.

Tau dari mana tuh?

Soalnya, nama Purnawarman tercantum di banyak prasasti peninggalan Tarumanegara guys. Beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara ada Prasasti Cidanghiang, Prasasti Pasir Awi, Prasasti Tugu, Prasasti Jambu, Prasasti Ciaruteun, dan lain-lain.

Perekonomian di pemerintahan Purnawarman sangat maju. Pada saat itu, mayoritas penduduk kerajaan Tarumanegara bermata pencaharian bertani dan berladang.

Meskipun, ada kemungkinan, masyarakat kerajaan ini juga beternak. Makannya, di salah satu prasasti disebutkan bahwa ada penghadiahan 1.000 ekor sapi bagi brahmana dari Purnawarman.

Baca Juga: 4 Teori Masuknya Agama Hindu-Buddha ke Indonesia

 

6. Kerajaan Tulang Bawang

Kerajaan Tulang Bawang diperkirakan ada sejak abad ke-5 Masehi, berdasarkan Kitab Liu-sung-Shu, kitab sejarah dari masa pemerintahan Kaisar Liu Sung (420–479 Masehi) dari Cina. Kerajaan ini terletak di daerah Lampung.

Kitab ini mencatat bahwa terdapat kerajaan di wilayah Nusantara bagian barat bernama P’u-huang yang mengirim utusan dan barang-barang upeti ke negeri Cina. Selain itu, diketahui pula bahwa kerajaan ini menghasilkan lebih dari 41 jenis barang yang diperdagangkan ke Cina.

Hubungan diplomatik antara kerajaan ini dengan Cina masih berlangsung hingga pertengahan abad ke-5 sampai abad ke-6.

Selain dari Kitab Liu-sung-Shu, ada juga kitab T’ai-p’ing-huang-yu-chi dari abad ke-10 Masehi, yang menyebutkan sebuah kerajaan bernama T’o-lang-p’p-huang, yang diidentifikasikan sebagai Tulang Bawang oleh G. Ferrand.

 

7. Kerajaan Kota Kapur

Kerajaan Kota Kapur diperkirakan eksis pada sekitar abad ke-6 sampai ke-7 Masehi, dan terletik di Kota Kapur, Pulau Bangka. Kerajaan ini kemungkinan besar sudah ada sejak sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya.

Beberapa peninggalan dari kerajaan ini adalah sisa-sisa bangunan candi Hindu (Waisnawa) dan arca-arca batu (arca Wisnu).

Ditemukan juga benteng pertahanan yang berbentuk dua buah tanggul sejajar. Peninggalan ini menunjukkan dibangun pada abad ke-6 Masehi, dan kemungkinan digunakan sebagai pertahanan Kerajaan Kota Kapur terhadap invasi yang dilakukan oleh Kerajaan Sriwijaya.

Makannya, gak heran kalau salah satu sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya adalah Prasasti Kota Kapur yang berisi sumpah dan kutukan bagi orang yang menentang kekuasaan raja. Dapat ditafsirkan juga, prasasti ini merupakan tanda bahwa Sriwijaya telah berkuasa di wilayah Kota Kapur dan wilayah sekitar Pulau Bangka.

 

8. Kerajaan Kalingga

Kerajaan Kalingga atau Kerajaan Holing adalah kerajaan yang bercorak Buddha dan terletak di pantai utara Jawa Tengah, antara Kabupaten Pekalongan dan Jepara. 

Kerajaan Kalingga mencapai puncak kejayaan di bawah pimpinan Ratu Shima. Perekonomian mereka bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian. Letak kerajaan yang strategis menyebabkan sektor perdagangan maritim bisa berkembang pesat.

Pada saat itu, mereka berdagang kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading. Wilayah pedalaman yang subur mereka manfaatkan untuk mengembangkan kegiatan pertanian yang hasil utamanya berupa padi. Penduduknya juga pandai membuat minuman dari bunga kelapa dan bunga aren.

Pemerintahan Ratu Shima sangat keras, tegas, tapi adil. Saking tegasnya, Ratu Shima pernah memerintahkan untuk memotong tangan salah satu anggota keluarganya karena sedikit menyentuh kantong berisi uang yang diletakkan di jalan.

(Oiya, ini belum jelas sih, si kantong uang ini emang gak sengaja jatuh atau memang sengaja diletakkan untuk menguji kejujuran penduduk Kalingga). Hal ini yang membuat rakyatnya memiliki kehidupan yang makmur. 

Kalau ketegasan Ratu Shima diterapkan oleh pemimpin Indonesia saat ini, pasti negeri kita bebas korupsi. HEHEHE *ngarep.

Baca Juga: Kehidupan Masyarakat di Masa Kerajaan Islam

 

9. Kerajaan Kanjuruhan

Kerajaan Kanjuruhan adalah kerajaan bercorak Hindu yang ada di Desa Kejuron, dekat Kota Malang saat ini. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah Malang, lereng timur dan barat Gunung Kawi, dan utara hingga pesisir Laut Jawa. Kerajaan Kanjuruhan diyakini sebagai kerajaan pertama di Jawa Timur.

Para ahli menduga kalau Kerajaan Kanjuruhan erat hubungannya dengan Kerajaan Kalingga (Holing) di Jawa Tengah. Munculnya kerajaan ini, diketahui dari Prasasti Dinoyo sekitar 760 masehi yang lalu.

gambar prasasti dinoyo

Gambar Prasasti Dinoyo. (Sumber: id.wikipedia.org)

 

Dalam Prasasti tersebut, diceritakan bahwa Kerajaan Kanjuruhan diperintah oleh Raja Dewashimha. Setelah meninggal, tahta dilanjutkan oleh putranya, Limwa, yang dikenal sebagai Gajayana. Raja Gajayana menganut agama Siwa, ia memerintah dengan adil dan dicintai oleh rakyatnya.

Di bawah kekuasaannya juga, Kerajaan Kanjuruhan mencapai puncak keemasan. Khususnya dalam bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, hingga seni budaya. Setelah Gajayana mangkat, kekuasaan jatuh ke tangan putrinya, Uttejana yang menikah dengan Pangeran Jananiya dari Paradeh.

Namun, keberadaan Kerajaan Kanjuruhan tidak bisa bertahan lama. Pada awal abad ke-10, ketika Rakai Watukura dari Kerajaan Mataram Kuno berkuasa, Kerajaan Kanjuruhan berhasil ditaklukkan. Para penguasa Kerajaan Kanjuruhan pun harus menjadi raja bawahan dengan gelar Rakyan Kanuruhan.

 

10. Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno (atau Kerajaan Medang Mataram) terletak di Jawa Tengah. Kerajaan ini dialiri Sungai Progo, Sungai Bogowonto dan Sungai Bengawan Solo.

Di dalam kerajaan ini, terjadi aktivitas perdagangan dan pertanian yang menjadi sumber pendapatan masyarakatnya.

Raja Kerajaan Mataram Kuno pertama, yaitu Sanjaya merupakan pendiri Wangsa Sanjaya yang menganut memiliki kepercayaan Hindu. Setelah Raja Sanjaya wafat, kerajaan Mataram Kuno dilanjutkan oleh  Rakai Panangkaran yang kemudian berpindah agama Budha beraliran Mahayana.

gambar candi borobudur

Gambar Candi Borobudur, salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. (Sumber: fatek.umsu.ac.id)

 

Pada saat Wangsa Syailendra berkuasa, agama Hindu dan Buddha dapat berkembang bersama di Kerajaan Mataram Kuno. Apalagi, pada masa pemerintahan Rakai Pikatan-Pramodawardhani, agama Hindu dan Buddha hidup dengan rukun.

Namun, pusat kerajaan ini harus berpindah ke Jawa bagian timur. Hal ini dikarenakan meletusnya Gunung Merapi yang mengakibatkan  lumpuhnya aktivitas pemerintahan.

 

11. Kerajaan Medang Wangsa Isyana

Nah, setelah Kerajaan Medang Mataram berpindah ke Jawa Timur, tepatnya di sekitar daerah Jombang, kerajaan ini tetap berlanjut, dan dikenal sebagai Kerajaan Medang Wangsa Isyana. Saat itu, Kerajaan Medang diperintah oleh Mpu Sindok.

Mpu Sindok berusaha membuat rakyat Kerajaan Medang untuk hidup sejahtera dan makmur. Mpu Sindok bahkan membangun bendungan dan tanggul agar dapat mendukung pertanian di Kerajaan Medang.

Setelah Mpu Sindok meninggal dunia, kepemimpinan Medang  dilanjutkan oleh Sri Isyanatunggawijaya. Kemudian, pemerintahan dilanjutkan oleh Makutawangsawardhana, dan diteruskan oleh Raja Dharmawangsa Tguh. Diketahui juga bahwa kerajaan ini menjalin hubungan dengan kerajaan di Bali.

Kerajaan Medang runtuh ketika pesta pernikahan putri Raja Dharmawangsa dengan Airlangga. Pada saat itu, terjadi serangan mendadak dari Kerajaan Wurawari.

Walaupun Airlangga beserta pengikut setianya berhasil selamat, serangan tersebut mengakibatkan runtuhnya Kerajaan Medang.

 

12. Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri atau Kadiri adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang berdiri pada abad ke-12. Kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Medang.

Kerajaan ini terbentuk berawal dari keputusan Raja Airlangga yang membagi kerajaan menjadi dua bagian untuk menghindari pertikaian. Nah, kerajaan tersebut, di antaranya Kerajaan Jenggala (Kahuripan) dan Kerajaan Panjalu (Kediri). Dua kerajaan ini dibatasi oleh Gunung Kawi dan Sungai Brantas.

Pusat Kerajaan Kediri yang terletak di tepi Sungai Brantas yang merupakan jalur pelayaran yang ramai. Sumber ekonomi Kerajaan Kediri berasal dari penghasil beras, berdagang emas, perak, daging, kayu cendana, pinang, dan gerabah.

Runtuhnya Kerajaan Kediri terjadi di bawah pimpinan Raja Kertajaya yang dianggap telah melanggar agama dan memaksa Brahmanya untuk menyembahnya sebagai dewa.

Kemudian kaum Brahmana meminta perlindungan kepada Ken Angrok. Setelah Raja Kertajaya dan Kerajaan Kediri runtuh di tangan Ken Angrok, Kerajaan Kediri menjadi kekuasaan Tumapel atau Kerajaan Singasari.

Baca Juga: Selain Avenger, Kerajaan Kediri Juga Pernah Mengalami Civil War!

 

13. Kerajaan-Kerajaan di Bali

Keberadaan kerajaan-kerajaan di Bali sudah dimulai sejak abad ke-10 Masehi hingga awal abad ke-20 Masehi. Kerajaan-kerajaan ini menonjolkan eksistensi budaya, sejarah, seni, dan penghormatan kepada dewa karena masyarakat Bali umumnya menganut ajaran Hindu.

Kerajaan-Kerajaan di Bali pernah dikuasai oleh beberapa wangsa, di antaranya Wangsa Singhamandawa, Wangsa Warmmadewa, dan Wangsa-wangsa lainnya, yang didasarkan pada penemuan prasasti yang tersebar di wilayah Bali.

Beberapa raja yang pernah tercatat menjadi pemimpin di antaranya Sri Kesariwarmmadewa, Sri Ugrasena, Sang Ratu Sri Aji Tabanendra Warmmadewa, Indra Jayasingha Warmmadewa, dan lain-lain.

Salah satu raja Bali yang terkenal adalah Raja Udayana. Konon, Raja Udayana merupakan ayah dari Airlangga. Untuk itulah, ada hubungan yang cukup dekat, khususnya antara Raja Medang Wangsa Isyana dengan Kerajaan di Bali.

Kerajaan ini pun meninggalkan beberapa peninggalan dan sejarah, antara lain Pura Besakih, Pura Tirta Empul, Prasasti Blanjong, Candi Mengening, Candi Wasan, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Penjelasan 4 Teori Masuknya Agama Islam ke Indonesia

Nah, itu dia beberapa kerajaan maritim Hindu-Buddha yang ada di Nusantara. Selain nama-nama kerajaan di atas, masih banyak lagi loh kerajaan Hindu-Buddha lainnya.

Kalau kamu ingin tahu lebih banyak lagi tentang pengetahuan sejarah Indonesia, kamu bisa belajar menggunakan video animasi di ruangbelajar. Dengan begitu, kamu bisa mendapat informasi dari tutor yang tentunya berpengalaman, dan juga bisa menghemat waktu.

IDN CTA Blog ruangbelajar Ruangguru

Referensi:

Abdullah, Taufik  (ed.). (2012) Indonesia dalam Arus Sejarah. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve.

L, Amurwani Dwi. Mulyana, Agus, dkk. (2014) Sejarah Indonesia Kelas X Semester I. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaa.

Poesponegoro, Marwanti Djoened & Notosusanto, Nugroho (ed). (2019) Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka

Ningsih, WL. ‘Kerajaan Tarumanegara: Raja-raja, Puncak Kejayaan, dan Peninggalan’, Kompas.com, 20 Mei 2021 [online]. Available at: https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/20/161458179/kerajaan-tarumanegara-raja-raja-puncak-kejayaan-dan-peninggalan?page=all (Accessed: 17 Agustus 2022)

Wulandari, T. ‘Kerajaan Kediri: Sejarah Berdiri, Masa Kejayaan, dan Keruntuhan’ detikEdu, 31 Agustus 2021 [online]. Available at: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5702819/kerajaan-kediri-sejarah-berdiri-masa-kejayaan-dan-keruntuhan (Accessed: 17 Agustus 2022)

Ningsih, WL. ‘Kerajaan Kalingga: Raja-raja, Kehidupan Politik, dan Peninggalan’, Kompas.com, 20 Mei 2021 [online]. Available at: https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/20/162857279/kerajaan-kalingga-raja-raja-kehidupan-politik-dan-peninggalan?page=all (Accessed: 17 Agustus 2022)

Subroto, LH, ‘Sejarah Singkat Kerajaan Medang Kamulan’, Kompas.com, 29 Juli 2022 [online]. Available at: https://www.kompas.com/stori/read/2022/07/29/100000979/sejarah-singkat-kerajaan-medang-kamulan?page=all (Accessed: 17 Agustus 2022)

Sumber Gambar:

https://fatek.umsu.ac.id/2023/06/08/candi-borobudur-makna-yang-terkandung-di-dalamnya/ (Diakses pada 11 Oktober 2023)

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5956540/5-raja-majapahit-yang-paling-lama-berkuasa-ada-yang-nyaris-40-tahun (Diakses pada 11 Oktober 2023)

https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Dinoyo_Inscription.jpg (Diakses pada 11 Oktober 2023)

 

Artikel ini terakhir diperbarui pada 18 Juli 2024 oleh Laras Sekar Seruni

Nurul Hidayah