Dunia Digital dan Kemanusiaan Kita

Dunia Kata - Resensi Buku Sapiens di Ujung Tanduk Karya Iqbal Aji Daryono

Seberapa pengaruhnya dunia digital terhadap pola perilaku manusia? Melalui buku ini, penulis menjabarkannya dengan bahasa yang ringan dan jenaka. Penasaran? Yuk, baca review selengkapnya!

--

Era digital sudah tak terbendung. Efek digitalisasi mengubah sangat banyak hal dalam kehidupan hari ini. Pola kehidupan manusia, terutama terkait cara berkomunikasi dan bersosialisasi, telah begitu berbeda dengan era-era sebelumnya. Meski membawa banyak dampak positif berupa berbagai kemudahan, era yang sangat bergantung pada internet ini, disadari atau tidak, juga menggerus berbagai sisi kemanusiaan kita.

Iqbal Aji Daryono (IAD) melalui buku Sapiens di Ujung Tanduk mengajak kita untuk merenungkan hal tersebut. Kritiknya yang disampaikan dengan cara yang menggelitik akan membuat kita tersenyum sekaligus tertohok. Tulisan-tulisan IAD membukakan mata kita untuk melihat berbagai fenomena di era digital ini secara lebih jernih dan tajam.

 

Banjir Informasi dan Rendahnya Literasi

Contoh paling gamblang adalah terkait melimpahnya informasi yang ada di jagat digital. Segala rupa informasi tersedia di sana. Dari informasi yang positif, memotivasi, dan membantu produktivitas, sampai informasi-informasi negatif yang menipu dan memancing sentimen buruk beredar luas di dunia digital. Hal itu tentu saja menuntut kecakapan literasi digital masyarakat pengaksesnya. Sayangnya, literasi digital masyarakat kita masih rendah.

“Bagi publik awam, informasi ya informasi, setara saja bobotnya. Mereka tak paham kualifikasi informasi. Mana informasi yang akurat dan mana yang mencurigakan, mana yang sesuai standar jurnalisme dan mana yang asal ditulis.” (hlm. 140)

Identitas Buku Sapiens di Ujung Tanduk Karya Iqbal Aji Daryono

 

Kesadaran dan kecakapan literasi yang rendah membuat masyarakat lebih mudah terhanyut dan terhasut informasi yang tidak jelas kredibilitasnya. Sumber-sumber informasi terpercaya seperti lembaga pers jauh tertinggal dari akun-akun media sosial yang senang menyebarkan gosip, berita, dan isu-isu tidak bermutu. Sehingga tidak mengherankan jika kita sering melihat hoaks atau berita palsu yang mendadak viral (dan dipercaya!), serta perdebatan dan caci maki di antara masyarakat digital yang pada akhirnya bisa mengakibatkan polarisasi sosial.

Baca Juga: Resensi Buku Her Name Is ... Karya Cho Nam Joo

 

Kecanduan Viral

Masalah bertambah pelik ketika secara psikologis masyarakat mengalami kecanduan akan viralitas. Demi menjadi viral, konten apa pun akan dibuat dan disebarkan tanpa pernah mengkalkulasi dampak buruk dari konten tersebut. Dalam tulisan yang berjudul “Bu Guru Penggemar Viral” dan “Lagi-Lagi Kebelet Viral”, IAD mengomentari sensitivitas masyarakat digital terhadap konten-konten yang mereka posting di media sosial. Sering kali masyarakat hanya mengejar like, comment, share, subscribe, dan repost, sonder peduli pada nilai kebermanfaatan konten tersebut, yang bahkan tidak jarang sebenarnya merupakan aib dan kekurangan orang lain. 

Kasus yang dicontohkan oleh IAD terkait seorang guru yang merekam muridnya yang menangis karena tidak mampu menjawab pertanyaan, barangkali dari sisi hiburan memang melipur dan akan mendatangkan tawa. Akan tetapi, kalau dilihat dari sisi kepatutan dan etika pendidik, apakah layak hal seperti itu dijadikan konten? Mengapa bisa seorang guru lebih suka memviralkan kekurangan muridnya ketimbang menampilkan prestasi-prestasi yang dapat menjadi inspirasi bagi orang lain? Ah, mungkin karena “kita memang lebih suka bergembira dalam mengumpat dan tertawa, daripada berpikir dan mencerna.” (hlm. 73)

Hal memprihatinkan juga terjadi di sisi pemerintah maupun penegak hukum. Terdapat banyak kasus pelanggaran hukum yang mangkrak kemudian mendadak dilanjutkan karena beritanya viral di dunia digital. Seakan-akan massa harus mengeluhkan bersama suatu permasalah barulah penegak hukum mau mendengarkan. Sehingga, muncul sebuah pertanyaan, “Kalau tidak viral, tidak akan ditindak?”

Ada lebih banyak fenomena dan dampak dunia digital yang memengaruhi dan bahkan mengikis dimensi kemanusiaan kita. Buku Sapiens di Ujung Tanduk bisa menjadi referensi menarik untuk memahaminya. Selamat membaca!

Baca Juga: Resensi Buku Keep The Aspidistra Flying Karya George Orwell

 

Tentang Peresensi:

Febrian Eka Ramadhan adalah seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia di MTs-MA Al-Mahalli, Bantul, Yogyakarta. Ia suka membaca dan menulis. Telah berhasil menerbitkan buku kumpulan esai berjudul “Satu Hal yang Tak Pernah Boleh Sirna” pada tahun 2022. Beralamat di Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bisa dihubungi lewat media sosial Instagram dengan nama akun @febbrooo.

---

Ruangguru membuka kesempatan untuk kamu yang suka menulis cerpen dan resensi buku untuk diterbitkan di ruangbaca, lho! Setiap minggunya, akan ada karya cerpen dan resensi buku yang dipublikasikan. Kamu bisa baca karya resensi buku menarik lainnya di sini, ya. Yuk, kirimkan karyamu juga! Simak syarat dan ketentuannya di artikel ini. Kami tunggu ya~

New call-to-action

Profile

Ruangguru

Ruangguru merupakan perusahaan teknologi terbesar di Indonesia yang berfokus pada layanan berbasis pendidikan. Ruangguru mengembangkan berbagai layanan belajar berbasis teknologi, termasuk layanan kelas virtual, platform ujian online, video belajar berlangganan, marketplace les privat, serta konten-konten pendidikan lainnya yang bisa diakses melalui web dan aplikasi Ruangguru.